
"Aku bisa memaafkanmu tapi ada syaratnya" ucap Xuan Lan lagi.
"Syarat?" ucap kaisar Xiao dan pangeran Gui bersamaan.
•••
"Ya, jika kau ingin mendapatkan maafku maka hiduplah dengan baik. Berhubung sekarang kau tidak hidup dengan baik maka aku tidak memaafkanmu. Ingat jangan mati dulu sebelum kau mendapat maafku" ucap Xuan Lan.
"Jadilah kaisar yang bisa memakmurkan kekaisarannya. Jangan pernah menindas dan merampas uang rakyatmu secara paksa. Kau harus adil kepada rakyatmu seperti julukan yang seluruh orang berikan kepadamu, kaisar Xiao" imbuhnya.
"Lan'er" ucap kaisar Xiao sendu sambil menggenggam tangan Xuan Lan.
"Aku rasa waktuku disini sudah selesai. Kalian jangan pernah mencariku lagi di markas Gold Tiger karena aku akan pergi ke suatu tempat dan aku pasti akan kembali tetapi waktunya aku tidak tau kapan tepatnya. Dan saat aku kembali aku ingin kau sudah melakukan seperti yang aku ucapkan tadi" ucap Xuan Lan.
"Kau mau pergi kemana?" tanya kaisar Xiao yang kembali meneteskan air matanya.
"Kalian tidak perlu tau. Jika sudah waktunya aku akan kembali" ucap Xuan Lan sambil menghapus air mata kaisar Xiao.
"Ingatlah pesanku, hiduplah dengan baik dan jangan mati terlebih dahulu jika aku belum kembali" ucap Xuan Lan mengingatkan mereka berdua.
"Ini obat untuk kaisar Xiao. Ia harus meminumnya dua kali sehari. Jika obat ini sudah habis kemungkinan kaisar Xiao sudah bisa beraktivitas seperti semula" ucap Xuan Lan sambil memberikan bungkusan kepada pangeran Gui.
"Apakah kau bisa memanggilku ayah?" tanya kaisar Xiao.
"Maaf, hatiku belum bisa melupakannya" ucap Xuan Lan yang membuat tatapan kaisar Xiao semakin sendu.
"Jika kau tidak meminum obatmu dengan teratur awas saja! Mataku ada dimana-mana" peringat Xuan Lan kepada kaisar Xiao. Ia lalu mengenakan topeng harimau emasnya kemudian pergi melalui jendela bersama pangeran Zhan.
"Lan'er" gumam kaisar Xiao.
"Ingat perkataan Xuan Lan ayah. Ayah harus istirahat dan teratur dalam meminum obat agar Xuan Lan mau memaafkan ayah. Sekarang ayah istirahatlah dulu" ucap pangeran Gui yang dibalas anggukan oleh kaisar Xiao.
Kaisar Xiao memejamkan matanya dan saat ia merasa pangeran Gui sudah keluar dari kamarnya ia kembali menangis dalam tidurnya. Ia sudah bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang telah Xuan Lan berikan kepadanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan bangkit dari keterpurukannya saat ini demi Xuan Lan.
"Ucapannya sangat kasar tetapi aku suka dia yang seperti itu" gumam kaisar Xiao sambil mencoba memejamkan matanya lagi untuk beristirahat.
___
"Apa kau yakin akan memaafkan kaisar Xiao?" tanya pangeran Zhan saat mereka dalam perjalanannya kembali ke markas Gold Tiger.
"Entahlah, aku juga masih bingung. Jika kau sendiri bagaimana?" tanya Xuan Lan kepada pangeran Zhan.
"Aku juga tidak tau, biarlah waktu yang menjawabnya" jawab pangeran Zhan.
"Lalu kenapa kau memberinya kesempatan jika kau sendiri masih bingung?" tanya pangeran Zhan heran.
"Bagaimanapun aku juga seorang manusia biasa yang memiliki hati. Apakah aku tega melihat orang tua yang sedang sakit dan menangis di hadapanku? Aku hanya tidak mau dia mati dengan penyesalannya yang amat mendalam"
__ADS_1
"Lagipula aku ingin pergi ke suatu tempat terlebih dulu seperti yang aku ucapkan tadi. Mungkin rasa sakitku bisa mulai memudar saat aku pergi sejenak" ucap Xuan Lan.
"Kau ingin pergi kemana? Aku harus ikut" ucap pangeran Zhan.
"Tidak perlu, gege. Aku akan pergi sendiri" ucap Xuan Lan menolak permintaan pangeran Zhan.
"Lan'er, tidak ada alasan aku tidak ikut denganmu. Dari sebelum kau lahir, ibu sudah mengatakan jika aku harus selalu menjagamu sampai kau memiliki penjaga sendiri nantinya jadi tidak ada alasan kau menolakku" ucap pangeran Zhan.
"Memiliki penjaga sendiri?" tanya Xuan Lan.
"Ya, maksudnya jika kau nanti sudah menikah" ucap pangeran Zhan.
"Tapi aku belum ingin menikah" ucap Xuan Lan.
"Berarti aku harus ikut denganmu" ucap pangeran Zhan sambil tersenyum.
Xuan Lan sudah kehabisan kata-katanya, ia tidak bisa berkutik lagi. Bagaimanapun caranya ia melarang pangeran Zhan untuk ikut bersamanya, pangeran Zhan pasti akan membuntutinya atau menggunakan cara yang lain agar ia bisa mengikuti Xuan Lan.
Mereka akhirnya sampai di markas Gold Tiger. Xuan Lan dan pangeran Zhan berpisah menuju kamarnya masing-masing. Xuan Lan mengunci pintu kamarnya. Ia kemudian memasuki ruang dimensinya.
"Ran, Kuma" panggilnya kepada dua hewan legenda itu.
"Apa?" tanya Kuma.
"Ran dimana?" tanya Xuan Lan.
"Entahlah, sebentar lagi juga akan kembali" ucap Kuma acuh. Tak lama kemudian Ran berjalan ke arah mereka.
"Ya, aku ingin kita pergi ke suatu tempat" ucap Xuan Lan.
"Kemana?" tanya Kuma penasaran.
"Ke gunung harapan. Kau ingat kan dulu Ran pernah mengatakan padaku tentang segel bintang yang ada ditubuhku? Saat aku meminta Ran untuk menyalakan lilin di ruangan gelap itu sebenarnya aku menemukan petunjuk tentang segel bintang ini" ucap Xuan Lan.
"Lalu apa hubungan gunung harapan dengan segel bintang?" tanya Kuma lagi.
"Di buku itu mengatakan jika segel bintang terbagi ke dalam dua segel. Segel yang pertama adalah segel yang berada di lengan kiriku dan segel yang kedua adalah segel yang berada di dalam dantianku."
"Segel yang berada di lenganku sudah hilang, sekarang tinggal segel yang berada di dantianku. Untuk menghancurkan segel itu aku harus ke gunung harapan untuk menemui seseorang yang mengetahui cara untuk menghancurkan segel di dalam dantian itu" jawab Xuan Lan.
"Baik, kami akan mengikutimu kemanapun kau pergi, Lord" ucap Ran.
"Ya, kami akan mengikutimu kemanapun kau pergi, Lan" ucap Kuma.
Xuan Lan tersenyum mendengar perkataan kedua hewan legenda di hadapannya ini. Sekarang ia tinggal berpamitan kepada anggota Gold Tiger, Wang Yu Yan dan Wang Yuan serta keluarganya di kekaisaran Li.
Hal pertama yang harus ia lakukan adalah berpamitan terlebih dahulu dengan bibi Fu, paman Tao dan paman Tae serta tabib Bao.
__ADS_1
Xuan Lan sudah melangkahkan kakinya menuju tempat empat orang yang sedang bersantai itu.
"Ehemm" deheman Xuan Lan menyadarkan mereka semua.
"Duduk sini Lan'er" ucap paman Tao menunjuk kursi di sebelahnya. Xuan Lan kemudian duduk di kursi itu.
"Aku ingin berbicara" ucapnya.
"Kau tinggal berbicara saja, kenapa kau ini sangat aneh dan tidak seperti biasanya" ucap paman Tae.
"Baik" ucap Xuan Lan.
"Aku ingin pergi ke suatu tempat selama mungkin beberapa tahun ke depan" ucapnya.
Ia tidak mendapat jawaban. Semuanya hanya memandangnya aneh.
"Aku serius" ucap Xuan Lan meyakinkan mereka.
"Mau pergi kemana?" suara dingin tabib Bao mulai menusuk tulang Xuan Lan.
"Kalian tidak perlu mengetahuinya. Aku tetap saja memiliki urusan pribadi yang kalian belum waktunya kalian tau. Jika nanti aku kembali aku akan memberitahukan semuanya pada kalian" ucap Xuan Lan sambil memandang lurus ke depan.
"Apa maksudmu?" tanya bibi Fu.
"Aku memiliki sebuah urusan. Aku mohon, jangan tanyakan apa urusannya karena aku belum bisa mengatakannya. Aku akan pergi bersama Zhan gege jadi kalia tidak perlu khawatir" ucap Xuan Lan lagi.
"Jika itu memang keputusanmu, kami tidak bisa mengekangnya. Ini hidupmu, kami hanya bisa mengingatkanmu untuk melakukan hal-hal yang baik tapi tidak dengan melarangmu untuk melakukan hal-hal yang kau inginkan selagi itu tidak membahayakan orang lain dan dirimu sendiri" ucap paman Tao.
Xuan Lan tersenyum mendengar ucapan paman Tao. Paman Tao memanglah yang terbaik dalam membuat keputusan. Ia lalu menatap tiga orang yang lainnya.
"Benar kata Tao. Aku juga tidak bisa melarangmu apalagi kau akan bersama pangeran Zhan" ucap paman Tae.
"Aku mengizinkanmu tapi ada syaratnya" ucap tabib Bao.
"Syarat?" tanya Xuan Lan.
"Ya, besok seharian penuh kau harus selalu bersamaku kita akan mengosongkan waktu kita untuk bercanda dan bermain" ucap tabib Bao yang membuat seulas senyum Xuan Lan terbit.
"Bibi?" tanya Xuan Lan.
"Jikapun aku tidak mengizinkanmu kau tetap akan pergi kan? Karena kau sudah mendapat tiga suara" ucap bibi Fu sambil mengeluarkan air matanya, ia sangat menyayangi Xuan Lan melebihi rasa sayangnya pada Xiao Lan dan juga dirinya sendiri.
"Bibi" ucap Xuan Lan yang kemudian memeluk bibinya. Paman Tao ikut memeluk mereka berdua disusul oleh paman Tae dan tabib Bao. Pangeran Zhan yang melihat hal itu saat ia baru berjalan kesana mempercepat langkahnya. Saat tabib Bao mulai melepaskan pelukannya, pangeran Zhan datang dan langsung menarik lagi tangan tabib Bao untuk kembali berpelukan.
"Kalian berpelukan tidak mengajakku" gerutu pangeran Zhan kesal yang hanya dibalas kekehan oleh semua orang disana.
•••
__ADS_1
**diupdate pukul 08.55
jangan lupa vote komen rate dan like. terimakasih**:))