PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
SERATUS ENAM BELAS (S2)


__ADS_3

Sudah satu bulan lebih perang yang merenggut nyawa Xuan Lan terjadi. Bukan hanya Xuan Lan yang menjadi korban namun banyak prajurit juga menjadi korban dalam perang itu, beruntung setiap kekaisaran mampu dan mau memberi kompensasi kepada seluruh keluarga para prajurit yang sudah tewas di medan perang atas permintaan pangeran Zhan.


Tidak ada orang yang tidak mengenal Xuan Lan. Seorang gadis dengan keberaniannya yang mencurahkan apapun miliknya hanya untuk para rakyat. Keberanian dan kisah cinta Xuan Lan sudah menggaung dimana-mana. Bahkan sudah ada beberapa orang yang menulis kisah hidup Xuan Lan agar semua generasi di masa depan bisa mengenal pahlawan wanita pertama bagi mereka.


Pangeran Zhan sudah memantapkan langkahnya. Ia akan meninggalkan kekaisaran Xiao dan menetap di markas Gold Tiger sebagai reine disana. Ia sudah satu bulan ini ikut membantu kakaknya menggantikan posisi ayahnya karena seperti ramalan sang peramal jika saat pangeran Gui menaiki tahta menjadi kaisar maka akan sangat sulit rintangan yang dihadapinya karena kondisi kekaisaran yang belum stabil. Jika ia akan turun dari tahta juga tidak mungkin karena kondisi kaisar Xiao Nan yang sudah tidak ingin lagi memimpin kekaisaran.


"Apa kau yakin dengan pilihan ini?" tanya kaisar Xiao Gui saat melihat pangeran Zhan berkemas.


"Ya, aku akan menjalani hidupku seperti yang Xuan Lan inginkan" ucap pangeran Zhan sambil menghembuskan nafasnya.


"Apa kau tidak ingin menemani ayah terlebih dulu untuk beberapa hari lagi?" tanya kaisar Gui.


"Aku rasa kondisinya sudah membaik walaupun mentalnya masih sedikit terguncang. Bagaimanapun aku juga memiliki tanggung jawab di Gold Tiger, kasihan Bao dia pasti perlu istirahat karena dua tahun ini ia yang memimpin organisasi itu" ucap pangeran Zhan.


"Aku titip ayah" ucap pangeran Zhan kemudian pergi begitu saja dari hadapan kaisar Gui.


Kaisar Gui menggelengkan kepalanya menatap adiknya yang sudah pergi itu. Menurutnya adiknya yang satu itu tidak pernah berubah, selalu datang dan pergi sesuka hatinya tanpa pamit namun ia tidak bisa menghalanginya lebih lama lagi karena pangeran Zhan memang memiliki tugas yang lain. Kaisar Gui lalu melangkahkan kakinya ke arah kediaman milik kaisar Xiao Nan.


"Ayah" sapa kaisar Gui saat melihat ayahnya yang sedang duduk termenung sambil menghadap ke langit.


"Hmm" hanya deheman kaisar Xiao Nan yang biasa didengar oleh kaisar Gui. Ia sebenarnya sangat kasihan melihat kondisi ayahnya namun ayahnya sama sekali tidak memperdulikan kondisi tubuhnya. Kaisar Xiao Nan hanya memiliki penyesalan yang mendalam selama ini. Ia bahkan pernah berniat mengakhiri hidupnya untuk bertemu putri dan istrinya namun untungnya kegilaannya diketahui oleh pangeran Zhan.


Di kekaisaran Li juga terjadi hal yang hampir serupa. Kaisar Li sudah pensiun dari masa jabatannya dan menyerahkan tugas kekaisaran kepada putra mahkota Li Xian. Kaisar Li merasa sangat sedih ia bahkan pernah sampai jatuh sakit karena kesedihannya. Untungnya kaisar Li bisa bangkit dari kesedihannya karena dorongan orang-orang di sekitarnya yang mengingatkannya pada perkataan Xuan Lan bahwa mereka semua harus hidup dengan baik.


Sementara itu.

__ADS_1


"Bolehkah aku mengunjungi mereka untuk yang terakhir kalinya?" tanya seseorang.


"Tentu, tapi tidak untuk saat ini. Kau akan kesana bersama Xiao Lan nantinya untuk menjelaskan semuanya kepada mereka" ucap sesosok mahluk yang ternyata adalah kucing gembrot yang dulu pernah bertemu dengan Xuan Lan.


"Baiklah, aku akan menunggu" ucap Xuan Lan kepada kucing tadi.


Xuan Lan mengetahui semua keadaan orang-orang yang ditinggalkannya. Ia sebenarnya sedih melihat orang-orang yang ia sayangi menangisi kepergiannya tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sebenarnya sedang menunggu gilirannya untuk menuju ke nirwana tetapi ia seperti masih belum bisa menuju kesana karena keluarganya belum menerima kepergiannya dengan lapang dada.


Sudah berminggu-minggu kejadian lalu telah terjadi. Sekarang kondisi seluruh kekaisaran sudah mulai pulih. Luka yang berada di tubuh mereka juga sudah mereda meskipun masih memiliki bekas. Saat ini kaisar Li Xian bersama keluarganya sedang berada dalam perjalanan untuk melamar putri tertua dari kekaisaran Wang, putri Wang Yu Yan. Kaisar Li Xian merasa ia harus segera menyelesaikan permintaan terakhir Xuan Lan.


Begitu pula dengan pangeran Zhan. Ia sedang berada dalam perjalanan menuju kekaisaran Wang bersama kedua kaisar serta paman dan bibinya juga tabib Bao. Mereka datang kesana dengan tujuan ingin melamar putri Wang Yuan agar menjadi istri dari pangeran Zhan.


Rombongan kaisar Xiao dan rombongan kaisar Li bertemu di gerbang masuk kekaisaran Wang. Mereka saling melempar senyum satu sama lain sebelum mereka masuk ke dalam istana kekaisaran Wang. Mereka disambut dengan sangat baik oleh kaisar Wang.


Setelah berbasa-basi kaisar Xian dan pangeran Zhan kemudian mengutarakan maksud kedatangan mereka ke kekaisaran Wang. Mereka berdua ingin menjadikan kedua putri kaisar Wang menjadi istri mereka satu-satunya. Kaisar Wang dengan senang hati menerima lamaran mereka, namun ia tetap menanyakan lebih dulu kepada kedua putrinya apakah mereka bersedia untuk dipersunting oleh kedua orang lelaki hebat di hadapannya.


"Zhen kira lebih baik pesta pernikahannya dilaksanakan disini saja agar kita tidak membuang banyak waktu dan tenaga. Zhen juga ingin melepas kepergian dua putri kesayangan Zhen dengan meriah" ucap kaisar Wang kepada calon menantunya.


"Saya menurut kepada anda saja, kaisar Wang" ucap pangeran Zhan.


"Saya juga menurut kepada apapun keinginan kaisar Wang" ucap kaisar Xian.


Kaisar Xian atau pangeran Xian masih belum terbiasa menyebut dirinya dengan panggilan Zhen. Ia lebih suka menggunakan kata saya atau aku saat berbicara.


Kaisar Wang tersenyum. Ia kemudian memerintahkan kepada pelayan kekaisaran untuk segera menyiapkan pesta pernikahan untuk kedua putrinya dalam beberapa hari ke depan.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita membahas tentang pernikahan kalian berempat saat kita makan malam nanti?" tanya kaisar Wang yang disetujui oleh semua orang disana. Kaisar Wang mengatakan itu karena ia tau jika calon besannya masih lelah karena perjalanan jauh. Mereka lalu memasuki kediaman yang telah disiapkan untuk mereka.


Keluarga kaisar Wang masih berada di ruang pertemuan. Kaisar Wang menatap kedua putrinya sambil tersenyum.


"Anak gadis ayah sudah besar rupanya, sebentar lagi kalian akan menjadi milik orang lain bukan milik ayah lagi" ucap kaisar Wang haru.


"Ayah" ucap Wang Yu Yan dan Wang Yuan sambil mendekat ke arah kaisar Wang dan memeluknya.


"Kami tetap putri ayah meskipun kami sudah dimiliki orang lain" ucap Wang Yuan saat memeluk kaisar Wang.


"Benar ayah, jangan pernah berbicara seperti itu lagi" ucap Wang Yu Yan menanggapi.


Kaisar Wang terkekeh. Ia membalas pelukan kedua putrinya tak kalah eratnya.


"Yuan'er temuilah jenderal Jiang bagaimanapun ia harus mengetahui tentang hal ini. Nanti temuilah kami lagi dan bawa jenderal Jiang saat makan malam" ucap kaisar Wang sambil melepas pelukannya kepada dua putrinya.


"Baik, ayah" ucap Wang Yuan kemudian ia pergi menemui jenderal Jiang.


Waktu makan malam tiba. Semua orang sudah berkumpul di ruang makan sambil membahas segala keperluan untuk pesta pernikahan Wang Yuan dengan pangeran Zhan dan juga pernikahan Wang Yu Yan dengan kaisar Xian.


Saat mereka sedang asyik membicarakan semua itu tiba-tiba pintu tertutup dengan kerasanya membuat semua orang terkejut dan menatap ke arah pintu. Mereka semua tambah terkejut disaat ada dua orang yang memiliki wajah yang mirip menyapa orang-orang yang berada di meja makan.


"Hai" ucap kedua orang tadi.


•••

__ADS_1


jangan lupa vote komen rate dan like


__ADS_2