
"Kami ti-d" belum selesai Xuan Lan berucap, pangeran Zhan sudah memotongnya.
"Kami ingin itu" ucap pangeran Zhan sambil menunjuk sesuatu yang berada di ruangan itu. Semua orang lantas mengikuti arah yang ditunjuk pangeran Zhan.
•••
"Maksudmu pajangan itu?" tanya ayah dari wanita tadi.
"Ya" ucap pangeran Zhan.
"Apa yang kau minta gege" bisik Xuan Lan.
"Diamlah, nanti kau juga akan tau" ucap pangeran Zhan.
Pria paruh baya tadi kemudian mengambil pajangan yang dimaksud oleh pangeran Zhan dan membawanya ke hadapan mereka.
"Ini yang anda maksud?" tanya pria tadi memastikan dan dibalas anggukan oleh pangeran Zhan.
"Dimana kau mendapatkan peta ini?" tanya pangeran Zhan.
"Saya tidak sengaja melihatnya di pasar jadi saya membelinya" ucap pria paruh baya tadi.
Xuan Lan kemudian melihat peta yang dimaksud pangeran Zhan. Matanya mulai membesar saat ia mengetahui bahwa itu adalah peta menuju gunung harapan.
"Zhan ge, i-ini?" ucap Xuan Lan kemudian pangeran Zhan mengangguk sambil menggenggam tangan Xuan Lan.
"Bolehkah kami memiliki ini?" tanya pangeran Zhan.
"Tentu, tuan. Peta ini tidak ada apa-apanya dibanding keselamatan putri kami. Apa lagi yang tuan dan nona inginkan?" tanya pria paruh baya tadi.
"Tidak ada. Kami hanya menginginkan ini" ucap Xuan Lan.
"Kami juga membutuhkan cemilan" ucap pangeran Zhan yang sukses membuat Xuan Lan memberikan jitakannya ke kepala pangeran Zhan.
"Aduhh, sakit Lan'er" gerutu pangeran Zhan sambil mengelus kepalanya yang habis dijitak Xuan Lan.
Yang lain hanya tertawa kemudian ibu dari wanita tadi meminta pelayannya untuk menyiapkan beberapa camilan agar bisa tamunya bawa.
"Ini camilannya tuan dan nona. Sekali lagi terimakasih karena telah menolong putri kami" ucap ibu si wanita.
"Kalian daritadi selalu mengucapkan terimakasih, telingaku sampai panas mendengarnya" ucap pangeran Zhan.
"Kami izin pergi" ucap Xuan Lan dengan nada datarnya.
"Apakah tuan dan nona tidak ingin menginap dulu disini?" tanya calon suami si wanita.
__ADS_1
"Tidak perlu. Oh ya, jika ada yang menanyakan tentang peta ini dan siapa yang menyelamatkan putrimu aku harap kalian jangan mengatakan apapun. Katakanlah jika yang menyelamatkan putrimu adalah pelayan dari penginapan itu" ucap pangeran Zhan kepada mereka semua.
"Kenapa tuan?" tanya ibu dari si wanita heran.
"Lakukanlah saja, ini permintaan terakhir kami" ucap pangeran Zhan kemudian pergi keluar bersama Xuan Lan dan yang lainnya.
"Kita berpisah sampai sini. Kalian kembalilah ke tempat kerja kalian" ucap Xuan Lan sambil menaiki kudanya.
"Baik, reine" jawab mereka sambil menunduk hormat.
"Kami pergi dulu" ucap pangeran Zhan kemudian memacu kudanya bersama dengan Xuan Lan. Anak buah mereka kemudian memutar kuda dan keretanya agar mereka bisa kembali ke tempat mereka.
"Matamu jeli sekali sampai kau tau jika pajangan itu sebenarnya peta menuju gunung harapan" ucap Xuan Lan.
"Aku memang dilahirkan dengan indera yang tajam Lan'er" ucap pangeran Zhan angkuh.
"Aku serius gege" ucap Xuan Lan.
"Aku juga serius. Aku tadi sebenarnya biasa saja saat mengetahui peta itu tetapi aku merasa peta itu tidak asing lalu aku memperhatikan peta itu dengan lama dan setelah aku perhatikan dengan seksama ternyata peta itu adalah peta menuju gunung harapan" ucap pangeran Zhan.
"Apakah peta itu persis seperti yang kau lihat dulu?" tanya Xuan Lan.
"Mungkin" ucap pangeran Zhan.
"Sudahlah Lan'er, itu tidak terlalu penting yang terpenting sekarang kita harus mengikuti peta ini untuk menuju gunung harapan" ucap pangeran Zhan.
"Baik gege" ucap Xuan Lan.
"Sebenarnya ada urusan apa sampai kau ingin sekali pergi ke gunung harapan?" tanya pangeran Zhan.
"Aku bingung menjelaskannya padamu. Bagaimana jika nanti saja? Kita tidak tau kan jika pohon disini itu memiliki telinga?" tanya Xuan Lan.
"Ya, kau benar" ucap pangeran Zhan kemudian memacu kudanya lebih cepat lagi.
Mereka memilih beristirahat sejenak di dekat sebuah sungai dangkal. Xuan Lan membasuh wajah, tangan dan kakinya dengan air sungai itu, badannya terasa lebih segar.
"Segarnya" ucap pangeran Zhan setelah meminum air dari sungai itu.
"Kita lanjutkan perjalanan?" tanya pangeran Zhan yang dibalas anggukan oleh Xuan Lan.
Mereka lalu menaiki kuda dan memacunya lagi. Mereka kemudian berhenti di sebuah area hutan yang cukup renggang dari pohon-pohon yang berimpitan.
"Hari sudah mulai gelap. Kita beristirahat disini sejanak" ucap pangeran Zhan kepada Xuan Lan.
Pangeran Zhan lalu mengumpulkan ranting yang ada di sekitarnya. Ia mengumpulkan ranting itu di tengah-tengah lalu ia menggosok-gosok bagian ranting dengan kayu agar bisa muncul api dari gesekan kedua benda itu.
__ADS_1
Xuan Lan yang merasa angin sudah mulai dingin memilih meminta bantuan Ran untuk menyalakan api, ia pikir ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan kepada pangeran Zhan jika ia sebenarnya memiliki Ran dan Kuma serta tujuan utamanya menuju gunung harapan.
"Ran, Kuma kalian keluarlah sebentar" ucap Xuan Lan kepada mereka berdua.
Ran dan Kuma kemudian keluar dari kalung dimensi Xuan Lan. Xuan Lan kemudian meminta Ran untuk membantu pangeran Zhan menyalakan api.
Pangeran Zhan hampir berteriak saat tiba-tiba ada naga disampingnya tetapi mulutnya sudah dibekap oleh Xuan Lan.
"Jangan berteriak, aku akan menjelaskan semuanya" ucap Xuan Lan.
Setelah Ran menyalakan api, Xuan Lan kemudian menjelaskan siapa naga dan rubah yang ada di dekatnya. Ia juga menjelaskan bagaimana mereka bertemu sampai dengan segel bintangnya juga tujuannya menuju gunung harapan.
Ia juga mengatakan jika ia mengetahui segel bintang itu sebenarnya dari Ran tetapi tidak dipungkiri jika ia juga mengetahui rahasia besar itu dari dewa yang memberitahunya dulu. Ia juga menceritakan bahwa ia bukanlah Xiao Lan, ia adalah Xuan Lan yang berasal dari masa depan.
Awalnya pangeran Zhan tidak percaya dengan ucapan Xuan Lan tetapi setelah Xuan Lan menjelaskan keadaan dengan sungguh-sungguh akhirnya pangeran Zhan percaya. Ia sempat menangis karena tidak bisa melindungi adiknya tetapi Xuan Lan sudah benar-benar menjadi adiknya sekarang.
"Jadi, Xiao Lan sudah meninggal?" tanya pangeran Zhan lirih.
"Ya, maafkan aku baru memberitahumu sekarang. Kau bisa pergi besok pagi jika kau merasa tertipu olehku, besok sore kemungkinan kau sudah akan sampai lagi ke kekaisaran Tang" ucap Xuan Lan kemudian ia meminta Ram dan Kuma untuk kembali masuk ke dalam kalung dimensinya.
Xuan Lan lalu membaringkan tubuhnya membelakangi pangeran Zhan. Ia tidak bisa melihat tatapan sedih pangeran Zhan karena hal itu sangat melukai hatinya.
"Lan'er apa kau sudah tidur?" tanya pangeran Zhan.
"Belum" ucap Xuan Lan masih dengan memunggungi tubuh pangeran Zhan.
"Jika merasa tertipu, memang aku merasa tertipu" ucap pangeran Zhan sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Tapi aku tidak pernah menyesal pernah ditipu olehmu" ucap pangeran Zhan yang membuat Xuan Lan membalikkan tubuhnya.
"Bagaimanapun kau tetaplah adikku, Xuan Lan. Aku menyayangimu dengan tulus, aku tidak akan pernah bisa meninggalkanmu sendirian. Sudah cukup Xiao Lan yang aku biarkan melewati hari-harinya sendirian. Aku tidak mau kehilangan adikku untuk yang kedua kalinya" ucap pangeran Zhan sambil menatap wajah Xuan Lan.
Xuan Lan merasa terharu mendengar ucapan pangeran Zhan. Tanpa ia sadari air matanya sudah menetes. Xuan Lan memang beringas terhadap musuhnya tetapi jika menyangkut tentang keluarga ia akan menjadi sangat lemah dan rapuh.
Tangan dingin pangeran Zhan menghapus air mata yang mengalir di pipi Xuan Lan.
"Jangan menangis, aku akan selalu melindungimu" ucap pangeran Zhan sambil tersenyum.
Mereka berdua akhirnya tidur dengan pengawasan Kuma karena Kuma diam-diam keluar dari ruang dimensi milik Xuan Lan untuk mengawasi mereka berdua. Apalagi ia hanya berbentuk seekor rubah jadi jika ada orang maka ia tidak akan begitu terkejut tetapi akan berbeda lagi ceritanya jika Ran yang menjaga mereka.
•••
**jangan lupa vote komen like dan rate.
diupdate pukul 18.01**
__ADS_1