PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
SEMBILAN PULUH ENAM


__ADS_3

Mereka berdua akhirnya tidur dengan pengawasan Kuma karena Kuma diam-diam keluar dari ruang dimensi milik Xuan Lan untuk mengawasi mereka berdua. Apalagi ia hanya berbentuk seekor rubah jadi jika ada orang maka ia tidak akan begitu terkejut tetapi akan berbeda lagi ceritanya jika Ran yang menjaga mereka.


•••


Keesokan paginya, Xuan Lan bangun terlebih dulu. Ia mengamati sekelilingnya, api yang mereka nyalakan kemarin malam sudah padam. Ia kemudian membangunkan pangeran Zhan.


"Bangun, gege" ucap Xuan Lan sambil menggoyang-goyangkan tubuh pangeran Zhan.


Pangeran Zhan kemudian mengerjapkan matanya untuk menerima cahaya matahari yang mulai masuk di cela-cela pohon yang berhimpitan.


"Emmh" erang pangeran Zhan sambil membangunkan tubuhnya.


"Aku akan mencari buah terlebih dahulu" ucap pangeran Zhan kemudian memanjat salah satu pohon yang ada disana. Ia lalu memetik buah-buah yang berada di pohon itu dan melemparnya ke bawah.


"Ini Lan'er" ucap pangeran Zhan sambil menyodorkan buah yang sudah ia kupas.


Xuan Lan dengan senang hati mengambilnya. Ia tidak tau nama buah ini yang jelas rasanya manis dan buah ini memiliki banyak sekali air. Kuda milik mereka juga sudah memakan rumput basah yang terkena embun pagi.


Setelah memakan buah mereka kembali menaiki kudanya untuk melanjutkan perjalan mereka. Sebelum itu pangeran Zhan kembali membuka peta.


"Sepertinya kita harus berjalan ke arah barat" ucap pangeran Zhan.


Mereka lalu mulai memacu kudanya ke arah barat. Tidak ada sedikitpun rintangan saat mereka memulai perjalanan dari kemarin mungkin karena arah ke gunung harapan yang jarang sekali dilalui oleh orang-orang tetapi pangeran Zhan dan Xuan sangat bersyukur akan hal itu. Mereka tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk menghadapi orang-orang yang akan mengganggu mereka.


Jalanan masih saja datar. Kuda mereka tidak memerlukan tenaga lebih untuk mendaki jalan yang menanjak. Setelah berjam-jam berkuda mereka memilih istirahat sejenak karena kuda-kuda itu juga perlu istirahat dan minum air jadi mereka berhenti di dekat sungai lagi.


Sambil menunggu kuda mereka memakan rerumputan, pangeran Zhan dan Xuan Lan membuka camilan yang kemarin diberikan oleh orang yang mereka tolong. Setelah merasa kenyang mereka kemudian menutup kembali cemilan tadi dan meminum air dari sungai tak lupa mereka mengisi botol bambu mereka dengan air dari sungai itu.


Sebenarnya di dalam kalung dimensi milik Xuan Lan sudah tersedia air dan makanan tetapi ia tidak mau jika hanya mengandalkan berbagai keperluan mereka dari kalung dimensi karena ia sudah terbiasa mencari makanan di hutan dan ia ingin sekali merasakan rasa mengembara yang sesungguhnya meskipun ia masih merasa jika ia terlalu dimanja oleh pangeran Zhan. Ia akan menggunakan apapun yang ada di kalung dimensinya jika keadaan benar-benar mendesak.


"Sepertinya kuda kita sudah kenyang" ucap Xuan Lan kepada pangeran Zhan.

__ADS_1


"Ya, ayo kita lanjutkan perjalanan kita" ucap pangeran Zhan sambil mengulurkan tangannya kepada Xuan Lan untuk membantunya berdiri.


"Bagaimana jika kita menuntun kuda kita saja gege?" tanya Xuan Lan karena ia merasa kasihan pada kudanya jika langsung dinaiki lagi.


"Baiklah, tapi jika kau lelah kau harus segera menaiki kudamu" ucap pangeran Zhan sambil menyubit gemas hidung Xuan Lan.


Mereka berdua akhirnya menuntun kuda mereka. Xuan Lan melihat kelinci yang sedang meloncat-loncat di hadapannya. Insting berburunya mulai aktif, ia lalu berlari untuk menangkap kelinci itu. Ternyata sangat sulit untuk menangkap kelinci hutan. Setelah sekian lama ia berputar-putar untuk menangkap kelinci itu, akhirnya kelinci itu tertangkap juga.


"Akhirnyaa" ucap Xuan Lan sambil membawa kelinci itu mendekat ke arah pangeran Zhan yang sedang memegangi dua kuda.


Mereka menuntun kudanya sampai mereka menemukan tempat untuk bermalam untuk hari ini. Sebelum matahari menghilang mereka sudah menyalakan api dan mereka juga sudah menyembelih kelinci yang Xuan Lan tangkap tadi. Sekarang mereka sedang membakar daging kelinci yang aromanya sangat menggugah selera itu.


Xuan Lan lalu memakan daging kelinci bakar dengan asap yang masih mengepul itu.


"Hati-hati panas, tiup dulu" ucap pangeran Zhan memperingati Xuan Lan.


Xuan Lan yang sudah membuka mulutnya kembali menutupnya lagi. Ia kemudian meniup-niup daging bakar yang berada di tangannya. Setelah dirasa hangat ia baru memakan daging itu begitu pula dengan pangeran Zhan.


"Gurih sekali padahal daging ini tidak diberi apapun" ucap Xuan Lan.


Mereka lalu memakan makanan mereka hingga tandas. Setelah itu mereka membaringkan diri mereka dan bersiap untuk tidur.


"Apa kau merasa dingin?" tanya pangeran Zhan kepada Xuan Lan.


"Tidak" ucap Xuan Lan berbohong.


"Lebih baik kita mengambil selimut yang ada di dalam kalung dimensi milikmu. Aku kedinginan" ucap pangeran Zhan agar Xuan Lan mau menggunakan selimutnya, ia tau jika Xuan Lan sedang berbohong.


Xuan Lan lalu mengeluarkan selimut dari ruang dimensinya. Ia lalu memberikannya kepada pangeran Zhan dan ia juga memakai miliknya sendiri.


"Selamat malam Lan'er" ucap pangeran Zhan.

__ADS_1


"Selamat malam gege" ucap Xuan Lan.


Setelah itu mereka menuju alam mimpinya masing-masing. Dan lagi, Kuma keluar dari kalung dimensi saat mereka berdua sudah tidur.


"Dasar orang aneh, seharusnya satu orang berjaga satu orang lagi tidur. Bukan malah mereka semua tidur" ucap Kuma sambil menatap dua kakak beradik itu.


"Itu karena kami tau kau akan menjaga kami, Kuma. Kau juga bisa tidur di siang hari saat berada di dalam kalung dimensi" ucap Xuan Lan yang masih memejamkan matanya.


Kuma hanya diam sambil menatap Xuan Lan. Ia kira Xuan Lan sudah tertidur tetapi nyatanya belum. Ia kemudian menjaga mereka berdua sampai pagi.


Setelah pagi datang, Kuma baru masuk kembali ke dalam kalung dimensi. Ia memang sengaja tidak membangunkan Xuan Lan ataupun pangeran Zhan, entahlah apa tujuannya.


Pangeran Zhan bangun terlebih dulu. Ia menepuk-nepuk pipi Xuan Lan dengan lembut agar si empunya bangun dari tidur nyenyaknya. Setelah Xuan Lan membuka matanya pangeran Zhan kembali berkeliling untuk mencari buah atau apapun yang bisa dimakan.


Tak lama setelah itu pangeran Zhan kembali. Ia membawa buah mangga kali ini. Ia mengupaskannya dulu untuk Xuan Lan kemudian ia baru mengurusi miliknya sendiri.


"Aku bisa mengupas milikku sendiri gege" ucap Xuan Lan sambil memakan buahnya.


"Benarkah? Aku kira kau tidak bisa mengupas buahnya jadi aku sengaja mengupaskannya untukmu" ucap pangeran Zhan setelah ia menelan buah mangga itu.


Setelah memakan buah mangga, mereka lalu menaiki kudanya untuk melanjutkan perjalanan mereka. Di tengah jalan, pangeran Zhan mendengar ada suara rintihan. Inderanya memang sangat tajam. Ia lalu mengajak Xuan Lan berbelok ke arah lain sebentar untuk mengetahui asal suara itu.


Ia semakin yakin jika ada orang yang merintih kesakitan setelah melihat bekas pertarungan di sekitar daerah itu.


"Kenapa seperti ada yang baru saja bertarung" bisik Xuan Lan.


"Aku juga tidak tau, ayo kita lihat kesana" ucap pangeran Zhan kemudian menarik tangan Xuan Lan agar ia lebih mendekat kepadanya.


Mereka lalu mengintip dari balik pohon. Mereka melihat ada seorang kakek tua yang sedang terluka sambil memegangi perutnya. Ia seperti meminta pertolongan. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar sana, Xuan Lan dan pangeran Zhan kemudian mendekati kakek tua itu. Pangeran Zhan meminta Xuan Lan untuk mengobati kakek tua itu. Sebenarnya tanpa diminta pangeran Zhan, Xuan Lan sudah akan mengobati kakek itu. Ia melihat luka yang ada pada tubuhnya sebelum ia meracik herbal yang ia perlukan untuk mengobati kakek ini.


•••

__ADS_1


**jangan lupa vote komen rate dan like


diupdate pukul 08.13**


__ADS_2