PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
SEMBILAN PULUH TUJUH


__ADS_3

Mereka lalu mengintip dari balik pohon. Mereka melihat ada seorang kakek tua yang sedang terluka sambil memegangi perutnya. Ia seperti meminta pertolongan. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar sana, Xuan Lan dan pangeran Zhan kemudian mendekati kakek tua itu. Pangeran Zhan meminta Xuan Lan untuk mengobati kakek tua itu. Sebenarnya tanpa diminta pangeran Zhan, Xuan Lan sudah akan mengobati kakek itu. Ia melihat luka yang ada pada tubuhnya sebelum ia meracik herbal yang ia perlukan untuk mengobati kakek ini.


•••


Setelah menumbuk dan menempelkan herbal itu pada kakek yang terluka, Xuan Lan kemudian berjalan lagi ke arah kudanya. Ia mengambil air yang sudah ia ambil kemarin saat di sungai.


Setelah itu ia kembali lagi ke arah pangeran Zhan yang sedang menunggu kakek itu. Xuan Lan kemudian memasukkan pil ke dalam mulut kakek itu dan mendorongnya menggunakan air yang sudah ia bawa tadi agar pil itu bisa bekerja secar sempurna di dalam tubuh si kakek. Lambat laun, mata kakek itu mulai terbuka. Bibirnya merintih perlahan, ia mencoba bangun tetapi gagal.


"Kakek tidur saja dulu" ucap Xuan Lan kepada kakek tadi.


Hampir seharian Xuan Lan dan pangeran Zhan menunggu kakek itu agar ia tubuhnya bisa benar-benar kuat. Pangeran Zhan juga sudah mencari makanan untuk mereka makan hari ini. Mungkin mereka akan bermalam di tempat kakek ini ditemukn terlebih dahulu.


Sore hari, kakek itu baru bangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya. Xuan Lan yang mengetahui hal itu kemudian mendekati kakek itu dan membantunya bangun. Ia lalu memberikan air dan beberapa buah-buahan yang telah ia kupas untuk kakek itu.


"Apa kakek sudah merasa lebih baik?" tanya Xuan Lan.


"Ya" jawab kakek itu lirih sambil tersenyum.


"Lebih baik kakek istirahat lagi. Mungkin besok keadaan kakek akan menjadi lebih baik lagi" ucap Xuan Lan kepada kakek tadi. Kakek itupun mengangguk. Ia membaringkan lagi tubuhnya dibantu dengan Xuan Lan.


"Bagaimana Lan'er?" tanya pangeran Zhan.


"Mungkin besok kondisinya sudah membaik baru kita bisa meninggalkannya" ucap Xuan Lan.


"Ya, tidak masalah jika harus merawatnya seharian" ucap pangeran Zhan sambil tersenyum. Mereka kemudian memilih memakan makanan yang sudah didapat oleh pangeran Zhan.


Saat malam hari tiba, pangeran Zhan meminta Xuan Lan untuk tidur sedangkan ia akan berjaga. Ia melarang Kuma keluar karena ia masih waspada kepada kakek tadi. Walaupun ia sudah tua, pangeran Zhan masih belum mengetahui apa alasan kakek tadi bertarung dan siapa kakek itu.


Matahari mulai menyingsing, pagi mulai menyapa. Tak terasa pangeran Zhan malah tertidur saat melakukan tugas begadangnya kemarin. Ia lalu mengamati sekitar. Semuanya terasa sama seperti saat ia belum tertidur hanya saja api yang mereka nyalakan kemarin sudah padam. Ia lalu membangunkan Xuan Lan dengan lembut.


Xuan Lan membuka matanya. Ia kemudian melihat kondisi kakek yang kemarin ia tolong. Herbal yang menempel di tubuhnya mulai mengering tetapi Xuan Lan masih membiarkan itu semua. Ia lalu mengupas buah dan memakannya.


Tak lama kemudian kakek itu terbagun dari tidurnya. Ia kemudian menegakkan tubuhnya dar posisi tidurnya. Pangeran Zhan kemudian memberikan air dan buah kepada kakek tadi. Perlahan tapi pasti, kakek tadi mulai memakan makanan yang diberikan oleh pangeran Zhan kepadanya.

__ADS_1


"Bagaimana perasaan kakek?" tanya Xuan Lan.


"Aku merasa lebih baik" ucap kakek itu lemah.


"Kenapa kakek bisa terluka sampai seperti itu?" tanya Xuan Lan.


"Aku diserang" ucap kakek itu.


"Apakah ada alasan mereka menyerang kakek?" tanya Xuan Lan lagi.


"Aku tidak bisa memberitahukannya pada kalian" ucap kakek tadi dengan suara seraknya.


Xuan Lan memahaminya, ia terlalu banyak bertanya sehingga orang yang ia ajak berbicara merasa tidak nyaman.


"Terimakasih anak muda" ucap kakek tadi.


Xuan Lan dan pangeran Zhan hanya saling pandang. Mereka lalu menganggukkan kepalanya bersamaan.


"Memang kalian mau kemana?" tanya kakek tadi.


"Ada urusan apa sampai kau ingin pergi kesana?" tanya kakek itu.


"Maaf kek, aku tidak bisa memberitahukannya padamu" ucap Xuan Lan mengulangi ucapan kakek tadi.


Kakek tadi hanya mengangguk. Ia kemudian berkata lagi.


"Bolehkah aku ikut dengan kalian? Aku juga ingin kesana" ucap kakek tadi.


Xuan Lan memandang pangeran Zhan meminta jawaban. Sedangkan pangeran Zhan nampak berpikir terlebih dulu. Pangeran Zhan tidak mau jika orang ini hanya akan memanfaatkan mereka berdua. Bukannya berburuk sangka, tetapi waspada adalah hal yang utama.


"Kami tidak mengetahui jalan menuju gunung harapan. Kami berjalan tak tentu arah, jadi apakah kau mau menunjukkan kepada kami jalan menuju gunung harapan?" tanya pangeran Zhan.


Pria tua tadi mengangguk. Ia akan menunjukkan arah kepada dua orang yang telah menolongnya ini dimana letak gunung harapan. Mereka sudah menyelamatkan nyawanya jadi jika hanya menunjukkan arah menuju gunung harapan itu tidak masalah baginya.

__ADS_1


Mereka bertiga kemudian berjalan untuk mendekati kuda di dekat mereka.


"Kau naik saja ke kuda itu, kek. Aku akan menuntunnya" ucap pangeran Zhan.


Xuan Lan juga tidak bergeming. Ia masih berada di samping kudanya dan belum naik kesana. Jika gegenya akan menuntun kuda maka ia akan melakukan hal yang sama.


Kakek tua itu tersenyum. Ia lalu menaiki kuda dibantu oleh pangeran Zhan.


"Kemana kita arah kita akan pergi kek?" tanya pangeran Zhan.


"Kita harus berbalik terlebih dahulu lalu menuju ke arah barat" jawab kakek itu. Pangeran Zhan sedikit terkejut tapi ia tidak menampakkan ekspresi terkejutnya itu. Ia yakin kakek ini benar-benar mengetahui letak gunung harapan karena ucapannya sama dengan apa yang ditunjukkan di dalam peta.


Mereka lalu membalik kudanya kemudian berjalan mengikuti arah yang kakek tadi katakan.


"Apa kau merasa gerah Lan'er?" tanya pangeran Zhan pada Xuan Lan yang sedang menuntun kuda di sampingnya.


"Tidak gege" ucap Xuan Lan sambil menggeleng.


"Hutan ini sangat sejuk, bahkan cahaya matahari seperti tidak bisa masuk ke dalam sini karena rapatnya pepohonan" ucap Xuan Lan sambil melihat ke arah atas.


Pangeran Zhan juga mengikuti arah pandang Xuan Lan. Jalur yang mereka lalui memang lebih gelap daripada yang sebelumnya bahkan celah untuk sinar matahari hampir tidak ada.


"Jarang sekali orang yang bisa memasuki hutan ini maka dari itu hutan ini masih sangat terjaga bahkan sampai seperti ini" ucap kakek tadi.


"Apakah kau sering ke gunung harapan kek?" tanya pangeran Zhan.


"Ini kali ketiga ku menuju gunung harapan" ucap kakek tadi sambil tersenyum namun ada guratan kesedihan yang tampak dari matanya. Mereka lalu melanjutkan perjalanannya tanpa berkata apapun.


"Goarr" tiba-tiba sekelompok singa datang mengepung mereka bertiga beserta kudanya. Ukuran mereka sedikit lebih besar daripada singa normal lainnya.


•••


**jangan lupa vote komen like dan rate

__ADS_1


diupdate pukul 14;36**


__ADS_2