PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
EMPAT PULUH LIMA


__ADS_3

Xiao Lan hanya bisa menggerutu sebal karena pangeran Zhan tidak mau melepas pelukannya.


•••


Setelah terlepas dari belenggu pangeran Zhan, Xiao Lan memilih untuk mengunjungi lapangan latihan prajurit untuk sedikit meredakan sakit punggungnya setelah dipeluk tiga jam oleh pangeran Zhan.


Ia melihat para prajurit yang bertarung dengan gagahnya menurut author tapi tidak sama sekali menurut Xiao Lan.


Ia segera mengambil pedang yang berada disana kemudian menyerang dua orang yang sedang bertarung itu.


Orang yang sedang bertarung tadi terkejut karena ada orang yang menyerang mereka secara mendadak. Mereka langsung mengarahkan pedangnya kepada orang tadi.


prang prang prang suara pedang saling beradu,


Takk


Dua dari tiga pedang yang sedang beradu tadi jatuh ke tanah. Semua orang menganga tidak percaya karena jenderal besar bersama wakilnya kalah melawan seorang gadis.


"Latihan kalian terlalu lemah" ucap Xiao Lan,


"Putri kedua" mereka lalu menundukkan kepalanya menghormati Xiao Lan,


"Berdirilah" ucap Xiao Lan,


"Belum lima menit kalian bertarung denganku tapi kalian sudah kalah, bagaimana kalian bisa menjadi seorang jenderal dan wakil jenderal?" tanya Xiao Lan heran,


"Bagaimana dengan para bawahanmu jika kalian saja seperti ini" sambungnya sambil berkacak pinggang,


"Maaf putri" ucap mereka serempak,


"Siapa yang menaungi kalian?" tanyanya lagi,


"Putra mahkota" jawab jenderal,


"Kenapa bukan pangeran ketiga yang menjadi atasan kalian? Bukankah ia lebih kuat dari putra mahkota?" tanya Xiao Lan lagi,


"Ampun putri kami tidak mengetahui tentang hal itu"


"Hmm, yasudah temani aku bertarung lagi. Sekalian aku akan mengajari kalian beberapa cara agar kalian menjadi lebih kuat"


Jenderal dan wakilnya tadi menatap Xiao Lan horor, baru saja mereka dikalahkan tapi ia sudah mengajak mereka bertarung lagi.


Xiao Lan bisa menangkap maksud tatapan mereka,


"Tenanglah kali ini aku tidak akan seperti tadi"


Mau tidak mau jenderal dan wakilnya yang tidak berdaya tadi harus menemani Xiao Lan bermain pedang tapi benar saja Xiao Lan tidak seganas saat bermain pada awal tadi.


Jenderal dan wakil jenderal menjadi agak rileks karena Xiao Lan mengimbangi tenaga dan kekuatan mereka.


"Kalian semua bersorak-soraklah dan dukung siapapun yang kalian dukung" ucap Xiao Lan kepada orang-orang yang menonton mereka di pinggir lapangan,


"Putri Xiao Lan kau pasti menang"


"Ayo jenderal kau pasti bisa"


"Putri Xiao Lan"

__ADS_1


"Putri putri"


Mereka kemudian mendukung jagoan mereka masing-masing. Konsentrasi jenderal dan wakilnya mulai terpecah.


"Fokus kepada lawanmu jangan dengarkan mereka" ucap Xiao Lan kepada kedua orang tadi,


Jenderal dan wakilnya mulai berkonsentrasi lagi mereka fokus menyerang Xiao Lan yang menjadi musuh mereka saat ini. Xiao Lan tersenyum puas karena dua orang ini sudah bisa mengendalikan dirinya.


prang prang prang suara pedang terus beradu tidak ada satu pun yang mau mengalah.


Sorak-sorak pendukung dua kubu tadi semakin keras terdengar sehingga menimbulkan rasa penasaran orang-orang istana. Semakin lama semakin ramai pula orang yang mendukung mereka bertiga di lapangan.


"Ada apa kasim kenapa di lapangan latihan sepertinya sangat ramai?" tanya kaisar Xiao yang sedang berada di ruang kerjanya,


"Ampun yang mulia hamba tidak tau soal itu lebih baik kita kesana untuk memantau langsung" ucap kasim An,


"Baiklah ayo kita kesana"


Sorak-sorak semakin terdengar tatkala langkah kaki kaisar semakin mendekati lapangan latihan.


"Jaga pandanganmu, rasakan bila ada musuh di sekitarmu" ucap seseorang yang mulai bisa didengar kaisar,


prang prang prang


Tak


Xiao Lan memukul mundur jenderal dan wakilnya tadi tapi pedang mereka masih berada di tangan mereka dengan erat.


"Bagus, pedang kalian tidak terjatuh sama sekali. Pertahankan apa yang aku katakan ke kalian tadi jangan lupa ajari bawahanmu untuk melakukan hal yang sama, mengerti?"


"Mengerti putri" jawab mereka dengan nafas yang terengah-engah,


"Aku mengajarkan mereka cara berpedang yang lebih baik lagi putra mahkota" jawab Xiao Lan malas,


"Apa? Kau itu perempuan dan kau tidak bisa mengambil alih pasukanku seenakmu" ucap putra mahkota Gui kesal,


"Ini hanya berlatih, jika kalian berperang menggunakan seni pedang yang kau ajarkan kemungkinan besar kalian semua akan kalah" ucap Xiao Lan,


"Apa maksudmu?" ucapnya kesal kemudian mengambil pedangnya,


"Jika kau bisa mengalahkan aku maka pasukan ini akan kuberikan padamu seluruhnya" ucap putra mahkota dengan angkuh,


Jenderal dan wakil jenderal menggelengkan kepalanya kepada putra mahkota. Mereka mengisyaratkan agar putra mahkota tidak bertarung dengan gadis di depannya karena sudah merasakan dahsyatnya kekuatan putri Xiao Lan.


"Hoamm" Xiao Lan menguap dengan malas,


"Baik, tapi aku tidak ingin pasukanmu aku hanya ingin melatih mereka selama dua minggu jika kau mau memberikannya padaku maka pasukanmu akan aku berikan kepada Zhan gege" ucapnya lagi,


"Lan'er kau meragukanku?" tanya seseorang dari balik pohon,


"Bukan gege, ini adalah hadiah dariku jika aku menang karena kau selalu melindungiku"


"Tapi aku sudah memiliki pasukan sendiri, Lan'er" ucapnya lembut,


Semua orang rasanya ingin merekam suara pangeran Zhan yang lembut ini, tidak pernah ada sejarahnya pangeran yang paling dingin ini mengatakan sesuatu dengan lembut.


"Setengahnya saja gege, mungkin akan berguna untukmu ke depannya" bujuk Xiao Lan lagi,

__ADS_1


"Terserah" ucap pangeran Zhan malas,


"Ayo kita mulai" ucap putra mahkota langsung menyerang Xiao Lan, tetapi yang diserang hanya menghindar ia terlalu malas untuk menghadapi orang angkuh seperti ini.


Putra mahkota mulai kelelahan saat itulah Xiao Lan menyerangnya bertubi-tubi sampai akhirnya pedang yang dipegang putra mahkota jatuh.


"Ucapan adalah janji, semua pasukanmu sekarang menjadi milikku putra mahkota yang terhormat" ucap Xiao Lan seraya tersenyum mengejek,


____


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian Xiao Lan kembali mengelilingi istana. Entahlah ia sangat suka berjalan-jalan bahkan di hutan iblis pun setiap hari ia juga berjalan-jalan.


Tujuan ia berkeliling juga agar ia bisa memahami bagaimana karakteristik orang-orang pada zaman dulu.


Ia tak sengaja mendengar suara aneh saat berada di depan kediaman putri Xiao Xi disana juga sama sekali tidak ada pelayan maupun penjaga.


"Aneh sekali ada apa disini" gumamnya penasaran,


Ia lalu berputar dan membuka sedikit jendela kamar Xiao Xi.


"Bukankah dia belum menikah kenapa sudah berciuman di kamar seperti ini"


Lama kelamaan orang yang bersama putri Xiao Xi melepas hanfu luar putri Xiao Xi.


Xiao Lan ingin muntah rasanya. Ia tau apa yang akan mereka berdua lakukan ia segera menutup kembali jendela tadi. Keberuntungan sedang berpihak padanya ia melihat seekor ular sedang merayap di dahan pohon.


Ia lalu mengambil ular yang berukuran cukup besar itu kemudian ia lemparkan melalui genteng di kamar putri Xiao Xi. Ia juga menangkap beberapa ulat bulu yang masih tersisa di pohon itu dan ikut melemparkannya.


Putri Xiao Xi yang sedang bercumbu itu melihat ada ulat bulu di kepala pria yang bersamanya, ia langsung berteriak dengan kencang sambil menjauh dari pria tadi.


"Kau kenapa?" tanya pria tadi dengan wajah yang memerah kemudian ia menggaruk-garuk badannya yang mulai terasa gatal,


"Kenapa ada ulat bulu disini" pekiknya,


Putri Xiao Xi semakin memundurkan dirinya, lama kelamaan langkah kakinya menyentuh benda yang kenyal dan licin. Ia melihat apa yang ia injak.


"Aaaaa" ia berteriak dengan sangat keras karena sudah menginjak ular yang berukuran cukup besar itu,


Xiao Lan ingin sekali tertawa melihat mereka berdua tapi ia harus menahannya.


"Xie'er kau kenapa?" pria tadi lalu menghampiri Xiao Xi yang sudah terlanjur pingsan itu,


Ia melihat ada ular yang sangat besar berada di bawah kaki Xiao Xi. Saat ia akan menyingkirkan ular tadi terdengar suara derap kaki menuju ke kediaman Xiao Xi, ia memilih mengurungkan niatnya kemudian membenarkan pakaian Xiao Xi lalu pergi.


"Putri pertama!" ucap para pelayan saat mengetahui junjungan mereka pingsan dengan ular disampingnya dan banyak ulat bulu bertebaran disana,


Sedangkan Xiao Lan sudah kembali saat ia melihat banyak pelayan yang menuju ke kediaman Xiao Xi dari jauh.


Ia bisa tertawa puas saat mengingat wajah Xiao Xi dan prianya.


"Astaga lucu sekali ekspresi mereka tadi, harusnya aku sering-sering mengerjai mereka berdua hahaha" ia kemudian tertawa tanpa henti.


••••


JANGAN LUPA VOTE KOMEN RATE DAN LIKE


maaf ya ada adegan gituannya, author sebenernya geli bgt pas buat😭😭 tapi kepikirannya itu yaudah deh ditulis aja.

__ADS_1


TERIMAKASIH


chiccacaaa


__ADS_2