
"Ingatkan dia jangan melakukan hal apapun kepada tubuhnya, biarkan saja dia memakan racun agar kita tidak ketahuan" peringat permaisuri Juan,
"Baik ibu"
•••
Xiao Lan mengisi hari-harinya dengan melatih para prajurit dari putra mahkota. Sudah satu minggu lebih ia memberi latihan kepada mereka semua dan mereka juga mulai terbiasa dengan pelatihan sadis Xiao Lan.
"Pasukan satu aku beri istirahat lima menit, mulai" ucap Xiao Lan,
Para prajurit bergegas minum air yang sudah berada di tepi lapangan mereka juga tidak berebut karena mereka sudah memiliki jatah sendiri-sendiri.
"Selesai kembalilah ke tempat kalian masing-masing"
Kemudian ia melanjutkan itu semua sampai seluruh pasukan telah membasahi tenggorokannya.
"Ayo kita latihan lagi" ucap Xiao Lan bersemangat,
Mereka yang melihat Xiao Lan bersemangat juga ikut bersemangat untuk melakukan latihannya. Pagi, siang dan malam walaupun cuaca sedang terik ataupun hujan mereka harus selalu siap berada di lapangan ini ketika Xiao Lan sudah membunyikan terompet.
Xiao Lan tentu saja melakukan hal itu dengan alasan yang pasti. Ia ingin semua pasukan ini siap siaga saat menerima serangan mendadak dari waktu-waktu yang tidak pernah bisa diperkirakan seperti itu.
Setelah selesai melatih para prajurit ia memilih kembali ke kediamannya menikmati angin sore yang menerpa tubuhnya.
"Segarnyaa" gumam Xiao Lan,
"Xiao Lan" ucap seseorang,
Xiao Lan menengok orang itu sejenak kemudian ia kembali menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.
"Xiao Lan aku ingin minta maaf, bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi?" tanya putri Xiao Xi penuh harap,
Xiao Lan memincingkan matanya,
"Maaf? Apa aku tidak salah dengar kau meminta maaf?"
"Tentu Xiao Lan, aku akan melakukan apapun agar kau mau memaafkanku" ucap putri Xiao Xi lagi,
Xiao Lan mulai tersenyum miring,
"Apapun?" ulang Xiao Lan,
"Iya, aku akan melakukan apapun agar mendapatkan maafmu" ucap putri Xiao Xi sekali lagi,
"Kau bersujudlah di depan kediamanku dan katakan 'Aku meminta maaf kepadamu Xiao Lan' berulang kali sampai aku memaafkanmu. Kau pasti tau sangat sulit menyembuhkan luka yang selalu menumpuk di hatiku ini"
"B-baik aku akan melakukannya" ucap putri Xiao Xi,
__ADS_1
"Mulailah" ucap Xiao Lan datar,
Putri Xiao Xi kemudian menjatuhkan kedua kakinya di depan kediaman Xiao Lan, ia kemudian bersujud dan mengulangi kata yang diucapkan Xiao Lan tadi,
"Aku meminta maaf kepadamu Xiao Lan"
"Aku meminta maaf kepadamu Xiao Lan"
"Aku meminta maaf kepadamu Xiao Lan"
Ia mengucapkan itu berulang kali tapi Xiao Lan masih menikmati angin sore. Ia kemudian beranjak dan masuk ke kediamannya seketika putri Xiao Xi berhenti berbicara seperti tadi.
"Kenapa diam?" tanya Xiao Lan heran,
"Bukankah kau sudah memaafkanku?" tanya putri Xiao Xi,
"Belum, aku ingin mandi nanti aku kemari lagi. Lakukanlah hal itu sampai aku mengatakan jika aku memaafkanmu" ucap Xiao Lan lalu pergi memasuki kediamannya.
Xiao Xi kembali bersujud dan mengucapkan kata-kata yang sama, pelayan yang tidak sengaja melewati kediaman Xiao Lan menatap bingung Xiao Xi yang sedang bersimpuh itu. Ia kemudian pergi untuk memberitahu pelayan yang lain.
Xiao Lan belum juga keluar dari kediamannya sedangkan putri Xiao Xi masih bersujud dan meminta pengampunan dari Xiao Lan. Sudah banyak pelayan yang melihat hal itu, mereka semua berkumpul untuk menyaksikan hal yang tidak pernah mereka pikirkan.
Hal ini akhirnya sampai ke telinga kaisar. Dia bergegas menuju kediaman Xiao Lan. Dilihatnya putri Xiao Xi yang bersujud dan masih meminta pengampunan Xiao Lan. Ia mengangkat tubuh itu dan menyuruh para pelayan bubar.
"Siapa yang menyuruhmu menghentikan semua ini?" tanya suara dingin dari dalam kediaman yang mulai menampakkan batang hidungnya,
"Apa kau tidak kasihan kepadanya? Sudah dari tadi ia meminta pengampunan seperti itu tapi kau tidak menggubrisnya" ucap kaisar Xiao,
"Itu sudah kesepakatan, kau tidak tau apapun kaisar Xiao" ucapnya tajam,
"Xiao Lan jangan keterlaluan!" bentak kaisar Xiao,
Tubuh Xiao Lan sedikit terguncang, ia teringat kembali bentakan ayahnya di masa lalu saat membela Xuan Xi padahal sebelum kedatangannya ayah Xiao Lan merupakan orang yang lembut dan perhatian. Sekarang kaisar Xiao mengingatkannya tentang bentakan yang menyakitkan baginya itu.
"Kau membentakku kaisar?" ucapnya dingin,
"Lan'er aku tidak bermaksud" ucap kaisar Xiao tergagap,
"Orang yang memanggilku Lan'er tidak pernah membentakku jadi kau tidak pantas menyebutku Lan'er"
"Putri Xiao Xi aku memaafkanmu" ucapnya kemudian kembali ke kamarnya,
BRAKK
Pintu dibanting dengan sangat keras oleh Xiao Lan. Kaisar Xiao menutup matanya ia menghembuskan nafasnya kasar, ia lalu beralih ke Xiao Xi,
"Dia sudah memaafkanmu, jika ingin menemuinya temuilah dia besok" ucap kaisar Xiao,
__ADS_1
"Baik ayah" putri Xiao Xi lalu pergi dari tempat itu ia memilih kembali ke kediamannya.
Kaisar memandang pintu yang dibanting tadi dengan sendu, kakinya melangkah kesana.
tok tok tok
Ia mengetuk pintu berharap Xiao Lan datang membukakan pintu untuknya tapi nihil bahkan tidak ada bibi Fu yang membukakan pintunya.
Ia melangkahkan kakinya dengan lesu menuju kediamannya, kediaman naga hitam.
"Kenapa aku selalu menambah lukanya" gumam kaisar Xiao menatap langit malam,
Sedangkan Xiao Lan memilih memasuki ruangan dimensinya sudah lama ia tidak bertemu Ran dan Kuma.
"Ran, Kuma apakah kalian tidak bosan jika terus berada di dalam sini?" tanya Xiao Lan,
"Tidak" ucap keduanya serempak,
"Sejak kapan kalian jadi kompak seperti itu?" tanya Xiao Lan dengan heran pasalnya mereka berdua biasanya akan bertengkar tanpa henti,
"Tidak tau" ucap mereka bersamaan lagi,
"Terserah" Xiao Lan memutarkan bola matanya malas ia lebih memilih menuju batu berwarna ruby yang sudah menunggunya dari tadi,
"Apa dia tidak tau kalau kita biasanya keluar dari sini?" bisik Kuma kepada Ran,
"Entahlah mungkin dia tidak tau jika kita sering keluar diam-diam" ucap Ran,
"Baguslah kalau begitu, dia juga tidak pernah memanggil kita keluar" ucap Kuma yang diangguki oleh Ran,
Xiao Lan sebenarnya bisa mendengar bisikan mereka berdua bahkan apa yang ada di dalam hati mereka Xiao Lan bisa mengetahuinya saat ia sedang berkultivasi namun ia memilih diam dan tidak menggubris mereka karena perkataan mereka memang benar.
Setelah selesai berkultivasi ia membuka matanya, tidak ada yang berubah dari tubuhnya kecuali sayatan-sayatan kecil yang ada di tangannya yang sudah mulai menghilang.
"Kenapa aku belum bisa menembus energi Swazi padahal sudah agak lama aku berada di energi 5 tingkat 10" gumamnya,
"Bukankah segel bintang itu sudah hancur saat aku melakukan ledakan kultivasi yang terakhir kali itu" ia masih berpikir dengan keras,
"Sudahlah tidak masalah yang penting aku sudah menjadi orang yang terkuat di daratan ini meskipun tidak ada yang mengetahuinya hihihi" ia lalu mengamati sekitarnya dan melihat Kuma dan Ran yang sudah tidak ada disana,
"Paling mereka sudah pergi" ucapnya kemudian keluar dari ruang dimensi itu.
•••
JANGAN LUPA VOTE KOMEN RATE DAN LIKE
TERIMAKASIH
__ADS_1
chiccacaaa