PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
SEMBILAN PULUH EMPAT


__ADS_3

"Kau tidurlah dulu untuk malam ini disini. Besok aku dan gegeku akan mengantarkanmu kembali. Aku akan memanggil pelayan untuk mengurus pria ini" ucap Xuan Lan kemudian pergi begitu saja.


•••


Tak lama setelah Xuan Lan keluar sudah ada beberapa pelayan yang datang ke kamar milik wanita yang tadi sudah ditolong oleh Xuan Lan. Mereka melihat seorang pria dengan posisi tertidur di lantai dengan kakinya yang menekuk seperti orang duduk, mereka lalu memindahkan lelaki itu entah kemana.


Setelah para pelayan pria pergi datanglah dua orang pelayan wanita ke kamar itu. Mereka memberikan pakaian ganti kepada wanita tadi. Wanita itu kemudian mengganti pakaiannya dengan tangannya yang gemetar.


"Nona tidak perlu takut lagi. Malam ini kami akan menemani nona disini" ucap seorang pelayan.


"Benar nona, maafkan kami karena tidak mendengar teriakan nona" ucap yang lainnya.


Sedangkan wanita tadi hanya mengangguk sambil menangis. Ia masih merasa takut untuk saat ini.


Sedangkan di sisi lain Xuan Lan sedang mengadakan pertemuan dadakan dengan para pekerja di penginapannya. Ia tidak bisa marah disini karena hal ini bukan kesalahan para pekerjanya.


"Kalian pasti sudah tau apa yang terjadi di atas kan?" tanya Xuan Lan kepada seluruh anak buahnya.


"Tentu, reine" ucap mereka serempak sambil agak menunduk.


"Tidak perlu menunduk, tataplah aku seperti biasa" ucap Xuan Lan.


"Ini bukan kesalahan kalian, apakah kalian memiliki ide untuk mengantisipasi jika ada hal-hal seperti ini yang akan terjadi kedepannya?" tanya Xuan Lan menatap mereka semua intens.


Mereka kemudian terdiam dalam pikirannya masing-masing kemudian ada seorang anak buah Xuan Lan yang angkat bicara.


"Bagaimana jika kita memberi penjaga di setiap lorong? Lalu kita akan memberikan lonceng di kamar para tamu, jika para tamu mengalami kekerasan maka ia bisa menggoyangkan lonceng itu selama tiga kali" ucapnya.


Xuan Lan dan yang lainnya nampak berpikir. Ide dari pria ini memang bagus tapi Xuan Lan agak kurang setuju dengan lonceng yang harus digoyangkan. Bagaimana jika si penyiksa akan menyembunyikan lonceng itu jika ia mengetahui mengenai hal ini.


"Untuk penjaga di setiap lorong aku bisa menerimanya tetapi untuk lonceng? Bukankah itu terlalu rumit? Lagipula setiap ruangan kita bangun dengan kedap suara mungkin suara lonceng tidak akan terdengar" tanya Xuan Lan yang kemudian menjelaskan apa yang ada di pikirannya.


"Bagaimana kalau kita lepas peredam suara yang ada di bagian dekat pintu sehingga jika ada yang berteriak maka teriakan itu akan terdengar dari pintu depan" ucap seseorang memberi usul.


Xuan Lan menatap orang yang memberi usul itu. Ia tampak berpikir sejenak, ia lalu menganggukkan kepalanya pertanda ia menyetujui saran dari lelaki di hadapannya ini.


Xuan Lan lalu menunjuk beberapa dari mereka untuk mengatakan kepada para Tigers agar berita ini bisa cepat tersebar di seluruh penginapan yang berada di bawah naungan Gold Tiger.


"Sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak" ucap Xuan Lan lalu menghempaskan dirinya ke tempat tidurnya.


Keesokan paginya, pangeran Zhan sudah bangun terlebih dulu. Ia membersihkan tubuhnya kemudian ia baru membangunkan Xuan Lan dengan kelembutannya.


Setelah Xuan Lan bangun dan membersihkan dirinya mereka kemudian mencari makanan terlebih dahulu. Saat makan Xuan Lan menceritakan kejadian semalam yang menimpa kamar sebelah mereka. Ia juga mengatakan kepada pangeran Zhan bahwa ia berniat akan mengantarkan wanita kemarin kembali ke asalnya dan pangeran Zhan menyetujui hal itu.

__ADS_1


Setelah selesai makan mereka berdua kembali ke kamar yang ditempati wanita kemarin. Ia nampak masih ditemani oleh dua pelayan di sampingnya.


"Segeralah bersiap, kami akan mengantarmu sebentar lagi" ucap Xuan Lan datar.


Wanita tadi menatap Xuan Lan yang masih ada di ambang pintu. Ia kemudian menganggukkan kepalanya lalu mempersiapkan dirinya. Xuan Lan kemudian melihat lubang yang membantunya mengetahui kejahatan pria kemarin. Ia lalu mengatakan pada dua pelayan di depannya jika lubang itu perlu ditutup dan diperbaiki.


Tak lama setelah itu wanita tadi sudah siap dengan pakaiannya. Ia lalu menghampiri Xuan Lan.


"S-saya sudah siap nona" ucapnya takut karena Xuan Lan selalu memperlihatkan tatapan datarnya ditambah lagi saat Xuan Lan menghajar pria yang kemarin hampir melecehkannya.


"Ya, ayo keluar" ucap Xuan Lan kemudian mereka berdua keluar untuk menghampiri pangeran Zhan.


"Bagaimana pria itu gege?" tanya Xuan Lan.


"Dia aman hanya saja mukanya agak lebam, apakah kau?" tanya pangeran Zhan menyelidik.


"Bukan, mungkin para penjaga. Kau tau sendirikan jika mereka sangat menghormati wanita jadi wajar jika mereka melakukan itu" ucap Xuan Lan seadanya.


Setelah itu mereka pergi keluar ditemani beberapa pelayan untuk mengantar si pria dan si wanita kemarin karena menurut Xuan Lan si pria masih harus bertanggung jawab atas segala yang telah dilakukannya kepada si wanita dan Xuan Lan tidak berhak memberikan hukuman padanya. Biarlah keluarga si wanita yang menghukum pria itu atau sesuai dengan hukum yang berlaku di wilayah kekaisaran Tang.


"Kau masuklah ke dalam kereta" ucap Xuan Lan kepada wanita tadi.


Wanita tadi langsung menurut tanpa mengatakan apapun sedangkan si pria sudah diurus oleh para pelayan di belakangnya. Xuan Lan dan pangeran Zhan memilih menaiki kuda.


Mereka lalu memulai perjalanan mereka menuju kekaisaran Tang bagian timur. Sejauh ini tidak ada kendala dan semoga saja tidak ada kendala karena tempat asal gadis ini masih berada di wilayah kekaisaran Tang.


Akhirnya sampailah mereka di kekaisaran Tang bagian timur. Si wanita langsung menunjukkan arah rumahnya kepada kusir yang mengendalikan keretanya.


Tak lama kemudian sampailah mereka di suatu kediaman yang terlihat luas. Xuan Lan yakin wanita ini berasal dari kalangan berada. Wanita tadi kemudian turun dari keretanya lalu memasuki rumahnya dengan berlari.


Xuan Lan dan yang lainnya kemudian ikut turun dari kudanya. Mereka hanya berdiri menunggu si wanita kembali karena sangat tidak sopan jika mereka langsung masuk sebelum diizinkan oleh si pemilik rumah.


Tak lama kemudian beberapa keluarga si wanita keluar untuk menyambut tamu yang sudah diceritakan oleh putri mereka tadi. Mereka meminta agar Xuan Lan dan rombongannya masuk ke dalam rumah.


"Terimakasih nona dan tuan karena telah menyelamatkan putri kami" ucap lelaki paruh baya dan hanya dibalas anggukan oleh mereka semua.


"Pria itu masih ada di luar. Jika kalian ingin menghukumnya kami tidak akan menghalanginya" ucap Xuan Lan kepada lelaki tadi.


"Kami akan menunggu calon suami dari putri kami kembali terlebih dahulu nona karena menurut kami dialah yang pantas untuk menghukum pria itu" ucap lelaki paruh baya tadi sambil menunduk.


"Memang sekarang dia ada dimana?" tanya Xuan Lan lagi.


"Dia sedang mencari putri kami dan kami sudah mengirim orang untuk memberitahu calon suami putri kami jika putri kami sudah kembali ke rumah" jawab pria itu.

__ADS_1


Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya pria calon suami sesungguhnya wanita tadi sudah kembali. Ia langsung menanyakan dimana pria yang sudah menculik calon istrinya.


Setelah ia mengetahui dimana pria itu berada. Ia langsung menghampiri pria itu dan menghajarnya sampai sekarat. Ia lalu meminta bawahannya untuk mengurung pria itu di penjara milik keluarganya.


"Apakah kau baik-baik saja?" tanya pria tadi kepada calon istrinya yang sedang menangis itu.


"Ya" ucapnya lirih.


"Apa kau telah dinodainya?" tanya lelaki itu hati-hati dan si wanita malah menangis semakin kencang. Dari situ ia bisa menebak bahwa calon istrinya telah dinodai oleh pria lain. Ia lalu memeluk calon istrinya itu dengan lembut.


"Hampir" ucap Xuan Lan.


Pria tadi kemudian mendongak menatap orang yang sudah bersuara tadi.


"Maksudnya?" tanya pria tadi bingung.


"Aku tanya kepadamu jika ia sudah dinodai oleh pria lain apakah kau masih mau menerimanya sebagai istrimu?" tanya Xuan Lan. Pria itu nampak berpikir sejenak, ia kemudian menatap wanita yang berada dalam pelukannya.


"Tentu" ucap pria tadi mantap.


"Apakah ia akan kau jadikan selir atau gundik?" tanya Xuan Lan lagi.


"Tentu saja tidak. Aku tetap akan menjadikan ia sebagai satu-satunya istriku" ucap pria tadi.


Sedangkan wanita yang ada dipelukannya semakin menangis. Ia merasa tidak pantas untuk calon suaminya ini.


"Aku tidak pantas untukmu" ucapnya sambil menangis.


"Hanya kau yang pantas untukku dan tidak ada yang lainnya" ucap pria tadi sambil menghapus air mata wanitanya. Ia sangat mencintai wanita ini karena sangat sulit untuk mendapatkan cintanya apalagi saat ia bersama kekasihnya yang arogan itu. Walaupun tetap saja hatinya merasa sakit karena wanitanya sudah dinodai oleh pria lain.


"Tenanglah dia hanya dicium oleh mantan kekasihnya, si brengsek itu belum sampai melakukan hal apapun karena aku melihat semuanya" ucap Xuan Lan sambil memakan apel di hadapannya.


Pria tadi kemudian melihat bibir wanitanya yang terluka. Ia mengusapnya dengan lembut, ia yakin wanitanya pasti melawan pria itu. Ia kemudian memeluk wanitanya lagi dengan erat.


"Terimakasih karena kalian sudah mau menyelamatkan calon istriku. Hadiah apa yang kalian inginkan?" tanya pria tadi.


"Kami ti-d" belum selesai Xuan Lan berucap, pangeran Zhan sudah memotongnya.


"Kami ingin itu" ucap pangeran Zhan sambil menunjuk sesuatu yang berada di ruangan itu. Semua orang lantas mengikuti arah yang ditunjuk pangeran Zhan.


•••


jangan lupa vote komen rate dan like

__ADS_1


diupdate pukul 12:13


__ADS_2