
Ia bisa tertawa puas saat mengingat wajah Xiao Xi dan prianya.
"Astaga lucu sekali ekspresi mereka tadi, harusnya aku sering-sering mengerjai mereka berdua hahaha" ia kemudian tertawa tanpa henti.
••••
Xiao Lan sedang melatih para prajurit yang sudah diberikan putra mahkota kepadanya. Ia melatih mereka semua tanpa ampun. Mereka menyebut latihan yang diberikan Xiao Lan adalah latihan menuju neraka.
"Terimakasih untuk kerja keras kalian hari ini. Besok akan kita lanjutkan lagi" ucap Xiao Lan mengakhiri latihan mereka semua.
Ia kemudian pergi membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Saat memasuki jam makan malam ia diminta oleh kasim utusan kaisar agar makan malam di ruang makan istana.
"Untuk apa aku kesana? Jika dia mengundangku maka ia harus datang sendiri. Sangat tidak sopan mengundang putri sepertiku ini menggunakan kasim" ucap Xiao Lan menatap tajam kasim An di depannya,
Dahi kasim An mulai mengeluarkan keringat dingin karena tatapan tajam Xiao Lan,
"Baik akan hamba ucapkan kepada kaisar" ucapnya,
"Nah, pergi sana" ucap Xiao Lan lagi,
Kasim An segera pergi dari sana dan menemui kaisar Xiao yang sudah menunggu di ruang makan.
"Permisi, yang mulia" ucap kasim An lalu memberikan hormat, kaisar Xiao hanya mengangguk kemudian bertanya,
"Dimana Xiao Lan? Kenapa ia tidak ikut bersamamu?"
"Ampun beribu ampun kaisar, putri Xiao Lan tidak mau datang jika bukan anda sendiri yang mengundangnya" ucap kasim An,
"Bukankah aku sudah mengundangnya lewat dirimu kasim?" ucap kaisar lagi,
"Maksud hamba putri kedua ingin anda yang mengundangnya langsung ke kediamannya" ucap kasim An menjelaskan,
Kaisar Xiao menarik nafasnya,
"Baiklah aku akan kesana"
Ia lalu berdiri kemudian berjalan keluar ruang makan. Putri Xiao Xi dan permaisuri Juan sangat kesal karena mereka sudah lapar tapi mereka harus menunggu Xiao Lan terlebih dahulu.
Setelah berjalan agak jauh kaisar Xiao akhirnya mendapati kediaman Xiao Lan sudah berada di hadapannya.
tok tok tok suara pintu diketuk,
"Hormat hamba kaisar," ucap bibi Fu yang melihat kaisar Xiao di depannya,
Kaisar Xiao mengangguk kemudian langkah kakinya berjalan memasuki pintu usang itu tapi langsung dicegah oleh bibi Fu.
"Mohon maaf yang mulia, putri Xiao Lan tidak mengizinkan siapapun masuk kesini kecuali hamba serta penjaga Tao, penjaga Tae dan juga pangeran ketiga" ucap bibi Fu menunduk,
"Tapi,"
"Mohon maaf yang mulia harap hargai aturan putri kedua" ucap bibi Fu lagi,
"Baiklah, sekarang panggilkan putri Xiao Lan. Bilang padanya aku sudah di depan" ucap kaisar Xiao pasrah,
"Baik, tapi putri sedang mandi. Mungkin beberapa menit lagi ia baru keluar, hamba permisi ke dalam" ucap bibi Fu setelah kaisar mengizinkannya ia segera masuk ke dalam,
Sudah empat puluh lima menit kaisar Xiao menunggu Xiao Lan, kakinya mulai terasa pegal ia memutuskan untuk duduk di gazebo yang ada di kediaman Xiao Lan. Baru saja bokongnya akan mendarat sempurna di gazebo itu teriakan Xiao Lan sudah terdengar di telinganya.
"Dimana dia? Katanya datang kemari" ucap Xiao Lan kepada kasim An,
Kaisar Xiao segera berbalik dan menemui suara di depan kediaman jasmine itu. Xiao Lan sudah memberikan nama kediaman itu kediaman jasmine karena ia pikir jasmine itu berukuran kecil dan berwarna putih bersih, sama seperti kedimannya walaupun kecil ia akan selalu menjaga kebersihannnya agar tetap bersih dan terjauh dari hal-hal negatif.
"Lan'er ayo kita pergi" ucap kaisar Xiao tanpa sadar,
"Siapa yang kau sebut Lan'er? Kau mau pergi kemana?" ucap Xiao Lan ketus,
Kaisar Xiao meringis, ia ingat kalau ia tidak boleh menyebut Xiao Lan dengan panggilan Lan'er.
__ADS_1
"Maaf" ucapnya,
"Maksudku putri Xiao Lan ayo kita pergi ke ruang makan karena kita sudah ditunggu oleh anggota kekaisaran untuk makan disana" ucap kaisar Xiao lembut,
"Aku tidak meminta mereka menungguku" ucap Xiao Lan,
"Aku yang meminta mereka menunggu kita" ucap kaisar Xiao tersenyum,
"Cih" Xiao Lan hanya mendecih kemudian berjalan mendahului mereka,
Baru setengah perjalanan Xiao Lan sudah berhenti.
"Xiao Lan kenapa berhenti? Kita belum sampai ke ruang makan" tanya kaisar Xiao heran,
"Aku lelah dari tadi pagi melatih prajurit tidak mendapat makanan bergizi kemudian masih disuruh jalan sejauh ini" ucapnya kesal,
"Xiao Lan" kaisar Xiao menatap Xiao Lan dengan pandangan merasa bersalah,
"Ayo aku gendong" ucap kaisar Xiao akhirnya,
"Aku sudah pernah bilang aku tidak mau digendong orang asing, biarkan aku istirahat sebentar disini. Kau pergilah kesana dan makanlah dulu dengan keluarga bahagiamu itu" ucapnya kemudian duduk di lantai,
"Putri kedua" ucap kasim An terkejut,
"Tidak usah khawatir seperti itu, aku sudah biasa duduk di lantai seperti ini bahkan duduk sambil dicambuk pun pernah padahal aku tidak melakukan apa-apa hanya tuduhan kecil saja aku dihukum padahal tidak ada yang tau kenyataannya" ucapnya sedikit melirik kaisar Xiao,
Benar saja kaisar Xiao menundukkan pandangannya, ia tidak berani menatap Xiao Lan. Ia merasa sangat bersalah kepada anak itu.
"Menyenangkan sekali menyiksa batinmu kaisar keadilan" batinnya sambil menyeringai,
Xiao Lan menggeliatkan badannya,
kretek kretek seperti bunyi tulang saling beradu,
"Ahh, leganya" ucapnya,
"Maaf putri, mungkin lain kali anda harus berada di dalam kelas kepribadian bangsawan" ucap kasim An,
"Tidak mau" ucap Xiao Lan ketus,
"Tapi putri, perilaku seorang putri harus mencerminakan keanggunan dalam melakukan berbagai hal" ucap kasim,
"Kepribadianku sudah seperti ini, tidak bisa diubah. Aku ingin menjadi diriku sendiri tanpa banyak aturan kasim An, sebenarnya aku ingin menjadi rakyat biasa agar bisa bertindak tanpa memikirkan keanggunan dan cibiran dari masyarakat" ucapnya lesu,
"Tapi sudah takdir anda menjadi seorang putri maka dari itu anda harus bisa menjadi anggun seperti layaknya seorang putri" ucap kasim An kekeuh,
"Takdirku menjadi putri terbuang ya? Hahaha" Xiao Lan kemudian tertawa cekikikan,
Kaisar Xiao langsung menggendong Xiao Lan, ia tidak tahan lagi jika harus mendengar ucapan-ucapan Xiao Lan yang menusuk-nusuk hatinya.
"Apa yang kau lakukan bodoh?"
"Turunkan aku brengsek!"
"Aku tidak lumpuh!"
Saking terkejutnya Xiao Lan langsung mengeluarkan berbagai umpatan dari mulutnya ia juga tidak sadar siapa yang sedang menggendongnya.
"Kaisar keadilan dimana kau, lihatlah putri terbuang ini diambil orang. Pasti kau senang kan" ucapnya kesal,
"Apa maksudmu?" kaisar Xiao lalu memandang wajah Xiao Lan penuh tanya tanpa menurunkan gendongannya,
"Wah ternyata yang menculikku adalah kaisar keadilan, turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri, lebih baik kau menggendong putri pertamamu yang kau bangga-banggakan itu" ucap Xiao Lan mencoba turun dari gendongan kaisar Xiao,
Kaisar Xiao semakin mengeratkan gendongannya ia segera berjalan menuju ruang makan yang jaraknya tidak jauh lagi.
Prajurit yang berada di depan pintu ruang makan segera membukakan pintu tatkala melihat kaisar Xiao datang.
__ADS_1
"Salam yang mulia" mereka menundukkan kepalanya dan seperti biasa hanya dibalas anggukan dari kaisar Xiao,
Kaisar Xiao lalu mendudukkan tubuh Xiao Lan di kursi yang berada di dekat kursi pangeran ketiga.
"Kenapa kau digendong seperti itu Lan'er apakah kau sakit?" tanya pangeran Zhan perhatian,
"Aku tidak apa-apa" ucapnya tersenyum,
Putri Xiao Xi sangat geram karena Xiao Lan datang dengan digendong kaisar Xiao, ia takut kaisar Xiao akan lebih menyayangi Xiao Lan daripada dirinya.
"Sudah besar masih juga digendong" ucapnya pelan tapi terdengar sangat ketus,
"Mungkin kakinya patah sehingga kesini saja lama" timpal permaisuri tak kalah ketusnya,
Xiao Lan dan yang lainnya bisa mendengar itu ia hanya tersenyum kemudian berkata,
"Mungkin itu adalah salah satu cara penebusan dosa seorang ayah kepada anaknya. Bukankah kau dari kecil selalu mendapat kasih sayangnya bahkan setiap hari digendongnya? Baru sekali ini dalam hidupku aku merasakan digendong oleh orang yang kalian sebut sebagai ayah itu dan rasanya tidak ada yang spesial. Kenapa dulu aku bodoh sekali selalu merengek minta gendong kepadanya"
Xiao Lan tentu saja berbohong, ia merasa ada kehangatan saat kaisar Xiao menggendongnya ia berpikir kalau hal itu adalah reaksi tubuh Xiao Lan yang asli, bukan dirinya.
"Tapi aku bersyukur tidak pernah digendong olehnya karena aku bisa merasakan pundak yang sangat nyaman milik paman Tao dan paman Tae. Mereka adalah ayahku yang sesungguhnya"
"Kakiku tidak patah, aku juga tidak tau kenapa dia tiba-tiba menggendongku. Mungkin kakinya yang patah sehingga membutuhkan waktu lama untuknya berjalan kemari" ucapnya melirik permaisuri Juan,
Xiao Lan memang pandai membuat semua orang bungkam bahkan tidak bergerak sama sekali. Ia lalu memilih mengambil makanan dihadapannya tanpa mempedulikan orang-orang yang masih termenung itu.
"Xiao Lan, kau tidak boleh makan terlebih dulu sebelum kaisar memulainya" ucap ibu suri dengan nada yang berbeda dari hari sebelumnya,
"Aku sudah terlanjur makan, tidak baik jika nasi yang sudah ada dihadapan kita dibiarkan begitu saja" ucapnya santai sambil memakan makanannya lagi,
"Sepertinya benar kata kasim An, kau harus ikut kelas kepribadian bangsawan untuk besok" ucap kaisar Xiao,
"Sepertinya benar kataku aku tidak seharusnya menghadiri makan malam keluarga bahagia ini" ucapnya lalu minum dan tidak meneruskan acara makannya,
Ia beranjak berdiri dan ingin meninggalkan tempat itu tapi tangannya dicekal oleh pangeran kedua.
"Kau mau kemana? Acara makan kita belum selesai" ucap pangeran kedua,
"Aku mau pergi atau aku mau menghilang di telan bumi hal itu bukan urusanmu pangeran kedua" jawab Xiao Lan, ia kemudian memandang pangeran Zhan dan menunjukkan tangannya yang dicekal oleh pangeran kedua,
"Lepaskan tangan adikku" ucap pangeran Zhan dingin,
Pangeran kedua yang menyadari situasi sudah memburuk segera melepaskan tangannya.
"Ingat kaisar Xiao, kau tidak berhak mengatur hidup Xiao Lan karena dari dulu ia sudah memiliki hidupnya sendiri semenjak kau tidak menganggapnya lagi" ucap pangeran Zhan menatap kaisar Xiao tajam,
Mereka berdua kemudian pergi dari ruang makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kaisar Xiao kembali terdiam ia sudah tidak berselera makan, sangat sulit membujuk Xiao Lan untuk datang kemari namun usaha itu digagalkan oleh dirinya sendiri.
Ia kemudian juga pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Xiao Xi dan Permaisuri Juan semakin geram terhadap Xiao Lan mereka ingin sekali melenyapkan anak itu secepatnya.
"Kau cepatlah temui dia, aku sangat geram dengan anak itu" bisik permaisuri Juan kepada anaknya,
"Baik ibu aku juga ingin dia segera lenyap" balas Xiao Xi,
"Ingatkan dia jangan melakukan hal apapun kepada tubuhnya, biarkan saja dia memakan racun agar kita tidak ketahuan" peringat permaisuri Juan,
"Baik ibu"
•••
JANGAN LUPA VOTE KOMEN RATE DAN LIKE
TERIMAKASIH
chiccacaaa
__ADS_1