
"Dasar bocah" kata tabib Bao menggeleng-gelengengkan kepalanya.
•••
"Apakah jasadku dimakamkan dengan baik? Atau sudah dibuang ke laut oleh kakak Xi?" saat ini Xiao Lan sedang menatap langit malam dari jendela di gubuk yang ditempatinya, dua tangannya digunakan untuk menopang dagunya,
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aa" orang itu langsung membekap mulut Xiao Lan dengan tangannya,
"Sst jangan berteriak nanti semua orang bangun" Xiao Lan mengangguk-anggukan kepalanya orang itu lalu melepaskan bekapannya,
"Siapa kau?" tanya Xiao Lan setelah agak tenang,
"Aku adalah orang yang selalu mengawasimu" ucap orang tadi,
"K-kenapa kau mengawasiku? Kau suruhan permaisuri itu ya?" Xiao Lan mulai waspada dan memasang kuda-kudanya,
"Pfft hahaha, permaisuri? Permaisuri mana yang kau maksud. Aku mengawasimu karena itu adalah keinginanku. Apa kau tidak merasa janggal kenapa saat di hutan iblis kau dan para pelayanmu itu selalu aman?" tanya orang tadi,
Plakk tangan Xiao Lan mendarat di salah satu lengan orang misterius tadi,
"Hei kau itu sembarangan, mereka bukan pelayanku mereka itu keluargaku tau!" ucap Xiao Lan sambil mengerucutkan bibirnya,
__ADS_1
Orang tadi hanya terkekeh kemudian pergi.
"Dasar pria gila" gumam Xiao Lan.
•••
Dua minggu sudah Xiao Lan beserta paman dan bibinya menjalani pengobatan dari tabib Bao. Badan mereka mulai kembali segar tetapi tetap ada sedikit racun di tubuh mereka karena sesuai janji tabib Bao akan menyembuhkannya selama satu bulan. Sedangkan untuk wajah Xiao Lan nanah yang berada di jerawatnya mulai menghilang dan tidak meradang lagi, jika kita ingin sesuatu yang memuaskan maka perlu waktu bukan?
Pagi ini Xiao Lan mengajak bibi Fu dan tabib Bao berlatih beladiri bersama paman Tao dan paman Tae,
"Untuk apa kita belajar hal seperti itu Lan'er?" tanya bibi Fu,
"Betul, bukankah selama kita disini kita selalu aman dan kita selalu dilindungi paman Tao dan pama Tae" ucap tabib Bao menimpali,
Xiao Lan menarik nafasnya dalam, "Bibi dan gegeku tersayang, ini hanya untuk antisipasi jika tiba-tiba ada seseorang yang menyerang kita dalam jumlah besar. Jika kita hanya mengandalkan paman Tao dan paman Tae kemungkinan kita semua akan mati, bukan maksudku merendahkan paman Tao dan paman Tae. Coba bayangkan jika kita bertiga bersembunyi sedangkan paman Tao dan paman Tae sedang menghadapi musuh, tiba-tiba musuh itu berada di belakang kita. Apa yang bisa kita lakukan? Menunggu paman Tae dan paman Tao menyelamatkan kita? Tidak mungkin bibi dan gege mereka pasti akan dihadang musuh dan bisa terluka jika konsentrasinya terpecah"
"Apakah bibi pernah mencobanya? Belum kan? Bibi saja belum pernah mencobanya bagaimana kau bisa mengatakan kita tidak bisa? Sudahlah jika kalian tidak mau aku akan belajar sendiri" Xiao Lan meninggalkan tempat itu dan berjalan ke hutan yang lebih dalam lagi,
"Lan'er kau mau kemana?" teriak bibi Fu mengejar Xiao Lan tapi ditahan oleh tabib Bao,
"Biarkan dia sendiri dulu bibi, mungkin ini saatnya kita memikirkan perkataannya" tabib Bao kemudian masuk ke gubuk mereka diikuti bibi Fu.
Langkah kaki Xiao Lan terhenti di sebuah gua, seperti ada magnet yang menarik tubuhnya masuk ke dalam gua itu. Semakin jauh kakinya menjangkau gua itu semakin ia penasaran akan apa yang berada di dalamnya. Langkah kakinya terhenti saat ia melihat seekor rubah sedang terkulai lemah di atas batu. Ia melihat darah berceceran di sekitar tubuh rubah itu, warna bulunya yang putih berubah menjadi merah. Xiao Lan mengamati sekeliling gua, ia menemukan herbal yang pernah diajarkan oleh tabib Bao untuk mengobati luka. Ia menumbuknya dan mengoleskannya pada rubah yang lemah itu. Setelah beberapa jam rubah itu bangun, Xiao Lan telah menyiapkan air dan buah yang ia dapat di depan gua.
__ADS_1
"S-siapa kau?" tanya rubah itu,
"Astaga kau bisa bicara" Xiao Lan terkejut, ia kira binatang yang bisa berbicara hanya berada di cerita dongeng tapi sekarang ia mendengarkannya langsung,
"Diamlah kau harus mengobati lukamu dulu, ini minumlah air dan makanlah buah ini. Aku tidak tau rubah sepertimu makan buah atau makan hewan lain" ia kemudian menyodorkan air ke rubah itu dan membantunya minum,
Rubah itu kemudian bangun, ia duduk dalam posisi lotus dengan ajaib seluruh luka di tubuhnya tertutup dan bulunya kembali berwarna putih. Xiao La baru sadar jika rubah itu memiliki sembilan ekor.
"Hmm kau mau apa manusia kenapa kau mengobatiku pasti kau ingin memanfaatkanku tapi tidak bisa" tanya rubah itu setelah sembuh total dengan sombong,
"Aku? aku tadi hanya jalan-jalan kemudian aku melihat gua ini dan aku masuk ke dalamnya lalu aku melihatmu hampir mati" ucap Xiao Lan santai,
"Apa? Kau berada di hutan iblis yang terlarang ini dan kau bilang hanya jalan-jalan?" tanya rubah itu tidak percaya kepada Xiao Lan sedangkan yang ditanya hanya mengangguk-anggukan kepalanya,
"Terserah yang pasti aku tidak ingin balas budi terhadapmu kau sendiri yang ingin menolongku" ucap rubah itu tetap sombong lalu memakan buahnya,
Astaga, Xiao Lan tidak habis pikir apa maksud rubah ini karena kesal ia mencubit pipi rubah tadi, rubah yang kaget itu reflek menggigit jari Xiao Lan. Tanpa disadarinya ia telah meminum darah Xiao Lan karena ulahnya sendiri. Tubuhnya terbang ke atas warnanya berubah menjadi kebiruan lalu turun lagi dan warnanya kembali putih,
"Tidakk" teriak rubah itu menggema ke seluruh goa,
"Kau kenapa?" tanya Xiao La mengerjapkan matanya,
••
__ADS_1