PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
SERATUS TUJUH BELAS (S2)


__ADS_3

Saat mereka sedang asyik membicarakan semua itu tiba-tiba pintu tertutup dengan kerasanya membuat semua orang terkejut dan menatap ke arah pintu. Mereka semua tambah terkejut disaat ada dua orang yang memiliki wajah yang mirip menyapa orang-orang yang berada di meja makan.


"Hai" ucap kedua orang tadi.


•••


"Xu-Xuan Lan bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Wang Yu Yan terbata.


"Apakah kalian takut kepada kami?" tanya Xuan Lan sambil menunduk.


"T-tentu s-aja tidak. Kami b-bahkan merindukanmu" kilah pangeran Zhan.


"Benarkah? Zhan gege memang yang terbaik!" ucap Xuan Lan sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Perempuan yang mirip denganku ini adalah Xiao Lan. Dialah Xiao Lan" ucap Xuan Lan memandang mereka semua.


"Terimakasih karena kalian sudah hidup dengan baik seperti yang aku inginkan tetapi tidak untuk kaisar Xiao" ucap Xuan Lan.


"A-aku?" tunjuk kaisar Xiao Nan kepada dirinya sendiri.


"Ya, aku bisa melihatmu tidak semangat dalam menjalani hari. Kau melanggar janjimu" ucap Xuan Lan ketus.


"T-tapi ayah belum mendapatkan maaf darimu" ucap kaisar Xiao Nan sambil menunduk.


"Karena kau tidak memiliki salah kepadaku. Berbicaralah kepada Xiao Lan. Dia adalah orang yang kau sakiti bukan aku" ucap Xuan Lan sambil memandang Xiao Lan penuh makna.


"Jadi kau benar Xuan Lan dari masa depan?" tanya kaisar Xiao memastikan.


" Ya, aku berada di tubuh Xiao Lan semenjak ia dikirim ke hutan iblis itu" ucap Xuan Lan.


"Cepatlah katakan apa yang ingin kau katakan, waktu kami tidak banyak" ucap Xuan Lan.


"Lan'er" panggil kaisar Xiao.


"Maafkan ayah, ayah tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu" ucap kaisar Xiao sambil menangis.


Xiao Lan tersenyum hangat. Ia menatap kaisar Xiao dalam.


"Tidak masalah, ayah. Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau meminta maaf kepadaku. Tunjukkanlah janjimu pada kami jika kau akan hidup bahagia nantinya" ucap Xiao Lan kepada kaisar Xiao Nan.


"Xiao Lan, Xuan Lan" panggil tabib Bao beserta paman Tae, paman Tao dan bibi Fu.


"Apa kalian merindukan kami?" tanya Xiao Lan.


"Tentu saja bahkan kami belum melihat Xuan Lan untuk yang terakhir kalinya" ucap bibi Fu yang sudah berderai air mata.

__ADS_1


"Maafkan aku" ucap Xuan Lan.


"Zhan ge, Xian ge, Yuyu dan Yaya aku hanya bisa mendoakan kalian agar bisa hidup bahagia sampai ajal memisahkan kalian. Dan untuk Xian gege dan Zhan gege awas jika kalian sampai menduakan kedua sahabatku" ucap Xuan Lan dengan pandangan mata yang tajam.


"Tentu saja aku akan setia" ucap pangeran Zhan dan kaisar Xian bersamaan.


"Selamat ya untuk kalian yang sudah menjadi kaisar. Aku harap kalian bisa memakmurkan kekaisaran kalian melebihi kaisar sebelumnya" ucap Xuan Lan.


"Ayah, ibu, bunda" panggil Xuan Lan kepada kaisar Li beserta permaisuri Kaili dan selir Dyn yang masih mematung itu.


"Aku harap kalian semua bisa merelakan kepergianku dan Xiao Lan" ucapnya.


"Terimakasih karena waktu yang pernah kalian berikan untukku. Jangan menangisi kepergian kami. Hiduplah dengan bahagia maka kami juga akan hidup dengan bahagia" ucap Xuan Lan.


"Selamat tinggal, waktu kami sudah habis. Kita pasti akan bertemu lagi namun di dunia yang berbeda" timpal Xiao Lan. Mereka kemudian menghilang dengan perlahan seperti terbawa angin malam.


Suasana menjadi hening. Mereka semua melirik satu sama lain dengan pandangan tak terbaca.


"Bukankah Xuan Lan dan Xiao Lan sudah mengatakan bahwa kita harus hidup dengan bahagia?" ucap kaisar Gui menyadarkan lamunan mereka semua.


"Benar, bagaimanapun kita semua harus merelakan kepergian mereka berdua agar mereka bisa hidup tenang seperti yang mereka inginkan" ucap kaisar Wang menimpali.


"Ya, demi Xuan Lan dan Xiao Lan kita harus bahagia" ucap pangeran Zhan namun kesedihan masih nampak di dalam matanya.


"Baiklah sebaiknya kita lanjutkan rencana kita" ucap kaisar Wang mengembalikan topik pembicaraan mereka.


___


"Sudahlah Xuan Lan, memang ini jalan hidup yang diberikan untuk kita, ayo" ucap Xiao Lan sambil mengajak Xuan Lan menyeberangi sebuah jembatan.


Xuan Lan masih terdiam di seberang jembatan. Ia melihat orang yang sangat mirip dengan ibunya sedang menatapnya dengan senyumannya yang sangat manis.


"Mama" ucap Xuan Lan.


Orang itu kemudian mendekat ke arah Xuan Lan. Ia memeluk Xuan Lan dengan kelembutannya.


"Iya, ini mama" ucap orang itu sambil menghapus air mata yang sudah merembes ke pipi Xuan Lan.


"Ayo ma kita pulang" ucap Xuan Lan.


"Pulang kemana sayang?" tanya mama Xuan Lan sambil mengerutkan alisnya.


"Pulang ke tempatnya Xiao Lan" ucap Xuan Lan dengan hati yang gembira.


Mama Xuan Lan mengelus rambut milik Xuan Lan dengan lembut.

__ADS_1


"Masih belum waktunya kau berada disini. Kau masih memiliki sesuatu yang harus kau temukan di duniamu" ucapnya lembut.


"Maksud mama?" tanya Xuan Lan bingung.


"Nanti kau akan mengetahuinya, mama pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, Lan'er" ucap mama Xuan Lan sambil melepaskan genggaman tangan anak gadisnya dengan penuh kelembutan.


"Mama" ucap Xuan Lan sambil mengejar ibunya namun ibunya malah terasa semakin jauh dan tidak bisa digapai. Tiba-tiba tempat yang tadinya asri berubah menjadi sebuah ruangan.


"Xuan Lan bertemu lagi denganku" ucap sesosok mahluk yang suaranya sangat dihafali oleh Xuan Lan.


"Kenapa kau tidak membiarkan aku mengikuti ibuku?" tanya Xuan Lan kepada kucing gembrot.


"Sebenarnya aku juga tidak ingin berurusan lagi denganmu karena kau sangat cerewet namun ayahmu menyelamatkan jasadmu dan membawamu ke rumah sakit. Lihatlah ini" ucap si kucing sambil menunjukkan sesuatu pada Xuan Lan.


"Itu sesaat setelah aku diracuni?" tanya Xuan Lan yang dibalas anggukan oleh kucing.


"Kau juga sudah banyak berkorban untuk hidup Xiao Lan beserta orang-orang yang ada di zaman itu jadi dewa mau menolongmu dan memberikanmu kesempatan untuk kembali ke zaman asalmu" ucap kucing itu.


"Namun aku tidak mau kembali" ucap Xuan Lan.


"Lihatlah ini" ucap kucing itu menunjukkan sesuatu lagi kepada Xuan Lan.


Xuan Lan melihat itu matanya membulat sempurna.


"I-itu Zhao?" tanya Xuan Lan memastikan.


"Benar, ia selalu mengunjungimu setiap hari sejak kau memasuki perawatan pada hari kedua" ucap kucing itu.


"Bagaimana bisa? Bukankah Zhao baru saja mati bersamaku?" tanya Xuan Lan.


"Ada hal yang memang tidak bisa kau pikir dengan akal sehat, Xuan Lan dan jangan pernah melampaui batasmu" ucap kucing itu.


"Apa kau siap untuk kembali?" tanya kucing itu.


Sedangkan Xuan Lan masih termenung memikirkan seluruh kejadian ini. Ia belum menjawab pertanyaan kucing membuat sang kucing gemas sendiri. Kucing tadi lalu menjentikkan jarinya dan hilanglah Xuan Lan dari pandangannya.


"Itu yang membuatku malas berurusan dengan Xuan Lan. Dia sangat cerewet" gerutu kucing itu saat Xuan Lan sudah menghilang.


___


Di tempat lain seorang gadis yang ditempeli alat medis di seluruh tubuhnya perlahan mulai mengerjapkan matanya. Ia merasa ada sesuatu yang menggenggam jemarinya bahkan ada beberapa tetesan air disana.


"Aku mohon bangunlah" ucap orang itu sambil terus menciumi tangan milik gadis itu.


"Emmh" eluhan gadis itu menyadarkan si pria akan tangisannya. Ia kemudian memencet tombol merah yang menempel di dinding sebelah ranjang pasien.

__ADS_1


•••


jangan lupa vote komen rate dan like


__ADS_2