PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
DELAPAN PULUH TUJUH


__ADS_3

"Ayo, putra mahkota" ucap pangeran Zhan lalu merangkul pinggang Xuan Lan dengan posesif. Mereka lalu berjalan keluar menuju kekaisaran Xiao.


•••


"Lebih baik jika kita menggunakan jalur cepat saja" ucap pangeran Gui.


"Jalur cepat?" tanya pangeran Zhan dan Xuan Lan bersamaan.


"Ya, kalian bisa mengikutiku" ucap pangeran Gui.


Xuan Lan dan pangeran Zhan mengikuti langkah pangeran Gui. Pangeran Gui memutar langkahnya menjauhi tempat yang biasa dilalui orang-orang untuk menuju kekaisaran Xiao.


"Bukankah ini malah menjadi lebih jauh?" tanya pangeran Zhan.


"Lihat saja nanti" ucap pangeran Gui sambil tersenyum. Xuan Lan dan pangeran Zhan kemudian memilih diam dan mengikuti pangeran Gui.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di perbatasan hutan iblis. Mungkin lima puluh langkah lagi mereka akan sampai di perbatasan kekaisaran Xiao. Mereka melanjutkan lagi langkah mereka, ternyata pangeran Gui memilih melewati batas barat kekaisaran Xiao karena ada jalan pintas antara gerbang barat dengan hutan iblis.


Xuan Lan dan pangeran Zhan baru mengetahui jika gerbang barat ternyata lumayan dekat dengan markas mereka. Biasanya mereka akan melewati gerbang utara untuk menuju kekaisaran Xiao.


Tiga saudara kandung itu kemudian pergi ke istana kekaisaran Xiao. Para prajurit dan pelayan menunduk hormat saat Xuan Lan, pangeran Zhan dan pangeran Gui berjalan melewati mereka bahkan ada yang sangat senang karena Xuan Lan dan pangeran Zhan sudah kembali sampai ia tidak sadar jika ia belum memberi hormat kepada tiga orang tadi.


"Aku akan ke kediamanku dulu untuk meracik herbal ini" ucap Xuan Lan kemudian pergi begitu saja.


Pangeran Zhan dan pangeran Gui masih terdiam di tempat mereka. Suasana canggung kembali menyelimuti mereka.


"Ehm, bagaimana kabarmu?" tanya pangeran Gui basa basi.


"Seperti yang kau lihat" ucap pangeran Zhan datar.


"Oh, ya apakah kau tidak tau cara menyambut tamu?" tanya pangeran Zhan.


"Oh, maaf bagaimana jika kita langsung ke kediaman kaisar Xiao?" tanya pangeran Gui.


"Terserah" ucap pangeran Zhan.


Mereka berdua lalu berjalan menuju kediaman naga hitam, kediaman milik kaisar Xiao. Saat pangeran Gui mulai membuka pintu kediaman tiba-tiba pangeran Zhan bersuara.


"Aku haus, kau tidak menyiapkan minuman untukku?" tanya pangeran Zhan kemudian ia langsung duduk di gazebo yang berada di halaman kediaman naga hitam.


Pangeran Gui menarik nafasnya dalam. Ia lalu meminta pelayan untuk mengambilkan cemilan dan minuman untuk pangeran Zhan. Pelayan itu segera pergi untuk menyiapkannya. Pangeran Gui kemudian menghampiri pangeran Zhan yang sedang duduk di gazebo itu.


"Sudah lama ya kita tidak seperti ini" ucap pangeraan Gui sambil menatap ke atas.

__ADS_1


Pangeran Zhan hanya melirik sekilas ke arah pangeran Gui, ia memilih tidak menanggapinya.


"Terakhir kali mungkin saat ibu masih ada" ucap pangeran Gui.


"Tidak perlu membahas masa lalumu di hadapanku, putra mahkota Xiao Gui. Jika kau meneruskan ucapanmu maka kau sendiri yang akan menyesal. Siapa yang mengikis jarak di antara kita? Setiap aku ingin melindungi adikku kau selalu marah kepadaku dan kau selalu bilang 'Karena dia kita tidak bisa merasakan kasih sayang ibu'"


"Padahal kau tau jika adikku bahkan sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang ibu, kau sudah merasakan kasih sayang ibu selama berapa tahun, pangeran Gui?" tanya pangeran Zhan sedangkan pangeran Gui hanya terdiam.


"Kau tidak bisa menjawabnya kan? Bahkan ibu selalu meminta kita untuk menjaga adik yang akan lahir dari rahimnya, tapi kau? Ah, aku minta maaf. Bukan maksudku berbicara seperti itu tetapi kau jangan sekali-kali membicarakan tentang masa lalu di hadapanku" ucap pangeran Zhan.


Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan mereka berbagai camilan dan teh.


"Silakan, pangeran" ucap pelayan itu sopan kemudian ia pergi dari sana.


Setelah itu Xuan Lan datang dengan membawa nampan di tangannya. Nampan itu berisi sebuah mangkuk besar, sebuah mangkuk berukuran kecil dan segelas air serta sendok. Ia lalu menghampiri pangeran Zhan dan pangeran Gui yang saling terdiam itu.


"Ayo, kita ke dalam" ucap Xuan Lan kepada mereka berdua.


Dua orang itu kemudian berdiri. Pangeran Gui membukakan pintu untuk Xuan Lan dan juga pangeran Zhan. Mereka lalu melangkahkan kakinya ke dalam kediaman naga hitam.


"Suruh dia membuka matanya" bisik Xuan Lan kepada pangeran Gui.


"Kenapa tidak kau saja?" tanya balik pangeran Gui.


"Yasudah, aku akan kembali" ucap Xuan Lan sambil memutar tubuhnya.


"Ayah, bangun waktunya makan" ucap pangeran Gui sambil sedikit menggoyangkan tubuh kaisar Xiao.


Kaisar Xiao terbangun dari tidurnya. Ia menatap pangeran Gui agak lama.


"Ayah tidak lapar" ucapnya pelan.


"Tapi, ayah tidak pernah makan. Bagaimana bisa ayah tidak lapar?" tanya pangeran Gui heran.


"Kembalilah" ucap kaisar Xiao menolak permintaan pangeran Gui.


"Jika ingin mendapat maaf dariku dan Zhan gege bukan seperti ini caranya" ucap Xuan Lan datar.


Kaisar Xiao merasa sangat familiar dengan suara itu. Ia kemudian membalikkan tubuhnya menatap sang pemilik suara. Air matanya meluruh saat melihat kedua anaknya yang sedang berada di hadapannya. Ia kemudian bangkit dari posisinya tetapi tidak bisa karena tubuhnya sangat lemah.


"Berhenti disitu" ucap Xuan Lan, ia lalu berjalan mendekat kesana.


"Apakah sakit?" tanya Xuan Lan dan kaisar Xiao hanya diam saja.

__ADS_1


"Pasti sakit kan? Kau bahkan tidak bisa menghampiri kami berdua. Kau itu sebagai ayah yang merasa bersalah seharusnya menghampiri anakmu yang sudah lama tidak kau lihat bukan malah kami yang menghampirimu" ucap Xuan Lan datar.


"Lihatlah itu semua karena perbuatanmu sendiri, kau menyiksa dirimu sendiri dan itu sama sekali tidak berguna" imbuhnya.


Kaisar Xiao menundukkan pandangannya. Ia tidak berani menatap Xuan Lan.


"Sudah puas dengan rasa sakitnya? Apa mau bertambah lagi hm?" tanya Xuan Lan tetapi kaisar Xiao masih tidak menjawabnya.


"Jika hanya diminta berbicara dengan patung lebih baik aku kembali" ucap Xuan Lan sambil berbalik badan.


"Lan'er tunggu" ucap kaisar Xiao pada akhirnya.


Xuan Lan berhenti di tempatnya tetapi ia belum membalikkan tubuhnya.


"Maafkan ayah, ayah menyesal" ucap kaisar Xiao.


"Lalu? Apakah menurutmu dengan kau tidak mau makan seperti ini aku akan iba dan memaafkanmu?" tanya Xuan Lan.


"Seharusnya kau memiliki semangat hidup yang tinggi jika kau benar-benar ingin meminta maaf kepadaku. Jika kau mati dan belum mendapat maafku apa menurutmu seluruh masalahmu bisa selesai begitu saja di alam yang lain?" tanya Xuan Lan lagi.


Ia lalu mendekat ke arah kaisar Xiao dan memberinya herbal yang sudah ia tumbuk tadi.


"Minumlah ini" ucap Xuan Lan. Kaisar Xiao awalnya menutup mulutnya tetapi dengan tatapan tajam Xuan Lan akhirnya kaisar Xiao meminum obat itu.


Xuan Lan lalu menyuapi kaisar Xiao dengan bubur yang telah dibuatnya. Bubur itu masih hangat, kaisar Xiao menangis saat memakan bubur itu.


"Apakah rasanya begitu buruk hingga kau menangis?" tanya Xuan Lan.


Kaisar Xiao menggelengkan kepalanya.


"Ini sangat enak, ini adalah makanan terenak yang pernah ayah makan" ucapnya.


Xuan Lan lalu membantu kaisar Xiao meminum airnya. Setelah itu ia menyuruh kaisar Xiao untuk tidur kembali.


"Ayah tidak mau tidur" ucap kaisar Xiao.


"Kau ingin semakin parah?" tanya Xuan Lan ketus dan kaisar Xiao menggelengkan kepalanya.


"Aku bisa memaafkanmu tapi ada syaratnya" ucap Xuan Lan lagi.


"Syarat?" ucap kaisar Xiao dan pangeran Gui bersamaan.


•••

__ADS_1


**diupdate pukul 17:48


jangan lupa vote komen rate dan like, makasiww**


__ADS_2