
Kali ini masih sama. Tidak ada respon sama sekali dari ketiga orang itu.
"Xiao Lan keluarlah, tolong aku" gumam Xuan Lan.
"Paman, bibi" ucap seseorang dengan sangat lembut.
•••
Paman Tao, paman Tae, bibi Fu dan juga Xiao Lan melihat ke arah belakang tempat suara itu berasal. Disana sudah ada seorang gadis cantik dengan kulit putih bersihnya yang sedang tersenyum ke arah mereka.
"K-kenapa kalian ada dua?" tanya paman Tae heran.
Sedangkan Xuan Lan masih melihat ke arah Xiao Lan yang sedang berjalan mendekati mereka. Xiao Lan kemudian duduk di sebelah kiri Xuan Lan.
"Bukankah Xuan Lan sudah mengatakan kepada kalian jika aku alias Xiao Lan yang asli ini telah mati?" ucapnya.
"T-tidak mungkin" ucap bibi Fu sambil menutup mulutnya, sesuatu yang basah sudah mengaliri pipinya.
"Maaf" ucap Xiao Lan.
"Aku memang sudah mati ketika aku sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari itu. Tak kusangka saat berada di dunia yang lain yang berbeda dari dunia ini aku melihat Xuan Lan yang sangat mirip denganku, dia juga seorang gadis yang cerdas dan kuat sehingga aku meminta kepada dewa agar Xuan Lan bisa membalaskan dendamku" ucapnya sambil menatap mereka semua.
"Apakah kalian tidak merasa aneh, bagaimana bisa aku menjadi sekuat itu padahal aku baru saja sembuh dari sakit?" tanya Xiao Lan.
"Itu semua karena Xuan Lan yang bisa mengolah tubuh ini menggunakan berbagai ilmu beladiri yang ia pelajari dari masa depan" imbuhnya sambil menatap Xuan Lan yang masih terdiam itu.
Bibi Fu menangis kencang. Ia lalu berjalan untuk menghampiri dan memeluk Xiao Lan. Tetapi saat ia mengalungkan tangannya di tubuh Xiao Lan, ia seperti hanya memeluk angin. Ia bahkan tidak merasakan suatu tubuh yang berada di dalam dekapannya.
"Bibi, aku sudah mati. Jadi tidak mungkin kau bisa memeluk rohku ini. Tubuhku masih berada disampingku, jika kau memeluk Xuan Lan aku juga akan merasa dipeluk olehmu dan kau juga akan merasakan jika kau sedang memelukku" ucap Xiao Lan sambil tersenyum.
"Xiao Lan" lirih paman Tao dan paman Tae.
"Aku sudah lebih baik saat berada disana. Aku juga bisa bertemu ibu, ternyata ibu sangat cantik ya bibi" ucap Xiao Lan sambil tersenyum manis.
"Apa kalian sekarang sudah percaya pada Xuan Lan? Dia memang bukanlah diriku, tapi ia bagian dariku. Kalian jangan pernah mengucilkan ia setelah aku pergi nanti, bagaimanapun ia sudah memberi kalian perlindungan dan kehidupan yang lebih layak daripada saat kalian bersamaku" ucap Xiao Lan lagi.
"Xiao Lan" cicit Xuan Lan.
"Tidak apa-apa Xuan Lan karena itu memang kenyataannya. Kau sangatlah baik, tidak salah aku memintamu berada di dunia ini" ucap Xiao Lan lagi sambil menggenggam tangan Xuan Lan yang akhirnya hanya tembus oleh tangannya sendiri itu.
"Aku juga tidak menyangka kau akan memanggil pelayanku dengan sebutan paman dan bibi. Bahkan aku yang dari kecil diurus dan dilindungi mereka selalu memanggil mereka dengan sebutan pelayan dan penjaga, mengucapkan terimakasih saja tidak pernah"
__ADS_1
"Kalian sangat beruntung memiliki Xuan Lan" ucap Xiao Lan lagi sambil menatap paman Tae, paman Tao dan bibi Fu.
"Maaf, karena waktuku sudah tidak lama lagi. Aku harus kembali, ingatlah ini paman dan bibi. Sayangilah Xuan Lan sebagaimana kalian menyayangiku dan menyayangi Xuan Lan sebelum kejadian ini terungkap, jika bisa kalian harus lebih menyayanginya lagi karena dia telah mengubah hidup kalian"
"Aku pamit" ucap Xiao Lan sebelum menghilang dari kediaman jasmine.
"Xiao Lan" teriak bibi Fu hendak menghalangi Xiao Lan agar tidak pergi namun Xiao Lan bagaikan angin yang bisa berhembus dan menghilang kapan saja.
Sekarang suasana kembali menjadi hening. Semua orang berkutat dalam pikirannya masing-masing. Xuan Lan rasa ia harus membiarkan paman dan bibinya untuk mencerna ini semua. Ia lalu keluar tanpa pamit.
Bibi Fu hendak menahan Xuan Lan pergi tapi rasanya begitu kelu. Air matanya kembali menetes saat mengingat tuan putri kecilnya ternyata sudah meninggalkannya untuk selamanya. Karena terlalu lelah dan terlalu lama menangis akhirnya ia pingsan, untung ada paman Tao dan paman Tae yang sergap menolong bibi Fu yang sudah terjatuh itu.
Xuan Lan berjalan menuju markas Gold Tiger. Ia akan pergi kesana karena tidak ada yang mungkin mau mengganggunya saat ia sudah berada di kamarnya yang berada di markas Gold Tiger.
Sesampainya disana ia sudah disambut oleh para Tigers tapi ia tidak menjawabnya, menganggukkan kepalanya pun tidak.
"Reine terlihat lelah dan aneh" pikir para Tigers yang berpapasan dengan Xuan Lan.
Xuan Lan memasuki kamarnya dengan lesu. Ia akan istirahat sejenak di markas ini, mungkin sampai besok karena ia belum siap menerima penolakan yang akan diberikan paman dan bibinya untuk malam nanti. Ia harus mempersiapkan hati dan mentalnya terlebih dulu.
Xuan Lan benar-benar hanya berada di dalam kamar seharian ini. Ia bahkan tidak keluar sama sekali padahal ini sudah memasuki jam makan malam. Ho yang khawatir lalu masuk ke kamar Xiao Lan dan membawa makanan untuknya.
ceklek
"Ia nampak tak bersemangat, tak seperti biasanya" gumam Ho pelan.
Ho lalu meletakkan nampan yang berisi berbagai makanan itu di atas meja di samping tempat tidur Xuan Lan. Ia lalu membangunkan Xuan Lan dengan mengusap kepalanya lembut.
"Bangun" ucapnya.
Xuan Lan yang merasa ada yang membangunkannya kemudian membalikkan tubuhnya. Ia melihat Ho yang masih menyentuh kepalanya dengan lembut.
"Makanlah dulu" ucap Ho lagi tetapi Xiao Lan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Kau ini reine, sebentar lagi akan ada acara penting untukmu" ucap Ho mengingatkan tetapi Xuan Lan masih saja diam.
Ho menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.
"Ada masalah apa hm?" tanyanya lagi.
Xuan Lan kembali menggelengkan kepalanya. Dan Ho sangat tau jika Xuan Lan sedang tidak baik-baik saja. Ia akan mendengarkan curhatan Xuan Lan nanti setelah ia mau menceritakan semuanya. Tugasnya sekarang adalah memastikan Xuan Lan makan dengan baik.
__ADS_1
Ia kemudian mengambil mangkuk yang berada di atas nampan yang sudah dipersiapkannya tadi kemudian menyuapi Xuan Lan. Xuan Lan yang tadinya tidak ingin makan kemudian dipaksa Ho untuk membuka mulutnya. Ho kemudian mengambil air dan memberikannya pada Xuan Lan.
Setelah makan malam Xuan Lan habis, Ho ingin keluar tetapi sebuah tangan menahannya. Ho kemudian menatap pemilik tangan itu.
"Aku takut" ucap Xuan Lan lirih.
Ho mengerutkan dahinya mendengarkan perkataan Xuan Lan. Ia merasa heran dan aneh ketika Xuan Lan mengatakan ia takut padahal selama ini prinsipnya adalah ia tidak akan takut pada apapun namun sekarang ia mengatakannya sendiri bahwa ia sedang takut.
Ho kembali duduk di samping Xuan Lan. Ia mengamati mata Xuan Lan yang sudah berkaca-kaca itu jika ia berkedip bisa Ho pastikan jika kaca itu akan pecah menjadi lelehan kristal yang meluruh di pipi mulus milik Xuan Lan.
"Ada apa?" tanya Ho lembut.
Xuan Lan kemudian menghadap Ho. Ia kemudian menceritakan kejadian tadi siang, ia juga menjelaskan siapa dirinya yang sebenarnya kepada Ho.
Ho sangat terkejut dengan apa yang didengarnya. Jadi inilah alasan kenapa Xuan Lan meminta agar semua Tigers mengenal namanya sebagai Xuan Lan bukan Xiao Lan.
"Xiao Lan" gumam Ho.
"Aku takut paman dan bibi tidak akan menerimaku lagi hiks" ucap Xuan Lan sambil menangis.
"Tenang saja, ini semua bukan salahmu. Ini adalah takdir, Xuan Lan" ucap Ho menenangkan Xuan Lan.
Ia kemudian ikut menangis.
"Aku yang pantas disalahkan disini, aku yang sudah membunuh Xiao Lan" ucap Ho lirih.
Xuan Lan kemudian menatap Ho yang sudah mengeluarkan air matanya. Ia lalu memeluk Ho dengan erat.
"Kau yang mengatakan jika ini semua adalah takdir, ini bukan salah siapapun. Bukankah kita tidak bisa menyalahkan takdir?" ucap Xuan Lan yang sekarang berganti menenangkan Ho.
Ho membalas pelukan Xuan Lan, malam ini mereka berdua menangis menumpahkan air matanya di bahu orang yang mereka peluk.
Sementara di kediaman jasmine, bibi Fu merasa khawatir karena Xuan Lan belum juga kembali. Ia menyalahkan dirinya sendiri, harusnya ia tidak terbawa dalam suasana tadi siang. Seharusnya ia merangkul Xuan Lan dan tidak membiarkannya keluar dari istana. Ia merasa sangat bersalah sekarang. Paman Tae dan paman Tao sudah meminta bibi Fu untuk beristirahat tetapi bibi Fu masih ingin menunggu Xuan Lan.
"Dia juga butuh menenangkan dirinya, Fu" ucap paman Tao.
"Kau tidak perlu menunggunya, ia pasti kembali" ucap paman Tao meyakinkan bibi Fu lagi.
Bibi Fu menatap paman Tao. Akhirnya ia mau beristirahat di dalam kediaman dan menunggu Xuan Lan kembali kesini.
•••
__ADS_1
bingung deh mau bilang apa