PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
SERATUS DELAPAN


__ADS_3

Setelah berunding dan menyepakati rencana kedua para kaisar kemudian keluar lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke medan perang. Para pangeran dan para prajurit kemudian mengikuti kelima kaisar itu dari belakang.


"Malam ini kita menginap disini. Perang akan dimulai esok hari jadi kalian semua harus segera beristirahat" ucap kaisar Wang kepada mereka semua setelah tenda sudah didirikan.


•••


Xuan Lan dan pangeran Zhan sudah berjalan dari siang tadi. Ternyata gua yang digunakan pangeran Zhan untuk berkultivasi pada masa awal latihannya memang terletak jauh dari kediaman kakek Shi. Saat malam tiba mereka baru tiba di depan gua itu.


"Lan'er kau tidurlah di atas batu itu. Besok akan kita lanjutkan lagi" ucap pangeran Zhan kepada Xuan Lan.


"Kau juga harus tidur gege. Aku akan memanggil Kuma untuk berjaga" ucap Xuan Lan.


Pangeran Zhan tentu saja lupa akan kehadiran Ran dan Kuma. Mereka hanya pernah bertemu satu kali itu pun dalam waktu yang singkat jadi wajar jika ia lupa kepada dua mahluk legenda itu.


"Baiklah Lan'er" ucap pangeran Zhan sambil tersenyum di balik kegelapan malam.


Xuan Lan lalu memanggil Kuma dan memintanya berjaga agar ia dan gegenya bisa tidur dengan nyenyak dan Kuma menyanggupi hal itu.


Keesokan harinya Kuma sudah masuk kembali ke dalam kalung dimensi milik Xuan Lan. Pangeran Zhan dan Xuan Lan juga sudah bangun untuk masuk ke dalam gua.


Mereka berjalan menyusuri lorong gua sampai kaki mereka sampai di pertigaan lorong. Biasanya pangeran Zhan akan berbelok ke kanan tetapi kali ini ia akan berbelok ke kiri sesuai dengan perintah kakek Shi.


"Kita harus berbelok ke kiri" ucap pangeran Zhan.


Mereka lalu kembali menyusuri lorong gelap itu sampai langkah kaki mereka terhenti pada sebuah batu besar yang sudah tertancap sebuah pedang di atasnya.


"Pedang apa itu?" tanya Xuan Lan.


"Pedang surgawi" ucap pangeran Zhan.


___


Sementara itu seluruh kekaisaran yang sudah berada di dekat medan pertempuran sudah bersiap dengan baju zirah mereka. Para kaisar kemudian memimpin pasukannya masing-masing untuk menuju ke medan perang.


"Ingat, tetap jaga mata kalian dan fokus! Jika bisa jangan sampai terluka dan ingat semua keluarga yang menunggu kalian di rumah. Kita melakukan semua ini untuk melindungi mereka!" ucap putra mahkota Li Xian yang bertujuan untuk membangkitkan semangat seluruh prajurit yang berada di belakangnya. Ia belajar semua kata-kata ini dari Xuan Lan yang mengajari para prajurit di kekaisaran Li dulu kala.

__ADS_1


Kaisar Wang yang menjadi panglima dalam perang ini tersenyum. Ia sangat menyukai cara pangeran Xian dalam menyulut semangat para prajuritnya agar mereka tidak ingin mudah menyerah untuk peperangan besar ini.


"Ingatlah kata-kata pangeran Xian! Kita akan segera berangkat dan pulang dengan membawa kemenangan!" ucap kaisar Wang sambil mengangkat pedangnya ke atas yang disambut oleh teriakan-teriakan semangat dari seluruh manusia yang berada disana.


Sedangkan di bagian dalam kekaisaran terlihat seperti kota mati. Tidak ada seorangpun yang berani keluar dari rumahnya karena takut akan ancaman perang. Para Tigers juga mengawasi semuanya dari jauh bahkan beberapa dari penduduk memilih berada di dalam kuil sembari berdoa untuk keselamatan semua orang yang sedang menjalankan tugas mereka untuk berperang.


Di markas Gold Tiger sang vice reine masih berada di balik meja kerjanya. Ia memijat pangkal hidungnya sesekali.


"Apa kita tidak akan mengikuti perang ini vice reine?" tanya ketua marche.


"Kita pasti akan kesana namun tidak sekarang. Jika kita kesana sekarang aku rasa hanya akan berakhir sia-sia karena ini masih awal peperangan dan para prajurit masih terbakar oleh semangatnya tetapi kelamaan api itu akan padam dan saat itulah kita akan datang untuk membangkitkan kembali api yang sudah padam itu" ucap tabib Bao.


"Aku tidak berniat menjadikan Gold Tiger sebagai pahlawan kesiangan aku hanya ingin menghindari hal yang tidak diinginkan lagipula tugas utama kita adalah melindungi para rakyat" imbuhnya.


"Kami paham" ucap para ketua bersamaan.


___


Sementara itu Xuan Lan dan pangeran Zhan masih memandangi pedang yang berada di hadapan mereka. Pangeran Zhan sudah menceritakan apa yang diberitaukan kakek Shi kepadanya. Xuan Lan masih diam di dalam benaknya ia bertanya-tanya apa yang dimaksud oleh kakek Shi.


Xuan Lan mengangguk. Ia kemudian melepaskan pedang itu dari batu namun usahanya tidak berhasil.


"Kenapa tidak bisa seharusnya dengan energimu kau bisa mencabutnya" ucap pangeran Zhan bingung.


"Sudahlah gege, ini tidak masalah lebih baik sekarang kau yang mencoba melepaskan pedang itu" ucap Xuan Lan kepada pangeran Zhan.


Pangeran Zhan kemudian maju beberapa langkah sampai ia tiba di depan pedang itu. Tangannya mencengkeram kuat ke bagian pedang tadi. Dalam sekali tarikan pedang itu bisa pangeran Zhan lepaskan dari batu itu. Pangeran Zhan agak tidak percaya, ia kemudian menatap Xuan Lan yang menatapnya dengan berbinar.


"Kau berhasil gege!" ucap Xuan Lan dengan riang.


Pangeran Zhan lalu kembali ke arah Xuan Lan tetapi tiba-tiba batu yang sudah terlepas dari pedang tadi terbelah menjadi dua. Di dalam batu itu terlihat sebuah pedang yang hampir mirip dengan pedang surgawi yang sudah dipegang oleh pangeran Zhan.


"Kenapa masih ada pedang lagi? Kakek Shi tidak memberitahukan hal itu" ucap pangeran Zhan.


"Apa kita harus mengambilnya?" tanya Xuan Lan.

__ADS_1


"Mungkin" ucap pangeran Zhan lalu berjalan ingin mengambil pedang itu.


"Zhan tunggu" ucap seseorang yang sedang berlari dari arah luar gua. Pangeran Zhan dan Xuan Lan sangat hafal dengan suara itu. Itu adalah suara kakek Shi.


"Kakek" ucap mereka serempak.


"Untung aku datang tepat waktu" ucap kakek Shi lega.


"Xuan Lan kau ambilah pedang yang ada disana" ucap kakek Shi kepada Xuan Lan.


Xuan Lan menurut. Ia kemudian mengambil pedang yang tergeletak itu.


"Kenapa masih ada pedang di dalam batu itu kek?" tanya pangeran Zhan penasaran.


"Itu adalah pedang Swazi" ucap kakek Shi.


"Jadi pedang ini memang khusus untuk Xuan Lan?" tanya pangeran Zhan lagi.


"Pedang itu memang harus berada di tangan orang yang memiliki energi Swazi sama seperti namanya sedangkan pedang Surgawi dan pedang Neraka bisa berada di tangan orang-orang yang memiliki energi paling rendah sekalipun dengan syarat jika pedang itu sendiri yang memilihnya" ucap kakek Shi.


"Lalu yang mengambil paksa pedang itu?" tanya pangeran Zhan.


"Aku juga tidak tau, Zhan. Dia terlalu pintar untuk bisa mengambil pedang Neraka itu sampai-sampai ia lebih memilih menghancurkan batunya dengan kekuatan naga yang dimilikinya dan kalian berdua sebaiknya cepatlah kembali" ucap kakek Shi lagi.


"Sebenarnya ada apa kek? Ceritakan kepada kami tentang kejadian yang akan terjadi" ucap Xuan Lan.


"Orang yang mengambil paksa pedang Neraka itu sedang membuat kekacauan. Ia sedang mengajak seluruh kekaisaran untuk berperang dengannya" ucap kakek Shi.


"Apa?" pekik Xuan Lan dan pangeran Zhan bersamaan.


"Maka dari itu kalian harus segera kembali ke tempat kalian. Mereka semua membutuhkan kalian Zhan dan Xuan Lan" ucap kakek Shi.


•••


jangan lupa vote komen rate dan like

__ADS_1


__ADS_2