PUTRI BERHARGA

PUTRI BERHARGA
SERATUS DUA PULUH EMPAT (S2)


__ADS_3

Xuan Lan lalu melepas jambakannya dengan kasar sebelum ayahnya melerainya. Xuan Xi bahkan hampir terjatuh jika ia tidak memegang sandaran yang ada pada kursi di ruang tamu itu.


"Sialan!" geram Xuan Xi sambil menatap Xuan Lan dengan nyalang.


•••


Xuan Lan mulai kembali ke aktivitas normalnya. Saat ini ia sedang bersiap untuk berangkat ke kampusnya. Kemarin ia sudah mendatangi kampusnya lagi setelah masa komanya berakhir. Xuan Lan diberi pilihan ingin mengulangi mata kuliahnya atau tetap melanjutkan dengan syarat ia harus bisa memahami materi yang ia tinggalkan selama ia koma dan Xuan Lan lebih memilih untuk melanjutkan mata kuliahnya dan memahami materi selama enam bulan dengan singkat.


"Apa kau sudah ingin melanjutkan kuliahmu?" tanya ayah Xuan Lan saat berada di meja makan.


"Hmm" gumam Xuan Lan karena ia sedang memakan rotinya. Sedangkan ayahnya mengira jika Xuan Lan masih tidak ingin berkomunikasi dengannya.


Setelah memakan roti dan minum susu Xuan Lan kemudian berdiri dari kursinya.


"Aku berangkat" ucap Xuan Lan datar kemudian pergi begitu saja.


"Biar diantar sopir" ucap ayah Xuan Lan mencegah langkah kaki Xuan Lan.


"Tidak perlu. Bukannya sopir itu hanya bertugas untuk mengantar anak dan istrimu? Kau tidak perlu terlalu peduli padaku" ucap Xuan Lan tanpa membalik badannya.


"Tapi kau juga anakku" ucap ayah Xuan Lan.


"Seorang ayah akan membagi kasih sayangnya dengan adil" ucap Xuan Lan kemudian pergi dari tempat itu.


"Sudahlah suamiku. Xuan Lan memang anak yang seperti itu" ucap istrinya menenangkan ayah Xuan Lan sambil mengelus pundaknya.


"Apakah aku kurang adil dalam membagi kasih sayangku kepada dua putriku? Xuan Lan sudah mendapat kasih sayangku sejak ia kecil sedangkan Xuan Xi baru saja mendapatkan kasih sayangku saat usianya belasan tahun. Apakah aku salah menebus kesalahanku di masa lalu dengan menuruti kemauan Xuan Xi di atas kemauan Xuan Lan?" batin ayah Xuan Lan di dalam hati serta pandangannya yang terlihat sendu.


Di tengah jalan menuju kampus air mata Xuan Lan tak henti-hentinya menetes. Ia menghapus air mata itu menggunakan tangannya tetapi air mata itu terus keluar.


"Aku benci perasaan ini" gumam Xuan Lan.


"Air mata sialan" umpat Xuan Lan karena air matanya masih tidak ingin berhenti.


"Kenapa rasa sakitnya masih sama seperti dulu" gumamnya lagi.


Tak terasa langkah kaki Xuan Lan terhenti saat ia sudah memasuki gerbang kampusnya. Air matanya juga sudah berhenti dengan sempurna namun entah dengan matanya yang terlihat sembab. Xuan Lan memilih pergi ke toilet sebelum memasuki kelasnya.

__ADS_1


"Hah, wajahku" ucap Xuan Lan saat mengetahui matanya yang sembab. Ia kemudian membasuk wajahnya menggunakan air yang keluar dari wastafel.


"Ini yang aku benci dari menangis. Sepertinya aku harus melakukan sedikit touch up" ucap Xuan Lan kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Sejak melihat Lin Hua, Xuan Lan mulai percaya diri menggunakan make up untuk bepergian kemanapun meskipun make up yang ia gunakan tipis dan terkesan sangat natural bahkan ia terkadang terlihat tidak menggunakan make up sama sekali.


"Begini kan baru bagus" ucap Xuan Lan lalu tersenyum simpul dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas yang ia gunakan.


"Kalau dari dulu aku tau wajahku akan terlihat lebih segar saat menggunakan make up pasti aku sudah menggunakannya dari dulu dan pasti lelaki pasti satu kampus semuanya akan tergila-gila padaku" ucap Xuan Lan membanggakan dirinya. Ia memilih segera kembali ke kelasnya karena ia khawatir ada yang mendengar jika ia sedang menyombongkan apa yang ia punya.


Saat kaki Xuan Lan baru saja sampai di lantai kelasnya namun tiba-tiba terdengar suara terompet dan suara kebisingan yang lain dari dalam kelasnya. Xuan Lan kemudian melihat ada kejadian apa yang ada di dalam kelasnya. Ternyata teman satu kelasnya sedang menyambut kehadirannya kembali ke kelas ini.


"Selamat datang Xuan Lan!" ucap mereka serempak.


"Terimakasih" ucap Xuan Lan sambil tersenyum tulus yang melelehkan hati para lelaki yang ada di dalam kelasnya.


Xuan Lan sebenarnya tidak menyangka jika teman-temannya akan melakukan hal ini kepadanya karena ia menganggap teman di sini hanya formalitas semata dan ia juga tidak memiliki teman dekat sampai saat ini. Ia takut untuk memiliki teman lagi lebih tepatnya ia trauma jika temannya tiba-tiba menghilang seperti Ren Zu.


Xuan Lan tidak ingin terlalu bersedih dan ia juga tidak ingin teman dekatnya sedih jika hal itu terjadi padanya. Ia paling tidak suka kehilangan jadi sebisa mungkin ia membatasi dirinya di dalam pergaulan dengan menghadirkan sikap judesnya.


"Terimakasih" ucap Xuan Lan lagi.


"Jika kau kesulitan kau bisa menanyakannya pada kami" ucap temannya lagi.


"Kau kira Xuan Lan itu bodoh? Dia membaca sekilas saja pasti sudah langsung memahami materinya" ucap temannya yang lain sambil tertawa dan dibalas tawa oleh semua orang yang berada disana.


"Semangat Xuan Lan kau pasti bisa mengerjakan ujian! Fighting!" ucap temannya yang lain menyemangati Xuan Lan.


"Terimakasih atas perhatian kalian semua" ucap Xuan Lan berkaca-kaca.


"Tidak perlu berterimakasih. Kita ini teman" ucap teman Xuan Lan sambil menepuk-nepuk pundah Xuan Lan.


Semua orang lalu berhamburan kembali ke tempat duduknya saat ada dosen yang masuk ke dalam kelas mereka. Setelah mata kuliah selesai satu per satu siswa kemudian keluar dari kelas mereka.


Tak lama kemudian Xuan Lan juga keluar dengan membawa buku yang sudah dipinjamkan temannya untuknya. Ia merasa sangat mengantuk jadi ia memilih pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya baru ia akan berjalan menuju cafe favoritnya.


Sedangkan di parkiran kampus, Zhao sudah menunggu Xuan Lan di dalam mobilnya. Zhao sudah melihat beberapa teman Xuan Lan yang keluar tetapi Xuan Lan masih belum keluar juga. Karena merasa khawatir Zhao kemudian masuk ke dalam kampus dengan menggunakan masker dan kacamata hitamnya.

__ADS_1


Zhao berkeliling mencari Xuan Lan namun ia sudah tidak ada di dalam kampus. Zhao kemudian menghubungi Xuan Lan berulang kali namun tidak ada jawaban dari Xuan Lan.


"Kau kemana Xuan Lan" gumam Zhao yang merasa khawatir dan perasaannya sangat tidak nyaman.


Zhao kemudian berjalan menuju pos satpam untuk mencari keberadaan Xuan Lan. Bisa saja Xuan Lan sudah pulang dan satpam disana mengetahui jika Xuan Lan sudah pulang. Saat berjalan kesana Zhao melewati sebuah kamar mandi. Di depan kamar mandi itu ada sebuah buku berwarna hijau namun Zhao mengacuhkannya tetapi sesaat kemudian Zhao mengambil kembali buku itu karena melihat sesuatu yang sangat familiar disana.


"Ini gelang Xuan Lan" gumam Zhao sambil membuka catatan yang ada di dalam buku itu.


Di bagian paling belakang terdapat berbagai ucapan untuk Xuan Lan yang lebih seperti menyemangati Xuan Lan untuk melanjutkan pendidikannya. Zhao segera berlari menuju pos satpam sambil menelpon nomor Xuan Lan.


"Apakah anda mengenal seorang mahasiswi yang bernama Xuan Lan?" tanya Zhao kepada penjaga pos.


"Kami kenal tuan" ucap penjaga pos itu.


"Apakah dia sudah pulang?" tanya Zhao yang terlihat sangat khawatir.


"Kami belum melihatnya tuan" ucap satpam itu lagi.


"Aku tadi melihat dua benda ini. Aku yakin ini milik Xuan Lan nomornya juga tidak bisa dihubungi. Apakah kalian bisa memperlihatkan cctv di dekat kamar mandi yang berada di gedung x?" tanya Zhao.


"Tentu tuan" ucap salah seorang satpam kemudian ia memutar rekaman cctv yang berada di ruangan itu.


"Apa kalian tadi tidak ada yang melihat cctv?" tanya Zhao lagi.


"Kami baru saja berganti shift tuan" ucap seorang yang lainnya.


Rekaman cctv kemudian diputar. Disana terlihat Xuan Lan yang ingin masuk ke kamar mandi namun tiba-tiba dari belakang ada yang membekapnya dengan sebuah sapu tangan. Xuan Lan sudah mencoba melawan namun sepertinya obat bius yang diberikan di sapu tangan itu memiliki dosis yang sangat tinggi sehingga tidak sampai satu menit Xuan Lan sudah ambruk dan gelangnya tidak sengaja terlepas dari pergelangan tangannya.


"Sialan!" teriak Zhao dengan tangannya yang mengepal dan wajahnya yang memerah.


Zhao kemudian menelpon seseorang. Ia lalu menanyakan kepada satpam yang berada disana siapa yang bertugas menjaga saat kejadian ini terjadi. Setelah mendapat jawaban Zhao segera pergi dari tempat itu.


•••


**jangan lupa vote komen rate dan like


mau curhat dikit. ternyata buat cerita romance tuh susah bgt ya apalagi yg buat jomblo akut wkwk**

__ADS_1


__ADS_2