Putri Buta

Putri Buta
Eps 100


__ADS_3

Cit... cit... cit


Suara burung pipit bernyanyi riang di pagi hari yang cerah di Kerajaan Li.


Seorang pria yang memiliki paras tampan itu menggerak-gerakkan kelopak matanya perlahan, mencoba mengembalikan kesadarannya kembali setelah tertidur panjang.


Shettt


Rintihan kesakitan keluar dari mulutnya pelan, merasakan sakit yang sangat luar bisa saat dirinya mencoba menggerakkan tubuhnya.


"Kenapa ini? Kenapa seluruh tubuhku sangat sakit dan sejak kapan aku memiliki semua luka ini?". Putra mahkota Feng Xian merasa kebingungan luar bisa atas apa yang terjadi pada dirinya.


Dirinya tidak mengingat kapan dan dimana dia mendapatkan semua luka goresan pedang dan panah ini.


Menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya putra mahkota Feng Xian mencoba bersandar pada kepala ranjang.


Shittt


Rintihan kembali terdengar dari mulutnya merasakan punggung nya teramat sakit. Putra mahkota Feng Xian bertanya-tanya dalam hati.


"Seberapa banyak luka yang aku miliki? Kenapa sekujur tubuhku sangatlah sakit"


Mencoba berpikir keras mengingat-ingat kejadian apa yang membuatnya sampai terluka separah ini. Tapi nihil tidak ada yang dirinya ingat, yang ada kepalanya tiba-tiba berdenyut kuat saat putra mahkota Feng Xian mencoba menggali memori yang menurut dirinya hilang.


Araggg


" Sial sakit sekali"


Memukul cukup keras kepalanya yang berdenyut sakit, mencoba meredakan rasa sakit di kepala. Putra mahkota Feng Xian menjerit cukup keras saat merasakan rasa sakit yang semakin membuatnya ingin membenturkan kepalanya pada pilar kamar yang ia tempati. Sangat sangatlah sakit.


Erangan yang cukup keras itu membuat gadis yang sedang tertidur pulas disisinya kaget mendengar suara erangan kesakitan itu.


Dengan nyawa yang masih belum terkumpul seluruhnya Xue Mei bangun dari tidurnya dan langsung mendudukkan dirinya. Meski rasa pusing langsung menerjang Xue Mei tetap membuka matanya.


Saat melihat siluet seorang pria yang sedang merintih kesakitan Xue Mei langsung melebarkan iris matanya, kaget.


"Xian!" Secara spontan Xue Mei berteriak kaget, antara senang dan khawatir melihat sang kekasih telah siuman meski seperti sedang menahan rasa sakit.

__ADS_1


Putra mahkota Feng Xian terlonjak kaget mendengar suara Xue Mei. Putra Mahkota Feng Xian benar-benar menurunkan kewaspadaannya, sampai-sampai Xue Mei yang tidur disebelah pun tidak ia sadari.


Putra mahkota langsung membalikan badannya untuk melihat siapa wanita yang dengan lancangnya berani menaiki tempat tidurnya.


Melotot tajam pada wanita yang sedang menatapnya dengan penuh kekhawatiran dan kerinduan itu.


Saat melihat mata wanita yang ada didepannya ini, kemarahan putra mahkota Feng Xian tiba-tiba menghilang begitu saja saat melihat nata teduh Xue Mei . "Kenapa? Kenapa wanita ini bisa ada ditempat tidurku. Kenapa aku tidak bisa marah kepadanya?. Sebenarnya siapa wanita ini?"


Putra mahkota Feng Xian menggelengkan kepalanya, dirinya tidak boleh berbelas kasihan kepada wanita jala*g di hadapannya ini.


Putra mahkota Feng Xian kembali mencoba menggali ingatannya untuk mencari tahu apakah dirinya pernah melihat wanita yang menatap dirinya penuh kerinduan ini.


"Kenapa kau diam saja? Apa ada yang sakit? Ayo bicaralah!" Xue Mei bertanya. Cemas melihat putra mahkota Feng Xian yang hanya diam menatapnya.


Putra mahkota Feng Xian semakin mengerutkan keningnya, tapi nihil tidak ada sedikitpun memori tentang wanita yang ada dihadapannya ini. Yang ada kepalanya kembali berdenyut sakit.


Arghhh


Putra mahkota Feng Xian kembali memukuli kepalanya yang sakit.


"Hentikan apa yang kau lakukan, jangan lakukan itu" Xue Mei menahan kedua tangan putra mahkota Feng Xian, mencoba menghentikan putra mahkota Feng Xian agar tidak lagi memukuli kepalanya sendiri.


"Lepas" Ucap putra mahkota Feng Xian dingin. Menepis perasaan akrab dengan wanita di hadapannya.


Xue Mei langsung merasakan keanehan pada putra mahkota Feng Xian. Saat menatap mata sang kekasihnya Xue Mei merasa kalau putra mahkota Feng Xian seperti tidak mengenali dirinya lagi.


Tatapan itu tidak ada lagi tatapan cinta yang penuh kasih sayang. Xue Mei seperti melihat putra mahkota Feng Xian yang berhati dingin, bukan dirinya yang cerewet dan penuh kelembutan. Tapi Xue Mei menghiraukan nya.


"Aku akan menyuruh pelayan untuk memanggil tabib untukmu. tunggulah sebentar"


Xue Mei menapakkan kedua kakinya dilantai, tapi saat dirinya akan berdiri Xue mie merasa kalau tangan kanannya dipegang oleh putra mahkota Feng Xian. Mencegah Xue Mei pergi.


Spontan Xue Mei menoleh kembali. "Tunggulah sebentar aku akan segera kem.... "


"Siapa kau?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut putra mahkota Feng Xian langsung membuat Xue Mei bungkam.

__ADS_1


"Siapa dia bilang? aku harus segar memanggilkan tabib untuk Xian" Xue Mei mencoba berfikir positif. Tidak mungkin kekasihnya itu tidak mengingatnya kan?.


"Lepaskan dulu tanganmu aku akan memanggil tabib kau mungkin merasa kesakitan. Sampai-sampai kekasihmu sendiri kau lupakan"


"Tunggu apa dia bilang? Kekasih"


Putra mahkota Feng Xian tidak menggubris permintaan Xue Mei, dia malah menarik lengan Xue Mei sampai membuat gadis itu kembali terlentang di atas kasur.


Tidak menghiraukan lagi rasa sakit di sekujur tubuhnya, putra mahkota Feng Xian memegang kedua lengan Xue Mei dan meletakkannya di atas kepala ranjang,.


"Xian" Gumam Xue Mei. Dirinya bingung dengan sikap putra mahkota Feng Xian saat ini.


"Kekasih? Saya selama ini tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Kenapa saya tiba-tiba memiliki seorang kekasih hah?"


Putra mahkota Feng Xian menatap Xue Mei tajam tak lupa pula senyum miring yang membuat bulu kuduk Xue Mei berdiri.


"Apa kau hanya seorang wanita jala*g yang merangkak tempat tidurku demi sebuah harta,kehormatan dan ketenaran". Ucap putra mahkota Feng Xian pedas.


Tangannya yang menganggur putra mahkota Feng Xian gunakan untuk menyentuh wajah Xue Mei, dimulai dari kening, mata, hidung, pipi dan yang terakhir berhenti di bibir Xue Mei. Menatap lama bibir berwarna merah muda alami itu.


"Xian" Lirih Xue Mei. Hatinya begitu sakit saat putra mahkota Feng Xian menyebut dirinya seorang wanita jala*g. Seketika mata Xue Mei terasa panas dan tak lama kemudian air mata Xue Mei meluncur dengan bebasnya membasahi pipinya.


"Lancang" Putra mahkota Feng Xian langsung mencekik leher Xue Mei. "Berani-beraninya kau memanggil namaku secara langsung"


Xue Mei langsung gelagapan saat merasakan cekikan putra mahkota Feng Xian yang tidak main-main, Xue Mei tidak bisa bernafas.


"Le.. lepas.. kahn" Ucap Xue Mei terbata-bata.


"A.. akhu bu.. buk.an wanita seper...ti ituh"


Air mata Xue Mei semakin deras, rasanya dirinya sedang bertemu dengan malaikat pencabut nyawa yang perlahan mengambil jiwanya. Rasanya sangat sesak sekali persediaan oksigen di paru-paru nya semakin menipis.


"Cih menjijikan, enyah lah" Maki putra mahkota Feng Xian lalu dengan sisa-sisa tenaganya putra mahkota Feng Xian menghempaskan Xue Mei. Tanpa rasa kasihan sedikitpun.


Brekk


Akhhh

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2