
Taman istana kerajaan Li yang sangat luas dengan hamparan rumput hijau, bunga-bunga indah tumbuh bermekaran dan mengeluarkan harum semerbak. Suasana taman pun sangat sejuk karena banyak pepohonan yang di tanam oleh para pelayan istana. Suasana yang menenangkan itu membuat siapa saja yang melewati taman ini akan berhenti sejenak untuk menghirup udara segar di sana.
Kedua kakak adik itu sedang berjalan-jalan di taman istana kerajaan Li. Xue Mei mendorong kursi roda yang diduduki Zang Zingqin, mereka berdua ingin menghabiskan waktu bersama dengan menikmati pemandangan indah taman disini. Karena beberapa minggu ini Xue Mei terlalu terpuruk atas musibah yang menimpa putra mahkota Feng Xian.
Xue meja berhenti mendorong kursi rodan Zang Zingqin tepat di bawah pohon besar yang memiliki daun lebat. Disebelah Xue Mei terlihat sebuah ayunan yang di ikatkan di dahan besar entah siapa yang membuat ayunan ini.
Xue Mei duduk di ayunan itu, Zang Zingqin hanya memperhatikan pergerakan adiknya. "Maafkan kakak ya?" Ucap Zang Zingqin memulai percakapan.
Xue Mei mengayunkan pelan ayunan nya. "Kenapa kakak minta maaf? Kakak tidak salah apa-apa"
Xue Mei menatap Zang Zingqin penuh kasih sayang, meskipun tubuh ini ditempati jiwa yang berbeda tetap saja Sasa yang sekarang menjadi Xue Mei sangat menyayangi pria tampan ini.
"Karena selama satu bulan ini kakak tidak menemanimu saat kamu terpuruk gara-gara putra mahkota Feng Xian hilang ingatan"
"Tidak apa-apa kak, kakak juga kan harus fokus dalam pengobatan demi kesembuhan dan kepulihan kakimu"
Ya selama ini Zang Zingqin selalu melakukan pengobatan dan terapi supaya kakinya bisa kembali berfungsi sebagai mana mestinya.
"Kamu jangan terlalu memikirkan putra mahkota Feng Xian percayalah pasti dia akan kembali mengingat semua tentang mu_" Zang Zingqin menelisik dan memperhatikan Xue Mei dari atas kepala sampai ujung kaki. "Ck... Lihatlah betapa kurus dirimu, apa aku harus pergi ke kerajaan Feng untuk membenturkan kepala putra mahkota Feng Xian agar bisa mengingatmu. Kamu harus makan dengan teratur dan jaga kesehatan, jangan membuat kakak khawatir"
__ADS_1
Xue Mei hanya meringis pelan mendengar omelan yang dirinya Terima dari sang kakak. "Hehe.... Tenang saja kakak adik mu ini sudah besar bukan lagi anak kecil"
"Meskipun kau sudah besar tapi dimata kakak kau masih adik kecil kakak yang cengeng, kakak akan sangat sedih jika kamu jatuh sakit"
Xue Mei menghentikan kegiatan mengayunkan kakinya supaya ayunan tersebut bergerak lebih tinggi. Turun dari ayunannya Xue Mei menghampiri sang kakak.
"Tenang lah kakak aku ini kuat, penyakit tidak akan mudah menyerang ku" Xue Mei berbicara sambil menekuk kan tangan kirinya berlagak kuat.
"Yayaya... Kau memang kuat, tapi sekali lagi kakak minta maaf karena tidak bisa lagi mengajari mu berpedang"
Xue Mei memutar matanya malas, saat mendengar kakaknya terus berkata 'maaf'. "Berhenti meminta maaf kakak, ini semua takdir tuhan kita sebagai hambanya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menerima secara lapang dada"
Senyuman itu juga membuat Xue Mei terpesona. "Wah kakak semakin tampan saat tersenyum, pasti banyak gadis-gadis yang jatuh cinta padamu" Puji Xue Mei.
"Hahaha... Gadis mana yang mau dengan orang cacat seperti kakak ini, lagipula selama kita datang ke kerajaan Li kakak belum pernah keluar istana sekali pun"
Mendengar perkataan Zang Zingqin, Xue Mei menjadi sedih. "Betapa malang nasibmu kak"
"Jangan bersedih kakak, pasti ada satu orang gadis yang menerima kekurangan dan kelebihan kakak. Yang terpenting sekarang kakak harus semangat untuk bisa kembali berjalan, semangat kakakku sayang"
__ADS_1
Dengan spontan Xue Mei memeluk Zang Zingqin sayang, sebaliknya Zang Zingqin pun membalas pelukan adiknya dengan erat. Zang Zingqin merasakan pirasat buruk bawa nanti dirinya akan terpisah jauh dengan adik perempuan nya ini.
"Tidak akan terjadi apa-apa, Xue Mei akal selalu bersama kami"
"Hey ada apa ini kenapa kalian berpelukan tanpa mengajakku" Zang Yuki datang dengan bermandikan peluh. Pria yang selalu ceria itu baru saja menyelesaikan latihan berpedang nya.
Dengan senyum yang tak pernah pudar Zang Yuki menyerobot masuk kedalam pelukan kedua kakaknya.
"Yuki kau bau, mandi sanah!" Ejek Xue Mei.
"Tidak peduli"
Tawa ketiganya terdengar di seluruh taman, kebahagiaan terpancar jelas di wajah ketiganya.
Siapa saja yang melihat harmonisan mereka akan mendoakannya supaya tiga bersaudara itu akan selalu bahagia.
Dalam kebahagiaan ini, Xue Mei mencoba melupakan sejenak kejadian beberapa jam yang lalau. Diaman kaisar Han Jing Yun meminta jawabannya atas lamaran yang dirinya berikan.
"Lupakan dulu masalah kaisar gila itu, mari kita nikmati kebahagian ini sejenak"
__ADS_1
...Bersambung...