
Kedua alis Xue Mei bersatu, dia bingung dengan apa yang pamannya dan pria gemuk bernama Wuxi itu bahas. Demi mengobati rasa penasarannya Xue Mei coba bertanya kepada sang bibi.
"Bibi" Panggil Xue Mei
Putri Li Yu Mei pun menoleh kearah Xue Mei. "Apa?"
"Wabah? wabah apa yang di maksud pria gemuk itu. Apa bibi tahu?"
Putri Li Yu Mei menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. "Entahlah, kita dengarkan saja kaisar dan pria itu bicara!"
Xue Mei pun langsung diam, dia juga penasaran dengan wabah yang sedang dibahas pamannya dan pria gemuk itu.
"Yang mulia. Wabah itu terjadi empat hari setelah kami melakukan ritual adat di sungai, saat itu desa kami sedang berbahagia karena panen yang berlimpah.
Atas rasa syukur itu setiap satu tahun sekali di desa kami selalu melakukan ritual adat untuk berterima kasih pada tuhan atas nikmat yang ia berikan" Wuxi menjeda ucapannya.
Semua orang semakin penasaran atas kelanjutan cerita pria berbadan besar itu.
"Lanjutkan" Ucap Zang Zingqin menyuruh Wuxi untuk melanjutkan ceritanya.
"Tapi selang empat hari warga desa seperti kesetanan. Hampir semua warga desa merasakan rasa lapar yang berlebihan, saat mereka makan mereka akan seperti orang yang beberapa hari tidak makan apapun.
Di tubuh mereka juga timbul bintik-bintik merah keunguan, saat salah seorang dari warga desa memeriksakan keanehan dalam tubuhnya kepada seorang tabib.
Tapi tabib itu tidak bisa menemukan gejala dari penyakitnya dan obatnya pun belum
ada. Lalu tabib pun menyimpulkan bahwa itu sebuah wabah " Wajah Wuxi terlihat
semakin pucat, dia tertangkap
beberapa kali menelan ludah, terlihat seperti kehausan.
"Saya bingung yang mulai, warga desa makan tak henti-henti seakan rasa lapar itu tidak bisa di obati dengan makanan. Termasuk saya, saya juga merasakan hal yang sama seperti warga yang lain dan jika di hitung kurang lebih satu minggu warga desa menderita kelaparan. Padahal bahan makanan sangat banyak"
Xue Mei meneliti dengan seksama wajah Wuxi, pria gemuk itu seperti menahan sesuatu dalam dirinya. Fokus mata pria itu tak menentu,
bola matanya terus bergerak-gerak tak tentu arah.
"Ya-yang mulia to-tolong berikan sa-saya a-ir lagi" Pintanya.
__ADS_1
"Kasim"
Seolah mengerti dengan perkataan tak jelas kaisar Li Hao Jin, kasim yang masih memegang nampan berisikan teko dan gelas itu maju mendekati Wuxi.
Dia menuangkan air nya ke gelas lalu menyodorkan kepada Wuxi.
Dengan tidak sabar Wuxi merebut kasar cangkir itu dan langsung meneguk air nya hingga tandas. Merasa rasa hausnya tidak kunjung hilang Wuxi mengambil
teko yang ada di atas nampan itu dan langsung meminum airnya dengan rakus.
"Hei dimana sopan santunmu" Bentak jenderal besar Meng Fu. Dia tidak suka dengan orang-orang yang bersikap sembrono seperti Wuxi.
Tak menggubris perkataan jenderal Meng Fu, Wuxi terus meneguk air dalam teko itu hingga tak tersisa setetes pun.
Tapi tetap sama rasa hausnya tak kunjung hilang, otak Wuxi sudah tak bisa berpikir jernih lagi.
"air air air, aku haus berikan aku air" Pinta Wuxi, wajahnya semakin pucat pasi bibirnya semakin membiru. Pandangan matanya semakin tak menentu. Wuxi memegang
tengkuk lehernya gelisah, dirinya sangat haus tapi semua orang seperti tidak mengerti dengan apa yang dirinya mau.
Semu orang yang hadir di pertemuan ini melihat Wuxi dengan heran, karena sikap Wuxi yang seperti kerasukan membuat semua orang kebingungan.
Saat kaisar Li akan memegang pundak Wuxi, pria gemuk itu malah berlari menuju pintu keluar. "Hei!!"
Brekk
Wuxi membuka pintu dengan sekuat tenaga, setelah keluar dari aula pria dengan badan gemuk itu berlari kearah barat istana.
"Kejar dia" Perintah jenderal besar Meng Fu.
Beberapa prajurit pun langsung mematuhi perintah jenderal besar Meng Fu,
mereka mengejar Wuxi kearah barat istana Li.
Xue Mei yang melihat Wuxi pergi, Xue Mei langsung berdiri. "Ada yang tidak beres dengan pria gendut itu" Ujar Xue Mei memberi tahu semua orang yang ada di dalam aula.
Xue Mei berlari keluar dari aula untuk mengejar Wuxi, dia punya firasat buruk tentang ini
"Xue Mei" teriak putri Li Yu Mei.
__ADS_1
Yang di panggil tak menggubris teriakan itu dan terus berlari mengikuti prajurit yang tadi mengejar Wuxi.
"Ck, anak itu" putri Li Yu Mei pun ikutan berlari mengejar Xue Mei,
Putri Li Yu Mei penasaran kenapa keponakan nya itu ikut mengejar Wuxi.
"Kalian berdua_" Baru saja mengatakan dua kata Zang Zingqin langsung terpotong karena semua orang yang ada di dalam langsung keluar.
"Mau kemana mereka?"
"Ayo kita ikutan saja mengejar pira gendut itu, kak" Zang Yuki langsung mendorong kursi roda Zang Zingqin keluar.
Disisi lain Xue Mei terus berlari mengikuti para prajurit yang sedang mengejar pria gemuk itu. "Ck, Gemuk gemuk tapi larinya cepat juga"
Rambut Xue Mei yang di kepang bergerak kekiri dan ke kanan.
"Kenapa mereka berhenti" Xue Mei melihat para prajurit itu berhenti di pinggir danau. Jarak Xue Mei dan para prajurit itu sekitar seratus meter jadi Xue Mei tidak bisa melihat apa
yang terjadi di sana.
Akkkkhh
Suara jeritan seorang pelayan wanita membuat Xue Mei mempercepat larinya.
"Ada apa ini" Tanya Xue Mei saat sudah sampai.
Xue Mei berjinjit mencoba melihat kearah danau tapi tidak terlihat karena terhalangi para prajurit yang memiliki postur tubuh besar-besar.
Yang Xue Mei bisa lihat adalah dua orang pelayan wanita sedang berpelukan sambil menutup mata, terlihat tubuh keduanya gemetar ketakutan.
Semua prajurit langsung menyingkirkan membiarkan Xue Mei lewat.
"Itu putri pria gemuk itu lompat kedalam danau buatan" Ujar seorang prajurit yang berdiri di samping Xue Mei.
Xue Mei yang sejak tadi masih diam, langsung membulatkan matanya. "APA?" Teriak Xue Mei. Kemudian Xue Mei pun maju untuk melihatnya sendiri.
Terlihat tubuh pria gemuk itu sudah mengambang di permukaan air danau. Dengan keadaan mata dan mulutnya masih terbuka lebar.
"Astaga, dia sudah mati?" Xue Mei meletakan kedua tangannya di mulut, dia sungguh terkejut saat melihat Wuxi mati dengan mengenaskan.
__ADS_1
...Bersambung...