Putri Buta

Putri Buta
Eps 66


__ADS_3

Bagian Timur desa Anhui,


Saat ini Zang Jingqin juga sedang berpatroli berkeliling memeriksa keamanan didaerah timur. Zang Jingqin juga merasakan perasat buruk, tapi ditepis jauh-jauh perasaan itu.


Zang Jingqin terus meyebarkan pandangannya kesegala arah. "Tenang lah tidak akan terjadi sesuatu" Zang Jingqin menangkan hatinya. Meskipun perasaannya campur aduk saat ini Zang Jingqin tetap tenang dan pokus berpatroli bersama prajuritnya yang jumlah nya lebih besar dari pada yang di bawa oleh jenderal besar Zang.


Setttt.... satu anak panah meluncur dan hampir mengenai kaki kuda yang ditunggangi oleh Zang Jingqin. Tapi dengan cekatan Zang Jingqin menarik kekang kuda agar berhenti untung saja dirinya tidak membawa kuda dengan cepat kalau tidak mungkin akan panah itu akan mengenai dirinya.


Segera perajurit mengelilingi Zang Jingqin melindunginya dari serangan yang entah kapan akan datang.


"Hufftt... hampir saja" ujar Zang Jingqin dengan menghela napas lega.


Setelah itu dirinya kembali pokus dan menata kearah datangnya anak panah tadi.


" KELUAR KAU!!!" Zang Jingqin berteriak menyuruh orang-orang yang menyerangnya tadi keluar dari persembunyian.


"SERANGAN"


Dan tanpa basa-basi lawan dari Zang Jingqin langsung keluar dari persembunyian nya, dengan jumlah yang di perkirakan mencapai ratusan itu.


"SERANG DAN BUNUH MEREKA JANGAN SAMPAI ADA SATUPUN YANG LOLOS" Titah Zang Jingqin kepada para perajuritnya.


Bila berada di medan perang Zang Jingqin akan menjadi orang yang sangat berbeda,


dia akan bersikap kejadian dan bengis pada para musuhnya.


Beda jika dia bersama orang yang disayanginya dia akan menjadi sangat ramah penuh kasih sayang.


Perajurit dan para pemberontak itu pun saling berhadapan dan menyerang suara pedang bergesekan begitu nyaring jika orang biasa yang melihat itu pasti merasa ngeri,


tapi tidak bagi para perajurit bagi mereka itu sudah biasa.


Zang Jingqin terus mengedarkan pandangannya menatap tajam satu-persatu pemberontak yang ada di depan nya, dia sedang mencari siapa ketua mereka.


Tiba-tiba seseorang muncul diatas kepala Zang Jingqin dari ketiadaan dan langsung mengayunkan pedangnya untuk menebas kepala Zang Jingqin.


Merasakan ada seseorang yang menyerangnya Zang Jingqin langsung mencabut pedang dari sarung pedang yang diletakan di pinggang nya.


Srettttt...... Tingkkkk


Suara Pedang di cabut dari sarungnya dan suara denting pedang yang bergeserkan. Zang Jingqin berhasil menangkis serangan dadakan itu dan balik menyerang orang itu yang dikiranya sebagai pemimpin pemberontakkan ini.


Tingkkk... Orang itu berhasil menahan serangan pedang dari Zang Jingqin tapi dia sedikit terpukul mundur.


"ck... Sial" Orang itu berdecak sebal karena gagal menyerang musuhnya.

__ADS_1


Kemudian orang itu bersiap untuk kembali menyerang agar tugas yang diberikan tuannya cepat selesai.


"Siapa kau??" Zang Jingqin melompat menuruni kudanya, dia sudah siap untuk bertarung melawan musuh yang ada di depan nya.


Zang Jingqin terus menatap dingin orang yang nyerangnya tadi, orang itu memakai pakaian seraba hitam dan menggunakan cadar menutupi sebagian wajah nya agar tidak dikenali.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku" Tak ingin banyak berbasa-basi orang yang ternyata adalah Yun penjaga bayangan Chang Yi.


Yun mendapatkan tugas untuk menyerang Zang Jingqin, Yun diberi kepercayaan oleh Chang Yi bisa membunuh Zang Jingqin.


Sedang Zang Jingqin hanya mendengus kesal, kemudian dia pun juga melesat dengan cepat untuk menyerang Yun.


Tingkkk.... tingkkk....tingkkk......... Mereka berdua saling menyerang menghunuskan pedang nya, kekana dan kekiri.


Tapi mereka imbang tidak ada yang terluka dari keduanya.


"Sialan ternyata dia hebat juga" gumam Zang Jingqin dalam sela-sela duel keduanya.


Karena menggunakan pedang saja tak berhasil meruntuhkan lawannya Zang Jingqin pun menggunakan ilmu bela dirinya.


Hiyyatt,,,,,, Zang Jingqin berlari kearah Tubuh dan bersiap untuk menendang dada Yun.


Bughhh...... Yun terjengkang terkena tendangan dari Zang Jingqib.


"Uhukk...uhukk...Ssttt... Sialan


Yun mulai marah diapun kembali maju


dan menyerang Zang Jingqin.


Zang Jingqin hanya menatap lawannya sinis, dia mencoba tenang dan bernafas dengan teratur.


Sejak tadi dirinya merasa sangat terengah-engah karena Lawannya terus menyerang tanpa jeda.


Setelah merasakan lebih tenang Zang Jingqin kembali berlari dan menyerang, Zang Jingqin memegang pedangnya dengan erat dan_


Tingkkk.... keduanya kembali saling menyerang dan berhenti dengan pedang saling bergesekan.


"Sebenarnya apa mau kalian, kenapa kalian menyerang desa ini?" Tanya Zang Jingqin, dia menatap lawannya dengan tajam penuh intimidasi.


Yun meyeringai dibalik cadar yang dia pakai. "Baiklah aku tak perlu merahasiakan ini darimu, dengarkan ini baik-baik aku kesini haya ingin membunuhmu dan ayahmu jenderal besar Zang Yuan. Kau dengar itu!!! "


Keduanya tetap mempertahankan posisi masing-masing menahan pedang yang saling bergesekan.


__ADS_1


(Sepetu ini posisi mereka sekarang, anggap aja itu Zang Jingqin dan Yun,, oke)


Zang Jingqin menoleh kearah para perajurit uang sedang bertarung, dia melihat bayak pasukan dari pihaknya yang tumbang.


Zang Jingqin mengerang khawatir melihat para perajuritnya telah tumbang kehilangan nyawa. "setttt..... Sialan ternyata mereka sangat kuat, aku yakin mereka buka penduduk biasa" Kemudian Zang Jingqin kembali melihat kearah lawannya, menatapnya tajam dengan rahang yang sudah mengeras karena marah.


Yun hanya menatap Zang Jingqin sinis tanpa rasa takut sedikit pun. Dengan pedang masih beradu Yun pun berkata "Lihatlah para perajurit mu mereka sudah kalah, sekarang giliranmu" Ujarnya, kemudian dia mendorong pedangnya sehingga Zang Jingqin pun ikut terdorong.


Bughh....sringgg... Yun menendang perut Zang Jingqin dan mengayunkan pedangnya sehingga menggores perut Zang Jingqin panjang. Tak lama kemudian darah segar keluar mengalir tak terhentikan.


Zang Jingqin sampai terpukul mundur dan menabrak pohon.


"Setttt..." suara erangan kesakitan keluar dari mulut Zang Jingqin, rasa sakit goyang amat terasa perih dia rasakan dari sayatan yang dibuat oleh Yun,punggungnya pun terasa sangat sakit dan tulang-tulang nya pun terasa remuk.


Tapi rasa sakit itu tak dihiraukan sama sekali oleh Zang Jingqin, dia kembali bangkit dan menyerang Yun.


Tringgg... tringgg.... Suara pedang kembali bersahutan dan luka yang ada di dada Zang Jingqin terus mengalir smalam membasahi hanfu yang ia kenakan, pada saat ini Zang Jingqin tidak mengenakan baju zirah, menurutnya tidak akan terlalu berbahaya. pikir Zang Jingqin, sebelumnya tapi atas kecerobohan nya ini dirinya sekarang terluka cukup parah.


"Sebentar lagi kau akan mati, pedang yang aku pakai Mengandung racun yang mematikan" ujar Yun, kemudian dia tersenyum senang karena berhasil melukai lawannya..


"Cihh! Aku tidak akan mati sebelum aku membunuhmu" Zang Jingqin berkata dengan dingin, kemudian dengan ilmu peringan tubuh Zang Jingqin melesat dengan kekuatan penuh dan_


Setttt... Dia berhasil melukai lengan kanan Yun dengan sekali tebasan.


Tapi setelah melakukan serangan itu tubuh Zang Jingqin terasa semakin lemah dan luka saya tanya pun terasa sangat teramat sakit.


Uhuk.. uhukkk... Tiba-tiba Zang Jingqin pun terbatuk dan memuntahkan seteguk darah segar. " Ternyata benar pedang itu dilumuri racun, sial efek racun itu begitu cepat menyebar. oh tidak jantungku serasa bagai ditusuk ribuan jarum".ucap Zang Jingqin dalam hati, dengan tangan kanan yang memegang dada sebelah kiri dan meremas hanfu yang sudah basah oleh darah.


Tubuh Zang Jingqin tumbang dia mendudukkan dirinya merasakan sakit yang semakin menjalar keseluruh tubuhnya.


Uhukk.... uhukk... Zang Jingqin kembali terbatuk dan kembali memuntahkan begitu banyak darah dari mulutnya. kerah hanfu juga sudah basah oleh darah yang mengucur dari mulutnya.


"Sudah kau sudah kalah, mati kau" Yun yang ada di depan Zang Jingqin bersiap untuk menghunus kan pedangnya pada jantung Zang Jingqin.


Tringg... dengan kekuatan yang tersisa Zang Jingqin menahan pedang milik Yun tapi_


Bughh... Yun menendang dada Zang Jingqin dengan sekuat tenaga sampai tubuh Zang Jingqin kembali membentur pohon di belakang nya.


Sekarang sekujur tubuh Zang Jingqin sudah mati rasa tenaganya pun sudah habis terkuras, keringat terus bercucuran dari pelipisnya menahan rasa sakit.


"Apa ajalku sudah dekat, oh Tuhan jangan ambil nyawaku dulu aku belum menikah" Tidak dasar Zang Jingqin meski ajal sudha didepan mata dia masih memikirkan hal seperti itu.


Yun berjalan semakin dekat kearah Zang Jingqin yang sudah terduduk dan terkulai lemas. "Apa kau punya permintaan terakhir sebelum kau mati heh?" dengan pedang yang diletakan di leher Zang Jingqin, Yun memberikan kesepakatan.


"emmm" Zang Jingqin mencoba berpikir meski nafasnya sudah tersendat-sendat, dia mencoba mengulur waktu.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2