
Hari yang dinati seluruh masyarakat kerajaan Li telah tiba, dimana hari ini kaisar Li Juang lengser dari posisinya dan digantikan putra pertamanya. Masyarakat dan para menteri mendukung kenaikan tahta putra mahkota Li Hao Jin, mereka sangat setuju jika kerajaan Li di pimpin olehnya. Meski Mereka tahu bahwa putra mahkota Li Hao Jin memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
Pagi buta sekali Xue Mei telah bangun dan saat ini dirinya sedang berendam air hangat, dirinya terlalu bersemangat untuk melihat penobatan sang paman. Meskipun matahari belum menampakan sinarnya mungkin sekitar jam Lima pagi, Xue Mei mandi dengan menggunakan pewangi bunga mawar dan tak lupa juga kelopak mawar merah yang memenuhi bak mandinya. Sambil bersenandung riang Xue Mei membersihkan dirinya.
Sedangkan Wei sedang sibuk mempersiapkan hanfu serta aksesoris yang akan dipakai Xue Mei nantinya.
"Wei tolong keringkan rambutku" punta Xue Mei yang teoah menyelesaikan ritual mandinya.
"Baik nona"
Kemudian dengan telaten Wei mengeringkan rambut Xue Mei dengan kain yang sangat lembut, mungkin jika di zaman modern itu adalah handuk.
Melihat Wei yang sedang sibuk mengeringkan rambut panjangnya, Xue Mei pun ikut menyibukan dirinya dengan memoles wajahnya dengan lihai, melukis alis, memoles kan bedak dan mewarnai bibirnya dengan warna merah muda.
"Sudah selesai nona" Ujar Wei menginfokan pekerjaanya.
"Baiklah aku juga sudah selesai. sekarang bantu aku memakai hanfu ini" Ujar Xue Mei sambil mengangkat hanfu berwarna merah muda, yang sengaja dikaitkan khusus untuk dirinya oleh sang bibi.
Tanpa membantah sedikitpun Xue Mei langsung memasangkan hanfu berbahan sutra dan bersulamkan benang emas itu ditubuh putih Xue Mei.
"Aisss..kenapa hanfu ini sangat ribet sih!?" Gerutu Xue Mei kesal, sejak hanfu merah muda itu datang dan Xue Mei mencobanya dia terus menggerutu kesal pada sang bibi. Dirinya kurang menyukai hanfu-hanfu yang berat dan ribet dipakai.
Dengan cemberut akhirnya hanfu merah muda itu telah terpasang indah di tubuh Xue Mei.
Karena memiliki postur tubuh yang ideal dan memiliki tinggi badan yang seperti model Xue Mei bisa bernafas lega karena hantunya tidak akan terlalu terseret dan kotor karena bersentuhan dengan tanah. Meski jika Xue Mei mensejajarkan dirinya dengan sang kaka atsu snag kekasih dirinya hanya akan sebatas bahu mereka saja.
__ADS_1
Kemudian acara selanjutnya, menata rambut hitam Xue Mei dengan berbagai aksesoris yang dimana akan selalu membuat Xue Mei sakit kepala nantinya.
"Kekasihku ternyata sangat cantik" Tiba-tiba terdengar suara bass milik seorang pria yang sedang duduk santai dijendela. Entah sejak kapan pria tampan itu datang.
Xue mengerucutkan bibirnya dia tidak kaget saat melihat putra mahkota Feng Xian datang tiba-tiba. Karena tadi dia melihat kedatangan putra mahkota Feng Xian melalui pantulan cermin perannya. Meski dirinya tidak tahu putra mahkota Feng Xian datang dari mana.
Tapi tidak dengan Wei dia sampai menjatuhkan tusuk rambut Xue Mei sangking terkejutnya.
"Berarti selama ini aku jelek ya" Ujar Xue Mei tanpa melihat pria tampan yang sedang duduk manis di jendela.
Putra mahkota Feng Xian yang sudah tampan dan gagah mengenakan hanfu kebesarannya berwarna hitam putih dan tak lupa sulaman hewan mitologinya seekor naga yang disulam menggunakan benang emas dan dijahit dengan teliti. Tak lupa pula rambutnya diikat sebagian dan dipasang mahkota kebesarannya sebagai seorang Putra mahkota.
"Bukan seperti itu sayangku, Kau sangat cantik. Setiap hari jika aku perhatikan kecantikanmu semakin bertambah setiap hatinya" Ujar putra mahkota Feng Xian sambil tertawa pelan. Dirinya sangat gemas saat melihat Xue Mei memajukan bibirnya beberapa centi, membuatnya ingin sekali mengecup bibir merah muda itu.
"Gombal…aku tidak akan mempan dengan rayuanmu itu" Ujar Xue Mei kesal. Tapi jika dilihat kedua pipi Xue Mei bersemu merah, dirinya malu dipuji berlebihan oleh sang kekasih.
"Apa sih, enggak aku sehat" Ucap Xue Mei. Lalu tangannya menepis pelan tangan putra mahkota Feng Xian.
Wei pun membungkuk memberi hormat, lalu segera keluar dari kamar Xue Mei setelah selesai melaksanakan kewajibannya melayani sang majikan.
Melihat Xue Mei yang masih cemberut membuat putra mahkota Feng Xian dengan lancang menempelkan bibirnya dengan bibir merah muda Xue Mei. Ciuman yang tiba-tiba itu membuat Xue Mei terkejut sampai-sampai dia membulatkan matanya.
Setelah merasa puas putra mahkota Feng Xian pun melepaskan bibirnya, membiarkan Xue Mei mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
Melihat wajah Xue Mei yang sudah merah padam membuat putra mahkota Feng Xian terseyum lebar penuh kepuasan.
__ADS_1
"Kau-"
"Maaf nona, yang mulia kaisar memerintahkan anda untuk ikut sarapan bersama dengan para tamu, sebelum acara penobatan dimulai" Tiba-tiba Wei bersuara dari luar, membuat Xue Mei menekan kembali kata-kata yang belum sempat keluar itu.
"Baiklah, aku akan segera kesana" Ujar Xue Mei membalas ucapan Wei dengan sedikit berteriak.
Saat melihat keluar jendela ternyata sang surya telah menampakan wujudnya, keberadaan putra mahkota Feng Xian membuat Xue Mei tidak menyadari kalau bumi sudah kembali terang tidak gelap lagi.
"Ayo kita keluar, aku tidak mau mereka semua menunggu kedatanganku"
Kjdian dengan patuh putra mahkota Feng Xian mengikuti Xue Mei keluar dari kamarnya, dan saat mereka sampai di pintu keluar beberapa penjaga paviliun Xue Mei terkejut saat melihat bukan hanya sang putri yang keluar dari kamarnya melainkan bersama seorang pria tampan, sang kekasih. Dari pada berburuk sangka lebih baik mereka positif thinking, mereka tahu bahwa sang putri tidak mungkin melakukan hal yang tak senonoh bersama kekasihnya.
Dengan santai Xue Mei berjalan dengan putra mahkota Feng Xian yang ikut berjalan disamping Xue Mei dan jangan lupakan buntut Xue Mei, yaitu para pelayan yang disiapkan oleh sang kakek untuk dirinya.
Guan pun ikut berjalan bersama para pelayaan calon nyonya nya nanti. Dia terus menghembuskan nafas kasar saat melihat kemesraan tuannya dengan calon istrinya itu. "Benar-benar tidak tahu tempat" Batin Guan. Dirinya merasa iri, karena sampai saat ini diusianya yang menginjak usia 24 tahun belik menemukan tambatan hatinya. 'Mungkin dia masih menjaga jodoh seseorang saat ini, jadi aku harus bersabar menunggunya' itu perkataan Guan dulu saat ditanya 'Kapan nikah' oleh ibu angkatnya, permaisuri Rong Lin.
Keduanya sudah sampai di depan pintu aula kerajaan. Tapi putra mahkota Feng Xian merasa sangat tidak rela sang kekaish cantiknya dilihat orang lain.
"Aku tidak rela orang lain melihat kecantikanmu ini sayang, rasanya aku ingin mengurungmu dan tidak membiarkan seorang pun melihat kecantikanmu ini" Ujar putra mahkota Feng Xian berbisik ditelinga kiri Xue Mei.
Xue Mei merasa merinding saat merasakan hembusan nafas hangat putra mahkota Feng Xian menerpa lehernya, dirinya merasa ngeri sendiri entah kenapa?.
"Apa sih, jangan mulai deh" Ucap Xue Mei ikut berbisik, tangan kanannya memegang wajah putra mahkota Feng Xian lalu menjauhkan wajah tampan itu dari dekat lehernya.
"Ck.. menyebalkan" Gerutu Guan pelan, sambil menatap dua sejoli itu sinis campur iri.
__ADS_1
...Bersambung...
Jangan lupa vote ya, pasti kalian punya karena hari ini hari senin.... Dan jangan lupa sekalian kasih bunga buat otor manis ini☺😉