Putri Buta

Putri Buta
Eps 68


__ADS_3

Keadaan di bagian barat desa Anhui sudah sangat kacau banyak perajurit yang di bawa jenderal Zang mati, tubuh Jenderal Zang pun sudah penuh dengan luka di usainya yang sudah tak muda lagi membuatnya kepayahan untuk menahan serangan yang Chang Yi berikan. Kekuatannya kalah besar dengan kekuatan yang di miliki Chang Yi.


"Sudah lah menyerah saja, berikan nyawamu padaku dan dengan senang hati aku akan mencabut nyawamu" Ujar Chang Yi dengan menatap jenderal Zang dingin.


Chang Yi tidak terluka sedikit pun, baju yang ia kenakan pun masih bersih tak terkena noda sedikitpun.


Dengan sisa kekuatannya jenderal Zang mencoba menahan serangan pedang yang Chang Yi arahkan padanya.


"bermimpilah aku tidak akan menyerah begitu saja, sebenarnya apa mau mu hah?" Tanpa bosan jenderal Zang terus bertanya apa yang Chang Yi inginkan.


Dengan bercucuran keringat jenderal Zang terus bertahan, wajahnya sudah kotor oleh darah yang keluar dari pelipis dan sudut bibirnya dan juga tanah yang menempel karena tadi jenderal Zang beberapa kali tersungkur jatuh di tanah karena tendangan Chang Yi.


"Sebelum kau mati aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu,Dengarkan baik-baik! namaku Chang Yi" Kemudian dia melepaskan topeng yang menutupi bagian atas wajahnya.


"Lihatlah semua perajuritmu sudah dihabisi oleh anak buahku, sekarang tinggal dirimu"


Dengan wajah yang sudah kelelahan dan menahan rasa sakit melihat kesegala penjuru melihat bayak perajurit yang berada di bawah pimpinannya sudah tergeletak tak bernyawa. Terbesit di hati jenderal Zang rasa bersalah melihat begitu banyak perajurit nya yang sudah mati, dirinya mersa kasihan kepada para keluarga perajurit yang ditinggal mati.


Dapat dilihat dengan jelas kalau jenderal Zang tidak mengenali siapa Chang Yi.


"Sebenarnya siapa kau, aku baru pertama kali melihatmu" Jenderal Zang kembali bertanya pertanyaan yang sama kepada Chang Yi.


"Sudahlah kau tidak perlu tahu siapa aku" kemudian Chang Yi memakai kembali topengnya.


Setelah itu Chang Yi menatap sinis jenderal Zang, dia sudah bosan bermain-main dengan pria tua di depannya ini.


"Aku sudah bosan bermain denganmu". Tanpa belas kasih Chang Yi menendang perut jenderal Zang dengan sangat keras.


Bughh.... Arghhh


Jenderal Zang kembali berteriak merasakan sakit dibagian perutnya, kemudian jenderal Zang terbatuk dan memuntahkan seteguk darah segar.


Tubuhnya sudah mati rasa, sudah tidak ada lagi tenaga yang tersisa.

__ADS_1


Chang Yi menyeringai melihat kususnya yang sudah terkapar tak berdaya lagi untuk melawannya. Dia paling suka melihat lawannya menderita dan tak berdaya di hadapannya.


Dengan tangan kanan yang memegang pedang Changyi melangkah dengan pasti mendekati jenderal Zang yang sudah terkapar tak berdaya di tanah bersiap untuk menusuk jantungnya.


Jenderal Zang sudah tak berdaya lagi, sekarang dia sudah pasrah jika harus mati disini. Tapi pikirannya melayang memikirkan keadaan anak-anaknya.


" Bagaimana dengan keadaan Jingqi? apa dia baik-baik saja? semoga saja dia tidak apaapa. Jika aku mati mei'er dan Yuki masih memiliki ayah" Ucap jenderal Zang dalam hati, dia mengkhawatirkan ketiga anaknya dia sedih jika harus meninggalkan mereka bertiga.


Tapi jenderal Zang bisa merasa tenang,


pasti jika dia mati anak-anaknya akan dibawa pergi oleh kakek merasa ke kerajaan Li. Tidak akan kekurangan kasih sayang atau materi dan pasti mereka akan aman di sana.


Chang Yi menaikan sebelah alisnya melihat jenderal Zang menitik air mata. " Meskipun kau memohon atau pun mencium kakiku aku tidak akan mengasihanimu, tapi jika kau mati aku akan melepaskanmu " Dengan menyeringai Chang Yi mengangkat pedangnya dan menusukkan nya didada kiri jenderal Zang.


Crebbb....


Jenderal Zang sudah tidak merasakan apapun meski pedang melacak di jantungnya dia tidak merintih atau mengeluarkan suara sedikitpun.



Tak lama setelah pernah ditancapkan diralat langsung mengalir keluar sangat deras. bukan hanys dari dada kirinya saja darah mengalir melainkan dari mulut dan hidung pun ikut mengeluarkan darah.


Chang Yi menatap puas dengan apa yang telah ia lakukan tapi tiba-tiba_


Bughhh......


Chang Yi terpental dan menabrak pohon besar, dia tidak menyadari kedatangan putra mahkota Qin Li.


"Sialan, aku terlambat" ujar putra mahkota Qin Li kesal pada dirinya sendiri karena terlambat datang untuk menyelamatkan jenderal Zang.


"Bere*sek" Chang Yi mengumpat kesal kemudian dia kembali bangkit berdiri dengan menyeka darah yang keluar dari hidungnya.


"Terlambat dia sudha mati" ujar Chang Yi lagi, dia sudah bosan dan susah tidak ada niatan untuk menyerah putra mahkota Qin Li.

__ADS_1


"KAMU? SIAPA KAU" Putra mahkota Qin Li berteriak dan membentak Chang Yi.


Kemudian putra menghampiri jenderal Zang.


"Jenderal Zang" Chang Yi mengguncangkan tubuh jenderal Zang.


"Cha...Chang Yi" Dengan susah payah jenderal Zang berbicara dengan menujuk kearah Chang Yi. Pedang pun masih menahan di dada kiri jenderal Zang.


"siapa, Chang Yi" Kemudian dia melihat kearah tangan jenderal Zang yang mengarah ke belakangnya.


kemudian putra mahkota Qin Li menoleh kebelakang dan dia begitu terkejut karena orang yang tadi ia tendang sudah menghilang bersama dengan pasukannya.


"Kemana mereka pergi" Gumamnya, putra mahkota Qin Li ingin mengejar mereka tapi ia urungkan karena sekarang lebih penting untuk membawa jenderal Zang mengobati lukanya.


Tapi terlambat jenderal Zang sudah tak bernyawa lagi, setelah dia menyebutkan nama Chang Yi dia langsung menghembuskan napas terakhirnya.


Melihat itu putra mahkota Qin Li langsung mengangkat tubuh jenderal Zang dan memangku nya mencoba untuk menyadarkan jenderal Zang. "Jenderal... jenderal" dengan kuat putra mahkota Qin Li mengguncangkan tubuh jenderal Zang.


Tapi sayang tubuhnya sudah kaku dan hawa tubuhnya mulai dingin. Putra mahkota Qin Li hanya bisa menundukan kepalanya, memberikan penghormatan terakhir pada jenderal yang sudah begitu banyak berjasa pada Kerajaan Qin.


putra mahkota Qin Li melihat pedang yang menancap di dada kiri jenderal Zang. "Maaf" dengan perlahan putra mahkota Qin Li mencabut pedang itu dan membuangnya.


Tidak alam kemudian para perajurit datang dengan jumlah besar tapi sayang mereka terlambat datang jenderal besar mereka terlah kaku tak bernyawa lagi.


"Ya.. yang mulia je.. jenderal..." salah satu diri mereka bertanya, karena bingung melihat putra mahkota Qin Li yang tereduksi dengan memangku jenderal Zang.


"Jenderal Zang telah gugur" dengan suara pelan putra mahkota Qin Li memberi tahukan Kabar duka ini.


Meskipun putra mahkota Qin Li berbicara pelan tapi karena susana yang sunyi para perajurit bisa mendengar dengan jelas ucapan putra mahkota Qin Li.


Dan dengan cepat para perajurit bersimpuh di tanah dan menundukan kepalanya.


Dimalam bulan purnama ini akan dikenakan dimana orang yang berkontribusi besar terhadap kerajaan Qin telah gugur.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2