
Tatapan teduh dan wajah murung membuat keponakannya, membuat putri Li Yu Mei terus menarik napas panjang bingung harus menghibur dengan cara seperti apa lagi.
"Sudahlah jangan terus seperti ini, kau harus semangat. Ini sudah satu bulan loh apa kamu akan terus seperti ini"
Putri Li Yu Mei merasa iba melihat sang keponakan seperti sangat terpukul atas kejadian satu bulan lalu.
"Biarkan aku sendiri bibi" Mohon Xue Mei dengan memelas kepada putri Li Yu Mei. Tanpa semangat hidup Xue Mei menelungkup kan kepalanya di meja.
"Kau ini" Satu pukulan mendarat di pundak Xue Mei yang sedang menenggelamkan wajahnya dilipatkan tangannya. "Spadarlah kau selalu meminta untuk sendirian. aku takut kau akan bunuh diri gara-gara putra mahkota Feng Xian tidak mengingat mu lagi"
"Aisss... Aku bukan wanita yang lemah, yang mana gara-gara gagal tunangan langsung bunuh diri" Decak Xue Mei, dirinya merasa kesal dengan omongan bibinya.
"Yayaya.. meski kau tidak bunuh diri tapi kau selama ini terus murung dan seperti tidak punya semangat untuk bertahan hidup lagi di dunia ini, lesu" Cibir putri Li Yu Mei.
Xue Mei hanya diam tidak ingin lagi menanggapi celotehan wanita di sampingnya. Masih dengan posisi yang sama Xue Mei terus mengingat kejadian dimana dirinya di hina dan diperlakukan kasar oleh putra mahkota Feng Xian.
"Aku sangat merindukanmu. Sebenarnya apa yang terjadi pada malam itu, sampai ingatan akan diriku hilang tak tersisa satupun dalam memori mu"
Xue Mei begitu terpuruk dengan keadaan putra mahkota Feng Xian. waktu itu, saat putra mahkota Feng Xian ditanya oleh tabib.
"Yang mulia, kejadian apa yang terakhir anda ingat?"
"ltu.... saat saya pergi berburu dengan adik-adikku" Ucap putra mahkota Feng Xian. "Tapi kenapa saat saya bangun, tiba-tiba saya sudah berada di kerajaan Li dan terluka parah. Ada apa sebenarnya ini"
Perkataan putra mahkota Feng Xian membuat Guan langsung mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
"Tapi yang mulia kejadian itu sudah beberapa bulan yang lalu"
Mengingat itu membuat Xue Mei stress, dirinya menerka-nerka bahwa kejadian yang di ingat putra mahkota Feng Xian adalah kejadian sebelum dia bertemu dengannya.
"Arghhh.. SIALAN APA KAU BENAR-BENAR TIDAK MENGINGATKU SAMA SEKALI. JIKA KAU BENAR-BENAR TIDAK BISA MENGINGATKU AKU AKAN MENCARI PRIA YANG LEBIH TAMPAN DARI DIRIMU..... DASAR BAJ*NG*N"
Tatapan matanya menatap langit biru itu tajam. Tangannya terkepal erat demi menyalurkan kekesalannya.
__ADS_1
Teriakan Xue Mei membuat putri Li Yu Mei dan seluruh pelayan yang ada di sekitar mereka terkejut bukan main.
"Uhuk... uhuk.. Dasar gadis gila,, aku hampir mati gara-gara tersedak" Bentak putri Li Yu Mei dengan tingkah Xue Mei yang berteriak tiba-tiba, tatapan garang ia berikan pada Xue Mei.
Xue Mei tak menghiraukan bentakan putri Li Yu Mei. Setelah berteriak kegundahannya sedikit berkurang.
"Gadis ini benar-benar gila, gara-gara pertunangan nya batal" Gerutu putri Li Yu Mei masih kesal dengan Xue Mei.
...🥀🥀🥀🥀...
"Hahaha" Suara tawa terdengar nyaring diruang kerja milik pemimpin negara Han.
Tawanya terdengar sangat gembira, tapi terdengar sangat menyeramkan ditelinga bawahannya yang sedang berlutut.
"Semua racun dan obat yang aku buat belum pernah ada satupun yang gagal" Mata tajamnya kembali menatap bawahannya. "Jadi benar dia telah melupakan gadisku"
"Benar yang mulia, Putra mahkota Feng Xian telah melupakan putri"
Tok... tok.. tok
Suara ketukan dari luar terdengar.
"Masuklah"
Seorang kasim kepercayaan kaisar Han Jing Yun langsung memasuki ruang kerja majikannya.
"Salam yang mulia". Hormatnya dengan membungkuk sembilan puluh derajat.
"Apakah sudah siap?"
Seperti mengerti dengan pertanyaan tuannya kasim itu pun menjawab.
"Sudah yang mulia"
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita berangkat"
Melangkah meninggalkan ruang kerjanya, kaisar Han Jing Yun begitu semangat hati ini. Dirinya akan pergi ke kerajaan Li untuk melamar Xue Mei. Tak peduli di tolak sekalipun.
"Tunggu aku sayang"
...🥀🥀🥀🥀🥀*...
(Jika kalian lupa siapa Shen, dia ada di eps 60)
"Shen" Suara putra mahkota Feng Xian menggema disekitar danau, memanggil nama sang sahabat.
"Keluarlah aku membutuhkan mu!"
Malam ini sangat lah gelap putra mahkota Feng Xian datang seorang diri ke danau ini, dengan membawa lentera sebagai alat penerangan. Dirinya membutuhkan nasehat dari sahabatnya ini.
Bukan tidak menganggap Guan ada, tapi nasihat-nasihat yang Guan berikan malah membuat kepalanya sakit.
Selang lima menit kemudian air danau yang tadinya tenang tiba-tiba bergelombang dan tak lama kemudian seorang pria berambut putih muncul kepermukaan air. Shen masih diam ditengah danau belum ada niatan untuk menghampiri putra mahkota Feng Xian.
Wajahnya yang seputih susu memancarkan sinar yang membuat siapa saja langsung merasa tenang saat memandang wajah tampannya ini.
Saat kemunculannya kepermukaan tiba-tiba banyak sekali kunang-kunang yang mendatangi danau, seketika keadaan dilingkungan danau langsung terang.
"Siapa kau?" Tanya Shen pura-pura tidak mengenali putra mahkota Feng Xian.
Wajah murung putra mahkota Feng Xian tiba-tiba langsung berubah datar merasa tidak lucu dengan candaan yang dilontarkan sahabatnya.
"Serius sedikit lah! aku membutuhkan bantuan mu"
"Ohhh... Setelah sekian banyak purnama yang ku lewati dalam kesepian. Baru sekarang kau mengingat sahabat yang terabaikan ini, dasar kejam"
...Bersambung...
__ADS_1