
Acara penobatan putra mahkota Li Hao Jin baru usai dua jam yang lalu, tinggal menunggu acara pestanya perayaan besar-besaran nanti malam.
Saat tadi Xue Mei memasuki kuil untuk ritual penobatan kaisar baru, Xue Mei sangat terkejut saat melihat begitu banyak orang yang ikut melihat penobatan kaisar baru.
Wei pun menjelaskan bahwa bukan hanya para kaisarnya saja yang diundang, tapi para petinggi dan bangsawan pun turut di undangan untuk merayakan kenaikan tahta putra mahkota Li Hao Jin.
Setelah acara penobatan usai, Xue Mei berencana untuk kembali latihan atau gledi resik sebelum tampil nanti. Tapi gara-gara ada seorang wanita bangsawan seketika suasana hatinya menjadi jelek,dirinya dibuat kesal oleh tingkah laku wanita itu.
Wanita itu bernama Ye Ning Ning, anak dari mentri keuangan kerajaan Feng. Dimana wanita itu mendekati Xue Mei dan putra mahkota Feng Xian saat acara penobatan kaisar masih berlangsung.
Wanita itu menyebut dirinya sebagi sahabat masa kecil putra mahkota Feng Xian, dia tiba-tiba memeluk lengan kanan putra mahkota Feng Xian dengan manja. Sampai-sampai Xue Mei yang sejak tadi duduk disamping putra mahkota Feng Xian merasa risih dengan kelakuan murahannya itu.
Yang membuat Xue Mei kesal adalah putra mahkota Feng Xian tak menghindari atau menolaknya saat wanita itu bergelayut manja di lengannya. Meski putra mahkota Feng Xian tidak menanggapinya dan menatap gadis itu datar. Sungguh Xue Mei kesal dengan sikap putra mahkota Feng Xian yang tidak peka, Xue Mei marah dan cemburu, saat melihat sang kekasih didekati wanita lain. Xue Mei melototi putra mahkota Feng Xian memberikan peringatan tapi laki-laki itu tidak melihatnya sama sekali, dasar wajah datar.
Setelah kejadian itu Xue Mei memilih pindah dan duduk dekat sang bibi, dirinya tidak mau melihat wanita yang memakai riasan wajah sangat tebal, bagai wanita ja*ang yang selalu menggoda laki-laki hidung belang di rumah bordir.
"Ikhhh... kesal, dasar laki-laki gak didunia moderen gak di sini semuanya sama, Gak ada yang peka" Xue Mei terus menggerutu diatas tempat tidurnya, sesekali dia akan kengigit selimut sekuat tenaga sebagai pelampiasan kekesalannya.
Wei yang ada di samping nona nya merasa bingung melihat tingkah sang majikan. Tadi dia sempat bertanya kenapa dengan dirinya, tapi Xue Mei malah memintanya diam. Ya kerna Wei adalah bawahan yang patih pada tuannya, jadi Wei pun diam sesuai dengan kemauan Xue Mei.
"Aku akan marah kepadanya, aku tidak akan berbicara padanya lagi" Ujar Xue Mei dengan berteriak. Pakaian yang Xue Mei pakai dan rambut Xue Mei sekarang sudah tak lagi rapih. Rambut yang acak-acakan dengan tusuk rambut yang telah hilang kemana.
"Putri ada putra mahkota Feng disini, apa dia boleh masuk?" Terdengar suara penjaga pintu diluar kamar Xue Mei berbicara.
Xue Mei yang sejak tadi terus mengutuk putra mahkota Feng Xian dengan kata-kata kasar, langsung berhenti saat mendengar prajurit itu berbicara.
"Tidak, suruh dia pergi dari paviliunku!. Saat ini aku sedang tidak menerima tamu, aku sibuk" Tolak Xue Mei secara halu, terdengar dari ucapannya yang ketus membuat Wei mengerutkan alisnya.
"Ada apa dengan nona? Biasanya dia akan sangat senang jika ada putra mahkota Feng kesini" Ucap Wie dalam hati, terdapat tanda tanya besar di kepalanya, saat melihat nona yang sepertinya sedang kesal kepada kekasihnya itu.
"Kenapa?" Sekarang terdengar suara pria yang sangat Xue Mei kenapa siapa pemilik dari suara itu.
"Kenapa apanya? Kembali saja istirahat di kamarmu yang mulia. Saya sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pesta nanti malam" Ujar Xue Mei menyahuti pertanyaan putra mahkota Feng Xian dengan ketus.
Putra mahkota Feng Xian mengernyitkan alisnya, saat mendengar perkataan Xue Mei dari dalam kamar. " Ada apa dengannya?" Tanyanya dalam hati, dirinya merasa bingung dengan sikap Xue Mei yang aneh. Padahal tadi pagi Xue Mei terlihat baik-baik saja.
"Hey buka pintunya sayang" Ucap lagi putra mahkota Feng Xian lembut, dia tidak mau memperkeruh keadaan.
Para pelayanan perempuan di Paviliun Xue Mei menjadi salah tingkah, saat mendengar kata sayang meluncur dengan mulus dari mulut putra mahkota Feng Xian. Bagi mana tidak berita yang beredar tentang betapa datar, dan dinginya sikap putra mahkota Feng Xian. Membuat mereka tak percaya saat melihat seorang pria yang notabenenya memliki sifat kejam itu bisa bersikap romantis dan sangat perhatian pada pasangannya.
Xue Mei malah mendengus sebal. "pergilah yang mulia saya sedang tidak menerima tamu, pergilah temani saja sahabat masa kecilmu itu"
__ADS_1
Seyum miring tercetak jelas di bibir putra mahkota Feng Xian, dirinya kini tahu akibat kenapa sang pujaan hatinya tiba-tiba menjadi ketus padanya. Dengan sekali kedipan mata putra mahkota Feng Xian sudah berada didalam kamar Xue Mei. "Apa kau cemburu sayang" Ujar putra mahkota Feng Xian dengan berbisik ditelinga Xue Mei.
Xue Mei terlontar kaget dia hampir saja terjungkal dari posisinya saat merasakan hembusan nafas panas menerpa daerah lehernya. "Kau..." Xue Mei melotot saat melihat putra mahkota Feng Xian sedang menyeringai disampingnya.
Lagi-lagi Wei dibuat jantungan oleh kelakuan putra mahkota Feng Xian, sudah dua kali hari ini dirinya dikagetkan oleh kedatangan putra mahkota Feng Xian secara tiba-tiba. Tentu saja Wei kaget karena putra mahkota Feng Xian datang dan pergi dengan menggunakan teleportasi. Tak Mau mengganggu keduanya Wei bergegas keluar dari kamar sang nona.
Saking kesalnya Xue Mei malah memukul putra mahkota Feng Xian dengan bantal yang sedang dirinya peluk. Dengan beritakan Xue Mei memukuli putra mahkota Feng Xian. "Keluar aku sedang tidak menerima tamu"
Bukk.. bukk
"Aduh... ampun sayang jangan pukuli aku" Ucapan putra mahkota Feng Xian. Putra mahkota Feng Xian Mei! elungkupkan lengannya didepan wajah, melindungi wajah tampannya agar tidak terkena pukulan Xue Mei.
Padahal putra mahkota Feng Xian tidak merasakan sakit sama sekali saat bantal yang Xue Mei pukulkan mengenai badannya, hanya saja putra mahkota Feng Xian saja yang berlebihan alias lebay.
Xue Mei berdiri diranjangnya dah terus memukuli putra mahkota Feng Xian, bantal yang menjadi senjatanya sekarang sudah tak lagi berbentuk bulu ayam yang ada didalamnya keluar dan berserakan dilantai. Sangat-sangat barbar.
"Sudah hentikan" Ujar putra mahkota Feng Xian, mencekal lengan Xue Mei dengan lembut mencoba menghentikan pukulannya.
Posisi berdiri Xue Mei yang kurang seimbang membuat dirinya terjatuh dari ranjangnya dan hampir saja dirinya berciuman dengan lantai yang terbuat dari kayu itu.
Tapi putra mahkota Feng Xian dengan sigap menangkap tubuh Xue Mei agar tidak sampai terjatuh. "Dasar ceroboh" Ucap putra mahkota Feng Xian, mengomeli Xue Mei.
Xue Mei hanya mendengus sebal, dirinya tudia mau menatap wajah tampan putra mahkota Feng Xian.
"Kenapa hmm?"
"Tidak papa"
"Hey jangan seperti ini sayang, ayo jawab aku kau ini kenapa."
"Isssss aku bilang tidak papa"
"Sayang" Ujar putra mahkota Feng Xian dengan lembut, dirinya tidak mau berdebat dengan orang yang sangat ia cintai.
"Apa? Pergi sana temui sahabatmu.Aku tidak mau berbicara dengan mu" Ujar Xue Mei dengan ketus tak lupa Xue Mei juga menatap tajam putra mahkota Feng Xian.
Tawa pelan terdengar oleh Xue Mei dari mulut putra mahkota Feng Xian. "Kau itu menyebalkan, kenapa malah ketawa heh?" Ujar Xue Mei, dengan tangan memukul dada putra mahkota Feng Xian kencang.
Putra mahkota Feng Xian yang berjongkok agar tingginya sama dengan Xue Mei, hampir saja terjungkal karena menerima tonjokkan dari Xue Mei. Jujur rasanya lumayan sakit dan membuat sedikit sesak nafas. "Aduh sayang kenapa kamu jadi kasar begini sih?" Godanya lagi. Putra mahkota Feng Xian begitu gemas dengan kelakuan Xue Mei yang sedang cemburu ini.
"Biarin... Aku kesal padamu kenapa kau mengabaikanku tadi dan lebih memilih meladeni wanita menjijikan itu" Ujar Xue Mei lantang.
__ADS_1
"Kau cemburu sayang?"
"Tentu saja aku cemburu, siapa sih wanita diseluruh bumi ini yang suka melihat prianya didekati wanita lain" Oceh Xue Mei panjang lebar.
Putra mahkota Feng Xian hanya terkekeh pelan, dirinya tidak menyangap kalau sang kekasih bisa dengan mudah mengakui kalau b dirinya sedang cemburu. Tidak seperti wanita diluar sana yang pura-pura biasa saja saat melihat pasangannya didekati wanita lain, tapi didalam hati mereka terdapat kobaran api kecemburuan.
"Maafkan aku ya, aku tidak akan mengulanginya lagi. Wanita yang tadi mendekatiku langsung aku usir kok" Ujar putra mahkota Feng Xian menjelaskan kejadian tadi.
"Bohong.."
"Aku berani sumpah. Tadi sih kamu malah pergi duluan" Ucap putra mahkota Feng Xian dengan sejujur- jujurnya.
"Kok malah nyalahin aku sih"
Huffttt... Putra mahkota Feng Xian membuabg nafas kasar, ternyata sesulit ini kah menghadapi wanita yang sedang marah.
"Wanita itu memang sering sekali mendatangi paviliunku dan mendekatiku. Tapi aku selalu mengusirnya dan menendangnya keluar dari paviliun milikku"
Xue Mei menatap dalam manik indah milik putra mahkota Feng Xian, dirinya sedang mencari kebohongan dari mata putra mahkota Feng Xian.
Hufft.. Xue Mei malah ikut menghela nafas pelan dirinya sungguh, tidak menemukan jejek kebohongan dari mata putra mahkota Feng Xian.
"Aku takut jika kau nanti akan berpaling dariku dan lebih memilih wanita bermarga Ye itu" Ujar Xue Mei pelan.
Putra mahkota Feng Xian berdiri dan ikut duduk disamping Xue Mei. "Harus berapa kali aku bilang. Aku hanya mencintaimu dan hanya kamu yang aku inginkan untuk tetap beradab di sisiku"
"Ta.. tapi_"
"Tidak ada tapi tapian aku, akan selalu memegang janjiku. Jika aku mengingkarinya kau bisa memotong kedua kaki dan tanganku"
Kemudain dengan lembut putra mahkota Feng Xian mendekap tubuh Xue Mei kedalam dekapan hangatnya. Dengan penuh sayang dan cinta putra mahkota Feng Xian mengecup pucuk kepala Xue Mei dengan lembut.
...BERSAMBUNG...
Maaf jika chapter ini gaje.
Aku nya lagi pusing mau ujian mandarsah menuju kelulusan. Banyak hm yang harus aku hapalin meski jiwaku dan otakku ini mager untuk berpikir. Tapi harus tetap dipaksakan karena kau mau lulus.
Aku juga mau ganti seragam yang tadinya putih biru jadi putih Abu-Abu.
Jadi jangan lupa kasih bunga yang banyak ya, biar akunya semangat menghadapi ujian kelulusan ini...... 😁😊☺
__ADS_1