
Disinilah mereka sekarang dipemakanam khusus keluarga kerajaan,
dimana tempat ini menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk pangeran Qin Chen.
pangeran Qin Chen di makamkan pada sore hari.
Semua orang ikut berduka atas kabar meninggalnya salah satu pangeran dari Kerajaan Qin, pangeran yang
terkenal sangat ramah, baik dan peduli pada rakyat nya.
Semua kebaikannya akan dikenang seumur hidup oleh masyarakat kerajaan Qin.
Tidak sembarang orang bisa memasuki pemakanan kuhusu keluarga kerajaan ini jadi rakyat biasa tidak bisa ikut menyaksikan pemakaman pangeran Qin Chen.
Semua orang yang hadir di pemakaman mengenakan hanfu berwarna putih tanpa mengenakan riasan apa pun, demi menghormati leluhur.
Selir Yue Mi begitu tak sanggup menerima kenyataan pahit ditinggal putra kesayangannya.
Dia terus meraung dan menangis diatas kuburan dia memeluk baru nisan yang bertuliskan nama putranya itu.
"Chen... hiks.. hikss... kenapa kamu tega ninggalin ibu nak" Selir Yue Mi terus berucap lirih tisetap katanya mengandung begitu banyak kesedihan.
kuburan pangeran Qin Chen penuh dengan taburan bunga yang ditaburkan oleh para pelayat.
Xue Mei pun berada disana bersama keluarganya,matanya sebab dan memerah karena tak henti-hentinya
dirinya menangisi kepergian orang yang begitu berarti.
Saat Xue Mei melihat sang pujaan hati dimasukan kedalam Liang lahat dirinya serasa ingin pingsan saat itu juga, dirinya tak kuat jika harus ditinggal pergi.
meski waktu yang mereka habiskan terbilang singkat tapi itu sangat membekas dihati Xue Mei.
Xue Mei terus menangis terisak didalam dekapan sang kakak,
hujan tiba-tiba turun dengan sangat derasnya membuat orang-orang pergi dari pemakaman setelah melakukan penghormatan
terakhir nya.
Tapi tidak dengan beberapa orang disana masih ada selir Yue Mi yang sedang dipaksa untuk beranjak pergi dari kuburan putranya.
"Ayo mei'er kita pulang" Zang Jingqin
menarik adiknya agar ikut pergi
meninggalkan pemakaman.
"Tidak kak aku masih ingin disini" Xue Mei menolak ajakan sang kakak dengan suara lemah. Xue Mei belum makan sejak pagi, dirinya pun merasa sedikit pusing tapi tak dia pedulikan kondisi tubuhnya.
"Tapi kau bisa sakit" hujan semakin deras saja baju mereka pun mulai basah.
"Tidak kak" Xue Mei kembali menolaknya.
"Sudahlah biarkan Xue Mei disini dulu" Jenderal Zang pun memilih melerai keduanya. Jenderal Zang mengerti bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang sangat di sayangi.
"Baiklah ayah" Zang Jingqin pun menuruti perintah dari jenderal Zang.
"Wei temani nonamu" Titah jenderal Zang pada wei yang berada tidak jauh dari posisi mereka sekarang.
Wei pun dengan patuh menganggukan kepalanya. "Baik tuan besar"
Setelah itu Xue Mei pun di tinggal bedua dengan wei.
semua orang terlah bubar dan kembali ke kediaman mereka masing-masing,
meski sebagian dari mereka masih ingin berlama-lama disana
tapi apalah daya hujan turun dengan derasnya membuat semua semua orang pergi dan meneduh.
__ADS_1
Dengan langkah pelan Xue Mei menghampiri pusara pangeran Qin Chen, dirinya ingin menepati janjinya yang terakhir.
Xue Mei sudah tak mengkhawatirkan dirinya yang sudah basah kuyup oleh air hujan.
"Ce Chen" Dengan begitu sulit Xue Mei memanggil nama seseorang yang tinggal hanya namanya saja itu sedangkan orang nya telah pergi dipanggil oleh sang Pencipta.
Xue Mei berjongkok dan kemudian memegangi baru nisan pangeran Qin Chen.
"Kudoakan supaya dirimu bisa tenang di sana, aku ikhlaskan kepergian mu walau itu berat" Xue Mei berbicara dengan suara yang sedikit bergetar. meskipun sulit untuk merelakan kepergian pangeran Qin Chen.
"Aku akan menepati janjiku untuk menyatikan sebuah lagu yang kau minta
waktu itu yang belum sempat aku nyanyikan" Meski Xue Mei sedang tak ingin bernyanyi tapi dia tetap menepati
janjinya waktu itu,
dimana pangeran Qin Chen memintanya untuk bernyanyi ketika setelah dirinya telah tiada dan disinilah Xue Mei
akan menepati janjinya.
*Tak pernah terpikir olehku
Tak sedikit pun ku bayangkan
Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri
Begitu sulit ku bayangkan
Begitu sakit ku rasakan
Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri*
Lagu ini seperti mewakili semua perasaan Xue Mei saat ini.
*Di bawah batu nisan kini kau tlah sandarkan
Sungguh ku tak sanggup ini terjadi
Karena ku sangat cinta
Inilah saat terakhir ku melihat kamu
Jatuh air mataku menangis pilu
Hanya mampu ucapkan selamat jalan kasih*
Xue Mei terus bernyanyi meskipun beberapa kali nyayian nya terjeda karena tak sanggup melanjutkan lirik selanjutnya.
Air mata terus mengucur meski tersamarkan oleh air hujan yang membasahi wajahnya.
*Satu jam saja ku telah bisa
Cintai kamu kamu kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup
Satu jam saja ku telah bisa
Sayangi kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup
Dinanti ku*
__ADS_1
Wei yang berada disisi nonanya ikut menangis melihat keadaan sang majikan yang begitu prihatin.
"Tabahkanlah diri anda, masih banyak orang yang menyayangi anda" Wei bergumam dalam hatinya.
*Inilah saat terakhir ku melihat
Jatuh air mataku menangis pilu
Hanya mampu ucapkan selamat jalan kasih
Satu jam saja ku telah bisa
Cintai kamu kamu kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup
Satu jam saja ku telah bisa
Sayangi kamu di hatiku
Namun bagiku lupakanmu
Butuh waktuku seumur hidup*
Xue Mei terus terisak dirinya begitu merasa kehilangan orang yang selama ini menemaninya dalam menjalankan hari-harinya.
Hujan pun masih begitu deras entah kapan akan reda, dengan susah payah Xue Mei berdiri dari posisinya.
"Mari nona" Wei mengajak nonanya untuk pulang ke mansion Zang dan ditangan Wei sudah ada payung yang
entah dia dapatkan dari mana kemudian dengan cekatan Wei memayungi nonanya meski sudah terlanjur basah.
"Baiklah ayo" Dengan suara yang pelan Xue Mei menyetujui perkataan Wei.
Sebelum beranjak
Xue Mei sempat membungkukan sedikit badannya untuk melakukan penghormatan terakhir.
Xue Mei pun berjalan dengan perlahan dan sebelum dia keluar dari
gerbang pemakaman Xue Mei menoleh kearah kuburan pangeran Qin Chen yang masih basah.
"Aku pergi" gumam Xue Mei dalam hati dia terus melangkah pergi sampai pemakaman tak terlihat lagi.
*****
Setelah Xue Mei pergi tiba-tiba seorang pria tinggi tegap muncul di depan kuburan pangeran Qin Chen dan berkata.
"Aku berjanji akan membahagiakannya dan menyayanginya segenap jiwa ragaku, kau tidak perlu khawatir aku tak akan menyakitinya sedikitpun.
Kau tenanglah disana" pria itu meletakan tangannya di dada bersumpah.
Setelah bersumpah pria itu pun berjongkok dan meletakan setangkai bunga Kamboja.
"Aku tak menyangka aku pikir aku masih akan tetap bersaing dengan mu untuk merebut hati Xue Mei, tapi aku ternyata kecolongan kau menang dan berhasil mengambil hatinya Tapi tak apa aku akan mengambil hatinya kembali darimu" yang pria itu adalah putra mahkota Feng Xian, selama sebulan ini dirinya disibukan oleh beberapa tugas yang sedikit rumit di Kerajaan Feng.
Putra mah Feng Xian tahu bahwa pangeran Qin chen telah menjadi kekasih pujaan hatinya. Dirinya tahu dari pesan yang pangeran Qin chen kirim kepada dirinya.
Sebelum Pangeran Qin Chen tiada dia sempat mengirim sebuah surat pada putra mahkota Feng Xian yang berisikan, bahwa jika dirinya pergi putra mahkota Feng Xian harus menjaga Xue Mei dan menyayangi nya.
Setelah berdoa untuk pangeran Qin Chen putra mahkota Feng Xian segera berdiri.
"Berbahagialah kau disana serahkan dia padaku" Sebelah mengucapkan itu putra mahkota Feng Xian pergi dari pemakaman.
***Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like nya yang banyak yang dan vote nya juga jangan ketinggalan...... ☺***