
"APA? A.. ayah..Ka..kakak" Mata Xue Mei seketika melotot saat mendengar kabar itu, tangannya langsung gemetar..
******
Xue Mei menutupi mulutnya yang sedikit terbuka bibirnya gemetar, matanya berlinang air mata siap terjun membasahi pipi..
Xue Mei melirik kearah Zang Yuki yang menarik lengan hanfunya laki-laki yang di kenakannya dengan air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya.
"Ka.. kakak.. dan A.. ayah apakah benar me.. mereka_ " Sebelum Zang Yuki menyelesaikan perkataannya Xue Mei langsung memeluk adik dari pemilik tubuh ini.
Tubuh Zang Yuki ikut gemetar kemudian menangis sesegukan didalam pelukan Xue Mei. Zang Yuki sudah mengerti semua yang dikatakan perajurit tadi bahwa Zang ayah telah tiada.
"A..aku ingin melihat ayah dan kakak Jing" pinta Zang Yuki pada Xue Mei, Zang Yuki menatap Xue Mei dengan mengiba matanya sebab penuh air mata.
"Baiklah,,, ayo" Xue Mei mengusap air mata yang menetes di pipinya menggunakan lengan hanfunya.
Penampilan Xue Mei saat ini tidak mencerminkan seorang nona bangsawan melainkan seperti seorang pengelana.
Bagaimana tidak hanfu yang ia kenakan adalah hanfu laki-laki, Xue Mei mengenakannya agar mudah
bergerak saya berlatih pedang. Rambut panjang Xue Mei pun berantakan tidak ada aksesoris menempel di rambutnya melainkan kain putih yang digunakan untuk mengikat rambutnya tapi sekarang ikatan rambutnya pun sudah tak beraturan.
Xue Mei menggenggam lengan Zang Yuki dan melangkah menuju kegerbang utama Mansion Zang melupakan kehadiran putra mahkota Feng Xian yang ada di sana.
Wei pun mengikuti nonanya karena khawatir melihat kondisi majikannya saat ini.
"Yang mulia kenapa anda diam saja?" Guan menepuk pundak teman sekaligus majikannya, karena hanya diam mematung.
"Eh.. kenapa kau masih disini ayo ikuti permaisuriku" Entah apa yang putra mahkota Feng Xian lamunkan, sehingga saat dia tersadar dari lamunannya dia malah balik bertanya pada Guan.
Guan berjalan dibelakang putra mahkota Feng Xian dengan menggerutu, "Apa jatuh cina membuat seseorang menjadi bodoh?" gumam guan dalam hati bertanya pada dirunga sendiri.
Dengan berlari
putra mahkota Feng Xian mengejar Xue Mei yang sudah jauh. "Permaisuriku tunggu dulu" Putra Mahkota Feng Xian sedikit berteriak memanggil Xue Mei yang akan menaiki kuda menuju ke istana.
Pelayan di mansion jenderal Zang hanya diam melihat kelakuan putra Mahkota Feng Xian, mereka sudah bisa melihat tingkahnya. Malahan para pelayan dan perajurit dimension Zang bersyukur bisa melihat sifat putra Mahkota Feng Xian yang berbeda.
__ADS_1
Xue Mei mengurungkan buatnya untuk menaiki kudanya lalu membalikan tubuhnya melihat putra Mahkota Feng Xian yang berjarak lima meter dari dirinya dan Zang Yuki. " Apa?" dengan suara parau Xue Mei membentak putra Mahkota Feng Xian.
"Tunggu dulu,,, kau pergi denganku" putra Mahkota Feng Xian memegang lengan Xue Mei. "Agar lebih cepat sampai" Lanjutnya.
"Terus Yuki" Dengan mata sebab Xue Mei menunjuk kearah Yuki yang sedang menangis di pelukan pengasuhnya.
"Biar Guan yang membawa Yuki". Putra Mahkota Feng Xian menoleh kearah Guan yang berjalan santai menuju mereka. " Guan bawa Yuki ke istana kerajaan Qin!" titahnya dengan wajah serius.
"Baik" Jawaban singkat dari Guan tanda menerima perintah.
Setelah itu putra Mahkota Feng Xian menghilang menggunakan teleport dengan Xue Mei yang ada dalam pelukannya.
Setelah melihat keduanya pergi Guan menghampiri Zang Yuki yang terus menangis dalam dekapan pengasuhnya yang sudah lansia. "Ayo tuan muda ikut denganku!"
"Baik kak Guan" Kemudian Zang Yuki menerima uluran tangan Guan. Setelah itu merekapun ikut menghilang meninggalkan mansion.
Wei bersama para pelayan dan perajurit lainnya pun ikut sedih mendengar kabar duka tersebut.
******
Istana kerajaan Qin
Kaisar ya g sedang mengadakan pertemuan bersama para mentrinya langsung bubar mendengar kabar kedatangan putra Mahkota Qin Li dan rombongan.
Sekarang semua orang yang ada di istana Qin sedang berkumpul di aula luar istana, dimana aula tersebut bisa di gunakan untuk mengadakan perjamuan atau kegiatan apapun.
Kaisar Qin Luo ikut bersedih melihat jenderalnya yang paling hebat dan paling setia itu telah gugur dimedan perang.
Zang Jingqin hanya terdiam dengan tatapan mata kosong, sekarang Zang Jingqin sedang duduk dikursi dekat dengan putra Mahkota Qin Li. Zang Jingqin terus menatap kosong kearah jasad ayahnya yang sudah terbujur kaku.
Wussss... Tiba-tiba ada angin cukup kencang menerpa area aula dengan disertai kedatangan empat orang diantaranya Xue Mei, putra Mahkota Feng Xian, Guan dan Zang Yuki.
Kedatangan mereka berempat membuat heboh semua orang yang ada di aula. bagimana tidak putra Mahkota dari kerajaan terbesar datang dengan keadaan sedang memeluk pinggang Xue Mei.
Mereka pun mulai bertanya-tanya dalam benaknya masing-masing. 'ada hubungan apa antara putra Mahkota Feng Xian dan nona besar Zang?'......
Sebab Xue Mei dan putra Mahkota Feng Xian tidak pernah mengumbar kedekatan mereka pada orang luar kecuali para pekerja di Mansion Zang mereka mengetahui kedekatan keduannya tapi para pelayan dan perajurit di Mansion Zang tidak pernah Menggosipkan keduanya pada orang luar.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan salam atau pun memberi hormat terlebih dahulu pada kaisar, Xue Mei langsung melepaskan diri dari putra Mahkota Feng Xian dan berjalan mendekati jasad jenderal Zang yang sudah kaku.
"A.. AYAHHHH" Zang Yuki berteriak histeris didepan jasad jenderal Zang yang sudah tak memiliki roh lagi.
Zang Yuki mengguncangkan dengan kuat tubuh jenderal Zang. "Ayah kenapa kau tinggalkan aku, kakak Jing, dan kakak Mei" Zang Yuki terus menagis histeris dan terus mengguncangkan tubuh jenderal Zang.
"Ayah.. " ucap Xue Mei pelan, air matanya kembali menetes saat melihat wajah jenderal Zang yang pucat sperti tak dialiri darah.
Kemudian Xue Mei pun mengedarkan pandangnya mencari keberadaan sang kakak.
"Ka.. kakak" gumam Xue Mei dengan terbatas saat melihat sang kakak sedang duduk terdiam dengan wajah tanpa ekspresi.. "
Setelah membungkuk dan memberikan salam pada kaisar Qin Luo putra Mahkota Feng Xian ssekarangsednag terdiam dengan menampilkan wajah dinginnya dan matanya tidak lepas dari setiap gerakan yang Xue Mei lakukan. dirinya juga ikut bersedih melihat calon mertuanya tiada.
Terlalu percaya diri lamarannya diterima Xue Mei,,,, ckck
"Tenangkan bocah itu!" Putra Mahkota Feng Xian kembali menyuruh Guan untuk menenangkan Yuki yang masih menangis sesegukan didepan jasad jenderal Zang.
Guan manyun saat mendengar perintah putra Mahkota Feng Xian, dirinya paling tidak suka jika harus berurusan dengan anak kecil. Tapi mau tak mau Guan pun menganggukan kepalanya dan langsung mendekati Zang Yuki.
"Ka.. kakak" Xue Mei langsung memeluk kakanya dan menangis sesegukan dipangkuan Zang Jingqin.
Padahal Xue Mei tidak ingin terlalu terbawa perasaan, tapi mungkin ini reaksi dari tubuhnya.
Tatapan mata Zang Jingqin yang tadinya kosong sekarang sudah berkaca-kaca dan tak lama kemaudia ikut menangis, dengan kedua tangannya memeluk Xue Mei. "Maafkan kakak.. tidak bisa menjaga ayah,,, tapi kakak janji akan menjaga kalian berdua" dengan tangan memegang kedua pipi Xue Mei dan menatap wajah Xue Mei yang basah oleh air mata Zang Jingqin berjanji.
"Ikhlaskan ayah pergi!" pinta Zang Jingqin dengan tangan menghapus air mata Xue Mei.
"iya"
"Kakak" Zang Yuki menghampiri Xue Mei dan Zang Jingqin dan kemudain langsung menubruk keduanya bergabung dalam pelukan penuh duka.
"Sudah... sudah jangan menangis Yuki ikhlaskan ayah pergi, agar dia bisa tenang di nirwana" Dengan senyum dipaksakan Xue Mei menenangkan Zang Yuki yang terus menagis. mereka bertiga terus menangis tanpa melepaskan pelukannya saling menguatkan.
Orang-orang menyaksikan interaksi ketiganya pun merasa ada pula yang ikut menagis menyaksikan ketiganya yang saling menguatkan dan memberi semangat.
**Bersambung......
__ADS_1
Oh ya... disini aku tidak membuat pemeran Xue Mei multitalenta,,,,,,, jadi dia itu gak aku buat terlalu kuat dan cerdas.
Jangan lupa Like, komen dan vote nya yaaaa**