
"Menyerah lah, cepat katakan semua informasi yang kau miliki tentang Raja iblis Tirani!" Seorang wanita berteriak dengan marah pada seorang pria yang tengah dikurung dalam penjara dengan kondisi yang mengenaskan, kakinya buntung, kedua tangannya sudah tidak ada, bahkan tubuhnya penuh sayatan dan luka yang sangat mengerikan, bahkan wajahnya hampir tidak dapat dikenali lagi.
"Sfi, sfiafpa yhan mau, drasar j*lahng!" Pria itu berkata dengan suara yang tidak jelas, mulutnya telah mengalami bengkak yang cukup parah sehingga perkataan yang keluar sama sekali tidak jelas
"Lihat itu, bahkan hanya untuk berbicara saja kau sudah setengah mati." Wanita itu tertawa cekikikan.
"Uhuukk.. uhukkk!!" Pria itu batuk darah, setetes darah yang keluar secara tidak sengaja mengenai gaun wanita tersebut yang membuatnya naik pitam.
Cincin di jari wanita itu menyala, sebuah cambuk sepanjang 5 meter dengan duri disetiap sisinya muncul diatas cincin tersebut, wanita itu langsung menggenggamnya dengan erat kemudian mencambuk tubuh pria tersebut dengan kejam tanpa menahan diri sama sekali.
"Arrghhh!!" Pria itu berteriak kesakitan, duri-duri di cambuk itu benar-benar mengorek dagingnya dengan kasar, itu terasa sangat menyakitkan bahkan potongan dagingnya yang di korek terlihat di lantai.
"Kau masih belum jera ya, meskipun ini bukan gaun terbaik yang kupunya, harganya tetap sangatlah mahal, bahkan nyawamu tidak sebanding dengannya." Wanita itu menatap tajam pria tersebut.
Pria itu hanya terdiam sambil mengatur nafasnya, ia tidak ingin berbicara dengan wanita gila seperti dihadapannya.
"Kau berani mengabaikan ku?!" Wanita itu membentak, sekali lagi ia mengayunkan cambuk tersebut dan menarik kaki pria tersebut sampai putus, kini tidak ada yang tersisa darinya selain tubuhnya.
"Cih, hanya segitu saja langsung hilang kesadaran, tak ku sangka Iblis itu ternyata selemah ini, sungguh konyol leluhur kami merasakan ketakutan dari makhluk selemah kalian." Wanita itu berdecak kesal kemudian pergi dari sana dengan penuh amarah.
"Sembuhkan lukanya, jangan biarkan dia mati, iblis itu masih sangat berguna." Kata wanita itu pada penjaga penjara.
"Baik nona!" Ucapnya dengan hormat.
...----------------...
"Kalian datang ya?" Yurina tersenyum senang melihat teman-temannya datang dengan cepat setelah ia memberikan kabar.
"Yurina, bahkan tanpa kau memanggil kami, kita sudah berjanji akan berkumpul di Istana Neraka setelah 2000 Tahun, sudah jelas kami datang!" Testoraia berkata dengan senyuman diwajahnya.
"Benar, kau saja yang datang terlalu cepat." Javely tertawa kecil.
"Benar juga, dimana Hermes? bukankah dia bersama kalian?" Yurina bertanya.
"Soal itu Yurina, seribu tahun lalu kami berpisah, katanya ia berniat untuk mencari sesuatu di timur laut." Javely tersenyum pahit.
"Anak itu, huh.. yasudahlah mungkin ia akan segera datang nanti atau beberapa hari lagi, lebih baik kalian masuk kedalam terlebih dahulu, Nona dan Tuan Muda sudah menunggu kalian." Yurina tersenyum kecil.
__ADS_1
"Benarkah? kalau begitu kita tidak boleh membiarkan mereka menunggu lebih lama lagi!" Javely segera bergegas menuju ruang Tahta.
Testoraia dan Yurina yang melihatnya berlari hanya bisa tersenyum kecut, beberapa detik kemudian mereka berdua saling menatap lalu tertawa karena tingkah Javely yang sangat aneh.
"Kita juga harus pergi, ayo." Yurina berkata dengan santai.
"Ya."
...----------------...
"Jadi, kau bilang Shin memotong-motong tubuh Lumut itu di lorong istana saat akan membawanya ke Penjara Neraka?" Rurina mengerutkan keningnya.
"Begitulah, tidak ku sangka ternyata kepribadian Shin masih sama dengan yang sebelumnya, ia terlalu mengagungkan Ayah sampai meniru setiap kelakuannya." Elgard menghela nafas.
"Shin melakukan itu?" Zeania memiringkan kepalanya.
"Ah, kakak tidak tahu ya tentang itu?" Rurina bertanya.
"Tentu saja aku tidak tahu, Shin itu terlalu pendiam dan terlalu menghormati kita dan Ayah, aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa ketika berada disebelahnya." Zeania menghela nafas berat.
"Um.. mungkin... mulai sekarang aku akan berhati-hati ketika berada didekatnya." Zeania tertawa kecil, ia sedikit takut dengan Shin setelah mendengar cerita Elgard.
"Jangan takut seperti itu, bahkan walaupun kakak menyiksanya sampai mati Shin tidak akan berani melawan." Elgard melambai-lambaikan tangannya.
"Kenapa bisa?" Zeania bertanya dengan heran.
Namun saat Elgard akan menjawab, pintu ruangan Tahta secara tiba-tiba terbuka lebar dengan suara yang pelan, secara normal itu seharusnya tidak mungkin, namun saat melihat siapa yang membukanya Rurina hanya bisa tersenyum masam, begitu pula dengan Elgard.
"Nona! Tuan Muda! Aku Pulang!" Ia adalah Javely, tingkahnya benar-benar sangat aneh, bahkan kedua Iblis ini sudah menyerah untuk mengatur sikapnya.
Tukk!!
"Aduh! Yurina kenapa kau memukul kepalaku? itu sangat sakit!" Javely mengusap kepalanya yang terlihat benjol.
"Dasar gadis bodoh, kau pikir sedang berada dimana huh? tunjukkan rasa hormatmu meskipun hanya sedikit, jangan bersikap berlebihan seperti itu!" Yurina membentaknya dengan marah.
"Blleee!" Javely hanya menjulurkan lidahnya dengan ekspresi yang cukup imut.
__ADS_1
"Kau!"
"Sudah-sudah hentikan kalian berdua, Nona dan Tuan Muda berada dihadapan kita, setidaknya tunjukkan rasa hormat kalian, jangan bertingkah tidak sopan seperti itu." Testoraia datang dari belakang untuk melerai mereka.
"Diam dasar pengganggu!" Kedua orang itu berkata dengan kesal, Testoraia yang merasa diremehkan pun langsung naik pitam dan mengeluarkan sesuatu dari penyimpanan dimensinya.
Plakk!!
Kedua pipi Yurina dan Javely seketika menjadi merah, Testoraia menampar keduanya dengan tangan hewan peliharaannya yang sangat kecil.
"Hahahaha!" Terdengar suara tawa yang cukup menyegarkan, suaranya sangat indah bahkan sampai membuat mereka bertiga berhenti bertengkar.
"Ah, maaf mengganggu perdebatan kalian." Zeania tersenyum kecil.
"Wooaahhh, Testoraia apa kau melihatnya? ada malaikat disini!" Javely menatap Zeania dengan mata bersinar.
"Bodoh, dia bukan malaikat, dia adalah bidadari!" Testoraia tidak memalingkan matanya dari Zeania sedikitpun karena terpana.
Hanya Yurina yang tidak berbicara karena ia sangat tercengang sampai tidak bisa berbicara.
"Hahaha, terima kasih atas pujiannya, tapi aku ini Iblis bukan malaikat ataupun bidadari." Zeania menunjuk kedua tanduknya yang cukup kecil sambil tersenyum manis.
"Indahnya!" Javely dan Testoraia memuji bersamaan.
"Kakak, jangan menggoda mereka seperti itu, suasananya jadi cukup aneh." Rurina tersenyum kecut.
"Biarkan saja Rurina, itu bagus karena kita dapat melihat Javely yang dapat diam dengan tenang meskipun Ayah tidak ada disini." Elgard tertawa kecil, sambil melihat ke arah Javely yang tidak bisa berkata apa-apa.
"Kakak?" Javely, Yurina dan Testoraia bertanya bersamaan.
"Ya, aku adalah kakak mereka berdua, kalian pasti belum pernah melihatku, tapi aku sudah sering melihat kalian, Perkenalkan namaku adalah Zeania Thorias, Salam kenal." Zeania tersenyum manis.
"Guru memiliki putri seorang bidadari! aku baru tahu!" Javely menempelkan kedua tangannya di pipi seakan tidak percaya dengan hal tersebut.
"Haha, kau terlalu berlebihan."
...—To Be Continued—...
__ADS_1