
"Misa...." Ucap Nova dengan perlahan melirik Misa yang sedang berlutut.
"Apa anda membutuhkan sesuatu Tuan!" Balasnya dan mengangkat kepalanya, namun wajahnya langsung berubah pucat saat melihat Mata Iblis Penghancur Nova mengarah padanya.
"A-Apa saya melakukan kesalahan..?" Tanya Misa dengan rasa takut sambil melirik kearah Zovarein yang terlihat tenang-tenang saja, namun ia tahu itu hanya raut wajah samaran dan akhirnya dia mengerti apa kesalahannya saat melihat kedua tangan Tuannya bertemu dengan tangan Zovarein.
"Ah.. Ayah, ibu... mungkin hanya sementara saja tetapi aku bisa bertemu dengan kalian lho, semoga tidak terasa sakit sama sekali"
Slash.... Kepalanya jatuh ketanah dengan sebuah senyuman.
Yurina yang melihat hal itu hanya bisa berdecak kesal "Cih.. padahal sudah kuperingati!.. huh" Ucapnya sambil menghela nafas.
"Sayang, tolong bangkitkan dia.." Ujar Nova dengan wajah yang tidak merasa bersalah sama sekali.
"Seperti biasa kau memang kejam yah.... meskipun aku bisa membangkitkan orang mati, bukan berarti kau bisa membunuh sesukamu lho...
Lingkaran sihir muncul dibawah tubuh Misa yang tergeletak ditanah, seakan waktu berjalan mundur kepala Misa terangkat dan tersambung kembali kelehernya bersama seluruh darahnya yang berceceran.
"Setidaknya aku tidak sekejam dirimu" Balas Nova dan langsung berjalan kesebelah Misa yang masih tergeletak ditanah.
. . . .
"Ternyata lebih cepat dari dugaanku, padahal aku belum sempat memeluk mereka" Ujar Misa yang baru bangun.
"Apa kau sempat berpisah dengan mereka?" Tanya Nova dari balik tubuh Misa.
"Tidak.. menyapa saja aku belu... No-Nona!!! Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya tidak melihat situasi sebelum menyapa anda, saya sungguh menyesal dan jika anda menyuruh saya mati maka pedang saya akan segera melaksanakan tugas itu!" Ucap Misa yang langsung bersujud dan berbicara tanpa jeda sama sekali.
"Tidak kau baru saja mati tidak mungkin aku membunuhmu untuk kedua kalinya, aku juga punya rasa simpati pada suamiku" Ujar Nova tanpa melihat reaksi Zovarein.
"Si..simpati..." Beo Zovarein.
"Cepat kembali ke perkemahan dan ikut membantu untuk menyembuhkan Kawan-kawanmu!" Perintah Nova dengan tatapan marahnya.
"Ba-baik! Akan saya laksanakan!" Ia langsung melompat keatas, pandangannya sempat bertemu dengan Yurina saat sudah sampai di perkemahan, ia hanya menundukkan kepalanya dan berjalan ke tenda yang berisikan teman-temannya yang sedang terluka.
"Huh.. merepotkan sekali, aku merasa tidak layak menerima gelar Komandan Sihir Legendaris, sihir penyembuhan saja tidak bisa apanya yang legendaris" Keluh Yurina manatap keatas.
"Kita juga harus segera pergi dari sini" Ucap Zovarein membuat Nova kebingungan.
__ADS_1
"Kenapa kita harus pergi dari sini? Hal yang ingin aku lakukan belum selesai...."
"Planet ini akan segera meledak, Energi sihir Kacau, Energi Spiritual Kacau bahkan Energi Alam yang dapat mempertahankan bentuk sebuah Planet pun sudah lenyap" Jelas Zovarein menatap Nova.
"Beberapa hari lagi akan hancur namun jika sesuatu menyentuhnya maka akan langsung meledak, jika aku tidak membunuh semua Yama maka tidak heran semua orang disini mati" Lanjutnya
"Ehh... tidak mungkin, padahal aku sudah membuang banyak tenaga untuk pergi kesini" Keluh Nova dengan raut wajah sedih, Zovarein memang tidak ingin membuat Istrinya menangis tapi apa boleh buat, dia bukan sang pencipta yang dapat membuat sebuah planet kembali pada bentuk asalnya dalam sekejap.
Kekuatannya memang sangat luar biasa tapi semua hal tetap ada batasannya.
...----------------...
...THE STRONGEST DEVIL KING...
...----------------...
1 Hari berlalu dan semua orang terluka sudah disembuhkan, Ratu Roh Agung dan bawahannya ikut membantu jadi dapat selesai dengan lebih cepat.
Zovarein ingin membantu tapi Ratu Roh memintanya untuk menyimpan Energi Sihirnya agar dapat memindahkan mereka semua dengan selamat ke 4 Dunia.
Zovarein yang mendengar hal itu hanya dapat mengeluh dalam hati, "Nenek tua Jika kau bukan Ratu Roh maka akan kubunuh saat ini juga sialan!" Ucapnya dalam hati.
Bagaimanapun Space Transfer membutuhkan Setengah dari Energi sihir yang Zovarein punya berapun jumlah kehidupan yang dia bawa tetap saja sama.
"Semuanya sudah siap bukan?" Tanya Zovarein dan hanya dibalas anggukan oleh semua orang.
""
Whoshh!.. semua orang menghilang dari perkemahan langit dan muncul di sebuah dataran rendah yang dipenuhi bunga.
"Taman bunga.., kita berada di Taman bunga akademi ujar Kaneth sambil melirik kesekitarnya.
"Baiklah karena masalahnya sudah selesai saya pamit undur diri" Ucap Ratu Roh Agung dan langsung berteleportasi menuju Hutan para Roh.
"Kaneth kami juga akan pergi, jaga dirimu baik-baik lain waktu kita akan bertemu" Ucap Zovarein melambaikan tangannya dan langsung membuka menuju Kekaisaran Iblis.
***
Zovarein dan Nova berada diruangan tempat Zovarein sebelumnya dirawat oleh Elgard, dengan cepat ia berjalan menuju Ruangan Kerja Elgard bersama Nova.
__ADS_1
Seperti biasa sesampainya didepan ruangan ia langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, para petinggi yang sedang membicarakan beberapa hal dengan Elgard diruangan itu langsung meningkatkan kewaspadaan.
Namun saat melihat Zovarein mereka tertegun beberapa saat sebelum menurunkan pandangan mereka, Trauma saat melihat para Komandan Iblis disiksa mssih tertinggal di kepala mereka masing-masing.
"Ayah!.. selamat datang kembali, karena adik berkata ayah pergi entah kemana kupikir ayah sedang sibuk..." Ucap Elgard bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju Zovarein.
"Tentu saja dia sibuk, dia adalah Ayahmu tidak mungkin kau melupakan siapa dia di 4 Dunia" Ucap Nova yang muncul dari belakang Zovarein.
"Ibu!.. kapan ibu kembali kupikir urusan di Catastrophic Disaster masih belum selesai" Ujar Elgard saat melihat Ibunya, ia berniat memeluknya namun langsung ditolak mentah-mentah oleh Nova.
"Ceritanya panjang, lalu dimana Ruru? Ibu sudah sangat merindukannya.." Ucap Nova sambil melirik kesegala arah.
"Ah.. dia-"
"Ibu!!" Ucap Rurina dari belakang Nova dan langsung memeluknya.
"Hei.. kau mengejutkan ibu dasar iblis kecil..." Ucap Nova sambil membalas pelukan Rurina.
Zovarein melihat kesedihan diwajah Putranya dan langsung menepuk pundaknya dan berkata, "Bersabarlah... jika kau sudah masuk kedalam kualifikasi nya bukan hal yang tidak mungkin kau akan dimanjakan seperti adikmu"
"Pakai Kualifikasi segala- padahal aku juga anaknya... huh" Ucap Elgard sambil menghela nafas.
"Yah jangan terlalu dipikirkan, suatu saat kau juga akan menerima kasih sayangnya" Ucap Zovarein menatap Putranya.
"Semoga saja"
°
°
°
"Apa!! A-Ayah melawan Yama?! Bu-bukankah Muasalnya sudah hancur.." Ujar Elgard menatap serius Ayahnya.
"Yah dia lemah sekali, untuk jadi teman bermainku saja dia belum layak"
Perkataan tersebut membuat Rurina dan Elgard Membulatkan mata dan membuka lebar mulut mereka.
Zovarein segera mengeluarkan Sesosok Yama dari Sihir Ruangnya saat melihat reaksi dari kedua Anaknya. "Benar-benar Yama, kupikir Ayah sedang bercanda tadi" Ucap Elgard sambil melihat keaslian dari Makhluk di hadapannya.
__ADS_1
..."Oh iya Planet Catastrophic Disaster juga sudah hancur sebaiknya lupakan saja rencana kalian untuk memperbaiki p...
...Planet itu"...