
"Veteran Asosiasi Pembunuh? kedengarannya menarik, sudah lama aku tidak menemukan makhluk yang haus darah seperti ini diantara bangsa Iblis dalam beberapa bulan terakhir, Kerajaan lain sepertinya tidak lebih baik dari Kerajaan Neraka," Zovarein bergumam.
"Antrian di luar juga sudah lebih lancar, mereka tidak berdesakan seperti sebelumnya karena hanya tersisa puluhan Iblis saja." Shin melanjutkan laporannya.
"Ohh.. itu kabar baik, kembalilah!"
"Baik!"
*Whush!!
Shin kembali menyatu dengan kegelapan.
*Tok! Tok! Tok!
Sesaat setelah Shin lenyap, pintu ruangan Zovarein diketuk dari luar, sepertinya ada seseorang yang ingin bertemu dengan pemuda ini.
"Masuk!" Zovarein berkata dengan acuh.
Pintu ruangan pun terbuka, Sosok Ameth dengan putrinya Amelia memasuki ruangan dengan raut wajah tegang, keduanya merasa sangat gugup saat ini.
"Apa yang membawamu kemari Ameth?" Zovarein bertanya.
"Itu.. saya ingin melaporkan bahwa, pertemuannya akan segera dimulai, dan saya disini untuk menjemput anda!" Ameth membungkuk.
"Benarkah? lalu siapa gadis ini?"
Amelia maju kedepan selangkah.
"Ya-yang Mulia, p-perkenalkan saya Amelia Gaios, A-anak Kempat dan putri kedua dari Ameth Re Gaios, sa-saya dan Ibu saya disini untuk menjemput anda!" Amelia berbicara gagap, sebenarnya ia sudah berlatih sebanyak 126 kali diruangan sebelumnya.
"Um, ternyata kau keturunan Ameth, jadi aku tidak perlu mengenalkan diriku lagi bukan?" Zovarein menatap Amelia.
"T-tentu saja Yang Mulia." Amelia semakin gugup.
"Bagus, berapa banyak Anggota keluargamu yang hadir?" Zovarein melirik Ameth yang berada dibelakang Amelia.
"573 Iblis Murni dengan 133 Campuran serta 24 Berdarah Leluhur, Semua hadir Paduka, hanya Suami saya saja yang tidak dapat datang, Alasannya juga tidak saya ketahui, dan saya sebagai Istrinya meminta maaf atas kelancangannya karena tidak menuruti panggilan anda!" Amelia berlutut.
"Sudah lupakan saja, jika dia memang sibuk maka aku tidak akan mempermasalahkannya, tapi ya.." Zovarein menatap tajam Ameth "Kenapa ada manusia diantara yang datang? selain itu Dark Elf? Dwarf? dan Half Dragon? lalu ada beberapa ras lainnya?"
__ADS_1
"So-soal itu.." Ameth menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. "Mereka adalah pekerja dan juga anggota keluarga dari mereka yang berdarah Campuran." Ameth kemudian menghela nafas berat.
"Aku tidak peduli apapun alasannya, yang akan hadir dalam pertemuan hanya Ras Iblis, selain itu semuanya akan menunggu diruang Tamu atau dimanapun itu terserah, asalkan mereka menjauh 16 meter dari ruangan pertemuan!" Zovarein menegaskan.
Ameth sama sekali tidak mengajukan keberatan meskipun ia sebenarnya ingin mengatakannya, namun ia sangat tau kalau Tuannya itu sangat tidak suka jika dibantah, apa lagi jika ini menyangkut sesuatu mengenai Ras.
"Baik, akan saya laksanakan!" Ameth menjawab dengan tulus, ia tidak ingin bersikap seperti terpaksa dihadapan Tuannya.
"Bagus, mengenai masalah Avelian itu, apa kau punya keluhan?" Zovarein bertanya dengan suara pelan.
Sejenak ruangan itu menjadi hening, hanya suara Zovarein yang menyeruput secangkir teh yang terdengar.
"I-itu adalah kesalahannya dan.. saya tidak memiliki keluhan apapun, ia layak mendapatkan kemusnahan atas kejahatannya!" Ameth menjawab dengan berat hati.
"Sa-"
"Amelia !" Ameth berbisik dengan nada dingin.
Ia tahu kalau putrinya itu akan mengajukan keluhan, dapat dilihat dari mata hijau terang gadis itu yang sudah mengeluarkan Air Mata, saat kepalanya menunduk kebawah.
"Benarkan tidak ada keluhan? dari jenis Energi sihir serta Darahnya, aku tau kalau dia itu bukan anak Kandungmu, apa dia anak yang dititipkan seseorang kepadamu?"
"Um... kalau begitu aku akan menyuruh Shin menyelidiki Identitas aslinya."
Kemudian dari sebelah kiri Zovarein muncul Shin yang keluar dari Kegelapan, ia hanya berlutut selama beberapa saat, kemudian menjadi seberkas Cahaya setelah Zovarein mengangguk.
"A-anda tidak perlu repot-repot mela.."
"Tidak, kau tidak perlu pusing tentang hal ini, kau mengenal Shin dan kemampuannya dalam penyelidikan, jadi tidak ada yang perlu kau cemaskan." Zovarein sekali lagi menyesap teh, itu adalah satu tegukan terakhir.
"Baik, terima kasih Yang Mulia." Ameth menundukkan kepalanya.
"Bawa aku keruangan nya, aku akan langsung menggunakan sihir itu saat tiba disana, jadi aku berharap mereka semua sudah berkumpul dalam satu ruangan!" Zovarein beranjak dari kursinya.
"Tentu saja Yang Mulia." Ameth juga ikut berdiri dan diikuti oleh Amelia.
"Pimpin jalannya!"
"Baik!"
__ADS_1
...—✧—...
"Pintu yang cukup besar ya." Zovarein menatap pintu setinggi 8 meter dan selebar lima meter dihadapannya dengan seksama.
"Ya, bukan hanya pintunya yang besar, bagian dalamnya bahkan sangat luas, ruangan yang satu ini tidak akan mengecewakan anda, kecuali pada masalah dekorasinya" Ameth menjelaskan, kemudian bergumam di kalimat terakhir.
Kemudian pintu yang sangat besar itu dibuka dalam satu dorongan oleh prajurit penjaga, pintu itu bahkan tidak mengeluarkan suara seperti 'Kieeekkk!' karena tampaknya itu sering dibersihkan.
Dapat dilihat dari bertapa bersihnya pintu tersebut,sama sekali tidak ada noda yang menempel ketika kau menggores jarimu pada pintu.
"Silahkan Yang Mulia!" Ameth mempersilahkan Zovarein untuk masuk.
Pemuda itu mengangguk kemudian berjalan memasuki ruangan, hal yang pertama kali ia lihat disana adalah lautan Iblis, itu ada sekitar tujuh ratus kehidupan, dan semuanya berkumpul dalam satu ruangan yang dapat menampung seribu kehidupan.
Suasana ribut didalam ruangan tadi mendadak hening saat Zovarein melangkah masuk, bukan penampilannya yang menarik perhatian, melainkan Ameth dan juga Amelia yang berjalan dibelakangnya sambil menundukkan kepala.
Semua orang menyingkir saat Zovarein berjalan mendekat, ada perasaan aneh yang menggerogoti diri mereka saat melihat pemuda itu, perasaan aneh tersebut seakan memerintahkan mereka untuk tidak berbuat hal yang macam-macam.
Zovarein terus berjalan hingga akhirnya sampai dihadapan sebuah kursi kehormatan yang berada tepat dijunjung ruangan.
Tanpa ragu pemuda berjubah hitam tersebut langsung menaiki tangga keatas kemudian menduduki kursi kehormatan itu dengan penuh wibawa.
*Whushh!!!
Bersamaan dengan ia yang menduduki kursi kehormatan tersebut, Aura hitam yang begitu mencekam dan juga sangat berat langsung menekan semua orang hingga berlutut, sama sekali tidak ada yang dapat mempertahankan posisi berdiri.
Itu adalah sebuah Aura penindasan garis keturunan yang sangat kuat, tidak mengandung energi kegelapan ataupun pembunuhan.
Itu murni darah Raja yang sedang menekan darah bawahan, meskipun begitu tidak ada satupun dari orang yang ada disana mengerti tentang apa yang sedang terjadi dengan tubuh mereka.
Tubuh mereka seakan menyuruh mereka agar menyembah orang tersebut, namun tidak satupun dari mereka yang mengenal pemuda itu, pikiran merekapun mulai kacau.
"A-apa yang terjadi?"
"Tubuhku.. ti-tidak dapat digerakkan!"
"Siapa pemuda itu sebenarnya?!"
"Kenapa tubuhku berlutut pada sessorang sepertinya?!"
__ADS_1