
"Jelia apakah kau yakin melakukan hal itu pada wilayah iblis? sejujurnya aku sedikit khawatir dengan reaksi putraku nanti"
Kizoe manatap wanita dihadapannya dengan sedikit keraguan, bagaimanapun ia masih kepikiran dengan perkataan Kaneth sebelumnya- bahkan saat ini, ia masih saja terbayang-bayang wajah putranya itu saat menatap dirinya dengan sangat dingin.
"Tentu saja yang mulia, Pahlawan kita terlalu pengecut untuk melawan Iblis Kejam seperti mereka, jadi sebagai penyihir terkuat manusia aku akan menggantikan perannya demi kedamaian!"
Dengan percaya diri ia mengatakan hal tersebut bahkan sampai membuat gema diruangan rapat yang saat ini hanya dihadiri oleh Raja, beberapa Mentri, petinggi dan dirinya sendiri.
Cklek... Bam!!!
Pintu ruangan tersebut dibuka dengan kasar, secara perlahan seorang pria dengan jubah biru gelap memasuki ruangan tersebut dengan langkah berat.
"Hanya dengan keberanian kau pikir dapat membunuh makhluk sepertinya huh?" Kaneth sang pahlawan memasuki ruangan dengan aura sucinya yang bocor, sebelum memasuki ruangan ia sempat mendengar perkataan Jelia yang membuat dirinya semakin geram.
Beberapa Mentri dan petinggi yang memiliki energi sihir dibawah rata-rata langsung merasakan sesak nafas saat aura Kaneth menekan mereka.
"Tuan Pahlawan... tidak, Pangeran Kaneth Igeria. Apa anda tidak memiliki sopan santun dengan mendobrak pintu seperti itu? Jangan bilang anda tidak menerima informasi bahwa kami sedang rapat?!" Bentak Jelia tanpa keraguan sedikitpun.
Ia tidak menyadari bahwa saat ini semua orang diruangan menatap dirinya dengan tajam.
"Aku tidak mau mendengar hal itu darimu, aku bahkan masih mengingat dengan jelas sudah berapa kali kau meneriaki diriku dan Ayahku seperti itu!"
Jelia yang mendengar perkataan Kaneth langsung diam dan tidak tau harus berkata apa lagi.
"Aku yang memiliki kekuatan ratusan kali lebih lemah darinya saja sudah beruntung dapat berhubungan baik dengannya... kau yang puluhan kali lebih lemah dariku ingin memberi kutukan pada wilayahnya? Punya mimpi besar juga ada batasannya!"
Sekali lagi ia meningkatkan tekanan aura sucinya hingga tiga kali lipat membuat Jelia tidak dapat berkutik hingga berlutut dan memuntahkan seteguk darah.
"Uhukk... Haahhh... Ck.. Ra-tusan? Ja-ngan t-terlalu... hahh... melebih-lebih...kan Pangeran!" Ia terus merasakan sesak sampai berbicara pun kesusahan.
Kaneth hanya diam saat mendengar hal itu dari mulut Jelia 'Aku penasaran apa yang akan dilakukannya jika Wanita ini mengatakan hal itu dihadapannya' Ucap Kaneth dalam hati sambil menatap iba pada Jelia.
"Terserah kau saja... aku datang kesini hanya untuk memperingatkan kalian dan memberitahu bahwa rencana kalian telah gagal" Kaneth pun membalikkan badannya dan mulai beranjak pergi dari ruangan dengan Aura sucinya yang mulai ditarik kembali secara perlahan.
Namun langkahnya terhenti saat Jelia kembali membalas perkataannya.
"Apa anda yang menggagalkannya Pangeran?" Tanya Jelia dengan tatapan sinis.
Kaneth kembali melihat kebelakang dengan raut wajah marah membuat Jelia merinding seketika. "Apa kau tidak dengar? aku memperingatkan dan memberitahukan... Dia! Raja Iblis Tirani menyuruhku untuk mendatangi perbatasan, hanya melihat yang terjadi disana saja aku sudah tau apa maksud dari perkataannya memintaku datang kesana!"
!!!... Jelia membulatkan matanya menunjukkan reaksi keterkejutan nya. 'Kenapa dia bisa tau?' Pikirnya, Ia yakin bahwa rencana ya sudah direncanakan setenang dan sediam-diam mungkin hingga tidak mungkin ada yang dapat mengetahuinya.
Tanpa membuang waktu lagi Kaneth langsung mengaktifkan sihir perpindahan dari pintu ruangan rapat tersebut "Aku sudah Muak, kedepannya kalau kalian terus melanjutkan drama ini..." Ia membalikkan badannya dan menatap semua orang diruangan dengan tatapan benci dan Aura Membunuhnya yang keluar menggantikan Aura Suci "Jangan harap aku akan membantu kalian!"
Kbam!!!
Ia memasuki pintu tersebut dan menutupnya dengan kasar, setelah kepergiannya semua orang diruangan akhirnya dapat bernafas lega.. banyak yang mencibir Jelia dalam hati dan menatap sinis kearahnya, tak sedikit orang yang langsung keluar dari ruangan karena merasa dipermainkan oleh Jelia.
"Ck... kau pikir gertakanmu itu berguna? lihat saja! akan kutunjukkan bahwa aku lebih baik darimu!"
Ia terus saja menatap kesal kearah pintu ruangan dan berharap orang yang baru saja keluar tadi mati saja.
Dengan tubuh yang hampir tidak bertenaga ia berusaha untuk keluar dari ruangan itu sambil meminum beberapa ramuan pemulih energi sihir.
__ADS_1
Dihadapannya kini sudah ada 2 bawahan terpercayanya sekaligus murid kebanggaannya, dengan segala hormat merekapun membungkukkan badan mereka kepada Jelia.
"Heira aku ingin kau segera mengumpulkan semua pasukan penyihir kita di Aula, untuk Veilin aku ingin kau bersama Bawahanmu membentuk lingkaran sihir menuju Gerbang Istana Neraka Sekarang juga!
"Siap Laksanakan Guru!"
Whuss!! merekapun berubah menjadi percikan cahaya yang berarti mereka menggunakan sihir perpindahan ruang.
...°•°...
...°•°...
...——Beberapa Jam Kemudian Di Istana Neraka——...
Whuss!!.. Kaneth tiba diruangan kerja Zovarein.. saat ia melirik ke sekitar, ia mendapati bahwa Zovarein sedang duduk di sofa dengan mata yang terpejam.
"Aku sudah menguru semuanya, untuk selanjutnya aku tidak mau lagi memperingati mereka... sungguh melelahkan" Ia pun merebahkan tubuhnya di sofa panjang sambil menghela nafas berat dan mulai memejamkan matanya.
"Haish... Apa kau yakin sudah mengurusnya? mereka sudah sampai di depan Gerbang Istana Putriku lho.." Balas Zovarein membuat Kaneth terkejut bukan main.
Ia langsung membenarkan posisinya dan menatap Tajam Zovarein "Seriusan?"
Sedangkan saat ini, Jelia yang menggunakan sihir teleportasi untuk memindahkan dirinya dan pasukan penyihirnya kedepan gerbang Istana neraka, sedang menatap sinis ke arah Gerbang tersebut.
"Kalau kutukan tidak berhasil, maka tinggal hancurkan Istananya saja! Hahaha... hahahaha!!" Ia tertawa sambil menyeringai sebelum akhirnya mempersiapkan sihir berskala besar.
Ia mengangkat tangan kanannya yang memegang tongkat sihir mengarah ke gerbang dan tangan kirinya yang memegang sebuah Grimoire bersampul putih ia dekatkan kewajahnya.
"Api Suci yang Agung, Dew/Dewi menciptakan dirimu agar kami dapat melawan kejahatan, berikan kekuatanmu! agar iblis kejam yang menebar kejahatan didunia ini dapat kami lenyapkan dari dunia! Demi Kedamaian Sejati! "
Lingkaran sihir putih cerah terbentuk di atas kepala tongkat sihirnya dan mengeluarkan Api Putih yang mengandung energi suci yang langsung menerjang Gerbang Istana Neraka.
Kbam!!! Duar!!
Api tersebut mengenai salah satu pelindung yang diciptakan artefak yang dipasang Shin sebelumnya atas perintah Zovarein hingga hancur.
Jelia yang melihat hal tersebut tak dapat menahan kekesalannya, ia terus memaki orang yang memasang pelindung tersebut dalam hatinya.
"Siapkan Sihir Suci!, Element apapun, jenis sihir dari ras apapun terserah! yang penting mengandung Energi suci yang besar!"
Jelia berteriak memerintah para penyihir dibelakangnya, dengan cepat semua penyihir itu membuka halaman-perhalaman Grimoire mereka masing-masing untuk mencari sihir suci terkuat mereka.
Sedangkan para penyihir yang sudah dapat mengendalikan energi sihir, tanpa Grimoire mereka langsung merapal mantra suci mereka masing-masing.
beberapa saat kemudian semua penyihir telah menyiapkan sihir mereka masing-masing dan Jelia sekali lagi merapal sihir Api suci untuk menghancurkan Gerbang Istana dihadapannya.
"Luncurkan!"
Mendengar perintah tersebut semua penyihir mengarahkan sihir mereka kearah gerbang dan langsung melepas sihir tersebut.
Api suci, Air Suci, Angin Suci dan berbagai Element yang sudah disatukan dengan energi suci langsung melesat ke arah Gerbang Istana Neraka.
Duar!! Boom!! Blushh!!!
__ADS_1
Puluhan ledakan terus terdengar selama beberapa detik hingga menghasilkan asap yang menghalangi penglihatan mereka.
Saat asap tersebut mulai memudar semua orang membulatkan matanya ketika melihat Gerbang yang masih utuh dan tidak tergores sedikitpun.
"Ba-bagaimana mungkin!!"
"Mustahil... apa ada kesalahan?!!"
"Mana ada pelindung sekuat itu!"
Semua orang terus saja mengeluh karena sangkin terkejutnya, sedangkan Jelia sedikit frustasi karena Sihir sucinya tidak berdampak apapun pada Gerbang dihadapapnnya.
Suara mendesing yang sangat keras terdengar dari atas langit menuju ke arah mereka hingga akhirnya terjadi sebuah ledakan di hadapan Jelia.
Siinnggg... Kbam!!!
"Oi..Oi...Ooiii..... Meskipun Gerbangnya tidak dapat ditembus tapi kau sudah menghancurkan 3 pelindung yang sudah susah payah ku pasang dengan hati-hati" Shin yang merasa tidak terima kerja kerasnya dihancurkan langsung menampakkan dirinya setelah debu asap yang menghalangi pandangan memudar.
"Paduka memerintahku menyiapkan pelindung itu bukan untuk menyambut makhluk rendahan seperti kalian!" Ia mengeluarkan Aura membunuh yang sangat pekat diikuti aura kegelapan yang sangat mencekam.
"Jadi.. apa yang ingin kalian lakukan hingga dengan beraninya menyerang Gerbang Istana Tuanku?" Shin menatap tajam ke arah Jelia membuat bulu kuduk nya berdiri, keringat dingin mulai membasahi punggunya saat menatap Mata Iblis Penghancur milik Shin.
"Sialan.. Shin sang Iblis Pedang yah... menjengkelkan, bukankah dia sedang tidak berada di Istana?!" Jelia terus menatap sinis ke arah Shin, ia sungguh kesal saat Rencananya sudah digagalkan sebanyak dua kali dalam satu hari.
"Apa lagi kalau bukan untuk memusnahkan kalian! Demi kedamaian, kami manusia akan melakukan apapun!" Teriak Jelia berharap Shin terkena pancingannya hingga marah.
Namun reaksi yang ditunjukkan Shin berbeda jauh dengan ekspektasinya. "Oh.. Begitu? makhluk lemah seperti kalian ingin menjunjung kedamaian.. baiklah silahkan musnahkan kami"
Cklekk.. Kreeeekkkk!!
Pintu Gerbang terbuka dan menunjukkan penduduk Istana Neraka yaitu para Iblis yang sedang mengerjakan kegiatan mereka masing-masing.
"Apa dia sudah gila? yah biarlah.. dihadapan ku sudah terlihat kejahatan yang sedang berkeliaran tidak mungkin aku mengabaikannya!"
"Pasukan Serang!"
"Whooo!!!!" Semua penyihir tersebut bersorak dan terus berjalan masuk kedalam wilayah Istana Neraka dengan semangat membara.
Ketika Semua Iblis yang sedang bekerja mendengar sorakan dari arah Gerbang, mereka langsung berhenti beraktifitas dan menatap tajam kearah para Penyihir tersebut.
Whooaamm!!!!
Mendadak Aura yang lebih mencekam dari kegelapan milik Shin menekan mereka semua hingga langkah mereka terhenti dan mulai terjatuh serta mengeluarkan seteguh darah.
Para penyihir tersebut mulai menyadari bahwa suasana mencekam yang mereka rasakan berasal dari semua iblis dihadapan mereka.
"Biar kuberitahu 1 iblis paling lemah di Istana kami setara dengan 16 Prajurit Kekaisaran Azhesia, apa kalian mengerti maksudku?"
Saat mendengar perkataan Shin semua Penyihir termasuk Jelia langsung menelan ludah dengan kasar, ingin menolak perkataan tersebut namun pikiran mereka berkata lain.
"Lari!" Itulah yang insting mereka katakan saat melihat semua Iblis di Istana itu menatap sinis kearah Pasukan penyihir.
"Kenapa kalian diam saja? bukankah kalian ingin membantai kami?... atau mungkin..."
__ADS_1
Shin langsung berpindah kehadapan para penyihir tersebut sambil menunjukkan senyuman jahatnya.
..."Kalian sedang mengantarkan Nyawa? Hehe..."...