RAJA IBLIS

RAJA IBLIS
Menangis


__ADS_3

"Brutal sekali yah, tidak ku sangka meskipun waktu sudah berlalu selama ribuan tahun, serigala iblis masih sangat kejam dan mengerikan." Seorang pemuda dengan jubah hitam bercorak tengkorak berjalan mendekati tempat itu.


Beberapa menit sebelumnya ia sudah berada ditempat ini di atas langit sambil memantau, namun siapa sangka semuanya akan berakhir sangat tragis.


Pemuda itu mendekati tubuh gadis kecil yang sedang terletak diatas tanah dengan lemah, pucat dan penuh luka, seluruh energi gadis kecil itu telah terkuras habis untuk membalaskan dendamnya, dengan tubuh kosong seperti itu dalam beberapa menit kedepan ia akan mati karena kehabisan energi sihir.


"Untungnya aku berada disini, tenang saja aku tidak akan membiarkanmu mati lagi." Pemuda itu menggendong gadis kecil tersebut kemudian menyalurkan energi sihirnya secara perlahan menuju tubuhnya.


Dari kejauhan ia dapat melihat sebuah gubuk yang cukup buruk, banyak lubang dan tidak terawat, setelah menguburkan jasad kedua orang tua gadis itu, ia segera pergi menuju gubuk untuk mengistirahatkan gadis kecil di gendongannya.


Tidak terasa beberapa waktu berlalu dan malam pun tiba, gadis kecil itu membuka matanya secara perlahan, masih ada rasa perih di matanya karena terlalu banyak menangis.


Gadis itu menegakkan badannya secara perlahan dan melihat kesekitar, ia mengenal tempat itu karena ini adalah rumahnya sendiri bersama kedua orang tuanya.


Merasa kalau ia baru saja bermimpi buruk, gadis itu segera pergi menuju kamar kedua orang tuanya dan tidak menemukan mereka disana, seketika ia mengingat sesuatu yang sangat buruk dipikirannya, tubuhnya bergetar dan air matanya mulai mengalir membasahi wajahnya.


Di depan kamar kedua orang tuanya ia menangis dengan keras penuh dengan kesedihan yang menyelimuti hatinya, ia bahkan tidak menyadari kalau dibelakangnya sudah ada seorang pemuda yang sedang menatapnya dengan sedih.


Pemuda itu mendekat secara perlahan kemudian menyentuh bahu gadis tersebut yang membuatnya sangat terkejut, gadis itu melihat kebelakang dan menemukan seorang pemuda berambut hitam, dengan sepasang tanduk dikepalanya dan mata Semerah darah yang menatapnya dengan sedih sedang tersenyum kecil kepadanya.


"Siapa ...?" Gadis itu bertanya dengan lirih, tidak ada semangat dalam hidupnya yang tersisa.


"Zovarein, aku yang membawamu kemari." Jawabnya.


"Kenapa kau membawaku kesini!? seharusnya kau biarkan saja aku mati disana! semua orang sama saja! tidak ada yang peduli kepada kami hanya karena aku anak terkutuk! aku Benci! Aku Benci Sekali! Akan aku Bunuh Mereka semua! Semua yang membuat ku kehilangan orang tua ku!!" Ia berteriak kepada Zovarein dengan kuat tanpa menahan diri, dan melepaskan semua yang ada dihatinya.

__ADS_1


Melihat gadis kecil yang sedang memarahinya dengan sangat kasar seperti itu, Zovarein hanya diam tanpa membalas, ia tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang membuat gadis itu semakin sedih ataupun marah.


Tanpa ragu Zovarein pun mendekat kepada gadis tersebut dan memeluknya dengan lembut, meskipun ia dapat menghidupkan yang mati, kekuatan itu tidak ada pada dirinya sekarang, tidak ada yang dapat ia lakukan selain mencoba untuk menenangkannya.


"Apa yang kau lakukan! Lepaskan! kubilang Lepaskan!" Gadis itu memberontak, namun karena tenaganya yang kecil, ia sama sekali tidak dapat lepas dari sana, hanya dalam pelukan itu ia merasakan perasaan nyaman dan hangat, tidak ada bahaya yang ia rasakan hingga membuatnya berhenti memberontak dan menangis didalam pelukan Zovarein yang hangat.


Orang tuanya tidak pernah mengatakan kepadanya kalau ia adalah anak terkutuk, orang tuanya juga tidak pernah berkata kepadanya kalau alasan mereka pindah ke hutan iblis adalah dirinya, dengan penuh kasih kedua orang tuanya selalu merawatnya dengan baik.


Namun ia mengetahui semuanya, ia tetap diam dan tidak mengungkit masalah itu agar orang tuanya tidak merasa bersalah. Siapa yang menyangka kalau semuanya akan berakhir seperti ini, dirinya yang lemah dan masih kecil tidak memiliki hati yang kuat untuk menerima semuanya, hingga beberapa menit kemudian ia tertidur dalam pelukan Zovarein dengan wajah yang sangat pucat.


"Meski aku Raja Iblis sekalipun, takdir tetaplah sesuatu yang belum bisa aku ubah, setidaknya untuk saat ini." Zovarein menatap gadis dipelukannya dengan hangat, rasa rindu dan rasa bersalah bercampur dalam hatinya yang membuatnya sedikit tertekan, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan menggendong Gadis itu ke tempat tidurnya dan membiarkannya berbaring disana.


"Aku tau perasaan mu karena aku juga pernah mengalaminya, pasti sakit bukan, tapi itu semua sudah tercatat dalam buku takdir, tidak ada yang dapat kita lakukan selain menjalaninya." Zovarein mengusap wajah gadis tersebut dengan lembut, dan membersihkan air mata yang membasahi wajahnya.


...----------------...


Dengan cepat ia beranjak dari tempat tidurnya dan pergi menuju ruang tengah, ia yang sebelumnya berharap kalau kedua orang tuanya sedang berada disana pun langsung terhenti langkahnya, seseorang dengan jubah hitam bercorak tengkorak sedang duduk di sudut ruangan yang membuatnya terkejut.


"Kau sudah bangun ya, aku sudah memasak beberapa makanan, makanlah agar kau tidak kelaparan." Zovarein berkata dengan tenang saat melihat gadis itu terhenti ketika melihatnya


"Aku tidak mau makan." Gadis itu berkata dengan acuh, sambil mendekat kearah Zovarein dengan perlahan.


"Jangan berkata seperti itu, kau masih kecil dan butuh makanan untuk pertumbuhan mu." Zovarein kembali membujuknya.


Melihat Zovarein yang masih membujuknya, gadis itu pun duduk di sebelah Zovarein dan dihadapannya ada beberapa makanan yang terlihat sangat enak.

__ADS_1


"Kau tidak makan?" Tanya Gadis itu sambil menatap Zovarein dengan lekat.


"Aku tidak membutuhkan makanan." Zovarein menjawab sambil tersenyum kecil.


"Kalau begitu aku juga tidak akan makan!" Gadis itu kembali meletakkan sendok ditangannya.


Melihat gadis kecil yang sedang merajuk dihadapannya membuat Zovarein tertawa kecil, kemudian ia mengambil sebuah sendok di piring lainnya. "Baiklah aku akan makan juga, jangan mengeluh seperti itu."


Gadis itu hanya mengangguk, kemudian mengambil sendok ya lagi dan segera makan bersama Zovarein, ketika ia memakan makanan tersebut, seketika ia sangat terkejut karena rasanya sangat enak, namun raut wajah terkejutnya hanya sesaat sebelum ia kembali memasang raut wajah biasa.


"Enak bukan? aku belajar dari Istriku untuk memasaknya." Kata Zovarein sambil tersenyum pada Gadis tersebut, ia pun juga mulai memakan makanan yang ia masak dengan perlahan, agar gadis tersebut memakan lebih banyak darinya.


"Istrimu pasti sangat hebat, karena kau memasaknya sudah sangat enak, pasti ia dapat memasaknya lebih enak lagi." Puji Gadis itu sambil makan dengan lahap.


"Gadis kecil, aku masih belum mengetahui namamu, bisakah kau memberitahukannya kepadaku?" Zovarein bertanya.


"Perkenalkan dirimu terlebih dahulu sebelum meminta orang memberitahukan namanya, Ibuku sering mengajariku hal seperti itu." Gadis itu berkata dengan dingin.


"Tapi aku sudah mengatakan namaku kemarin lho, karenanya aku menanyakan namamu." Zovarein menjawab dengan tenang tanpa marah sama sekali.


Seketika Gadis itu mengingat kejadian semalam dimana Zovarein memberitahukan namanya kepadanya, ia pun merasa malu dalam sekejap karena sudah menasehati orang padahal ia sendiri yang salah.


"Namaku LayNova." Gadis itu menjawab dengan acuh.


Namun Zovarein yang mendengarnya seketika terdiam, ia tidak bergerak sama sekali dalam beberapa detik, sebelum kembali makan dengan tenang agar gadis disebelahnya tidak curiga.

__ADS_1


"Begitu, nama yang sangat bagus ya."


...—To Be Continued—...


__ADS_2