RAJA IBLIS

RAJA IBLIS
Yvier


__ADS_3

"Meskipun ini tidak terasa sakit tapi ... huh." Zovarein tersenyum pahit.


"A-ayah.. bagaimana mungkin, ak-aku .." Rurina syok saat mengetahui kalau pisaunya menusuk leher Zovarein sampai menembus sisi lainnya.


Yvier yang berada disebelah Rurina juga sangat terkejut, ia sama sekali tidak tahu sejak kapan Zovarein berada disana.


"Ayah baik-baik saja jangan memasang wajah seperti itu." Ucap Zovarein sambil melepas pisau yang menembus lehernya secara perlahan.


"Ta-tapi aku ..."


"Huh... Elgard bawa sampah itu kemari." Ucap Zovarein tanpa menoleh.


Elgard yang sedari tadi belum menyadari kehadiran Zovarein dibelakangnya langsung terkejut setengah mati, ia melihat Ayahnya sedang melepas sebuah pisau dari lehernya dengan Rurina yang sedang syok dihadapan ayahnya, hanya dengan melihat itu ia pun mengerti situasinya dan langsung melesat kebelakang Tyras dan menahan kedua tangannya sambil dibawa menuju Zovarein.


Pisau itu pun terlepas dan darah yang terlihat seperti kristal merah langsung keluar dari leher Zovarein dengan deras, yang membuat Rurina semakin memucat.


Namun Zovarein sama sekali tidak merubah raut wajahnya yang menandakan kalau itu bukan masalah sama sekali, ia mengarahkan tangan kanannya yang diselimuti cahaya hijau pada lehernya, kemudian secara perlahan lehernya yang berlubang itu mulai beregenerasi dengan cepat, tidak kurang dari lima detik hingga lukanya tertutup sempurna.


"Lihat, Ayah mu ini baik-baik saja." Ucap Zovarein sambil tersenyum pada Rurina.


Tanpa membalas perkataan Zovarein, Rurina langsung memeluknya dengan erat sambil menangis karena khawatir dengan Ayahnya yang ia tusuk barusan, ia merasa sangat bersalah meskipun itu sama sekali tidak disengaja.


"Ayah akhirnya kau pulang, kami sudah cukup lama menunggumu disini." Ucap Elgard yang sedang berjalan menuju Zovarein sambil menyeret Tyras di tangan kanannya.


"Begitu, maaf membuat kalian menunggu terlalu lama." Ujar Zovarein sambil mengelus kepala Rurina dengan lembut untuk menenangkannya.


...----------------...

__ADS_1


"Maaf aku melukai ayah..." Rurina menundukkan kepalanya.


Zovarein melihat putrinya yang sedang murung itu merasa bersalah, bagaimanapun itu adalah salahnya yang muncul secara tiba-tiba dibelakang Rurina.


"Tidak perlu meminta maaf seperti itu, seharusnya Ayah yang meminta maaf karena sudah membuat mu menangis seperti itu.", Zovarein mengangkat wajah Rurina yang sedang menunduk itu.


"Tapi.."


"Tidak ada tapi, Ayah mu datang kemari karena merindukan kalian berdua, bukan untuk melihat putri Ayah menangis seperti ini." Ucap Zovarein tersenyum kecil, meskipun Rurina adalah remaja 3409 Tahun yang tinggal 600 tahun lagi hingga dewasa, dimatanya Rurina tetaplah putri kecilnya yang sangat berharga.


"Ayah, kau sama sekali tidak membawa oleh-oleh?" Tanya Elgard yang sama sekali tidak membaca suasana, bahkan Yvier yang sedang berdiri agak jauh dari mereka cukup kesal dengan sikapnya itu.


"Bukankah kau sudah memegang oleh-olehnya?" Tanya Zovarein sambil menatap aneh pada Elgard.


"Aku, memegangnya?" Elgard pun melihat tangan kirinya yang sama sekali tidak memegang apapun, ketika ia melihat tangan kanannya, ia pun mengerti apa yang dimaksud ayahnya dengan oleh-oleh.


"Tentu saja, memangnya untuk apa aku membawa makhluk tidak jelas itu kemari? selain itu kau jangan ambil sendiri, berbagi dengan adikmu." Kata Zovarein memperingati Elgard.


"Tenang saja, aku tidak akan merusaknya terlalu berlebihan, Rurina akan mendapat bagiannya nanti!" Ucap Elgard yang langsung pergi membawa Tyras dengan senyum lebar penuh rencana jahat diwajahnya menuju ruang penyiksaan.


"Lihat siapa yang melupakan Ayahnya." Ucap Zovarein sambil menghela nafas, sementara Rurina yang berada disebelahnya tertawa melihat tingkah kakaknya, sepertinya ia sudah merasa baikan.


Zovarein mengalihkan perhatiannya pada Yvier yang sedang berdiri di pojok ruangan. "Apa yang kau lakukan disana?" Tanya Zovarein sambil menatap aneh pada Yvier.


"Ti-tidak, saya tidak ingin mengganggu Anda bersama Nona jadi ..." Yvier merasa gugup hingga salah tingkah, ia juga sangat merindukan Zovarein namun ia sama sekali tidak ingin mengganggu.


Melihat Yvier yang seperti itu membuat Zovarein tersenyum kecil, ia pun menatap Rurina yang berada disebelahnya. "Rurina, cepat panggil kakak perempuanmu kemari." Ucap Zovarein dengan suara kecil yang membuat Rurina kaget, sejak kapan ia mempunyai kakak perempuan? pikirnya.

__ADS_1


Namun saat melihat Ayahnya yang sedang menatap Yvier, ia pun mengingat bahwa beberapa hari yang lalu Yvier pernah bercerita kepadanya kalau Zovarein merawatnya dari kecil hingga dewasa, ia bahkan mengajarinya sihir dan selalu melindunginya dengan baik.


Bodohnya ia yang saat itu tidak mengerti alasan Yvier menceritakan itu kepadanya, ia langsung menatap Yvier dengan lekat, bagaimana mungkin ia tidak bisa menyadari hal sekecil itu, dari mata Yvier saja dapat dilihat kalau ia sangat merindukan Ayahnya seperti dirinya, namun ia sama sekali tidak menyadarinya.


Ia menatap Ayahnya untuk memastikan, sementara Zovarein hanya mengangguk yang menandakan kalau ia sama sekali tidak berbohong.


"Kalau begitu Yang Mulia dan Nona, saya pamit terlebih dahulu." Kemudian Yvier berbalik dan berniat untuk membuka pintu ruangan.


Melihat Yvier yang akan pergi, Rurina langsung berdiri dan berlari dengan cepat menuju Yvier dan memeluknya dari belakang, seperti adik kecil yang merasa bersalah ia menangis di punggung Yvier yang membuat Yvier sangat terkejut ketika dipeluk oleh Rurina secara tiba-tiba.


"Nona ada apa? kenapa anda menangis seperti itu?" Yvier pun menoleh sambil menatap Rurina yang sedang menangis dengan kebingungan.


"Kenapa tidak mengatakannya kepada Rurina?" Rurina yang sedang memeluk Yvier bertanya dengan nada kesal, namun ia sama sekali tidak marah.


"Apa yang tidak saya katakan Nona? apakah ada sesuatu yang membuat anda kesal? saya akan menerima hukuman apapun jika saya pernah membuat anda kesal." Ucap Yvier dengan serius.


"Bukan seperti itu dasar bodoh." Rurina mengusap air matanya kemudian menatap Yvier. "Kenapa Kakak tidak mengatakan kepada Rurina kalau dirimu adalah anak Ayah juga!" Bentak Rurina yang membuat Yvier sangat terkejut, dari mana Rurina mengetahuinya? pikir Yvier dengan keras.


Namun sesaat kemudian ia menyadari kalau dihadapannya bukan hanya ada Rurina namun juga ada Zovarein, ia pun mengerti kalau Zovarein lah yang sudah membongkar identitasnya, sehingga ia tidak mempermasalahkan nya, lagi pula sudah belasan ribu tahun ia bersembunyi, bukankah sudah saatnya ia keluar?


Tangannya pun menyentuh kepala Rurina dengan lembut dan mengelusnya. "Maaf, aku tidak pernah mengatakannya." Yvier membalas pelukan Rurina, ia merasa hangat dan nyaman, sudah lama ia tidak merasakan hal tersebut yang membuatnya mengeluarkan air mata.


Perlahan wajahnya yang terlihat dewasa mulai berubah menjadi remaja yang sangat cantik, rambutnya yang hitam menjadi warna putih seperti warna rambut Rurina, matanya yang hitam pun menjadi Semerah darah dengan garis tajam.


Ia menatap Rurina yang berada di pelukannya dengan hangat, sudah lama ia menanti saat-saat seperti ini, namun karena beberapa alasan ia tidak dapat melakukannya.


"Maaf ya..."

__ADS_1


...—To Be Continued—...


__ADS_2