RAJA IBLIS

RAJA IBLIS
Aca Gaios


__ADS_3

"Ibu, aku merindukanmu!" Seorang gadis menghampiri Ameth dan langsung memeluknya dengan hangat, itu adalah pertemuan yang sangat indah, dimana ibu dan anaknya sedang melepas rindu.


"Ibu juga merindukanmu, bagaimana kabarmu, tidak ada masalah yang cukup serius bukan?" Ameth bertanya seusai melepas pelukannya.


"Aku baik-baik saja, dan tidak ada masalah selama aku diluar sana, lagi pula siapa yang berani mengganggu keluarga Gaios?" Gadis itu tertawa kecil.


"Kau ini ya.. padahal Ibu sudah sering mengatakan untuk tidak menyombongkan identitas mu." Ameth menggelengkan kepalanya.


"Hihi, aku bukannya sombong, kenyataannya memang seperti itu bukan? sebelum itu kemana perginya kakak? aku tidak melihat dia disekitar sini." Gadis itu melihat kesekitar.


"Soal itu..." Ameth tampak ragu untuk menjelaskan, raut wajahnya berubah menjadi masam.


"Ibu, beritahu aku apa yang terjadi padanya?" Gadis itu tampak khawatir.


"Dia sudah meninggal beberapa hari yang lalu," Ameth menatap lekat pada putrinya itu.


Sesuai dugaan Ameth, reaksi yang ditunjukkan Gadis itu saat mendengar berita tersebut adalah sebuah kesedihan, ia menangis sambil memeluk Ameth namun tidak mengatakan apapun.


Ameth sendiri tidak tau harus berbuat apa, alasannya karena kedua anak tersebut sebenarnya adalah kakak beradik yang cukup dekat, meskipun bukan saudara kandung mereka tetap memperlakukan satu sama lain seperti saudara kandung itu sendiri.


Mendengar saudaranya telah meninggalkan dirinya, jelas akan membuat dirinya sangat sedih, namun ia sendiri tau apapun yang ia katakan dan lakukan itu tidak akan mengembalikan sang kakak, jadi ia hanya dapat menangis diperlukan Ibunya.


Setelah beberapa menit berlalu, gadis itu akhirnya dapat menenangkan diri.


"I-ibu, kenapa kakak..?"


"Dia melakukan kesalahan, dan karena kesalahannya itu telah memancing amarah dari seseorang yang tidak seharusnya ia singgung, Ibu sudah memperingatinya tapi.. maaf ibu tidak dapat meyakinkan nya." Ameth memeluk putrinya tersebut dengan penuh rasa bersalah.


"I-itu bukan salah Ibu, ibu tidak perlu meminta maaf, jika kakak memang menyinggung orang yang salah, maka kita memang tidak bisa berbuat apa-apa..." Gadis itu menutup matanya.


"Tapi... siapa yang kakak singgung?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Ameth terdiam seribu bahasa, ia ingin megatakannya tapi ia tahu kalau putrinya tidak akan mempercayai hal tersebut.


"Dia..dia menyinggung Yang Mulia Raja Iblis Tirani... Zovarein Thorias!"

__ADS_1


Pernyataan tersebut berhasil membuat sang gadis membuka lebar mulutnya seakan tidak percaya, Ia tahu kalau Raja Iblis Tirani yang sebenarnya bukan Vencer Arsias melainkan Zovarein Thorias, sebab ia mewarisi Darah Leluhur dari Ameth.


Masalahnya bukan hal tersebut, melainkan kehadiran Zovarein itu sendiri yang seharusnya sudah mati, namun ia baru saja mendengar dari Ibunya kalau kakaknya menyinggung sang Raja yang seharusnya sudah meninggal.


"Ibu, Yang Mulia sudah mati, bagaimana ia bisa membunuh kakak?" Gadis itu tampak kebingungan.


"Kau tau sejarah Raja Iblis Tirani yang ibu ceritakan bukan? beliau adalah ahlinya dalam sihir Muasal, Sihir Reikarnasi sendiri sebenarnya bagaikan mainan anak-anak ditangannya, dan beberapa bulan yang lalu, beliau telah bereinkarnasi!" Ameth menjelaskan tentang Zovarein pada putrinya.


"Si-sihir Muasal? kenapa aku baru mengetahui kalau Yang Mulia sebenarnya sangat hebat?" Gadis itu bertanya penuh kebingungan, hingga membuat Ameth menatap aneh kepadanya.


"Apa jangan-jangan kau tidak membaca semua buku yang Ibu berikan?" Ameth menatap curiga, hal tersebut membuat Gadis itu panik.


"I-itu.. bagaimana mengatakannya? um.. aku hanya membaca lima."


"Kau bilang Lima?! Ibu memberimu Seribu lima ratus enam puluh tiga buku dan kau hanya membaca Lima!?" Ameth menatap tajam putrinya itu.


"Ahaha, ibu itu hanya buku sejarah yang tidak terlalu penting, kenapa harus dipermasa..."


"Kenapa harus dipermasalahkan? Apakah putri ibu ini mau mengetahui sesuatu yang sangat luar biasa?" Ameth bertanya sambil tersenyum, tapi senyuman itu bukanlah sesuatu yang baik, dan Gadis itu sangat mengetahuinya.


"Saat ini, Yang Mulia Raja Iblis Tirani Zovarein Thorias, sedang berada didalam kamar tamu Khusus dirumah kita, dan setelah ini kau harus menyapanya."


Perkataan itu berhasil membuat Gadis itu seperti tersambar petir yang sangat kuat, hingga membuat dirinya sama sekali tidak dapat bergerak dan hanya menatap kosong kedepan.


"Aku tidak mau.." Kalimat itu spontan keluar dari mulutnya.


"Tidak ada penolakan bagimu Amelia Gaios, selagi beliau ada disini kau tidak boleh bersikap tidak sopan seperti itu, cukup katakan selamat siang saja apa sulitnya?" Ameth tertawa licik dalam hatinya.


"I-ibu, bisa tidak aku melakukannya setelah membaca beberapa buku lagi?" Amelia memohon, matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis, tapi hal tersebut tidak berlaku bagi Ameth.


"Tidak, kau harus menyapanya setelah ini!" Ucap Ameth menegaskan.


"I-ibu.." Amelia benar-benar menangis.


...----------------...

__ADS_1


"Shin, apa kau bisa merasakan orang itu?" Zovarein bertanya, ini sudah dua jam sejak sekumpulan keluarga Gaios berdesakan memasuki kediaman Utama namun belum berakhir juga.


"Paduka, jika yang anda maksud adalah Aura Membunuh yang lumayan pekat ini, maka hamba dapat merasakannya!" Shin menjawab sembari keluar dari dalam kegelapan.


"Bagus, selidiki orang itu untukku, cari tau siapa dan mengapa ia bisa memiliki Aura Membunuh itu!" Zovarein memberi perintah.


"Baik!" Shin langsung menjadi seberkas cahaya setelah diperintah.


Sesampainya di gerbang masuk, Shin langsung memasuki bayangan seorang penjaga, yang sedang mengurus orang-orang yang berdesakan untuk masuk kedalam kediaman.


Ia terus masuki bayangan lainnya dan yang lainnya hingga akhirnya sampai pada bayangan seseorang dengan Aura membunuh yang cukup pekat.


Iblis pria yang terlihat seperti berumur 46 Tahun itu sangat baik dalam menyembunyikan Aura tersebut hingga orang disekitar tidak menyadarinya, namun berbeda dengan Shin yang dapat melihat Aura merah penuh dengan niat membunuh tersebut dengan jelas.


Shin mengambil sebuah lencana perak yang tergantung jelas dipinggang pria tersebut, setelah melihat identitas pria itu, Shin hanya dapat menggelengkan kepala, kemudian mengembalikan lencana tersebut.


Berdiam diri didalam bayangan pria itu, Shin juga sekalian memeriksa Aura membunuh pria tersebut, saat ia menyentuh aura itu, ia dapat merasakan dengan jelas ada banyak teriakan kesakitan dari ratusan Iblis yang sudah dibunuh pria tersebut.


Yang Shin gunakan adalah sebuah sihir dasar, yang sebenarnya sudah sering dipelajari para bawahan Zovarein 2000 Tahun lalu, sihir ini adalah ciptaan Zovarein sendiri jadi tidak ada yang tau cara menggunakannya selain Zovarein dan bawahannya.


, adalah nama sihir tersebut, dan memiliki kegunaan untuk melihat dan merasakan lebih jauh kedalam Aura seseorang.


Jika itu Aura membunuh maka kau akan melihat berbagai sisa-sisa dari jiwa yang sudah dibunuh oleh orang tersebut, kau juga akan merasakan suara teriakan kesakitan mereka.


Sihir ini juga berlaku untuk Aura lainnya seperti Aura Pertarungan, jika kau melihat kedalam aura tersebut maka kau akan merasakan langsung seberapa jauh pengalaman orang tersebut dalam pertarungan hidup dan mati.


"Dia sebenarnya adalah pembunuh? seorang Tuan Muda dari keluarga cabang? aku penasaran bagaimana ia bisa menutupi identitasnya." Shin kemudian pergi dari bayangan pria tersebut setelah melaksanakan tugasnya.


Beberapa saat kemudian...


"Paduka, saya sudah kembali!" Shin muncul dibelakang Zovarein, yang sedang menatap keluar jendela.


"Bagaimana?" Zovarein bertanya.


"Baik! Dirinya adalah seorang Tuan Muda dari keluarga Gaios Cabang, namanya adalah Aca Gaios, berasal dari keluarga Cabang di Kerajaan Jatuh, dirinya adalah seorang pembunuh veteran dari asosiasi pembunuh dikerajaan tersebut!"

__ADS_1


__ADS_2