
"Hei wanita, siapkan makanan terbaik kalian." Ucap Zovarein dengan santainya seakan kejadian barusan sama sekali tidak terjadi.
Wanita resepsionis tersebut tanpa menjawab hanya mengangguk dengan cepat kemudian berlari ke dapur, ia tidak berani membuat orang yang dapat melempar bandit sejauh satuan kilometer hanya dengan satu ayunan tangan menunggu.
Setelah wanita itu pergi, Zovarein kemudian mengangkat tangan kanannya sejajar dengan kepala mengarah ke dinding yang ia hancurkan, kemudian mengucapkan sesuatu lewat mulutnya dengan sangat pelan.
""
Seketika satu persatu dinding bangunan yang hancur dari paling ujung hingga ke penginapan kembali seperti semula, itu terlihat sangat rapi dan menyatu dengan baik pada bagian yang tidak hancur, seakan bagian yang hancur tersebut sama sekali tidak pernah hancur sebelumnya.
Tidak ada seorangpun yang dapat menyembunyikan keterkejutan mereka terhadap situasi yang mengagumkan tersebut, itu terlihat seperti waktu dimundurkan namun hanya pada bangunan dan bandit yang melesat tadi sama sekali tidak dihitung.
"Yang barusan terlalu menarik perhatian, kalau jalur lesatannya ku kembalikan seperti semula pasti tidak akan ada yang datang kemari." Ucap Zovarein dengan tenang tanpa melihat reaksi orang-orang disekitar.
"Saya akan membereskan sisanya Paduka." Ucap Shin berdiri dari kursinya.
"Ya, jangan lupa untuk memusnahkan semua bukti, serta lenyapkan mayat dan IntiMuasal nya tanpa sisa!" Ujar Zovarein memberi perintah.
"Baik Paduka!" Kemudian Shin menjadi seberkas cahaya dan lenyap dari pandangan semua orang.
Sekali lagi semua orang dikejutkan dengan kejadian tersebut, sementara mereka masih berada didalam keterkejutan, Zovarein sudah memperbaiki seluruh bagian penginapan yang hancur dengan sihirnya termasuk meja yang ia pakai.
"Tu-tuan, makanannya sudah siap.." Wanita resepsionis tersebut datang membawakan makanan dengan tubuh yang gemetaran, sepertinya ia sangat gugup.
"Ya, ambil ini." Ucap Zovarein sambil meletakkan 5 koin emas diatas meja.
"Tu-tu-tu-tu-tuan! Itu sudah kebanyakan, harga satu porsinya hanya sepuluh koin perak, karena anda bersama dengan satu teman anda maka harganya dua puluh koin perak.." Wanita resepsionis tersebut panik.
"Aku bilang ambil tinggal ambil saja, anggap itu sebagai bayaran atas kerusakan bangunan!" Tegas Zovarein hingga membuat wanita tersebut tidak menjawab lagi.
__ADS_1
"Ta-tapi, bukankah Anda sudah memperbaiki bangunannya...." Wanita resepsionis tersebut terdiam, karena Zovarein menatapnya dengan sorot mata tajam.
Karena sudah ditatap dengan mata yang terlihat kesal tersebut, wanita itu langsung pergi dengan lima koin emas tersebut karena tidak ingin membuat penyelamatnya marah.
"Makanannya lumayan juga, meskipun makanan buatan Rurina lebih enak sih, bagaimana kabar mereka berdua yah."
...----------------...
"Yvier, katanya wilayah selatan jadi makmur, para penjahat yang tinggal disana menjadi seperti 2000 Tahun yang lalu, apa kau tau sesuatu tentang hal itu?" Tanya Rurina sambil melihat keluar jendela.
"Tidak, semua informasi tentang hal tersebut sepertinya ditutup rapat oleh seseorang, sudah banyak orang yang saya kirim untuk mencari informasi mengenai itu tapi, tidak satupun yang mendapat petunjuk." Balas Yvier yang berdiri disebelah Rurina.
"Begitu.."
Kemudian ruangan tersebut menjadi hening, sementara mereka berdua terdiam, tidak jauh dari mereka ruang mulai terdistorsi dan membuka sebuah celah. Dari celah tersebut keluar seorang Pemuda berjubah hitam dengan kemeja merah.
"Katanya si Lumut itu akan datang beberapa bulan lagi, apakah kalian tidak akan menyiapkan sebuah penyambutan?" Pemuda tersebut berbicara.
"Sudah-sudah, jadi, apa ada perkembangan dengan pencarian Ayah?" Tanya Elgard.
"Belum ada, aku sudah mencarinya ke setiap sudut di Kekaisaran ini, tapi belum menemukannya sama sekali." Balas Rurina dengan ekspresi sedih.
"Yah, sepertinya kita memang tidak bisa mencari Ayah, mungkin dia sengaja tidak menunjukkan dirinya kepada kita, selain itu kenapa kau cuma mencari Ayah? bagaimana dengan Ibu?" Tanya Elgard.
Saat mendengar hal tersebut Rurina terdiam dengan tatapan kosong, sepertinya ia benar-benar lupa dengan Ibunya. Beberapa saat kemudian air matanya mulai mengalir dan ia menangis.
"Kenapa kau menangis? jangan-jangan kau sama sekali tidak mencari Ibu?" Tanya Elgard sekali lagi.
"Hiks.. Y-ya, aku anak yang buruk, karena yang berganti cuma Ayah dan si Lumut, aku sampai melupakan tentang Ibu, Hiks.."
__ADS_1
"Huh, sudah-sudah jangan menangis, mencari Ayah sepertinya memang mustahil, lebih baik kita menunggu ia menunjukkan dirinya, sebelum itu kita harus menemukan Ibu terlebih dahulu ok?" Ucap Elgard membujuk adiknya.
"Ya, baiklah.." Rurina mengusap air matanya.
"Ngomong-ngomong tiga puluh tahun lalu kakak bertemu dengan Shin, katanya dia juga masih belum bertemu dengan Ayah, apa kau pernah bertemu dengannya?" Tanya Elgard sembari duduk dihadapan Rurina.
"Shin? dia bereinkarnasi? dari mana ia punya kemampuan seperti itu?" Rurina bertanya dengan raut wajah keheranan.
"Yah, Ia berkata Ayah memberikan Artefak Kristal Reinkarnasi kepadanya sebagai hadiah, ia bereinkarnasi lima ratus tahun lalu sebagai Iblis berdarah leluhur, Tuan Muda keluarga Reion di Kekaisaran Zelion, Kerajaan Tiena." Jawab Elgard sambil meminum secangkir teh yang diseduh Yvier.
"Jauh sekali, pasti perjalanannya ke Kekaisaran Neraka penuh dengan rintangan dengan kekuatannya yang belum pulih sepenuhnya." Ujar Rurina.
"Ya, tapi berkat itu kekuatannya juga menjadi lebih berkembang, sekarang ia sudah menguasai seperempat dari kemampuannya yang dulu, tapi tetap saja itu masih lemah, apalagi tujuannya datang kemari adalah untuk mencari Ayah."
"Lemah apanya, kalau dia sudah menguasai seperempat kemampuannya yang dulu, itu berarti dia adalah yang terkuat di Kekaisaran Iblis setelah kita, tidak akan ada masalah yang dapat menghadangnya." Rurina tersenyum kecil.
"Benar juga, aku baru menyadari hal itu, kalau memang tidak akan ada yang menghambatnya, bukankah berarti kita bisa menyerahkan pencarian Ayah kepadanya? mari fokus untuk mencari Ibu." Ujar Elgard menghabiskan seluruh teh yang ada di cangkir.
"Ya, aku akan menyuruh tim pencari kembali malam ini, kakak juga sebaiknya kirim sebagian bawahan kakak untuk mencari Ibu!" Ucap Rurina dengan semangat.
"Nona, Tuan Muda sudah mencari nyonya sejak seribu tahun lalu." Bisik Yvier ke telinga Rurina.
"Be-begitu ya, haha, ahaha..." Wajah Rurina memerah karena malu.
"Kalau begitu aku pergi dulu, masih banyak urusan yang harus aku lakukan di Kekaisaran Iblis, jangan lupa untuk menghajar Si Lumut itu saat ia tiba ok?" Ucap Elgard sambil membuka celah ruang.
"Ya, aku pasti akan membuatnya menjadi Lumut Goreng Gosong!" Rurina membuat Api hitam ditangan kanannya.
"Kau baik sekali yah Rurina." Elgard tertawa kecil.
__ADS_1
"Kalau Aku, pasti akan kubuat dia menjadi Abu tanpa sisa!"
...—To Be Continued—...