RAJA IBLIS

RAJA IBLIS
Tingkah Murid


__ADS_3

"Oh iya Nona, kemana perginya nenek tua itu?" Javely bertanya dengan raut wajah polosnya.


"Ah.. soal itu..." Rurina tersenyum masam, ia tidak menyangka kalau Javely ini terlalu banyak bertanya.


Secara tiba-tiba suhu diruangan tersebut menjadi sangat dingin, tidak ada yang tahu apa yang terjadi selain Elgard dan Rurina yang sudah menjauh dari pusat aura dingin tersebut, yaitu Zeania.


"Aku mau menemui Ibu, sampai jumpa kak." Rurina langsung lenyap dari sana.


"Aku mau jalan-jalan di taman, sampai jumpa kak." Elgard menjadi seberkas cahaya kemudian lenyap dari sana.


Sekarang hanya tersisa Zeania, Javely, Yurina dan Testoraia didalam ruangan Tahta.


"Dinginnya, apa sekarang benua Iblis memasuki musim dingin?" Yurina menggosok kedua tangannya.


"Bodoh, itu masih sebelas tahun lagi, sekarang seharusnya masih musim panas." Testoraia memukul kepala Yurina dengan pelan.


"Kalau begitu aura dingin apa ini?" Javely memunculkan api kecil di tangannya untuk menghangatkan diri, namun belum sampai dua detik api itu langsung padam yang membuat Javely sedikit kesal.


"Nona, apa anda tahu sesuatu tenta-" Javely terdiam, di atas tahta sudah tidak ada Rurina dan Elgard, disana hanya ada Zeania yang sedang tersenyum manis kepada mereka.


"Nona Zeania, apa anda tahu kemana perginya Tuan Muda dan Nona Rurina?" Javely mencoba untuk bertanya, entah kenapa perasaannya berkata untuk tidak mengajak Zeania berbicara saat ini.


"Hm... Tidak tahu." Zeania masih tersenyum manis yang membuat Javely sedikit merinding.


"Hei, apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" Javely berbisik pada kedua temannya.


"Mana ku tahu dasar Idiot, mulutmu selalu saja tidak dapat kau jaga, aku tidak punya waktu untuk mengurusi mu." Yurina berkata dengan acuh.


"Cih, dasar merepotkan." Javely berdecak kesal, ia kembali melirik ke arah Zeania yang masih tersenyum manis ke arah mereka.


"No-nona Zeania..." Javely sedikit gugup.


"Hm.. apa?" Ia bertanya dengan tenang.


"Saya cukup penasaran tapi, apa anda yang membuat suasana dingin ini?" Javely bertanya sambil menggosok tangannya dengan cepat, ia sangat membutuhkan udara hangat saat ini atau ia akan membeku.


"Ya, aku yang membuatnya." Zeania masih tersenyum.


"Kenapa?" Javely bertanya dengan polos.


"Entahlah."

__ADS_1


Javely tersenyum kecut, ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis dihadapannya.


"Kalau begitu boleh saya menanyakan sesuatu?" Javely mencoba keberuntungannya.


"Silahkan."


"Apa anda tahu kemana perginya nenek tua yang selalu bersama..." Javely tidak melanjutkan perkataannya karena melihat senyuman Zeania yang semakin melebar. "Sudah kuduga karena ini sial!" Javely mengutuk nasibnya yang buruk.


"I-ini hanya salah paham nona, jangan terlalu dimasukkan kedalam hati, ahaha." Javely tertawa kecil.


"Kenapa kau berfikir kalau aku salah paham? memangnya apa yang kau lakukan?" Zeania bertanya dengan tenang.


"Tentu saja karena saya mengatakan perihal tentang nenek tua..." Javely terdiam. "Sial, aku terbawa suasana!'"


Seketika udara disana semakin dingin yang membuat kaki mereka membeku, tidak ada jalan lain bagi Javely, ia pun mendorong kedua temannya dengan kuat hingga keluar dari ruangan dengan menabrak pintu dengan keras.


"Jaga diri kalian dengan baik!" Javely tersenyum.


Baik itu Yurina ataupun Testoraia sama sekali tidak mengerti alasan Javely mengatakan hal tersebut sambil mendorong mereka namun, saat mereka melihat ke arah tahta, wajah mereka langsung memucat.


Zeania yang sedang duduk diatas tahta menyeringai lebar sambil menatap dingin ke arah Javely.


"Javely kau harus ikut!" Yurina yang sedang melayang itu menggunakan sihirnya untuk membuat akar tanaman yang terus tumbuh dari tangannya menuju Javely.


"Tidak, Javely!!" Testoraia berteriak.


Bruk!!


Mereka berdua terjatuh dengan keras di lantai, bersamaan dengan itu pintu ruangan Tahta juga tertutup dengan kuat.


Tanpa memperdulikan kondisi mereka sendiri, Yurina dan Testoraia langsung berdiri, dan berusaha untuk membuka pintu ruangan Tahta sekuat tenaga namun...


BOOMMM!!!


Terdengar ledakan yang sangat kuat dari dalam ruangan, pintu besi tersebut langsung terasa sangat dingin sehingga mereka berdua segera melepaskan sentuhan mereka.


"Bagaimana ini?" Yurina bertanya dengan cemas.


"Huh, dia sudah berakhir." Testoraia menghela nafas dengan raut wajah sedih.


"Hei jangan mengatakan hal baik seperti itu! kalau disini ada Guru mungkin aku tidak akan terlalu peduli kalau dia mati tapi, disini tidak ada Guru kau tau?"

__ADS_1


"Tidak, aku sama sekali tidak tahu." Testoraia menjawab dengan acuh.


"Ck! Dasar Idiot yang tak tertolong." Yurina pergi dari sana sambil berlari, untuk mencari Rurina ataupun Elgard, ia tidak tahu kenapa Zeania marah, jadi ia mencari kedua iblis itu untuk mendapatkan jawabannya.


"Cih, seenaknya pulang ke kampung halaman, akan kupukul dia kalau sudah pulang dari sana!" Yurina berdecak kesal.


Selama berjam-jam Yurina mengelilingi Istana Kekaisaran Neraka, namun tidak menemukan Rurina maupun Elgard dimanapun, ia mulai berputus asa sekarang.


"Hei, kau Yurina bukan? apa yang kau lajukan disini?"


Mendengar seseorang memanggilnya Yurina segera menoleh kedepan.


Seorang gadis kecil berambut ungu gelap tengah menatapnya dengan dingin, muncul satu lagi Iblis yang tidak ia kenali, tidak ingin bernasib sama dengan Javely Yurina segera menjaga sikapnya.


"Aku mencari Nona Rurina dan Tuan Muda Elgard, apa kamu tahu dimana mereka?" Yurina bertanya dengan sopan pada gadis kecil tersebut.


"Kenapa kau mencari kedua anak itu disini? apakah otakmu bermasalah?" Gadis kecil itu menatap aneh pada Yurina.


"Memangnya ini dima..." Yurina terdiam, ia tidak tahu bagaimana catanya dirinya bisa sampai kesini tapi, wajahnya langsung memucat.


"I-ini tidak seperti yang kamu pikirkan, aku hanya salah jalan saja, um.. aku hanya salah jalan saja, kalau begitu permisi." Yurina menghadap kebelakang dan berniat kabur tapi.


Tap...


Sebuah tangan hitam menyentuh pundaknya, ia menoleh kebelakang dan melihat kalau gadis itu masih diam ditempatnya.


Kini ia melihat tangan hitam tersebut, mengikuti arah munculnya, ia melihat kalau tangan hitam itu berasal dari bayangannya sendiri.


"Ini..." Yurina tidak bisa berkata-kata.


"Siapa yang mengizinkan mu pergi hm?" Gadis itu menyeringai.


"Sudah aku bilang ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Yurina berusaha untuk kabur, ia benar-benar mengunjungi tempat yang salah saat ini.


"Aku tidak peduli, karena kau sudah berani datang kemari tanpa izin maka alasan itu sudah cukup bagiku untuk memberikan dua puluh atau setidaknya lima puluh cambukan neraka kepadamu." Gadis kecil itu tersenyum jahat, Yurina yang melihat hak tersebut kini hanya dapat mengutuk nasibnya yang sangat buruk.


"Cepat kemari, ini tidak akan sakit sama sekali."


"Tidak, lepaskan aku!" Yurina memberontak, terkena satu cambuk neraka saja sudah sangat menyakitkan, bagaimana jika itu dua puluh atau lima puluh? ia bisa mati seperti Javely!


"Lepaskan aku, aku tidak mau dicambuk!" Yurina berteriak.

__ADS_1


"Salahmu sendiri yang datang ke Penjara Neraka, Hihi!"


...—To Be Continued—...


__ADS_2