RAJA IBLIS

RAJA IBLIS
Pulang


__ADS_3

*Tes..


Setetes air mata jatuh ketanah. Hal tersebut adalah sesuatu yang tidak diduga oleh Zovarein saat mendapatkan kristal tersebut kedalam tubuhnya.


"Kenapa?.."


Suaranya terdengar sangat pelan dan penuh akan kesedihan, Shin yang berada disebelahnya pun terkejut saat menyadari bahwa Tuannya sedang meneteskan air mata, itu bukan sesuatu yang dibuat-buat, ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Zovarein saat ini adalah...


Sangat menyedihkan..


Siapapun akan tahu saat melihat ekspresi itu bahwa ia sedang merasakan kesedihan yang begitu mendalam, Shin sendiri tidak mengatakan apapun, ia hanya menatap kebawah seakan mengetahui apa yang sedang dialami oleh tuannya.


"Sialan, kenapa harus ingatan ini.."


Zovarein terjatuh sampai berlutut. Pemuda itu benar-benar menangis sekarang.


Agar tidak ada seorangpun yang datang, Shin memasang sihir pelindung yang meredam suara disekitar mereka, ia tidak ingin sisi menyedihkan tuannya itu diketahui oleh siapapun kecuali dirinya.


"Ibu.."


...----------------...


...THE TRUE TYRANNICAL DEMON KING...


...----------------...


"Anda sudah merasa baikan?"


"Ya, maaf menunjukkan sisi menyedihkan ku kepadamu."


Zovarein mengusap wajahnya, mata pemuda itu benar-benar merah dan sedikit bengkak sekarang. Iapun segera menyembuhkannya dengan sihir kemudian meminta Shin agar menghapus pelindung tersebut.


"Baik!"


Shin kemudian menjentikkan jarinya dan pelindung transparan disekitar merekapun lenyap.


"Mari kita ke selatan, disana ada Hutan Suci yang aku maksud tadi." Zovarein membersihkan jubahnya yang kotor.


Merekapun kembali bergerak dengan perlahan, tidak ada hal yang perlu membuat mereka bergegas, halangan yang seharusnya menjadi penghambat sebenarnya hanya sebuah lelucon, jika yang seperti itu menjadi masalah utama, maka tidak ada yang perlu mereka khawatirkan lagi saat berada di Hutan Kematian ini.


"Paduka, apakah setelah ini anda akan pergi ke Kerajaan Aizel?" Shin membuka topik pembicaraan.


"Ya, dengan kekuatanku saat ini bukan hal yang sulit untuk mengambil pecahan yang berada disana, kenapa kau menanyakan hal itu?" Zovarein kembali bertanya.


"Itu, saya pikir kedua Iblis itu akan khawatir kepada Paduka."


"Kedua Iblis itu?" Zovarein berfikir.


"Ya, anda masih baru satu bulan terlahir kembali dan sudah pergi selama berbulan-bulan, orang tua manapun pasti akan khawatir meskipun anda memiliki kekuatan yang tidak masuk akal." Jelas Shin.

__ADS_1


"Ah.. kedua Iblis itu yah, sebelum ke Kerajaan Aizel mungkin aku akan pulang ke Utara terlebih dahulu, terima kasih karena sudah mengingatkanku tentang mereka." Zovarein tersenyum kecil.


"Tidak, itu bukan sesuatu yang perlu untuk anda berterima kasih kepada saya." Shin menundukkan kepalanya.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan tanpa ada pembicaraan sama sekali.


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka berdua untuk sampai ke Hutan Suci, tempat itu memiliki luas sekitar puluhan kilometer dan dikelilingi oleh Kubah pelindung yang dipenuhi oleh Energi Suci dari Roh.


"Kau dapat melihatnya?" Zovarein bertanya.


"Apa yang anda maksud?" Shin bertanya kembali.


"Kita sudah sampai, dihadapan kita adalah Hutan Suci."


Shin terdiam, ia sama sekali tidak mengerti apa yang Tuannya maksud karena dihadapannya tidak ada apapun sama sekali kecuali Hutan Kematian yang masih berlanjut seperti tidak ada ujungnya.


"Apa mungkin yang saya lihat ini hanya Ilusi?" Shin bertanya untuk memastikan, biasanya akan terjadi hal seperti itu jika Tuannya dapat melihat sedangkan ia tidak sama sekali.


"Ya, seperti itulah."


Kemudian Zovarein maju beberapa langka dan memajukan tangan kanannya untuk menyentuh sesuatu.


Kubah tersebut bereaksi, tangan Zovarein menembusnya dan pergelangan tangan kanannya dikelilingi sesuatu seperti gelang berwarna putih.


"Ayo masuk, sepertinya kubah yang melindungi tempat ini sama sekali tidak berubah." Zovarein memasuki ku ah tersebut kemudian lenyap seperti ditelan langit.


Shin pun mulai maju beberapa langkah kemudian memajukan tangannya seperti yang dilakukan Zovarein sebelumya, tangannya menembus sesuatu dan ia dapat merasakan Energi yang amat tenang dan beraturan mulai menyelimuti pergelangan tangannya.


Saat ia membuka matanya ia sudah berasa disebuah tempat yang sangat berbeda dengan Hutan Kematian, itu terlihat indah dan asri, udara segar yang dipenuhi energi suci, serta suasana yang sangat menenangkan.


Ia dapat melihat sebuah pohon yang begitu besar yang ukurannya jutaan kali lebih besar dari pohon-pohon disekitarnya, itu adalah pohon kehidupan yang pernah ia baca pada sebuah buku, dan ini kali pertama ia melihatnya.


"Hebat bukan? Pohon terbesar di Planet Tumbuhan pun tidak sebesar yang satu itu." Zovarein mendekat kearah Shin.


"Anda benar, ini pohon terbesar yang pernah saya lihat, meskipun ukurannya masih kalah jauh dari Kastil anda." Shin tertawa kecil.


"Baiklah, dari pada membahas itu, lebih baik kita segera pergi dari sini, lagi pula tujuan kita ke Hutan Kematian hanya untuk mengambil pecahan tadi, kita ke dalam kawasan Hutan Suci ini hanya untuk melihat sekilas saja." Zovarein berbalik badan untuk keluar dari kubah tersebut.


"Dimengerti!"


Kemudian mereka beranjak dari sana dan keluar dari kubah tersebut, seperti sebelumnya yang menyambut mereka diluar hanyalah hutan Kematian yang seperti tidak ada ujungnya.


"Ingin berkunjung ke Kerajaan Destruction dulu?" Zovarein bertanya pada Shin yang berada dibelakangnya.


"Belakangan ini saya sering pergi kesana jadi.."


"Oh begitu, baiklah kita akan langsung ke Kerajaan Neraka," Zovarein menutup matanya. " Ah benar juga, karena aku sudah mendapat ingatan tentang sihir itu jadi.."


""

__ADS_1


*Whush!!


Mereka berdua diselimuti cahaya kebiruan kemudian lenyap dari tempat itu tanpa meninggalkan jejak sekecil apapun.


Di kerajaan Neraka tepatnya dihalaman depan rumah kedua orang tuanya yang sangat biasa, itu benar-benar sama sekali tidak berubah, dinding kayu yang sudah hampir busuk, pagar rumah yang sudah tidak terlalu bagus lagi, sejumlah bunga indah yang ditanam ibunya didepan rumah, dan genteng yang cukup rapuh.


Pemuda itu cukup merindukan tempat ini, apalagi saat mendapatkan ingatan yang sebelumnya, ekspresi wajahnya kini kembali terlihat sedih namun tidak sampai mengeluarkan air mata.


Ia kemudian mendekat dan mengetuk pintu rumah itu untuk pertama kalinya.


*Tokk.. Tokk.. Tokk..


Ia mengetuknya cukup pelan karena takut pintu yang terlihat rapuh itu akan hancur karena tenaganya yang sangat besar.


"Iya, tunggu sebentar!!"


Terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah, itu suara yang terdengar familiar dan membuat suasana hati Zovarein yang sebelumnya cukup buruk menjadi terhibur.


*Cklak!


Pintu rumah itu terbuka dan menampakkan seorang wanita berambut abu-abu yang terlihat seperti berwarna putih dengan mata merah seperti permata, benar. Itu adalah Queliane Void, Ibu Zovarein di reinkarnasinya yang ke-empat ini.


"Aku pulang Ibu." Ucap Zovarein dengan senyum hangat.


"Ibu?.. aku?.." Queliane terlihat bingung, sepertinya wanita ini baru saja bangun dari tidurnya.


"Ibu?" Zovarein memiringkan kepalanya, ia merasa Nostalgia dengan kejadian ini, karena dulu Ibunya juga pernah melakukan hal yang sama saat baru bangun tidur.


Beberapa saat kemudian Queliane mulai sadar, ia menatap Zovarein yang berdiri dihadapannya dengan perasaan campur aduk.


"Zova?" ia berjalan satu langkah kedepan.


Detik berikutnya mata merah wanita itu mengeluarkan air mata dan ia langsung memeluk Zovarein dengan erat, seperti tidak ingin membiarkan pemuda itu pergi dari sisinya lagi.


Meskipun hanya beberapa bulan tetap saja Zovarein baru bersama dengan mereka satu bulan kemudian pergi, itu tidak sama dengan anak-anak lain yang bersama orang tuanya selama dua puluh tahun kemudian pergi.


"Dari mana saja kau dasar anak bodoh!"


Ini adalah pertama kalinya Zovarein mendengar Kalimat seperti itu dari Ibunya, namun bukannya marah ia malah terlihat senang, lagi pula itu juga salahnya karena tidak pulang beberapa bulan terakhir ini.


"Ibu, aku baru saja pulang dan kau tidak ingin menyambut ku?" Zovarein memasang wajah memelas, ia benar-benar ahli dalam melakukan sandiwara disaat seperti ini.


"Siapa yang mau menyambut anak jahat sepertimu hah?" Wanita itu menatap Zovarein dengan lekat, terlihat bahwa ia sebenarnya sangat merindukan pemuda itu.


"Aku pulang Ibu." Zovarein tersenyum hangat.


"Selamat datang kembali, ah bukan itu!"


"Ahahahaha..."

__ADS_1


"Apa yang kau tertawakan?!"


__ADS_2