
*BAMMN!!
?!!
Pintu besar ruangan rapat di Istana Kerajaan Iblis terbuka dengan kasar hingga menghasilkan bunyi kuat, dan mengagetkan semua orang yang berada didalamnya.
*Tap..Tap..Tap..
Suara sebuah langkah kaki menggema dengan nyaring keseluruh ruangan, setiap langkah yang terdengar membuat jantung semua orang berdebar kencang, keringat mulai membasahi tubuh mereka
*Brakk!!
"Selamat siang semuanya, maaf mengundang kalian semua disela kesibukan masing-masing" Ucap Elgard dengan dingin menatap semua orang yang duduk dimeja bundar.
"Ti-tidak masalah Yang Mulia, kesibukan kami tidak dapat dibandingkan dengan perintah dari anda" Seorang pria tua dengan wajah ketakutan, berbicara dengan suara yang terbata-bata dari meja bundar sebelah barat.
"Terserah saja, pembahasan kali ini adalah 'bagaimana cara kita membantai para manusia yang sudah lelah dengan kedamaian mereka' selama ratusan tahun kita memberi mereka kesempatan untuk hidup di planet ini, namun!"
"Apa balasan mereka?" Elgard menatap sinis.
Tidak ada yang menjawab pertanyaannya, semua terhanyut dalam diam dengan wajah pucat.
"Mereka menginginkan perang! mereka sangat antusias untuk menjadi pupuk dimedan pertempuran itu, hanya demi membasahi tanah dengan darah mereka yang merah itu, sepertinya para bangsawan sampah ini sudah kehilangan akal mereka masing-masing, Hahaha!!" Elgard tertawa jahat dengan sorot mata tajam, secara tidak sengaja ia telah membocorkan aura membunuhnya yang mengerikan.
Semua orang yang berada didalam ruangan tersebut langsung menelan ludah dengan kasar, Elgard adalah Raja Iblis serta makhluk terkuat di Delsgade, manusia dapat hidup di planet itu atas pengampunan nya kepada mereka yang telah memulai perang ratusan tahun lalu, namun sampai saat ini belum ada yang mengetahui alasan ia mengampuni mereka.
Mengetahui bahwa ras yang ia ampuni memberontak, tentu ia akan sangat murka, apalagi dengan sifat tanpa ampun yang dimiliki olehnya.
"Yang Mulia, to-tolong tenangkan diri anda!" Komandan sihir berkata dengan sudah payah karena aura membunuh Elgard yang bocor, telah membuat mereka semua sesak nafas.
"Ahh.. maaf, aku tidak sengaja mengeluarkan aura membunuh.. tenang saja aku hanya mencoba terlihat keren tadi ahaha!" Elgard tertawa.
"Mencoba terlihat keren.. anda hampir saja membunuh kami dasar.." Mereka semua mengejek dalam hati.
*Tap..Tap..Tap..
Elgard berjalan menuju kursi kebesarannya sambil berkata "Baiklah, kesampingkan candaan itu terlebih dahulu, para manusia tersebut benar-benar memancing amarahku, apakah ada dari kalian yang ingin meluluhlantakan 'Enam belas Kerajaan pilihan Dewa' yang mereka banggakan itu?" Elgard mulai duduk di kursinya.
Seseorang berpakaian serba hitam berdiri. " Yang Mulia, bukankah lebih baik agar kita menyelidikinya lebih lanjut terlebih dahulu? dari sepenglihatan saya, mereka terlihat seperti dikendalikan oleh sesuatu" Seseorang berpakaian serba hitam itu menyatakan pendapatnya dengan tegas.
"Hooh.. apakah kau tau sesuatu Lian?" Elgard menatapnya dengan penasaran.
"Benar Yang Mulia, beberapa hari lalu saat Kerajaan Monster menyerang Kerajaan Iblis, saya menyusup ke Kerajaan musuh untuk mencari informasi dari alasan penyerangan, pada saat itu para petinggi Istana mereka sedang berbincang-bincang dan saya mendengar beberapa hal yang sangat aneh, mereka mengatakan bahwa beberapa hari sebelum penyerangan, Reigis Raja Kerajaan Monster belakangan ini telah bersikap aneh" Ia menjelaskan.
"Aneh? apa maksudmu?" Elgard bertanya dan mulai tertarik.
Kemudian seorang berpakaian hitam itu menjelaskan bahwa beberapa hari sebelum penyerangan, Raja Monster Regis terlihat seperti dirasuki oleh sesuatu yang membuat perilakunya berbanding terbalik dengan yang biasanya ia perlihatkan
Dahulu ia selalu terlihat tenang dan begitu waspada, tetapi beberapa hari terakhir ini ia terlihat lebih agresif dan sembrono.
Contohnya seperti ia lebih sering berbicara pada Komandan pertama, padahal sebelumnya ia seperti tidak peduli sama sekali dengan Komandan pertama tersebut, malahan seperti tidak pernah memberi perhatian kepadanya.
__ADS_1
Namun dalam beberapa hari terakhir sebelum penyerangan, ia selalu saja mengundang Komandan pertama keruangannya.
Selanjutnya setelah penyerangan terhadap kerajaan Iblis gagal, perilakunya kembali normal dan katanya ia sama sekali tidak mengingat bahwa dirinya pernah memberi perintah seperti menyerang Kerajaan Iblis kepada Komandan Pertama.
"Kemarin juga seseorang dengan pakaian lusuh dan Compang-camping seperti pengemis keluar dari Istana Kerajaan Monster tanpa sepengetahuan para penjaga yang ada disana, ia sepertinya menggunakan jurus penghalang" Lian, Orang berpakaian hitam itu menjelaskan.
"Dan kau berfikir orang yang terlihat seperti pengemis ini yang melakukan semual hal itu?" Elgard bertanya.
"Benar Yang Mulia, karena bagaimanapun tidak mungkin bagi seorang pengemis memiliki energi spiritual yang lumayan besar" Lian menjawab dengan serius.
"Energi spiritual? itu berarti dia adalah seorang Kultivator, sejak awal kupikir dia penyihir karena bisa menggunakan jurus penghalang, ternyata tidak ya.." Elgard menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi maksudmu Raja Edward juga dikendalikan oleh orang yang berpakaian lusuh dan compang-camping ini?" Elgard menatap Lian.
"Itu hanya kesimpulan tanpa bukti yang jelas dari saya Yang Mulia, untuk memastikannya saya perlu memata-matai wilayah manusia juga." Ucap Lian sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau begitu aku harus merepotkan mu sekali lagi untuk urusan ini." Elgard tersenyum kecil.
"Baik!"
"Rudof, jika kau menemukan pergerakan yang mencurigakan di perbatasan, jangan ragu dan langsung hubungi aku dengan telepati, meskipun musuh lebih lemah kita harus tetap waspada!" Elgard menatap dengan sorot mata tajam padanya.
"Akan saya laksanakan!" Balas Rudof menunduk.
"Syliane, aku ingin kau pergi Ke neraka!" Perintah Elgard yang disalah Pahami Maksud oleh Syliane sebagai Bentakan.
Syliane yang sedang menyeruput secangkir teh langsung menyemburkan teh dimulutnya karena sangkin terkejutnya. "Ya-Yang Mulia.. ap-apakah saya melakukan kesalahan?" Ujarnya dengan sedikit gemetaran.
"Ka-kalau begitu, apa yang anda ingin saya lakukan disana?" Syliane bertanya sambil membersihkan teh yang ia sembur.
"Bukan apa-apa hanya tugas sederhana saja, sampaikan pada adikku agar segera datang kemari, ada beberapa hal penting yang harus kuberitahu secara langsung kepadanya" Elgard berkata dengan wajah serius membuat Syliane sedikit bergidik.
"Adik Yang Mulia itu Ratu Kerajaan Neraka bukan? kalau begitu akan saya lakukan dengan senang hati." Ucapnya sedikit bersemangat.
Kemudian bersama Komandan dan para petinggi disana, Elgard membahas strategi yang akan mereka lakukan jika misal Kekaisaran Belfuze benar-benar berniat untuk menyerang Kerajaan Iblis.
"Baiklah, karena semua yang ingin kita bicarakan telah selesai dibahas bersama, maka rapat akan dilanjutkan lagi ketika Lian kembali dari misinya, sekarang bubar!"
...----------------...
...THE STRONGEST DEVIL KING...
...----------------...
(Didalam Ruang Rahasia...)
"Ck, merepotkan juga ya.. tidak kusangka akan menjadi selama ini, waktu tujuh hari sepertinya akan kulalui hanya dengan buku sihir ini." Zovarein berdecak kesal.
Ia terus memulihkan kekuatannya atau lebih tepatnya menunggu kekuatannya pulih, ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa selain membaca buku karena dia sedang berada diruang tertutup tanpa energi alam disekitarnya.
"Setidaknya harus cepat pulih sebanyak 2% agar aku bisa menggunakan sihir waktu" Zovarein bergumam sambil melirik kearah Buku Sihir lusuh yang sedang melayang dihadapannya.
__ADS_1
Dua setengah hari kemudian ia telah memulihkan kekuatannya sebanyak 2% dan saat ini, ia tengah berusaha menggunakan sihir waktu untuk memperlambat aliran waktu diruangan tersebut menjadi 3 hari diruangan tertutup itu sama dengan 1 hari di Luar ruangan.
Tentu dengan begitu memulihkan 10% kekuatannya dalam 5 hari didunia luar dan 15 hari didalam ruangan bukan hal yang tidak mungkin, karena waktu yang tersisa hanya 5 hari didunia luar sebab 2 hari penuh sebelumnya telah ia gunakan untuk memulihkan 2% kekuatannya.
...•°•...
...°•°...
(Sementara itu di Kerajaan Iblis...)
"Kakak!!" Teriak seorang gadis sambil berlari menuju kearah Elgard dan langsung memeluknya.
"Hei, kau sudah berumur 1450 Tahun apakah kau tidak merasa malu dengan tingkah manjamu ini?" Ucap Elgard sambil mengacak-acak rambut adiknya itu.
"Duh, 1450 Tahun itu masih remaja jadi apa salahnya manja sama kakak sendiri yang sudah dewasa?" Sang adik bertanya dengan kedua pipi yang membulat.
"Kakak, besok kita ke bumi yuk untuk melihat Ayah!" Ucap adiknya dengan semangat dan mata berbinar membuat Elgard sedikit ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Adik sebenarnya..."
Kemudian Elgard menjelaskan bahwa para Dewa dari 4Dunua telah menciptakan ulang Bumi dan memusnahkan semua kehidupan diatasnya.
Penjelasan itu membuat sang adik ingin meledak karena marah namun Elgard dengan cepat melanjutkan penjelasannya dan berkata kalau dirinya telah menyelamatkan sang Ayah.
"Dasar Dewa sialan, mereka bertindak seenaknya seperti itu! Kakak apa ada cara agar ingatan Ayah kembali? aku ingin Ayah membantai para Dewa itu seperti di Zaman Mitos!" Sang Adik mendengus kesal.
"Ayah sudah mendapatkan Ingatannya kok.." Ujar Elgard membuat adiknya mengerutkan kening.
"Eh.. kalau begitu dimana Ayah sekarang, apa aku boleh menemuinya? tidak aku harus menemuinya!" Ucap adiknya dengan semangat.
"Tidak kalau itu tidak mungkin karena ayah sedang memulihkan kekuatannya" Balas Elgard membuat adiknya menjadi cemberut.
"Kalau begitu kapan aku bisa bertemu ayah?" Tanya adiknya lagi dengan mata yang berkaca-kaca menatap Elgard.
"Sekitar lima hari lagi karena ayah bilang..."
Elgard menghentikan perkataannya saat melihat adiknya menangis, "Hei kau kenapa?" Elgard bertanya.
"Kakak kejam! padahal aku ingin bertemu ayah kenapa malah mengatakannya padaku sekarang dan bukan lima hari lagi? kalau begini kan aku jadi tidak bisa menemuinya!" Sang adik menggerutu sambil menangis.
"Ehh.. padahal aku mengundangnya kemari karena aku merindukannya " Ucap Elgard dalam hatinya.
"ya ya maafkan kakak karena memanggilmu hari ini bukan 5 hari lagi, tolong berhenti menangis... kakak memanggilmu kesini karena merindukanmu apakah kau tidak merindukan kakakmu ini?" Elgard tersenyum ramah.
"Memangnya Kau itu siapa?" Adiknya bertanya acuh tak acuh.
Sesaat Elgard merasa seperti ditusuk oleh pedang sebanyak ratusan kali hingga badannya sama sekali tidak bergerak, matanya menatap kosong kedepan seperti mengalami syok berat.
"Hihihi.. aku hanya bercanda, aku juga merindukan kakak kok!" Ujar sang adik membuat wajah Elgard kembali cerah seperti baru menerima sebuah anugerah.
"Tapi tetap saja aku lebih Rindu Ayah!"
__ADS_1
. . . . . .