RAJA IBLIS

RAJA IBLIS
Lumut yang Tergantung


__ADS_3

"Rurina, apa yang kau lakukan disana?" Tanya seorang pria padanya.


"Jangan sok akrab denganku dasar sampah, Penipu murahan seperti dirimu sama sekali tidak layak!" Balas Rurina dengan dingin.


"Rurina, kenapa kau sekasar itu pada ayahmu? apakah kau tidak merindukanku?" Tanya pria itu dengan ekspresi sedih, namun dimata Rurina ia merasa bahwa ekspresi itu sangatlah menjijikkan.


"Dewa murahan seperti mu berharap jadi Ayahku? Sadari posisimu dasar makhluk sok suci!" Rurina yang marah melemparkan Tombak kegelapan menuju pria tersebut dengan kuat.


"Jahat sekali yah, padahal aku baru saja pulang dari pekerjaan yang sangat berat dan melelahkan." Ia menghela nafas.


Pria tersebut mengangkat telapak tangannya mengarah pada tombak yang dilempar oleh Rurina, kemudian bersiap untuk melempar sihirnya menuju tombak tersebut.


"Liquefacias et dilatetur cum magia mea," Ucapnya dengan tegas, kemudian sesuatu seperti cairan hijau berkumpul di telapak tangannya dan membentuk sebuah bola hijau sebesar telapak tangan orang dewasa. Bola hijau tersebut melesat menuju tombak itu dan menabraknya dengan kuat, pria itu berfikir tombak tersebut akan meleleh dan tidak mengenainya, namun sesuatu yang mengejutkan terjadi.


Saat bola hijau itu menabrak tombak kegelapan, tombak tersebut sama sekali tidak meleleh dan tetap melesat menuju dirinya meskipun sudah dilapisi oleh racun.


*Sratt!!


Tombak tersebut menembus tubuhnya dan terus melesat hingga ratusan meter dengan darahnya yang berceceran disetiap jalannya.


*Bamm!!


Pria itu menabrak pohon dengan keras begitu juga dengan tombak kegelapan yang menempel kuat di pohon tersebut, sehingga ia juga tergantung di sana dengan darah yang berjatuhan dari perutnya.


Pria tersebut memuntahkan darah, ia sama sekali tidak mengerti kenapa racunnya tidak dapat melelehkan tombak itu padahal racun yang dibuatnya sama sekali tidak lemah, bahkan jika melihat perbedaan kekuatan maka Pria itu jauh lebih kuat dari Rurina 'namun kenapa?' pikirnya dengan keras.


"Cih, kau pikir aku punya Ayah lemah sepertimu? asal kau tahu Ayahku bisa menghancurkan jutaan tombak seperti itu hanya dengan menatapnya, dan kau? bahkan satu tombak saja sudah membuatmu sekarat, sudah saatnya kau menyerah bocah racun, umurku jauh lebih tua darimu dan tidak mungkin anak kecil seperti mu menjadi Ayahku." Kata Rurina dengan acuh kemudian pergi dari sana menuju Ibukota Kerajaan Neraka.

__ADS_1


"Bocah racun katamu! aku itu dewa! dewa yang maha agung dan suci! iblis menjijikkan seperti dirimu sama sekali tidak layak untuk memperlakukanku seperti ini dasar jal4ng! Cepat singkirkan tombak menggelikan ini!" Teriaknya tidak terima ketika ia disebut bocah.


Namun Rurina sama sekali tidak menanggapinya dan terus berjalan menjauh tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.


"Dasar wanita J4lang! Cepat kembali kesini atau kau akan menyesal! Para Dewa di Khayangan tidak akan memaafkan mu jika mereka mengetahui hal ini!" Teriak pria itu dengan marah sambil mencoba melepaskan tombak di perutnya dengan sekuat tenaga.


"Bocah sepertimu ada banyak di Khayangan, bahkan jika mereka kehilangan satu mereka tidak akan memperdulikannya, sadari posisimu makhluk rendahan, Hahaha!" Seorang pemuda secara mendadak muncul disebelah pria tersebut sambil menertawainya.


"Kau! Raja Iblis Elgard! cepat jauhkan tombak ini dariku!" Bentaknya dengan marah.


"Aku menolak, memangnya kau itu siapa hah? berani-beraninya kau memerintahku sambil membentak seperti itu, apa tombak itu masih belum cukup menyiksamu? atau mungkin kau tidak ingin hidup?" Elgard berkata dengan dingin sambil mengarahkan pedangnya pada leher pria tersebut.


"Iblis Sialan!" Pria itu menggeram.


"Tenang saja, kau tidak akan mati ditangan ku ataupun adikku, karena yang pantas untuk membunuhmu adalah Ayahku." Kemudian ia menyarangkan pedangnya dan pergi menuju Ibukota Kerajaan Neraka.


"Kau itu bodoh ya? Kau berlagak jadi Ayah kami disaat kau bahkan tidak mengetahui tentang Ayahku sedikitpun, menjadi bocah yang malas belajar pun ada batasnya." Kemudian Elgard tidak menoleh kebelakang lagi.


...----------------...


"Sudah ke berapa kali ini? bukankah lebih baik kita langsung membunuhnya saja kak?" Tanya Rurina setelah sampai diruangan tahta bersama Elgard.


"Huh, kau itu terlalu tidak sabaran, aku yakin Ayah sedang sibuk sekarang sehingga tidak punya waktu untuk datang kemari, lagi pula bukankah menghempaskan makhluk itu setiap bulan dapat memuaskan kekesalanmu?" Tanya Elgard tertawa kecil.


"Itu lima ratus tahun lalu, sekarang aku sudah bosan dan ingin segera membunuhnya," Kata Rurina sambil mengepalkan tangannya.


"Ya ya, terserahmu saja lalu, sebenarnya aku datang kemari bukan untuk berbasa-basi seperti ini." Ucap Elgard dengan datar.

__ADS_1


"Tentu saja bukan, memangnya kakak pernah datang kemari hanya untuk menemui ku? pasti ada alasannya bukan?" Tanya Rurina menatap Elgard dengan serius.


"Bukan info yang terlalu penting tapi, ini sedikit mirip dengan kasus wilayah selatan Ibukota Kerajaan Neraka, hanya saja ini terjadi di kerajaan lain," Ucap Elgard sambil mengambil sebuah buku kecil di penyimpanan dimensinya, kemudian membuka beberapa halaman. "Kau tau kerajaan Aizel tempat si tua kapak Dezain? menurut rumor Kerajaan Aizel sudah tidak dikuasai bandit lagi dan kembali dikuasai oleh Kartz Axrets secara tiba-tiba."


Perkataan Elgard barusan membuat Rurina sedikit tertarik, bagaimanapun ia sudah lama mencari alasan dibalik berubahnya wilayah selatan secara tiba-tiba, dan sekarang muncul kasus yang cukup mirip.


"Kakak sudah menyelidikinya dengan benar?" Tanya Rurina.


"Meskipun aku sudah mengirim pencari informasi terbaik, bahkan aku sampai bertindak secara langsung, pada akhirnya aku sama sekali tidak menemukan apapun." Elgard menghela nafas.


"Huh, kalau kakak tidak menemukan apapun kenapa malah mengatakan hal ini kepadaku?" Tanya Rurina dengan kesal, ia merasa kakaknya cukup aneh sekarang.


"Kau sama sekali tidak mengerti yah, memangnya siapa orang di Alam Semesta ini yang dapat menyembunyikan suatu hal sampai orang paling teliti sekalipun tidak dapat menemukannya? hanya ada satu kan?" Elgard tersenyum smirk.


"Apa yang kakak mak ... , apa mungkin!?" Rurina menatap Elgard dengan serius dan hanya dibalas dengan anggukan oleh kakaknya itu.


"Kalau begitu aku harus bertanya pada Paman Dezain sekarang!" Rurina ingin segera berlari namun langsung dihentikan oleh Elgard.


"Rurina tenangkan dirimu, kau pikir kenapa Ayah sama sekali tidak mengabari kita huh? pasti ada sesuatu dan kita hanya bisa menunggu, lagi pula sekarang kita sudah tahu keberadaan Ayah, dan hanya tinggal mencari Ibu saja kau mengerti?" Elgard menatap serius adiknya tersebut.


"Tapi ..." Mata Rurina berkaca-kaca.


"Huh, Aku yakin tidak lama lagi dan kau harus bersabar, aku rasa Ayah juga sedang memiliki masalah tertentu, jadi daripada membuat ayah kesulitan bukankah lebih baik kita membantunya dengan mencari Ibu? jika nanti kita bertemu Ayah maka ia tidak akan terbebani ketika kita sudah menemukan Ibu." Ucap Elgard sambil tersenyum.


Melihat kakaknya yang cukup serius Rurina pun mengusap air matanya dan mengangguk.


"Ya"

__ADS_1


...—To Be Continued—...


__ADS_2