RAJA IBLIS

RAJA IBLIS
Javely yang polos


__ADS_3

Selama beberapa Minggu Zovarein berada dihadapan Kristal raksasa tersebut, hingga akhirnya hari ini, ia berhasil menyerap seluruh isinya.


Ia membuka matanya dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. "Akhirnya aku mendapatkannya!" Ia berucap dengan senang.


Dihadapannya kini sudah tidak ada apa-apa lagi, kristal itu sudah terserap kedalam tubuhnya beberapa waktu lalu.


Tanpa mengabari Myro, Zovarein langsung menjadi seberkas cahaya dan lenyap dari tempat itu, kemudian muncul di dalam Istana Kekaisaran Neraka, atau lebih tepatnya didalam kamarnya sendiri.


Tidak ada seorang pun disana, namun Zovarein dapat merasakan aura LayNova yang sebelumnya berada diruangan ini.


Tidak ingin menganggu kegiatan istrinya, Zovarein segera pergi menuju ruang kerjanya yang tak jauh dari kamarnya. Saat ia membuka pintunya, sudah ada Shin yang menunggunya tepat disebelah meja kerja.


"Selamat karena kekuatan anda sudah kembali setengahnya Paduka." Shin berkata dengan hormat, ia tidak dapat menahan senyum karena sangat bahagia melihat kekuatan Tuannya kembali.


"Terima kasih, bagaimana keadaan disaat aku tidak berada disini?" Zovarein bertanya setelah duduk di kursi dengan nyaman.


"Ada beberapa hal, salah satunya kematian dua murid anda yaitu Javely dan Yurina. kedua, ruang Tahta yang menjadi gunung es. ketiga, situasi di istana cukup sibuk karena ulah nona Zeania." Shin berkata sambil membaca buku kecil ditangannya.


"Apa-apaan itu?" Zovarein mengerutkan keningnya, sejak kapan muridnya belajar bertingkah konyol seperti mati? dan putrinya berulah?


"Huh... bawakan mayat kedua iblis itu kemari." Ucap Zovarein dengan malas, baru saja ia kembali setelah menyerap pecahan kekuatannya, situasi di istana sudah sangat kacau.


"Baik."


Shin menepuk tangannya sekali, kemudian beberapa pelayan wanita membuka ruang kerja Zovarein setelah permisi, mereka membawa mayat 2 orang ke sebelah meja kerjanya.


Para pelayan itu membungkuk kemudian pergi dari ruangan tanpa bersuara.


Zovarein melihat ke arah dua tubuh muridnya yang nampak mengerikan, satunya membeku sampai mati, yang satu lagi tersiksa sampai mati, tanpa diberitahu pun ia tahu siapa yang melakukan kedua hal ini, dan karena mereka mengenal dirinya juga kedua orang itu sama sekali tidak ragu membunuh dua muridnya.


"Hanya karena aku bisa menghidupkan bukan berarti kalian bisa membunuh teman atau keluarga sesuka kalian, dasar anak dan istri harus darah." Zovarein menggelengkan kepalanya.


Ia mengarahkan kedua tangannya pada dua mayat itu kemudian berkata. ""


Dari kedua tangannya muncul segumpal daging berwarna hitam, kedua daging tersebut jatuh ke tubuh dua mayat itu, dan menyebar ke segala arah hingga menyelimuti seluruh tubuh mereka.


Beberapa detik kemudian terlihatlah dua iblis wanita yang tertidur tanpa busana dihadapan Zovarein, mereka berdua membuka mata kemudian melihat kesekitar.


"Aku, dimana?" Itu adalah efek samping dari kekuatan hidup dan matinya, yaitu hilang ingatan selama beberapa detik diikuti sakit kepala yang sangat menyakitkan.

__ADS_1


Jika ia memiliki seluruh kekuatannya sekarang, maka efek ini tidak akan terjadi.


"Aaahhhkkk!!"


Mereka berdua berteriak kesakitan, efek sampingnya mulai terasa dan ini akan berlangsung selama beberapa saat, atau lebih tepatnya 10 detik.


Setelah 10 detik berlalu teriakan mereka terhenti dan keduanya menatap ke arah Zovarein dengan kebingungan.


"Guru?" Keduanya berkata dengan lirih.


"Ya, ini aku, sudah puas pulang kampung?" Zovarein bertanya dengan dingin.


"Hanya beberapa jam saja, mana mungkin aku bisa puas Guru.... eh?" Yurina membelalakkan matanya, ia tidak berfikir kalau iblis dihadapannya benar-benar gurunya, ia sempat pikir itu hanya orang yang mirip karena wajahnya sedikit lebih muda.


"Guruu!!"


Javely melompat dari tempatnya berbaring kemudian memeluk Zovarein dengan erat.


"Ada apa denganmu?" Zovarein terheran.


Javely yang ditanya pun mengangkat kepalanya menatap Zovarein kemudian berkata. "Nona baru terlalu kejam, bahkan Nona Rurina tidak sejahat itu kepadaku." Javely mengadu padanya dengan wajah sedih.


"Sudah jelas ia sekejam itu, sifatnya sama persis dengan Ibunya karena ia anak pertama, lagi pula kenapa kau mengeluh pada Ayahnya?" Zovarein mengelus kepala Javely.


"Javely, kemana perginya pakaianmu?" Yurina memiringkan kepalanya.


"Entahlah, tapi aku ada dihadapan Guru dan tidak ada yang melihat, jadi tidak masalah." Ia berkata dengan polos.


"Tidak-tidak, justru itu masalahnya dasar bodoh." Yurina menghela nafas.


"Kapan Guru kembali?"


"Baru saja."


"Kenapa?"


"Entahlah..."


Javely menggembungkan pipinya. "Nona berkata kalau Guru pergi ke suatu tempat, dimana itu?" Javely bertanya.

__ADS_1


"Bukan urusanmu dasar gadis manja." Zovarein mengangkat Javely kemudian mendudukkannya kembali ke sofa.


"Cepat pakai bajumu, kau sudah besar, aku tidak mungkin memakaikan mu baju seperti waktu kau kecil dulu." Zovarein kembali duduk di kursinya. "Yurina, kau juga cepat pakai pakaianmu."


"Baik Guru.... Eh?! sejak kapan aku tanpa busana seperti ini?" Yurina melihat tubuhnya yang tidak tertutupi sama sekali.


"Sejak kau hidup kembali." Jawab Zovarein dengan tenang sambil membaca buku laporan yang dibuat Shin selama seminggu terakhir.


"Benar-benar banyak masalah ya, kau pasti kerepotan Shin." Zovarein tersenyum masam saat melihat lebaran laporan itu.


"Selama saya bisa berguna untuk anda." Ucap Shin dengan hormat.


"Terima kasih, tolong pergi ke Kerajaan Naga Kegelapan dan sampaikan pesanku kepada Myro." Zovarein memberikan sebuah surat dengan segel berbentuk naga kepadanya.


"Sesuai keinginan anda." Shin pun menyatu dengan kegelapan setelah membungkuk dengan hormat.


"Sudah selesai?" Zovarein menoleh pada kedua muridnya, ia mengangguk setelah melihat Yurina yang sudah memakai pakaiannya dengan rapi dan terlihat cantik, sementara saat ia melihat Javely, ia hanya bisa menghela nafas.


"Kau tidak punya pakaian selain itu?" Zovarein bertanya karena saat ini, Javely sama sekali tidak memakai apapun selain pakaian dalam.


"Aku hanya punya ini di penyimpanan dimensi, selebihnya terbakar di rumahku yang dihancurkan oleh seekor King Beast, hehe.." Ia tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa kau berurusan dengan monster merepotkan seperti itu?" Zovarein bertanya dengan bingung.


"Aku mengambil anaknya sewaktu baru lahir, dan ia menganggap ku sebagai ibunya, King Beast itu tidak terima dan menyerang ku saat berada dirumah." Jelasnya singkat.


"Dasar bodoh." Yurina berdecak kesal.


"Selain itu guru, bagaimana bentuk tubuhku sekarang? sangat indah bukan?" Javely bertanya dengan polos, gadis ini benar-benar tidak mengetahui tentang hal semacam itu, jadi ia bertanya tanpa rasa malu.


Sementara wajah Yurina sendiri sudah memerah saat mendengar perkataan Javely.


"Kenapa kau menanyakan hal sevulgar itu kepadaku dasar bodoh." Zovarein mengetuk pelan dahi Javely.


"Memangnya kepada siapa lagi aku harus bertanya?" Javely memiringkan kepalanya.


"Tidak kepada siapapun! pakai ini!" Zovarein berkata dengan sedikit cemas sambil memberikan sebuah gaun merah. 'bagaimana aku harus mengajari murid yang satu ini.' ia bertanya dalam hati.


Javely adalah muridnya yang paling muda, dari semua teman-temannya mungkin hanya dia yang berumur 2322 Tahun sekarang, sementara yang lain berumur diatas 3000 Tahun. Jadi Zovarein sedikit cemas dengan gadis yang satu ini karena dia terlalu polos, selain darah di pertempuran, tidak ada noda lain pada dirinya.

__ADS_1


"Ayo pergi bertemu dengan yang lain."


...—To Be Continued—...


__ADS_2