
Sementara itu ditempat yang berbeda terlihat aotaka dan yang lainnya terkirim ke dalam hutan rimbah yang penuh dengan pepohonan dan tanaman liar
aotaka dan yang lainnya tergeletak ditanah dengan pakaian yang masih terlihat cukup bersih menujukan mereka baru tiba di hutan
sesaat ia terbangun dari pingsannya dan seketika betapa terkejutnya aotaka mengetahui dirinya berada ditempat yang menyeramkan dan penuh suara-suara mengerikan
" ini dimana? " ucap aotaka yang terbangun dan segera berdiri
" loh.. apa yang terjadi padaku.. lalu dimana ini? ayah.. ayah disini kan? " Ucap aotaka yang mencari keberadaan taka
melihat itu aotaka sangat panik dengan keadaannya sekarang dan berteriak histeris sambil menagis mencari taka dengan cara berteriak semampunya
" ayah!... ayah!... Ibu!... mama!..." Teriak aotaka yang berusaha sekuat tenaga
namun sekuat tenaga aotaka memanggil tidak ada seseorang pun yang menjawabnya sesaat aotaka segera membangunkan airi dan yang lainnya
" oi.. airi.. airi.. bangunlah!.." ujar aotaka yang panik ketakutan
" hmm.. loh? onii-chan.. ini dimana? dimana papa? " Ucap airi dengan polosnya menguap sambil menggosok matanya
airi perlahan membuka matanya dan ia dikejutkan dengan pemandangan menyeramkan hutan kematian yang membuat ketakutan dan langsung memeluk aotaka dengan tangan yang bergetar
" onii-chan.. ini dimana?!.. aku takut.. papa.." ucap airi yang merengek ketakutan
" aku juga tidak tahu.. aku sudah beberapa kali mencoba memanggil ayah.. namun tidak ada jawaban.." ucapnya
terlihat mereka berempat masih membawa tas mereka di punggung mereka, aotaka dan airi membangunkan yumina dan rio bersama-sama
setelah itu mereka berdua langsung bangun dan juga sangat terkejut hingga hampir menangis
" aotaka.. apa yang telah terjadi pada kita.. disini sangat gelap?! " ucap yumina bersembunyi dan memeluk aotaka
" apa yang harus kita lakukan sekarang? " Ucap rio yang berkeringat dingin ketakutan dengan kelembaban hutan
" benar!.. apa ada yang membantu senter.. kalau tidak smartpone juga boleh.." ucap aotaka sambil tersenyum pahit
" kalau itu.. tidak ada yang bawa, karena kita kan ke sekolah.." ucap rio mengatakannya dengan rasa kecewa
" begitu.." aotaka
diusianya yang masih sangat muda aotaka dan teman-temannya harus bertahan hidup dihutan yang dijuluki hutan kematian sarang monster-monster kuat
aotaka mencoba mencari sesuatu di tasnya dan hanya ada buku-buku pena dan bekal makanan yang direncanakan akan mereka makan siang
__ADS_1
melihat pena aotaka langsung mengambilnya dan mengeluarkan dari tasnya
aotaka mengunakan kepintaran yang melebihi anak seumuran berencana mengunakan pen yang dapat mengalirkan listrik yang dapat dikontrol daya setrum nya
" hei jika tidak salah.. kita dapat membuat api dari listrik kan? dulu ayah pernah memberitahuku cara membuat api dengan listrik.." ucap aotaka sambil tersenyum riang
" eh? apa itu bisa dilakukan? " Yumina
" kita coba saja!.." ujar aotaka
" pertama rio tolong ambilkan aku 1 dahan pohon kering.." ucap aotaka
" i-iya.."
rio berjalan mengikuti perintah aotaka dan mengambil beberapa dahan ranting pohon dan memberikannya ke aotaka namun seketika
(Ssss!)
terdengar suara mendesis dari kegelapan disebuah semak-semak dan terlihat mata menyeramkan muncul dari baliknya dan suara itu berasal dari sana
aotaka menyetrum dahan itu dengan setrum tinggi sesaat muncul sebuah percikan api dan perlahan membakar dahan itu
sesaat dalam waktu yang bersamaan disaat api telah menyala dibelakang mereka telah berdiri ular besar raksasa tepat di belakang mereka berempat
(Ssss!)
" ha.... u-ular.." ucap mereka berempat perlahan berjalan mundur
" tunggu jangan panik.. 1 2 dan lari!.." ucap aotaka
aotaka menggandeng airi dan yumina secara bersamaan rio tepat berada didepan mereka bertiga mereka berempat berlari dengan sekuat tenaga
seketika ular itu langsung mengejar mereka berempat yang tiba-tiba lari karena panik
" ayah.. " ucap yumina yang menagis
" papa.. aku takut " airi
" bagaimana ini ulat itu terus mengikuti kita.." rio
kecepatan lari mereka tidak dapat mengimbangi kecepatan ular itu ia terus mengejar mereka berempat dan berniat untuk memakannya hidup-hidup
" andai saja kita bisa melawan ular ini?!.." ucap aotaka sambil menegok kebelakang
__ADS_1
dan seketika lari mereka terhenti disebabkan sungai besar didepan mereka sungai besar yang mempunyai arus yang desar membuat mereka berempat menghentikan kakinya
" eh?!.. sungai! bagaimana ini? " yumina
" onii-chan.. papa.. mama.. aku mau pulang.." ujar airi yang merengek
" jika saja tidak ada sungai ini.. ular itu semakin mendekat?!.." ucap rio
" sial.. jika terus seperti ini kita akan mati!.. apa yang harus aku lakukan?!.. jika ada ayah disini pasti ayah dapat mengalahkannya dengan sihir.. " gumam aotaka
" hmm? sihir.. itu dia!.. " ucap aotaka yang mendapat ide
" rio maaf.. bisakah kamu menjaga mereka berdua.. aku akan melakukan sesuatu untuk mengalahkannya " ucap aotaka dengan percaya diri
" eh!!... " ujar mereka bertiga yang terkejut dengan pernyataan aotaka
" itu tidak mungkin!.. mustahil! bagaimana caranya aotaka mengalahkannya? jangan aku mau kamu mati!.." ucap yumina yang mencoba menghentikan langkah aotaka
" onii-chan.." ucap airi yang meneteskan air mata
dengan tersenyum riang aotaka mengelus kepala airi dan mencoba menenangkannya
" hmph.. tenang saja aku segera mengalahkan.. lalu kita akan membawa airi bersama dengan lain ke tempat ayah dan yang lainnya berada oke.. rio sekarang.." ucap aotaka
" hei!!.. ular raksasa kejarlah aku!!..." Teriak aotaka dengan wajah yang ceria
berlari ke arah kanan sungai dan hampir mencapai ujung sungai sedangkan rio menarik mereka berdua dan berlari bersama ke arah yang berlawanan dengan aotaka
aotaka memancing ular itu dengan suara keras dan dengan mudah ular itu termakan umpan aotaka dan mengejarnya
sesaat aotaka telah berada diujung sungai dan telah dikepung oleh ular raksasa itu ular itu dengan cepat mencoba mengigit aotaka, dengan secepat mungkin aotaka melompat dengan cara menurunduk dan ia berhasil menghindari gigitan ular itu
ular itu terpeleset karena tepi sungai yang licin dan ia jatuh kedalam sungai itu yang mengalir deras, ular itu mencoba keluar dari sungai
" ini sudah berakhir ular.. kekuatan penuh! level maksimal.. " ujar aotaka sambil tersenyum dan bernafas lega
(Szzzt! Szzzt!)
aotaka mengaktifkan pen yang dapat mengalirkan listrik dan mengunakan dalam kekuatan maksimal dan sesaat pen itu seperti akan meledakkan listrik yang begitu besar
(Jgeeer!! Szzzt!.. Szzzt!..)
ia melemparkan pen nya kedalam sungai dan seketika dengan kekuatan maksimal pen itu mengalirkan listrik dalam daya berat dan mengalir di sekitar sungai yang membuat daya sengatan menjadi lebih kuat
__ADS_1
ular itu menjerit kesakitan dan mengeluarkan dari mulutnya sesaat air yang telah bercampur dengan listrik berubah menjadi hijau dan ular itu mengapung tidak berdaya dan terbawa arus sungai