
" aku akui impianmu itu hebat. tapi jika kau terus bergantung pada kerajaan ini kau tidak bisa bertambah kuat.. bagaimana apa kau ingin menjadi ke kuat namun pergi meninggalkan kerajaan atau ingin tetap seperti ini " Taka memberi pilihan sulit pada tristan
" tunggu sebentar.. jangan bilang kau ingin tristan nii-sama pergi meninggalkan kerajaan begitu? jika begitu apa untungnya untuk kami.. apa kau ingin menguasai kerajaan ini seorang diri " latifa berbicara dengan berani
Taka yang tersenyum membuat latifa makin kebingungan dan berkeringat
" Menguasai kerajaan ini? aku tidak mempunyai niatan untuk itu aku hanya menjalani takdirku dan aku sendirilah yang berhak menentukan tujuanku dan tidak ada satu orang pun yang bisa berhak menentukannya.. selain diri sendiri " Taka
" maaf bisakah kau memberi aku sedikit waktu sedikit saja untuk menjawabnya " Tristan
" Pikirkanlah ini dengan baik-baik... " Taka
" tapi kalian harus membantuku untuk mengungkap penghianat kerajaan yang sebenarnya.. apa penghianat itu salah satu dari kalian berdua atau yang lainnya " Taka
Tristan menelan ludahnya dan seketika berkeringat dingin " penghianat? apa kau ingin bilang di kerajaan ini ada seorang penghianat " tristan
Taka menatap Tristan dengan tajam dan meratikan gerak-geriknya
" dari ucapanmu itu menandakan kau tidak tahu tentang ini.. hah... ya sudahlah.
tapi kau harus membantuku untuk mencegah penghianat itu melakukan kudeta pada kerajaan ini " Taka
" kuteda!! itu terdengar sangat berbahaya.
apa yang direncanakan oleh penghianat itu melakukan kudeta? " tristan
__ADS_1
" ...emm.. nii-sama bagaimana kita laporkan ini pada kakek bukankah itu lebih aman? " latifa menyakinkan pada tristan
" justru itu lah yang di inginkan oleh penghianat itu. dia menggunakan kesempatan itu untuk melakukan kudeta..
aku sebelumnya memberi tahu pada raja tentang penghianat tapi.. aku tidak memberitahu tentang kudeta.. " taka
tristan mencoba mencerna ucapan taka dan mulai berfikir secara kepala dingin
" Kalau mereka ingin melakukan kudeta tapi apa tujuan mereka sebenarnya? mengambil alih kekuasaan? atau menghancurkan negara ini? " tristan
" aku masih belum menemukan jawabannya.
seseorang penghianat itu adalah kunci untuk melakukan kudeta.. dan penghianat itu hanya digunakan sebagai alat oleh sang dalang kudeta ini.. " Taka
" Kau disana kan? keluarlah jangan kira aku tidak bisa merasakan keberadaanmu! Keluar jika kau tidak ingin mati! " Taka
Orang itu mulai menampakkan dirinya namun orang itu memakai topeng menutupi wajahnya pakaiannya yang putih abu-abu
dengan sigap taka muncul dibelakang pria bertopeng itu dan mengunci pergerakan dengan tangan yang kunci oleh Taka
" katakan padaku! apa kau salah satu dari rekan mereka! " Taka
" sampai matipun aku tidak akan pernah mengatakannya!! Bodoh! " Pria bertopeng
" kalau begitu. Mati!!!!! " Taka dengan tatapan dingin
__ADS_1
*Dump!!!!*
Taka mendorong kepalanya dan membenturkan ke tembok istana Taka melakukannya tapi belas kasih sedikitpun
Hingga menyebabkan topengnya hancur wajah yang bernoda darah
" Cepat katakan!!! " Taka
" kan sudah aku bilang aku tidak akan mengatakan apapun walaupun aku harus mati!! " Pria bertopeng
" kau masih tidak ingin mengatakannya juga? hah.. mau bagaimana lagi aku gunakan itu... " Taka
Taka menciptakan serigala raksasa setinggi 30meter serigala dengan taring tajam dan berbulu hitam dan merah darah
Taka menciptakan serigala itu dari artefak shadow dan membentuknya dengan kekuatan bayangan
" Grrrhh!!! Agrh!!! " serigala
semua orang terkejut dengan munculnya serigala besar itu dan serigala itu tunduk pada taka dan malah menjilat Taka serigala mengerikan itu bertingkah seperti anjing kecil yang sayang pada majikannya
" Dia ini... Sangat besar tapi entah kenapa dia seperti anak anjing yang manis " gumam Taka
" lakukan... " Taka
Serigala itu mendekatkan wajahnya ke pria itu hingga membuatnya sangat ketakutan dengan serigala itu
__ADS_1
serigala itu seperti binatang buas yang ingin memakan mangsanya serigala itu menghendus pria itu.
pria bertopeng itu pingsan ketakutan serigala itu membuat pria bertopeng pingsan ketakutan