
Melihatmu dan mendengar tawamu adalah kebahagian. Bahagia itu akan sempurna apabila akulah alasan kenapa kau tertawa.
****
Rasa takut adalah prasangka untuk melindungi diri dari ketakutan yang mungkin saja terjadi. Seperti sandro yang takluk oleh rasa takut agar hidupnya terbebas dari segala tuduhan dan teror. Seperti aku yang memilih untuk tidak menjadi seperti ipan atau dori yang beresiko akan hidup didalam penjara. Aku tidak ingin masa depanku berakhir disana.
Namun, aku juga tak bisa lepas dari jeratan narkoba. Sekalipun ketakutan itu telah membludak didalam diri, aku tetap menjadi pemakai narkoba yang aktif. Meskipun aku tahu bahwa dunia hitam adalah kenikmatan yang keliru, aku tetap tak sanggup mengalahkan egoisme diriku sendiri. Sudah pernah aku menekan diriku untuk berubah dan berhenti menjadi manusia dalam gelap. Tetapi, seseorang yang kecanduan narkoba butuh waktu dan proses untuk berhenti. Maka dengan itu, untuk para pembaca yang belum pernah mencoba narkoba. Untuk kalian yang masih polos. Jangan pernah berfikir bahwa narkoba adalah tempat pelarian yang tepat untuk semua salah. Karna itu hanya pengalingan untuk jurang kesesatan. Logikanya, kau hanya akan menambah masalah. Menjadi buronan polisi dengan kasus mengkhianati negara.
Jangan. Jika kau tidak ingin ditembak mati. Hahaha tentu aku tak mungkin ditembak mati. Aku hanya ibaratkan anak tikus didalam ruang hitam. Tidak usah berprasangka berlebihan. Super paranoid.
Aku pamit setelah menghabiskan sepiring nasi goreng kecap buatan ibu. Ibu berpesan kalau dia siang ini akan keladang dan akan pulang menjelang malam. Ibu menunjukkan letak kunci rumah nanti kalau aku pukang. Seperti biasa ibu meletakkan kunci dibawah alas kaki. Aku melaju motorku dengan pelan setelah ibu tersenyum bangga.
Tidak peduli sudah lewat jam masuk. Udara dingin memaksaku untuk melaju sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Tidak ada pelajaran setelah ujian. Aku tidak dikejar deadline untuk sampai disekolah.
Kantin tek rida ramai pagi ini. Kedatanganku tak menghilangkan bunyi ribut banyak suara. Nando menunjukku dari ruang belakang. Anak kelas sebelas dan beberapa orang anak man mendominasi ruang depan. Sedangkan bangku belakang diduduki ketiga sahabatku yang ditemani doris dan nofri.
Aldi dan ijep segera menoleh. Aldi berbisik sesuatu kepada doris. Aku memesan rokok dan teh hangat. Tek rida mengeluarkan sebungkus rokok dalam kantong ajaibnya. Aku mengambil satu batang dan berjalan keruang belakang. Diruang depan, dikiri dan kanan ribut suara obrolan dan tawa.
"Dik. Buk mutia mencari?" Guraun aldi sebagai ucapan selamat pagi.
Ketiga sahabatku tertawa. Aku juga menahan tawa mendengar ledekan mereka. Zico dan aldi tertawa heran menatapku.
"Iya dik, tadi buk mutia nanya in loh" Doris bersuara.
"Ya, biarlah" Sahutku bergurau. Mematikan karakter mereka dengan sedikit sombong. Nando dan ijep tertawa. Diruang belakang juga ada diki ikut bergabung. Diki berbisik kepada zico.
"Kabarnya utaran selfie dengan buk mutia iya" Ucap doris.
Teman-temanku seketika tertawa. Aku merasa jengkel dengan ledekan mereka. Tapi bagaimana aku bisa marah? Mereka hanya sedang bercanda. Lagipula aku juga yang memposting photoku dengan mutia. Jangan katakan cinta, jika tidak berani untuk mendekati. Captionnya adalah status twitter mutia sebelum jadian denganku.
"Guru muda pacar..."
"Entah apa" Keluhku memotong pembicaraan aldi.
Tertawa mulai pecah. Aldi yang paling terkekeh. Zico dan arga juga tertawa.
"Semalam dori kerumah gua" Ujar zico
"Siapa?" Tanyaku lebih jelas.
"Dori semalam kerumah gua" Ucap zico
"Oohh" Sahutku. Zico adalah warga padang sibusuk asli. Aku sudah mengenal zico semenjak aku kelas sepuluh. Pria bertubuh putih tinggi itu lulusan SMP tiga.
"Lu tau gak dia ngapain" Tanya zico.
Aku hanya diam. Aku tidak ingin mendengar apa yang dikatakan zico. Orang-orang diruang depan masih gemuruh dengan tawa dan obrolan yang melantun. Suasana diruang belakang hening sejenak.
"Gila. Dia numpang menyabu dikamar gua" Ucap zico menggeleng
Aku hanya tertawa kecil. Zico tertawa mengingat keheranannya terhadap dori. Aldi dan doris menatapku. Mungkin mereka bertanya tentang maksud zico.
"Untung gak ada ayah sama ibu gua" Ucap zico
Aku hanya mengangguk dengan tertawa kecil. Aku berharap obrolan tentang dori segera berlalu. Dan aku tidak heran lagi dengan dori. Itu adalah bagian dari strategi pemasaran. Bisa saja nanti zico mencoba dan kecanduan. Lalu menjadi passien tetap dori.
"Dori sama bok yan----Rian Admanegara" Ucap zico "Lu seharian sama dia kan" tuduh zico.
Aku menggeleng melengah. Masa bodo dengan siapa dori. Aku tidak ingin mendengar lebih jauh tentang zico. Namaku masih baik dilingkungan teman-temanku. Hanya nando yang tahu tentang identitasku sebagai manusia dalam gelap.
"Dori sendiri yang bilang"
Aku tidak bisa lagi membantah. Aku menghisap asap rokokku.
"Siang iya" Ungkapku.
Zico mengangguk. Doris dan aldi masih tertawa.
"Kalau dia gak percaya coba deh lu liattin dor" Tunjuk aldi.
Doris mennggapai blackberrynya disaku seragamnya. Aku tertawa menggeleng. Aku lebih baik diledek sahabatku ketimbang berbicara dengan zico. Tapi aku paham zico tidak bermaksud untuk membuatku jengkel.
"Kata dori dia hanyalah wayangmu. Kau lah dalang yang menggerakkannya" Ungkap zico.
Sial. Apa maksud zico? Doris memperlihatkan hp nya tepat diwajahku. Aku melihat jelas chat dengan mutia heriyenti.
Dori juga banyak chat dengan mutia. Doris juga punya chat histori yang panjang. Dan dori terkejut ketika melihat namaku distatus mutia.
"Kanai tikung" Ucap aldi tertawa.
__ADS_1
"Kalah ditikungan terkhir" Ucap doris.
Kantin belakang penuh dengan tawa. Aku hanya tertawa kecil. Zico dan diki beralih masuk kedalam lingkungan sekolah. Suara guru sudah mulai terdengar melantun dari lapangan. Murid mungkin sedang berbaris dilapangan.
Mutia hari ini datang kesekolah. Tadi pagi, melalui pesan BBM. Ucapan selamat pagi menyambut dengan harapan sampai ketemu disekolah. Aku semakin dekat dengan mutia. Mungkin karna aku juga mencintai mutia. Aku sangat merasa hari-hariku bahagia. Telponan semalam masih menjadi keanehan didalam benak pagi ini. Semalam mutia bercerita tentang ade. Mantannya yang masih mengejar-ngejarnya. Dia tetap bercerita panjang. Walaupun dia bertanya aku tidak apa-apa? Tapi aku berkata yakin bahwa aku tidak apa-apa. Itu masa lalunya, seharusnya menjadi miliknya. Begitupun masa laluku. Sakit membuatku penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Sampai aku merasakan hatiku ditusuk jarum ketika mutia bercerita tentang ciumman pertamanya. Jarum itu berdarah cemburu pada masa lalu yang masih mengejar-ngejar mutia. Meskipun tidak pernah lagi dihiraukan mutia sebab sudah seringkali dikecewakan. Tapi tetap saja, aku merasa tidak aman dengan kehadiran seseorang yang tidak mau menjadi masa lalunya itu.
Mutia juga bilang bahwa orangtuanya belum memberi izin mutia untuk pacaran. Itulah kenapa aku mengantarnya rabu lalu tidak sampai depan rumah. Hanya sampai depan sd 05. Ayah mutia yang paling melarang. Ayahnya sangat sensitif jika ada teman cowok datang menemui mutia. Katanya mutia harus wisuda dulu. Ayahnya tidak ingin kuliah mutia berantakan hanya karna percintaan.
"Ditikung sama dikan ya doris" Ujar nando.
Mereka tertawa. Doris menggeleng " Gebetan nanya pacarnya" Cetus doris berjalan kedepan. Tertawa semakin meledak. Zico dan diki juga tertawa.
"Sakit ya pasti" tanya aldi.
"Jangan ditanya lagi. Bayangin saja hati ibaratkan ditusuk ribuan jarum" Gurau doris "Yuk lah pri" Doris mengajak nofri.
"Dihhhh. Tapi hatinya ngak patahkan?"
"Enggaklah" Sahutnya "Masih ada buk sintya" Guraunnya serambi berjalan.
"Yok lah pergi main volly kita kebawa lagi" Ajak nofri.
"Apa-apa aja clasmeeting" Tanyaku.
"Vollyy dan basket"
"Kata siapa?" Tanya aldi.
"Joko tadi bilang" Sahut nofri. "Lomba futsal ngak diadain lagi" Keluh nofri.
"Iya. Futsal diganti sama bola daster" Jelas aldi.
"Besok ya mulainya" Tanya nofri "Besok bola daster sama perang bantal" Nofri berdiri dari duduknya. "Ya gua duluan dik, di, jep, ndo" Pamit nofri.
Aku mengangguk. Suasana hening sejenak.
"Wieh perang bantal. Seru besok tuh" Antusias aldi memecah keheningan dengan tawa.
Obrolan terus membahas tentang classmeeting. Beberapa menit kemudian penghuni kantin mulai meninggalkan kantin. Aku dan ketiga teman sekelasku berjalan kedalam lingkungan sekolah. Murid-murid masih berkeliaran didepan kelas mereka. Anggota osis terlihat sedang menepikan perkakas sebelum memulai lomba dilapangan basket. Didepan labor, seseorang memanggilku namaku.
"Banggg dikaan"
"Abang sampai lupa kalau jaket abang sama nisa" Ucapku menghampiri.
Annisa memberikan jaket itu kepadaku "Sudah nisa cuci itu" Katanya.
Aku mencium jaketku. Pewangi parfum paris tercium. Harum "Kok masih bau" Gurauku.
"Hidung abang yang bermasalah kali" Sahut nisa tertawa. "Nih catatan pkn abg sudah siap" Katanya memberikan buku bersampul coklat.
"Makasih ya" Ucapku tersenyum. Tugas mencatat pelajaran PKN ku sudah siap berkat nisa. Dibarisan kelas sebelas, Mutia sedang berdiri disamping tiang, dia melihat kearahku. Aku tersenyum melihat mutia yang sepertinya sengaja mematai-mataiku dari jauh. Annisa pun melihat ke arah mutia.
"Yaudah bang. Nisa pamit dulu?" Pamit nisa.
"Lah kok buru-buru?"
"Nanti buk mutia cemburu" Kata annisa dengan bibirnya menahan tawa.
Aku juga tertawa. Mutia melenggahkan pandangan ketika dia tahu aku sedang melihat kearahnya. Aku tersenyum sekali lagi.
"Sejak kapan abang jadian sama buk mutia" Tanya nisa sedang berjalan.
"Sebulan setelah putus dengan nisa" Jawabku.
Nisa mengangguk dan berjalan kembali kelokalnya. Dibawah. Mutia terlihat menunjuk-nunjuk murid kelas sebelas ips satu. Sesekali dia melihat kearahku. Aku bisa sekali mencium bahwa mutia sedang menahan amarah. Tapi aku senang melihat tingkahnya. Lagipula aku hanya tidak ada apa-apa dengan annisa.
Aku berjalan kedalam lokalku dan meletakkan tasku diatas mejaku. Didalam lokal, dua sejoli dan aldi sedang berdebat dengan lola perihal remedi. Semua orang yang menyaksikan perdebatan mereka akan merasa terhibur karna celoteh mereka. Lola adalah ratu alay disekolah. Siapa saja yang berdebat dengannya akan merasa kesal. Aku berjalan keluar kelas. Nando mengikutiku. Kami duduk ditangga depan kelas ips.
Dilapangan, joko sebagai ketua osis membuka acara clasmeeting dengan kata-kata salam. Lomba basket dimulai dengan mempertemukan kelas sepuluh dua melawan sepuluh satu. Dan pertandingan bola volly mempertemukan kelas dua belas IPA satu melawan kelas dua belas IPS satu(Kelasku).
Teman-teman sekelasku berlari menuju lapangan. Doris berlari dari kejaran lola. Lola mengumpat kesal karna tidak sanggup mengejar kecepat doris. Beberapa orang tertawa mendengar kutukan lola dari depan pintu lokal. Aku berjalan dengan nando menuju lapangan. Aldi, ijep, doris terlihat bersiap-siap dilapangan volly. Permainannya dalam satu tim diisi dengan tiga laki-laki dan tiga perempuan. Sedangkan dalam pertandingan bola basket tiga pria dan dua wanita dalam satu tim.
Aku terus berjalan melewati lapangan volly. Aku ingin menemui mutia. Wanita yang seminggu ini menitipkan rindu sebagai beban didalam benakku.
"Dik, mau kemana?" Tanya nando yang menyimpang dilapangan volly.
"Kantin pak apin" Sahutku terus berjalan.
"Lu ngak ikut dik?" Tanya aldi yang sedang bermain volly.
__ADS_1
"Enggak. Lanjut aja" Jawabku tanpa menoleh.
Disudut barisan lokal sebelas. Mutia terlihat berjalan dikoridor. Aku tersenyum dari kejauhan. Dia memasang wajah masam. Pasti cemburu karna melihat aku dengan annisa tadi.
"Bahagianya abis ketemu mantan" Ujar mutia yang berjalan disampingku
Aku tertawa kecil "Jadi cemburu nih" tanyaku
"Enggaklah. Ngapain juga aku cemburu" sahutnya tanpa menoleh kearahku. Bagaimana mungkin tidak cemburu dengan wajah masam begitu? Dasar cewek. Apa susahnya buat berterus terang.
"Iya, annisa tadi ngembaliin jaket yang kemarin dipinjam" Ujarku "Sekalian sama catatan pkn"
Kantin pak apin lengang. Hanya ada bik surti disana. Dia tersenyum hangat saat kami masuk.
"Aku ngak nanya" Sahut mutia
Aku tertawa melihat kesinisannya. Mutia duduk membelakangi jendela.
"Lontong satu tek" Pesan mutia.
"Aku promosi" Ucapku menggoda dan duduk didepannya
"Ehhh buk mutia. Pesan apa tadi" Tanya bik surti
"Lontong sepiring bik" Ucap mutia
"Dikan enggak?" Tanya bik surti
"Enggak bik. Udah makan tadi dirumah" Jawabku. "Bikinin frenta cola aja bik" Pesanku.
Mutia menatap kearah luar jendela. Dilapangan pertandingan basket akan segera dimulai. Aku memakan gorengan bakwan yang masih hangat. Mutia melengah kearahku. Dia menatapku dingin.
"Kenapa liattin aku terus" Tanyanya
"Enggak. Cuman pengen liattin aja. Kangen soalnya" Sahutku terus mengunyah bakwan.
"Yeh, kangen. Kangennya ngak usah sama aku. Sama annisa aja sana" Ujarnya menatap keluar jendela.
"Kok annisa sih?" Protesku.
"Iyakan kamu baru aja tuh ngelepasin kangen-kangennya" Ujarnya menatapku dengan wajah marah.
"Kan cuman balikin jaket sama tugas aja. Ngak ada apa-apa juga. Kamu ngak boleh gitu donk. Mantan gak harus musuhan kan" Ujarku dengan wajah yang juga marah.
"Ngapain kamu minta tolong dia" tanya mutia dengan ekpresi wajahnya yang dingin.
Aku mendengus. Ayolah. Ini bukanlah hal yang harus menjadi perseoalan. "Aku tuh minta tolong waktu aku masih jadi pacarnya. Udah lama. Dan dia baru ngembaliinnya sekarang. Cuman itu. Gak ada apa-apa" Jelasku.
"Sudah. Sudah. Jangan berantem disini" Ujar bik surti dengan menaruh sepiring lontong didepan mutia.
"Tau nih bik dikan. Gak bisa jaga perasaan orang" Jawabnya mengambil sendok dan garpu.
Keningku berkerut. Bik surti tertawa kecil "Makanya mutia jangan terlalu berharap sama cowok" Ujar bik surti "Kalau terlalu berharap resikonya harus siap dikecewakan" Sambung bik surti.
"Iya bik. Emang semua cowok sama aja" Ujar mutia menatapku dengan tawa yang sengaja ditahan.
Aku menghembuskan napas. Sabar. Wajah mutia yang semulanya masam kini kembali berseri-seri. Aku lebih memilih diam. Dia sedang bercanda. Tapi, bercandanya tidak lucu.
"Bik. Ada ya cowok ngambekkan" Teriak mutia.
"Apa sih" Keluhku.
"Cowok kalau ngambekkan berarti bencong" Jawab bik surti dari pintu rumahnya.
Mutia tertawa senang "Kamu bencong"
"Iya iya aku bencong" Sahutku mengalah "Buruan dimakan lontongnya"
"Kamu ngak makan"
"Suappin ya"
"Sama annisa aja sana" Ujar mutia tertawa lagi.
Aku hanya tertawa kecil. Aku merasakan bahagia melihat mutia tertawa. Lebih jauh lagi. Bahagia itu terasa sempurna jika akulah alasannya tertawa.
Aku dan mutia berbincang-bincang tentang remediku. Dia menyuruhku untuk segera menyelesaikan remediku walaupun hanya tinggal dua pelajaran lagi. Setelah makan. Kami beralih duduk dan menyaksikan lomba dilapangan. Ketiga sahabatku berhasil memenamkan lomba volly dan lanjut kebabak berikutnya. Namun akhirnya lomba volly dimenangkan oleh kelas sebelas ips satu dan lomba basket dimenangkan oleh kelas sepuluh dua.
Siang ini, aku kembali mengantarkan mutia pulang. Tapi sama seperti hari kemarin. Aku tidak mengantarkannya sampai depan rumah. Meskipun alasan mutia tidak boleh pacaran yang kurang masuk akal bagiku. Tapi aku percaya saja bahwa mutia tidak akan membohongiku.
__ADS_1