
Senyumnya bagaikan wahana yang menitipkan kebahagian didalam dadaku
****
Dirabu siang, matahari terik masih terasa sejuk oleh hembusan angin sepoi-sepoi. Daun-daun seakan ikut terbuai oleh hembusan angin. Seperti hati anak lokalku, yang bersuka ria oleh pelajaran bahasa ingris yang nganggur. Sesudah melaksanakan sholat zuhur berjamaah. Aku dan aldi duduk ditangga depan kelas kami.
"Buk febi kemuaro ya?" tanyaku sambil memasang sepatuku.
"Iya, pelatihan guru" Sahut aldi yang menatap anak drumband sedang latihan dilapangan.
Suasana hening sejenak. Aku sibuk memasang kedua sepatuku. Terdengar kehebohan keras dari dalam lokal. Teriakan laki-kaki dan jeritan wanita yang kesakitan berpadu menjadi bunyi nyaring yang beriringan dengan gelak tawa. Siapa lagi kalau bukan lola. Ratu alay yang sering jadi bahan pelampiasan emosi anak cowok. Dan laki-laki itu adalah doris dan nofri. Dua sejoli yang menjadi musuh bubuyutan lola. Kelas semakin heboh dengan suara perdebatan dua sejoli dan lola. Terdengar raungan panjang dari dalam kelas. Lola berlari dengan menjerit ketakutan karna dikejar doris. Lola semakin dekat kearahku, jeritannya semakin memibising ditelinga.
"Mau lari kemana kau belalang semak" Kata doris yang terus mengejar lola.
Lola berlari melompati tiga anak tangga yang menjadi tempat aku dan aldi duduk. Aldi melemparkan sepatunya karna kesal dengan jeritan lola. Begitulah lola, cewek paling lebay yang selalu dibenci oleh para cowok. Anehnya, lola tidak merasa risih dengan kebencian itu. Lola tetap terlihat percaya diri. Lola selalu berani berdebat. Meskipun diakhir perdebatan ia tetap akan kalah dan menjadi bulan-bulanan para cowok. Lola berhenti karna merasakan sakit dipunggungnya karna lemparan aldi. Lola menatap aldi dengan muka masam.
"Matilah kau" Ucap aldi.
"Kau tak tau apa-apa tak usah ikut campur" Sahut lola cerewet.
"Kau ngelawan? kau berani?" Aldi mengancam lola
Lola mengerucutkan bibirnya. Lalu mengambil sepatu aldi yang tadi dilemparkan kepadanya. Lola melemparkan sepatu aldi jauh kelapangan. Aldi yang kesal mulai mengejar lola. Namun, lola selamat sebab lebih dulu sampai dikantor dibandingkan aldi. Dengan berat hati aldi berjalan mengambil sepatunya kelapangan. Lola terlihat puas tertawa didepan kantor.
"Yeyeye bahasa ingris ngangur" Kata nando riang dan duduk disebelahku.
"Tapi digantiin sama buk sintya" Dori menyahuti perkataan nando.
"Kekantin kita tek rida yok ndo" Ajakku.
"Buk sintya mah bukan masalah" Sahut nando tanpa meresponku.
"Buk mutia juga" Ucap doris lalu berbalik masuk kedalam lokal.
"Serius. Buk mutia juga" Tanya nando memastikan.
"Iya kata buk buk sintya" Sahut doris tanpa menoleh kebelakang.
"Dik, kita belajar sama buk mutia" Ucap nando merangkul.
Aku membalas nando dengan tersenyum. Belajar dengan buk mutia adalah hal yang dari dulu kuharapkan. Bahkan aku pernah bertanya kepada buk asmarni. Kenapa kelas tiga tidak belajar sejarah dengan guru PL. Tapi buk asmarni hanya menjawab dengan senyum. Senyum yang tak pernah aku tahu apa artinya. Aku benar-benar merasakan bahagia. Tak terbayang rasanya bisa belajar dengan buk mutia. Guru muda yang paling aku suka. Aku bahkan sudah tidak sabar untuk merasakan itu. Hahaha lihat aku, belum terjadi saja aku sudah merasa bahagia.
Buk det berjalan dari kantor ditemani lola. Lola mendapatkan perlindungan dari buk det. Kami menyapa buk det yang berjalan mengajar dilokal sebelah. Rasa bahagia itu terasa ingin meluap ketika lola memastikan kalau lokalku ada tugas yang dititipkan buk feby melalui buk sintya dan buk mutia.
Aku merasakan bahagia menyelimuti hatiku. Belajar dengan buk mutia adalah hal yang aku impikan. Alasanku sederhana, agar aku bisa punya banyak waktu untuk menatap buk mutia. Dan impian itu akan menjadi nyata.
__ADS_1
Dari arah kantor, kulihat buk mutia dan buk sintya berjalan kearah kami duduk. Buk mutia hari ini berpakain batik abu-abu dengan paduan bintik-bintik merah. Buk mutia bilang itu baju prodi fakultasnya. Buk mutia semakin mempesona ketika ia tersenyum melihatku.
"Masuk kelas kami ibuk?" Tanyaku dengan mata yang tak pernah beralih dari buk mutia.
"Iya, cepetan masuk kelas" Jawab buk sintya. Sedangkan buk mutia tetap memperlihatkan senyumnya.
"Jangan senyum buk" Ujarku meleleh.
"Dikan gak senang ibuk masuk kelas dikan?" Tanya buk mutia mengartikan lain.
"Bukan, malahan bahagia bisa belajar dengan ibuk"
"Alasan. Ibuk balik ajak kekantor" Buk mutia membalikkam badannya.
"Jangan. ayo belajar buk" Tanpa sadar tanganku menarik tangan buk mutia.
Langkah buk mutia tiba-tiba berhenti. Tanganya ditarik paksa agar bisa lepas dari genggamanku. Aku menoleh kearahnya. Buk mutia memandangku dengan tatapan tajam.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Yah masuk lah dikan dulu" Ucapnya tanpa eksperesi.
Aku berjalan kedalam kelas dan duduk dikursiku. Apa yang aku lakukan? Aku memegang tangan buk mutia. Dan buk mutia tidak suka dengan perlakuan seperti itu. Bodoh. Kenapa aku bisa melakukan hal tadi. Aku merasa canggung menatap buk mutia.
"Dikan" Panggil buk mutia.
Aku diam dan tak menyahut. Kepalaku masih terpaku diatas meja.
"Kerjakan dulu tugasnya baru tidur" Sambung buk mutia yang duduk dikursi guru.
Aku mengangkat kepalaku dari atas meja, mengeluarkan buku LKS dan pulpen dari dalam tas ku. Lalu berpura-pura tenggelam dalam tugas yang diberikan. Padahal, pikiranku sedang berlari tanpa tau kemana arahnya.
Alunan musik drumband dilapangan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan suara dari pikiranku sendiri. Aku tak henti-hentinya memaki diriku sendiri dengan sebutan bodoh. Mengapa aku melakukan hal yang seperti tadi. Aku terlalu bahagia bisa belajar dengan buk mutia hingga aku melakukan kesalahan dengan memegang tangannya. Dan, buk mutia tidak suka dengan perlakuan seperti itu.
Aku terus melamun hingga tanpa sadar buk mutia sudah ada didepan mejaku. Buk mutia menyampingiku dengan pandangan mengarah keteman-temanku yang duduk berkelompok. Sejak kapan ia berdiri disitu? Aku bahkan tidak menyadarinya karna aku melamun.
Buk mutia tersenyum sebab melihat tingkah doris dan lola. Yah, alasan yang membuatku jatuh hati kepada buk mutia adalah senyumnya. Senyumnya bagaikan wahana yang menghantarkan aku pada lembah kebahagian. Tak peduli dengan kondisi hatiku sesedih apa. Melihatnya tersenyum ada kebahagian yang memenuhi dadaku.
"Dikan" Panggil buk mutia.
Aku tersentak. Dengan seketika pikiranku menjadi buyar. Sial, aku melamun lagi. Gumanku.
"Kenapa menatap ibuk seperti itu?" Tanya buk mutia tersenyum.
"Oh ini buk, sedang memikirkan arti kata ini apa"----Sedang memikirkan kamu buk.
__ADS_1
"Mana, coba lihat" Ucap buk mutia lalu berjalan kearahku.
Detak jantungku mulai berlari. Hatiku terasa membeku. Ragaku pun terasa dingin. Buk mutia kini berdiri tepat didepan mejaku. Aku merasa seakan duniaku sedang terhenti.
"Congratulations itu artinya ucapan selamat" Jelas buk mutia.
Aku hanya diam. Aku bahkan tidak tau apa yang sedang aku tanyakan. Jujur saja, sedari tadi aku belum ada membaca tugas yang diberikan kepadaku. Tapi aku bisa mengendalikan diriku sendiri.
"Jadi arti pertanyaan ini apa" Aku pura-pura bertanya.
Buk mutia tersenyum lebar. Senyumnya semakin membuatku merasa gerogi.
"Kenapa andre memberi ucapan selamat kepada aldo?" ujar buk mutia menjelaskan.
Aku malah semakin bingung. Selain tidak mengerti sama sekali dengan pelajaran bahasa ingris. Aku juga bingung dengan diriku yang semakin terasa membeku.
"Entahlah, buk" Sahutku pasrah.
Buk mutia malah tersenyum dengan jawaban itu. Buk mutia berjalan untuk berdiri disampingku. Aku merasakan getaran itu semakin kuat. Buk mutia mengajakku berdiskusi untuk menyelesaikan tugas bahasa ingris. Setelah itu, buk mutia berjalan untuk duduk dikursi guru.
Kelas kembali heboh dengan gelak tawa dari tingkah kekonyolan lola yang diledeki oleh doris dan nofri. Sedangkan aku duduk diatas meja dengan pandangan kearah luar jendela. Seribu tanya menyerang dan mulai memberatkan kepalaku. Akal sehatku mulai berdiskusi tentang apa yang kurasakan kepada buk mutia? Aku tahu aku sedang jatuh cinta. Tapi mengapa perasaan itu begitu sulit untuk kukendalikan. Aku seperti kehilangan kontrol diriku sendiri. Aku tahu bahwa buk mutia adalah guru disekolahku. Tapi buk mutia hanyalah mahsiswa yang praktek dan belum menjadi guru. Disatu sisi, aku ingin mengungkapkan apa yang kurasakan kepada buk mutia. Tapi disisi lain, aku merasa enggan karna kelancanganku yang jatuh cinta pada buk mutia. Entahlah, aku sendiri tidak mengerti dengan ini semua. Namun, semesta seakan menjawab pertanyaanku. Aku jatuh cinta secepat awan menelusuri langit biru. Cinta telah membuai bagaikan angin kencang yang mendamaikan. Terasa sejuk hingga aku tak ingin berdiri dan beralih.
"Dikan" Teriak buk mutia.
Aku terkejut dan menoleh kearah buk mutia. Semua mata mengarah kearahku.
"Jangan duduk diatas meja" Teriak buk mutia lagi.
Aku merasa dongkol karna buk mutia berteriak. Suasana hening sejenak. Buk mutia menatapku dengan wajah kesal. Aku tidak suka dibentak-bentak.
"Saya paling tidak suka dibentak-bentak. Saya juga tidak suka diatur-atur" Ucapku serambi turun dari atas meja dan duduk dikursi.
Buk mutia hanya diam dengan raut wajah yang tidak menyangka. Biar saja. Toh, aku juga kesal dengan caranya memperingatiku dengan berteriak-teriak. Apa salahnya dia ngomong baik-baik?
Buk mutia berjalan keluar dan berdiri didekat tiang didepan pintu kelas. Buk mutia kelihatannya kecewa. Buk mutia berdiri disana sampai pulang. Aku merasa bersalah dengan apa yang aku katakan padanya tadi.
Buk sintya berjalan untuk mengumpulkan tugas yang selesai kami kerjakan. Bel sekolah yang seperti tangis bayi berbunyi tiga kali. Itu berarti jam pulang telah tiba.
Buk mutia masih tersenyum ketika aku akan menyalami tangannya sebelum pulang. Dia menahan tanganku setelah salam.
"Maafkan ibuk soal tadi" Ujarnya
Aku mengangguk tersenyum. "Maakan dikan juga ya buk"---Maafkan juga aku yang jatuh cinta
Aku pulang dengan perasaan yang bahagia.
__ADS_1