Ruang Hitam

Ruang Hitam
Luka masa silam


__ADS_3

Air mata tak selalu jatuh keluar dan mengalir dipipi. Kadang, air mata juga jatuh kedalam dan menetes didasar hati.


****


Seseorang yang jatuh cinta adalah korban. Seseorang yang dicintainya adalah tersangka. Korban dan tersangka adalah pameran dari kisah asmara setiap orang. Tidak perlu mengukur usia. Adakalanya dihadapan cinta kita serupa dahan daun yang bergoyang ketika dihembus angin. Tak pernah seimbang.


Memendam atau mengungkapkan adalah dua pilihan ketika seseorang mempunyai perasaan cinta. Memendam perasaan cinta memang akan terasa menyakitkan. Namun mengungkapkan juga akan menyakitkan jika seandainya perasaan itu tak terbalas. Dan aku memilih untuk memendam agar aku tetap bisa dekat dengan sang pujaan hati.


Buk mutia mengetahui semua tentang fiona dari catatan kecil yang kutulis dua tahun yang lalu. Saat itu aku melampiaskan luka melalui pena yang menjadi jeritan suara hati. Luka itu lahir dari hati yang kembali patah ketika fiona menceritakan kebahagian dan pacar barunya. Dadaku terasa sesak dengan kesedihan menghimpit yang hanya bisa kusembunyikan. Tidak ada yang tahu tentang luka yang ku rahasiakan itu. Hingga aku bisa bangkit dari jurang nestapa dan menerima kenyataan bahwa cinta memang tidak harus memiliki.


Entah ini sebuah takdir Tuhan atau hanya sekedar kebetulan semata. Buk mutia memperlihatkan luka yang kutulis dua tahun lalu melalui photo yang dikirim lewat BBM. Buk mutia menemukan tulisan itu dari meja buk asmarni. Aku baru ingat kalau aku melampiaskan luka itu dihalaman belakang buku catatan sejarah. Buk asamarni yang menunjukkan tulisan itu kepada buk mutia. Dan buk mutia merasa tersentuh membaca tulisan itu. Buk mutia bisa merasakan ketulusan yang sempurna mengalir didalam setiap bait yang kutulis. Hingga luka menjelma keindahan dari perasaan cinta itu sendiri.


Aku terdiam disebelah ranjangku. Malam diluar jendela terlihat cerah walaupun tanpa bintang dan bulan menerangi. Aku membaca berulang-ulang pesan buk mutia. Kesunyian membawa ingatanku kembali menuju waktu-waktu saat aku merasakan cinta dua tahun yang lalu.


Ketika itu aku tengah merasakan dua ketakutan dari jatuh cinta. Dua pilihan yang keduanya membingungkan dan terasa menyesakkan dada. Mengungkapkan atau memendam. Keduanya membawa pikiranku kepada ketakutan yang menjadi resiko. Aku mengutuk hati yang sedang jatuh cinta. Cinta membuatku menjadi serba salah. Disatu sisi, aku ingin menjaga dan memiliki fiona. Tapi disisi lain, aku takut kalau perasaanku akan merusak dan membuat fiona menjauh dariku. Dan akhirnya aku memilih untuk memendam dengan merahasiakan semua kesakitan yang kuterima.


Memang tidak mudah untuk bangkit ketika hati sedang terluka parah. Hari-hari terasa berat untuk dijalani dengan senyum yang begitu palsu. Tapi kepecundangan memaksaku untuk tegar dan berpura-pura seakan semuanya berjalan baik-baik saja. Pelan-pelan tapi pasti, aku akhirnya terbiasa dan menjadi seseorang yang tak pernah larut dalam kecewa ataupun luka. Putus dari kaena, citra, dan riska tidak pernah menjadi masalah yang menumpuk sebagai beban dalam kehidupan. Aku menjadi paham bahwa cinta dan luka adalah pasangan yang harus diterima ketika kita sedang jatuh cinta.


Blackberryku berbunyi petanda bbm masuk. Lama aku menatap lampu hijau yang berkedap-kedip didalam gelapnya kamar tidurku. Aku sengaja mematikan lampu kamar agar aku bisa tertidur lebih cepat. Tapi ketidakjelasan pikiran sangat liar menuntutku untuk tetap berjaga. Aku membuka pesan masuk yang sudah aku tahu itu dari siapa.


Mutia Heriyenti

__ADS_1


"Fiona itu sahabat dikan? Dia sekolah dimana? Dikan bisa cerita tentang fiona? Ibuk penasaran sekali dengan kisahnya"


Aku menghela napas kasar. Aku menenggelamkan wajah pada bantal. Buk mutia aneh sekali dengan mengungkit-ngungkit cerita masa lalu. Untuk apa buk mutia ingin tahu tentang fiona? Bahkan aku sendiri saja sudah hampir lupa bahwa aku pernah curhat kedalam buku.


Dikan Alendra


"Masa lalu hanya pantas dijadikan pelajaran, bukan untuk dikenang atau kembali diceritakan"


Aku menyalakan musik dengan blackberry. Lagu peterpan yang berjudul bintang disurga mengalun merdu mengisi kesunyian. Liriknya sangat menyentuh sanubari dan terasa cocok dengan perasaanku saat ini. Akupun ikut bernyanyi untuk meluapkan kesakitanku malam ini. Musik ternyata bis mewakili dan memancing perasaan. Namun suatu hari kelak aku akan menjadi tahu bahwa musik adalah haram sebab bisa membuat pendengarnya melakukan zina hati.


Mutia Heriyenti


"Bukan masa lalu namanya, jika hatimu masih bergetar mendengar namannya"


Dikan Alendra


Play musik pada blackberry beralih memutar lagu naff yang berjudul terendap laraku. Lagu yang dua tahun lalu menjadi lagu favoritku. Liriknya yang terdengar menusuk dalam hati bisa menggambarkan diriku yang mencintai fiona. Namun itu sudah dua tahun berlalu. Kini aku mengerti bahwa persahabatanku dengan fiona lebih berarti dari pada rasa perasaan cinta.


Mutia Heriyenti


"Benar sekali apa yang kamu katakan. Tapi ibuk cuman ingin bertanya kenapa kamu lebih suka menjadi pengecut? Apa kebahagian yang akan didapat dari seorang pengecut. Kebahagian karna memendam rasa? Omong kosong"

__ADS_1


Aku menelan ludah. Pahit. Buk mutia menyebutku pengecut semenjak sore tadi. Aku merasakan hatiku sakit ketika buk mutia menyebutku pengecut. Apa yang sebenarnya buk mutia inginkan.


Dikan Alendra.


"Ibuk bicara seolah ibuk bisa merasakan menjadi saya. Mau saya pengecut atau tidak itu urusan saya. Saya berhak menjani hidup dengan pilihan saya sendiri"


Aku mambalas pesan buk mutia dengan perasaan kesal. Aku mengambil ganja yang terletak diatas bopet. Aku memutuskan untuk kembali melinting ganja. Aku benar-benar ingin hilang dari semua perasaan duka yang kini menerpaku.


Aku menghisap panjang lintinganku. Lagu new eta yang berjudul tujuh sumpah mengalun untuk mengiringi jalannya kesedihanku. Aku membuka twitter dan melampiaskan sembilu didalam hatiku lewat status. Menulis status ditwitter adalah kebiasaanku ketika sedang galau.


"Kau adalah bayang-bayang gelap yang menyiksa. Racun ditengah manisnya kebahagian"


Aku memasang ScrenShoot status twitter yang kutulis tadi sebagai profil BBM. Aku sengaja melakukan itu untuk menyindir buk mutia. Buk mutia menjadi racun dari manisnya kebahagian yang kurasa dari mencintainya.


Mutia Heriyenti


"Terkadang seseorang lebih dulu mendefinisikan rasa takutnya sebelum mencoba. Seperti kamu, kamu takkan pernah bisa keluar dari kesedihanmu"


Buk mutia telah salah. Aku justru telah lama keluar dari kesediham itu. Keikhlasan yang membantuku untuk keluar dari jurang yang penuh luka. Aku memutuskan untuk tidak lagi membalas pesan buk mutia. Buk mutia tidak akan mengerti dengan perasaanku sebab buk mutia tidak pernah merasakam menjadi diriku


Tekadang menyerah adalah keputusan yang tepat. Seperti apa yang kurasakan terhadap fiona. Untuk apa memaksakan diri untuk menyatakan perasaan jika kita sendiri saja tidak yakin bahwa perasaan itu tidak akan terbalas. Bukankah setiap manusia hidup dengan pikiran dan nuraninya sendiri? Dan tidak akan ada penyeselan bagi seseorang yang telah mengikuti kata hatinya sendiri.

__ADS_1


Hujan mulai turun diluar jendela. Derasnya jatuh memecah kesunyian. Malam ini aku mengerti. Air mata tak selalu jatuh keluar dan mengalir dipipi. Kadang, air mata juga jatuh kedalam dan menetes didasar hati.


__ADS_2