Ruang Hitam

Ruang Hitam
Percerain


__ADS_3

Dunia hanyalah perihal hitam dan putih. Merah dan warna lain ibaratkan warna-warni dunia yang sebagai pelengkap kesempurnaan dunia. Akhir dari kehidupan adalah hitam dan putih. Mati dan hidup, dosa dan neraka.


****


Suatu hari, akan ada cerita yang akan menjadi kenang. Kelak, masa lalu akan menjadi titik henti untuk sejenak mengenang sebuah kisah sebagai arti dalam kehidupan yang pernah dijalani. Entah itu perihal kemenangan dan kekalahan, keindahan ataupun menyakitkan. Namun yang pasti, masa lalu hanyalah kenangan yang menjadi sebuah pelajaran.


Tidak ada hal yang sia-sia didalam hidup ini. Baik dan buruk hidup lahir dari persepsi masing-masing manusia dalam satu kejadian. Atau kebahagian dan kesedihan tercipta dari pola pikir manusia dalam menyikapi sebuah keadaan. Ketahuilah, tidak peduli bahagia ataupun sedih. Waktu akan dengan kejam membuat semua menjadi berlalu. Bahwa masalah adalah sebuah keharusan yang harus dihadapi dalam sebuah kehidupan.


Dengan demikianlah aku hanya berbesar hati menyaksikan ibuk dan bapak saling mengalah dalam sebuah gugatan percerain. Tidak akan ada anak yang bahagia menerima kedua orang tuanya bercerai. Seberapa pun bencinya aku melihat perlakuan bapak terhadap ibu. Percerain mereka tetap saja menjadi kesedihan yang paling mendalam. Namun, aku mencoba untuk mengambil hikmah dengan berpikiran yang positif. Dan bersumpah kedalam diri bahwa aku tidak ingin seperti bapak.

__ADS_1


"Dunia hanyalah permainan yang suatu saat akan hancur dan berakhir. Sikap dan perbuatan kita semasa hidup akan diminta pertanggung jawaban dihari kelak nanti. Dimana surga dan neraka sebagai ganjaran dari dunia yang kita pilih" Kata ibu setelah ia menceritakan kepadaku tentang persidangan yang tidak kuhadiri.


"Ibu tidak bisa memastikan kalau ibu akan masuk surga dan bapakmu akan masuk neraka. Tidak ada manusia yang bisa memastikan seseorang itu masuk surga atau masuk neraka. Kita hanyalah hamba yang bisa berupaya dengan menjalankan perintahNya tanpa bisa menentukan hasil akhir. Dan dunia ini hanyalah sebuah ujian dimana nilai akhirlah yang akan menjadi penentu kita masuk surga atau neraka"


Aku hanya diam dan menyerap nasehat ibu dengan khidmat. Satu hal yang kusadari, aku bukanlah manusia yang suci saat aku lebih suka berdiam diri didalam ruang hitam. Aku manusia yang juga dipenuhi dosa dan hina ketika aku lebih suka menjalani hidup sebagai manusia dalam gelap. Tapi satu hal yang juga kupahami, Akan ada masanya aku untuk berubah dan meninggalkan semua sisi gelap dalam kehidupanku. Setidaknya, aku berusaha untuk menjalankan kewajibanku sebagai hamba dan menjauhi segela larangan-Nya.


Aku mengangguk, mengamini perkataan ibu. Aku terharu bangga dengan kesabaran ibu. Aku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tapi perkataan ibu tentang bapak memang benar.


"Sebenarnya, dunia ini hanyalah tentang hitam dan putih. Layaknya mati dan hidup, dosa dan amal, neraka dan surga. Sedangkan merah, kuning dan warna lain hanya ibaratkan warna-warni yang kadang membuat kita lupa bahwa kehidupannya hanyalah hitam dan putih. Baik dan buruk. Hanya hitam dan putih yang akan kita bawa mati. Hitam adalah kematian itu sendiri, sedangkan putih adalah kain kafan yang menjadi pelindung kita dialam kubur"

__ADS_1


Ibu menatapku tajam. Matanya berkaca-kaca. Aku merasakan hujan tergenang membasahi mataku, siap merayakan ketulusan yang jatuh dari pelupuk mata ibu.


"Untuk itu, percayalah pada ibu. Ibu takkan mengatur bagaimana kau hidup. Terserah kepadamu. Kau sudah besar dan tahu mana yang baik dak buruk untukmu. Ibu hanya bisa mendoakan agar kau dan abangmu" Ujar ibu tertahan. Menggemgam erat jemarinya sendiri. "Bisa pulang dengan selamat. Dan hanya kepada Allah lah tempat terbaik kita


untuk pulang"


Ibu menunduk. Menyembunyikan air yang jatuh tepat didalam genggamannya. Aku memeluk ibu.


"Jangan menangis bu. Kikan akan pulang seperti harapan ibu"

__ADS_1


__ADS_2