
Cinta akan membuatmu tersenyum meskipun kau dikecewakan.
*****
Cahaya mentari menelusuk dicelah-celah gorden sebuah kamar kos. Aku terbangun dari mimpi burukku. Aku mengelap pipiku yang terasa basah. Terlihat bintik hitam diatas bantal. Sial. Ngences lagi. Gumanku.
BlackBerry menunjukan pukul setengah sebelas kurang. Dori masih tertidur disampingku, sedangkan ipan tergeletak di atas sofa. Aku berjalan kekamar mandi untuk membasuk muka. Mabuk berat semalam masih menyisakan kepalaku yang terasa berat.
Aku melihat bekas muntah dilubang wc. Aku menyiramnya hingga hilang. Mungkin ada yang muntah semalam. Mataku terlihat sangat merah didepan kaca. Kepalaku masih berdenyut sakit. Aku merasa segar setelah membasuk muka. Sandi membuka pintu kos dengan menjinjing plastik hitam besar.
"Kau sudah bangun" Ucap sandi dengan meletakkan plastik hitam diatas lantai keramik.
"Kepalaku terasa sakit" Keluhku dan duduk dibibir kasur.
"Tenang, obat kepala masih ada" Ujar sandi dengan melepaskan ganja yang dibungkus dengan selembar kertas kepadaku.
Aku menatap sandi yang berjalan kekamar sandi. Kepalaku akan tambah sakit dengan menghisap ganja. Sandi membuka plastik yang tadi dibawanya setelah keluar dari kamar mandi. Aku masih tertegun dengan kepala yang nyeri. Sandi mengeluarkan sebotol air mineral dan meminumnya.
Sandi membangunkan ipan dan dori untuk makan. Sandi juga membeli nasi bungkus. Bang aziz tidak terlihat, mungkin dia kuliah pagi ini. Kami mulai mengisi perut kami yang kosong. Aku makan dengan lahap sekali. Aku terakhir makan kemarin siang dikantin tek rida.
"Pan, yang kemarin masih ada kan" Tanya sandi sedang makan.
"Ada. Sengaja gua tinggalin" Sahut ipan.
Setelah selesai makan, kami menghisap shabu. Kepala yang tadinya berat dan sakit, kini terasa ringan dan damai. Shabu bisa membuatku pulih dari kesakitan. Kami berbincang-bincang dengan menghisap ganja.
__ADS_1
Satu jam setelah itu. Kami mulai pamit untuk pulang kepada ipan. Kami berpelukan seakan kami tidak akan pernah bertemu lagi. Semua terasa menyedihkan dengan status buronan yang disandang ipan. Namun, kami mengerti bahwa ini semua hanya perlu diterima tanpa harus disesali.
Mobik avanza sandi mulai menjauhkan diri dari hiruk-pikuk kota. Bangunan megah yang modern kini berganti dengan lahan hijau dan pemandangan yang asri. Bukit dan jurang terjang membatasi jalan sitinjau laut. Sekumpulan monyet terlihat sedang bersantai diatas besi pembatas jalan.
"Apa nyet? Cari dori" Ujar sandi keluar jendela.
Aku tertawa terpingkal-pingkal.
"Dor, teman lu tuh" Ucap sandi.
"Ya, ketewain aja gua terus" Ujar dori dengan muka iba.
Aku dan sandi tertawa. Dori cemberut masam.
Kami singgah disebuah panorama dikaki bukit sitinjau. Dari sana kota padang terlihat sangat jelas. Pelabuhan, kapal, dan laut yang luas juga terlihat sangat jelas. Sandi memesan tiga teh es pada etek pemilik kedai. Beberapa orang terlihat berphoto dengan latar belakang panorama yang indah. Kami duduk dikursi dengan pandangan mengarah kearah laut.
"Bagaimana tidak akan hancur padang jika tsunami datang. Lihatlah, padang sejajar sekali dengan laut" Ujar dori
"Iya, lihatlah laut yang begitu luas. Padang akan luluh lantah jika tsunami datang digempa kemaren" Sandi ikut berpendapat.
Aku mengamini ucapan. Kota padang memang berada didataran rendah. Padang pernah diguncang gempa yang meluluh-lantahkan kota dan sekitarnya. Aku masih ingat kejadian itu. Aku berusia sembilan tahun pada september ,2009. Getaran itu terasa kuat ketika itu. Kota padang rata dengan tanah. Ribuan orang tertimbun digedung-gedung bertingkat. Untung saja gempa berkekuatan delapan skala righter itu tidak berpotensi tsunami. Dori dan sandi terus mengobrol tentang kota padang dan tsunami. BlackBerry berdering petanda notifikasi pesan masuk. Aku mengeluarkan Blackberryku dari saku celana dan membacanya.
"Kamu tidak pulang karna takut pada marahnya ibu?" Pesan ibu.
Aku terdiam. Ibu masih peduli meskipun ia sedang marah kepadaku. Sebenarnya aku akan tetap pulang meskipun ibu marah. Aku tetap akan dirumah meskipun ibu akan mengusir seperti beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
"Bukankah ibu akan mengusirku jika aku pulang" Balasku.
Mentari bersembunyi dibalik awan yang mendung. Senja terlihat murung dengan langit yang berwarna abu-abu. Dori dan sandi tertawa disela obrolan mereka.
"Kalau misalkan tsunami pasti pindah ibukota ke bukit tinggi" Ucap sandi.
"Bukit tinggi masih rawan bencana" Bantah dori "Payakumbuah yang jauh dari laut" Ujar dori
"Salah. Ibu kota provinsi akan pindah kedhamasraya" Ucapku.
"Yayaya bisa jadi" Sahut dori terkekeh.
Dori melucu dengan angan-angannya jika kampungnya padang sibusuk menjadi ibukota provinsi. Kami tertawa terbahak-bahak dengan lawakan dori. Pada gempa kemarin, ibu kota provinsi diberitakan akan pindah dengan alasan kota padang terlalu rawan dengan bencana. Namun berita itu hanyalah kabar miring sebab ibu kota tak kunjung dipindahkan. Blackberryku kembali berbunyi disela-sela tawa.
"Tadi pagi annisa menemui ibu dipasar. Dia nanyain kamu sehari ini katanya gak ada kabar. Pulanglah. Ibu tidak pernah ingin mengusirmu" Pesan ibu.
Aku tersenyum. Ibu sudah tidak marah lagi dan mengharapkan aku untuk pulang. Annisa? Aku memang tidak berkomunikasi dengan annisa sejak kemarin. Aku tidak mengangkat telepon dari annisa. Entah mengapa aku merasa bosan dengan annisa.
Kami kembali melanjutkan perjalanan pulang. Kami berniat singgah dan menjenguk noval yang sekarang ditahan dipolres sawahlunto. Mobil avanza sandi melaju cepat dijalanan lintas sumatra. Blackberryku kembali berdering.
"Pulanglah. Ibu merasakan kesepian lebih dari apa yang dirasakan pacarmu. Ibu telah memasak ikan tongkol kesukaanmu untuk nanti malam" Pesan ibu.
Aku terharu. Ibu masih menyayangiku meskipun aku mengecewakannya. Aku ingat tentang pepatah ibu disuatu hari; Perasaan cinta akan membuatmu tersenyum meskipun kau dikecewakan. Mungkin perasaan cinta yang membuat ibu memaafkan kesalahanku.
Kami sampai dipolres sawahlunto. Noval menemui kami dengan memakai baju tahanan. Noval hanya sendiri mendekam dipenjara. Sedangkan bento sudah bebas oleh pengorbanan noval. Bento bisa bebas karna noval memberi pengakuan kalau bento tidak ikut dalam permasalahan ini. Kami pulang setelah berbincang-bincang dengan noval.
__ADS_1