Ruang Hitam

Ruang Hitam
Pria pengecut


__ADS_3

Bisakah kau mengerti perasaanku tanpa harus kukatakan lebih dulu?


****


Enam jam kemudian. Bel pulang sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Aku berjalan dari lokalku dengan selembar kertas UH PKN ditanganku. Aku berjalan serambi mengulang-ngulang hafalan dalam kertas UH.


Didepan kantor. Buk mutia duduk dikursi guru piket. Buk mutia mengangangkat kepalanya dari atas meja. Matanya menatapku tajam.


"Buk" Sapaku tersenyum.


Buk mutia tersenyum "Remedi apa dikan?" Pandangan buk mutia beralih keselembar kertas ditanganku.


"Remedi UH pkn buk" Sahutku melengahkan pandangan. Entah kenapa aku begitu enggan menatap mata buk mutia yang menatapku tajam. Aku berjalan melewatinya.


"Semangat ya UH nya" Ujar buk mutia.


Aku menoleh kebelakang dan tersenyum. Dilokal sepuluh dua. Puluhan siswa yang tidak tuntas dalam pelajaran PKN berkumpul dalam ruangan. Aku duduk menanti menunggu antrian untuk maju menghadap ke buk de. Dari kaca jendela kelas sepuluh dua. Aku melihat buk mutia sedang sibuk dengan gadgetnya. Aku masih merasakan betapa mempesonanya buk mutia meskipun hanya bisa kupandangi dari kejauhan.


Buk mutia meletakkan gadgetnya diatas meja. Tangannya sibuk mencari sesuatu didalam tas. Entah apa yang sedang buk mutia cari. Buk mutia berdiri dan masuk kedalam kantor.


"Ayolah. Siapa lagi. Waktu itu ibu ngak banyak" Ujar buk de.

__ADS_1


Aku mengacungkan tangan. Dan berjalan kearahnya. Buk de mendengus kesal menyadari aku yang duduk diatas meja. Aku menyengir sebelum memulai remedi.


Dengan terbata-bata, aku mengucapkan dengan lisan pertanyaan sekaligus jawaban UH pkn. Soal dan jawaban yang panjang-panjang membuatku sedikit kesulitan untuk mengingat. Tapi buk de mempermudahnya dengan menambah kalimat agar aku bisa melanjutkannya. Disoal yang kesepuluh. Buk de memberikan tanda tangan tuntas dikertas UH ku. Aku tersenyum dan menyalami tangan buk de setelah ia memberikan selembar kertas. Aku melangkah keluar dengan perasaan bangga.


Didepan kantor. Buk mutia tersenyum kepadaku. Aku membalasnya dengan tersenyum.


"Gimana remedinya, tuntas?" Tanya buk mutia.


Aku tersenyum dan memperlihatkan kertas UH yang berisi tanda tangan buk de.


"Hmp, selamat ya" Buk mutia tersenyum.


Aku mengangguk malu. "Pulang dulu buk" Ujarku serambi berjalan.


Aku berjalan keparkiran dengan rasa bahagia. Baru beberapa langkah aku meninggalkan kantor. Didepan labor computer. Buk mutia menghampiriku dengan kertas yang dilipat ditangannya.


"Untuk dikan" Ucapanya dengan memberikan kertas kepadaku. Aku menerima selembar kertas yang dilipat, kertas itu dikunci dengan klip diujungnya "Bacanya setelah sampai dirumah" Kata buk mutia.


"Apa ini" Tanyaku.


"Nanti kamu juga bakalan tahu" Buk mutia tersenyum. Diseperempat kertas yang terlipat itu. Ada tulisan sebagai alamat surat 'Untuk pria pengecut yang menguasai diamku'

__ADS_1


"Boleh dibuka sekarang?" tanyaku.


"Jangan, dirumah aja. Kamu ngak boleh melanggar aturan mainnya" Kata buk mutia.


Aku mengangguk tidak mengerti. "Yaudah, kalau gitu. Dikan pulang dulu, Buk" Pamitku.


Buk mutia tersenyum "Jangan balap-balap ya pulangnya" Ujar buk mutia.


Aku menangguk dan berjalan keparkiran. Diperjalanan pulang. Aku penasaran dengan isi surat yang diberikan buk mutia. 'Untuk pria pengecut yang menguasai diamku' Apa maksudnya.


Sesampai dirumah. Aku membuka pintu rumah yang kosong. Ibu belum pulang dari pasar. Aku lansung masuk kedalam kamar setelah membuka sepatuku. Aku membuka anak klip dengan hati-hati, suratnya begitu panjang memenuhi selembar kertas.


"Untuk pria pengecut" Aku menelan ludah membaca judul tulisan buk mutia.


"Untuk pria pengecut yang menyukaiku, adakah berita yang lebih mengharukan dari pada itu? Ketika hatimu lebih suka memendam daripada jujur dan keluar dari masalah. Benarkah semua itu, Tuan? Luka adalah keindahan lain dari cinta.


"*Untuk pria pengecut yang misterius, adalah kedinginanmu yang membuatku penasaran dengan siapa kamu? Saat aku tahu semua orang memandangmu buruk, aku justru jatuh dalam keindahan setelah aku mengetahui bagaimana kau menjalani hidup. Ketahuilah, Tuan? Aku menyukai setiap luka yang kau ceritakan pada status twittermu.


"Untuk pria pengecut yang kerasa kepala, bilakah masanya kau mengalah pada egomu dan mengatakan yang sebenarnya kepadaku? Karena aku hanyalah perempuan yang seharusnya menunggu. Tapi, ini menyiksa, Tuan? Kau memilih menyerah dan enggan untuk mencoba.


"Untuk pria pengecut yang menguasai diamku, bisakah kau mengetahui perasaanku tanpa harus kukatakan lebih dulu? Namun aku mengerti, Tuan. Semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak berani untuk memulainya. Maka, kuberi satu pertanyaan untuk pria pengecut;

__ADS_1


MAU KAH KAU JADI PACARKU* ?"


Aku menghembus nafas. Air bah terasa menggenang dipelopak mataku. Buk mutia menembakku? Aku terharu sekali membaca suratnya? Aku menatap kalimat terakhir didalam surat itu. Mimpiku seperti menjadi nyata.


__ADS_2