
Seharusnya, sekolah bertujuan agar orang bisa belajar menjadi pintar. Tapi bagi sebagian orang, sekolah itu kelas yang memuakkan dan merawat kebodohan.
****
Matahari mulai naik sepenggalah, aku dan ripo berjalan keluar kantor dengan perasaan marah. Kami berjalan menuju lokal dengan menyumpah buk yana dan buk de.
"Cuman gara-gara remedi, aku harus mengubur mimpiku untuk bisa ikut poprov. Sialan. Kesempatan itu sudah datang. Aku malah tidak bisa mengambilnya" Ripo mengutuk sedih.
__ADS_1
Aku hanya diam dengan menahan geram. Aku dan ripo terpilih masuk tim futsal lansek manih dalam rangka poprov di dhamasraya. Aku terpilih meskipun aku tidak pernah ikut seleksi futsal. Sedangkan ripo pernah ikut satu hari seleksi, tapi namanya tidak disebut sebagai lolos seleksi. Kami bisa masuk dalam daftar tim futsal dalam ajang poprov berkat bang yondra. Namun, bang yondra harus kembali mencoret nama kami sebab sekolah tidak mengizinkan kami untuk pergi dan meninggalkan sekolah dengan jangka satu bulan ajang porprov.
Aku dan ripo boleh saja kesal. Tapi alasan kepala sekolah yang tidak memberikan izin untuk kami pergi juga tidak bisa disalahkan. Hingga bang yondra hanya bisa mengangguk, mengerti tanpa bisa membantah.
"Dikan dan ripo sudah kelas tiga. Waktu mereka hanya tinggal beberapa bulan lagi sebelum ujian nasional. Sementara pelajaran masih banyak yang harus mereka kejar. Saya tidak menyangka, siswa yang hampir saya keluarkan setahun lalu sekarang bisa mengharumkan nama sekolah" Tatap kepala sekola tajam kearahku dan ripo.
"Tapi, mohon maaf, saya tidak bisa mengizinkan siswa saya untuk berpastisipasi di poprov tahun ini. Bukan apa-apa. Saya juga ingin mengizinkan mereka agar mereka juga bisa membawa nama baik sekolah ini. Tapi resiko dibalik itu cukup besar. Mereka sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional. Bagaimana jika dengan kemungkinan kaki mereka patah dan harus libur sekolah dengan jangka waktu yang panjang"
__ADS_1
"Seandainya kita diizinkan kepala sekolah. Pasti kita akan menyusul yanda, dika, dan rezi. Duhhh malang sekali nasib kita" Rutuk ripo kesal. Dia menendang gelas plastik yang tergeletak menghadang jalan kami. Ripo terus merutuk kesal.
Ripo memang benar. Seandainya kami diizinkan oleh kepala sekolah pasti kami akan bergabung dengan yanda, yandi, dika, rezi, bang wanda dan beberapa orang lagi yang juga mempunyai nama besar difutsal sijunjung. Aku bisa membayangkan tinggal di mess yang sama dalam satu bulan, latihan dan pertandingan, menang dan kalah. Aku bisa membayangkannya. Seandainya kami diizinkan, pasti akan terasa sangat menyenangkan.
Tapi mau bagaimana lagi? Keputusan kepala sekolah adalah finalnya. Terima atau tidaknya kami. Kami tetap tidak akan pergi kedamsraya dan harus ada disekolah setiap pagi, berkubang dalam pelajaran-pelajaran yang terasa membosankan.
Aku masuk kedalam lokalku. Sedangkan ripo berjalan menuruni tangga untuk menuju lokal IPA dibawah. Kami kembali terbenam didalam buku-buku yang membodohkan. Terbalik dari tujuan seharusnya membuat kami semakin pintar.
__ADS_1