
Memendam dan mengungkapkan adalah pilihan yang beresiko mendatangkan luka.
****
Dunia hanyalah perihal hitam dan putih. Seperti orang jahat dan orang baik. Namun, setiap manusia memiliki sudut pandangnya masing-masing. Orang baik dan orang jahat hanyalah tentang penilain dan pola pikir yang berbeda.
Aku bukan orang yang baik. Tapi aku juga tidak bisa dikatakan orang yang jahat. Meskipun aku terkurung didalam ruang hitam. Aku tidak merugikan orang lain selain diriku sendiri. Jadi, aku ini orang baik atau orang jahat?
Orang baik dan orang jahat adalah persepsi dari individu sendiri. Misalkan, orang baik yang memiliki musuh yang dengki akan dikatakan orang jahat oleh musuhnya. Sedangkan orang jahat akan dianggap baik jika dia bisa menyembunyikan semua kejahatannya. Orang baik dan orang jahat hanyalah sebuah topeng dalam sandiwara. Kita tidak bisa mengelak, setiap manusia memiliki topeng dan rahasia yang disimpannya sendiri. Bahkan kita memakai topeng yang berbeda denga orang yang juga berbeda. Namun, terlepas dari itu semua, apapun wujud aslimu, hiduplah dengan sebaik-baiknya jalan yang kau pilih.
Manusia adalah makhluk yang tak luput dari dosa dan kesalahan. Manusia selalu punya kesempatan untuk insaf dan memperbaiki kesalahan. Kesempatan itu datang dari diri yang ingin memperbaiki. Oleh karena itu, aku ingin berubah tanpa harus memaksakan diri untuk berubah. Aku lebih rajin masuk kelas dan tidak pernah lagi telat untuk datang kesekolah. Aku bahkan mengikuti gotong royong menghiasi lokal sejak dua minggu terakhir ini. Disekolahku, setiap bulannya ada lomba kebersihan antar kelas. Aku ikut menyertakan diri dalam kesibukan gotong royong perlokal. Membuat pagar taman, menanam bunga, sampai membuat seni lukis pada dinding kelas. Dulu, aku tidak pernah sekalipun hadir dalam kegiataan seperti ini. Tapi dua minggu yang lalu, aku memutuskan untuk berubah agar bisa membuat ibu bahagia. Dan semua terasa menyenangkan daripada yang kubayangkan sebelumnya.
Sore ini, aku kembali terbenam dalam kesibukkan menghias lokal dikelasku. Sekolah terlihat lengang dan sepi, hanya ada beberapa orang guru didalam kantor. Aku dan ketiga sahabatku membagi tugas untuk membuat pagar taman didepan kelas kami. Ijep bertugas membelah bambu, nando memotong bambu yang sudah dibelah oleh ijep dengan geragaji. Sedangkan aku dan aldi bertugas membuat pagar. Sudah seminggu ini aku sibuk terbenam dalam kegiataan goro lokal. Dan sore ini hanya kami berempat yang goro. Buk yarnis menemani kami sebagai wali kelas.
"Salut ibu melihat dikan yang sekarang" Ujar buk yarnis kagum.
Aku menghentikan kegiatanku. Buk yarnis tersenyum ketika aku menoleh.
"Kenapa tidak dari dulu dikan seperti ini" Kata buk yarnis.
Aku hanya tersenyum dan tersipu malu. "Karna sekarang baru sadar buk" Jawabku dan kembali sibuk dengan paku dan palu.
"Ibuk mau tau kenapa dikan berubah?" Tanya aldi kepada buk yarnis.
"Kenapa, aldi?" Tanya buk yarnis.
"Karna dikan lagi jatuh cinta buk" Aldi tertawa. Nando dan ijep ikut tertawa pelan
"Sama guru sejarah itu ya aldi" Sahut buk yarni memastikan.
Aku menoleh dan menatap buk yarnis. Dari mana buk yarnis bisa tahu? Teman-temanku juga mengumbar-ngumbar tentang aku suka buk mutia kepada yarnis? Aldi mengedipkan bahunya petanda tidak tahu.
"Ibuk tau dari mana" Tanya aldi.
"Taulah, perubahan dikan sekarang jadi trending topik disekolah" Sahut buk yarnis. Apa? Aku berubah bukan karna aku suka kepada buk mutia. Aku berubah demi menyenangkan hati ibu. Gumanku.
"Emang ya dikan selalu jadi buah bibir disekolah" Aldi tertawa terpingkal-pingkal. Nando dan ijep pun ikut tertawa. Aku tertawa malu melihat mereka tertawa.
"Tapi nggak, kalau dulu guru-guru menyebut nama dikan dengan penuh amarah. Kalau sekarang penuh rasa bangga. Nilai-nilainya juga cukup bagus. Buk nit saja memuji dikan kepada ibu. Pertahankan ya" Ujar buk yarnis.
Aku masih sibuk dengan kesibukanku dan tak menoleh kearah buk yarnis. Aku tidak merasa bangga dengan pengakuan buk yarnis. Lebih jauh. Aku mafhum bahwa guru akan membenci murid yang pemalas dan membanggakan anak yang rajin dan pintar.
"Aldi, ibuk tinggal dulu tidak apa-apa kan?" Tanya buk yarnis "Ibuk harus kepasar sebelum pasar tutup" Jelas buk yarnis.
"Emang masih buka pasar sore ini buk" Tanya aldi.
"Masih" Sahut buk yarnis "Dikan, nando, ijep, ibuk tinggal dulu ya" Pamit buk yarnis.
Kami menyahut bersama. Buk yarnis berlalu didalam kantor. Aku penasaran kenapa buk yarnis juga bisa tahu tentang aku suka kepada buk mutia. Bukan buk yarnis saja. Buk nit juga pernah menyindirku. Aku tahu buk nit tidak bermaksud menyindir, dan aku saja yang terlalu suuzon. Tapi aku sensitif dengan pituahnya yang mengarah kepadaku.
Kamis lalu ketika pelajaran bahasa indonesia. Buk nit membagikan kertas ulangan dua hari lalu dari meja guru. Buk nit memukai dari menyebutkan nama dengan nilai UH yang paling tinggi. Beberapa orang maju karna menjadi tiga peringkat tertinggi. Aulia, nisa, dan resi balik ketempat duduk mereka masing-masing dengan bangga. Mereka memang pintar-pintar. Kami tak heran lagi. Mereka selalu bersaing ditiga besar. Namaku disebut setelah nama resi. Aku maju kedepan mengambil kertas ulanganku diiringi tepuk tangan. Tidak ada yang menyangka dengan nilai UH ku yang menduduki peringkat empat. Aku berjalan dengan penuh bangga. Aku memang menghafal semalaman sebelum UH. Aku sudah siap. Dan usahaku tak sia-sia dengan nilai ujianku yang tinggi. Buk nit bilang kepada aulia, nisa dan resi untuk hati-hati. Karna bisa saja aku menjadi pesaing mereka. Seisi kelas ribut dengan empati mereka atas perubahanku. Guraun doris dan aldi dengan membawa-bawa istilah guru PL yang menjadi semangatku untuk sekolah. Buk nit meluruskannya dengan pituah.
"Itulah cinta. Cinta itu pasti membawa kita untuk lebih baik" Pidato buk nit menghentikan tawa "Tika" Sambung buk nit melanjutkan pelajarannya. Dan aku merasa pituah buk nita adalah cermin dari diriku.
"Apa maksud buk yarnis tadi?" Tanyaku setelah buk yarnis berlalu.
Nando dan ijep saling tatap. Aldi juga berhenti dengan pekerjaannya. Mereka saling tatap bingung.
"Dari mana bisa tahu buk yarnis tentang aku suka dengan buk mutia?"
"Lu udah jadian dengan buk mutia, dik" Tanya ijep melongo.
__ADS_1
"Goblok" Kataku tertawa "Aku bertanya kau bertanya pula" Sahutku tertawa kesal dengan kebiasaan ijep.
Ijep adalah panggilan dari jefri geofani. Pria yang lebih tinggi sejengkal dariku, badannya kurus berotot. Ijep suka berolahraga dan aktif dalam kegiatan pramuka. Aku menjuluki ijep 'pria yang ganteng tapi culun' karna gaya ijep yang culun dengan baju yang selalu masuk dan celana yang selebor. Ganteng tapi takut untuk menyatakan perasaan kepada wanita. Ganteng yang culun itu berasal dari nagari lubuak labu, sebuah desa ditengah hutan bukit barisan. Ijep bilang, sinyal hanphone dan listrik belum masuk didesa tinggalnya. Orang-orang hanya menggunakan gindset besar untuk penerangan malam hari. Ijep kos dan pulang setiap libur semester.
Aldi dan ijep saling lempar dengan tanah. Seperti kebiasaan mereka. Nando ikut tertawa menimpali keculunan ijep. Aku memutuskan untuk tidak bertanya. Lagipula, buk mutia juga sudah tahu kalau aku suka padanya. Tapi bukan itu permasalahannya. Aku menjadi malu dengan gosip yang beredar dikalangan sebagian guru dan murid. Aku tidak pacaran dengan buk mutia. Tapi seolah-olah diceritakan berpacaran.
Aku melanjutkan kesibukanku dengan palu dan paku. Aldi dan ijep saling bekejaran membuat heboh. Nando terdengar tertawa dibelakangku.
"Ud. Berhentilah dulu. Besok masih ada. Jangan rakus begitu" Ujar nando.
"Tanggung" Sahutku. "Sebentar lagi siap" jelasku tanpa menoleh pada nando.
"Eh gua minum jugalah kekantor" Ujar nando dan berlari mengikuti aldi dan ijep.
"Bawa, minum kesini ud" teriakku.
"Jadi" Sahut nando dalam berlari.
Aku kembali sibuk dengan kegiatanku. Kami harus menyelesaikan pagar ini dalam minggu ini. Dua minggu ini. Aku bersemangat sekali. Aku tidak masalah dengan pulang sore setiap hari, sibuk dalam kerja sama seperti ini juga terasa menyenangkan. Minggu kemaren, semua laki-laki kelasku mencari bambu dan membawanya keluar dari hutan. Semua terasa menyenangkan atas kerja sama.
Aku memang berubah dalam sebulan terakhir ini. Bukan disekolah saja. Dirumah aku juga jarang keluar rumah. Pulang sekolah, aku mengurung diri dengan buku-buku pelajaran didalam kamar. Aku memang berniat untuk merubah cara belajarku. Dan ibulah alasan kenapa aku ingin berubah. Bukan buk mutia.
Aku ingin membahagiakan ibu. Aku yakin aku akan lulus. Aku tidak berubah pun, aku akan tetap lulus. Lebih jauh, ditahun ini pemerintah merubah sistim kelulusan. Nilai Ujian Nasional tidak lagi menjadi penentu kelulusan siswa. Tahun ini sekolah yang berhak menentukan lulus atau tidaknya siswa. Dan sekolah pasti akan meluluskan siswanya seratus persen demi nama baik dan reputasi sekolah. Namun, aku berubah karna aku ingin lebih baik seperti harapan ibu. Barangkali ibu ada benarnya, aku sudah kelas tiga.
"Ini minumnya tuan" Ucap perempuan.
Aku menoleh kebelakang. Buk mutia. Aku terkejut.
"Hah kok ibuk. Ibuk belum pulang?" Tanyaku, wajahku yang semula terasa panas menjadi dingin dengan senyum yang tertahan.
"Silahkan tuan. Minumnya" Sahut buk mutia lagi dengan tersenyum.
Akupun tersenyum melihatnya. Meskipun aku tahu buk mutia sedang bergurau. Aku tetap kesulitan menyembunyikan perasaan senangku. Aku mengambilnya segelas air putih diatas baki. Diatas baki masih ada dua gelas teh.
Buk mutia tersenyum dan masih berdiri menatapku. Aku tertawa kecil melihatnya yang masih berdiri memperhatikanku. Buk mutia menyadari maksud tawaku. Raut wajahnya berubah datar.
"Minumlah" Ujar buk mutia.
Aku akhirnya minum dan menyisakan gelas kosong. Dan menaruh gelas diatas baku kembali.
"Kenapa ibuk belum pulang?" Tanyaku lalu kembali duduk untuk menyelesaikan kesibukkanku.
"Tuan tidak mengusir puan putrinya bukan?" Tanya buk mutia.
Aku menoleh kepada buk mutia. "Maksud ibuk?" tanyaku dengan wajah heran.
Buk mutia menghembuskan nafas kasar. "Atau tuan hanya menanggap saya sebagai pelayan. Baiklah saya pergi. Saya bukanlah puan putri" Kata buk mutia dan berjalan didepanku. "TerimaKasihnya tidak diterima" Ujar buk mutia.
Aku tertawa kecil. "Terimakasih banyak buk"
"Terimakasihnya tidak diterima" Sahut buk mutia lebih keras tanpa menoleh kearahku.
Aku merasa tergelitik melihat bercandaan buk mutia "Terus bagaimana supaya terima kasih diterima?" Tanyaku.
Buk mutia berhenti beberapa langkah dariku. Dia memutar badannya menatapku "Ada syaratnya" Buk mutia mendekat "Cukup temani puan putri minum teh sore ini"
Aku tertawa. Buk mutia drama sekali. Tapi aku merasa senang. Buk mutia mungkin suka film drama korea seperti kebanyakan gadis ABG yang tergila-gila dan demam akan K-POP.
"Saya tidak bisa menolak untuk menemani puan putry secantik ini" Balasku bergurau.
Buk mutia tertawa. Kami duduk dianak tangga didepan kelasku. Menikmati sore dengan secangkir teh. Pemandangan terlihat indah dari depan lokal ips. Sawah dibelakang lokal ipa dan jalan aspal yang menghubungkan kampung baru terlihat dikejauhan. Aku dan buk mutia menatap kagum langit yang memerah diufuk barat. Buk mutia bilang dia suka senja.
__ADS_1
"Kenapa bbm ibuk ngak dibalas lagi" Tanya buk mutia dan menyeruput tehnya.
"Paket habis buk" Jawabku berbohong. "Tapi dikan udah baca kok semua cerita ibuk tentang bang ade"
"Kamu cemburu?" Tanya buk mutia. Aku menoleh. Kami beradu tatap. Buk mutia tersenyum. Mukaku terasa memerah.
"Engaklah. Kenapa juga dikan harus cemburu" Jawabku akhirnya mengalihkan pandangan.
Buk mutia terdengar tertawa. "Kamu tuh misterius ya orangnya" Kata buk mutia dengan memanggil aku dengan kamu. Bukan lagi dikan?
"Ibuk manggil dikan kamu?" Tanyaku.
"Tuh kan" Buk mutia tertawa kecil lagi "Emang kenapa kalau ibuk manggil dikan kamu. Kan masih sopan?"
"Ya enngak. Biasanya ibuk ngak pernah pakai kamu-kamu, biasanya manggil dikan" Balasku.
"Karna semuanya bisa berubah" Ujar buk mutia. Matanya terfokus pada lembayung diujung sana. Aku menatap buk mutia denga perasaan yang terpesona. Aku menatapnya sambil menunggu perkataan selanjutnya.
"Seperti bumi yang berubah dari siang dan malam. Perasaanpun kadang berubah-rubah dengan tak menentu. Rasa takut, kesedihan, kebahagian, cinta dan kehilangan adalah hal yang pasti kita rasakan dalam hidup. Kita tidak bisa mengelak saat perasaan itu datang. Perasaan adalah persoalan hati. Dan hati bukanlah bisa sepenuhnya kita kendalikan" Ujar buk mutia.
"Iya iya terserah ibuklah mau manggil dikan atau kamu" Sahutku tertawa.
Buk mutia juga tertawa "Kamu tuh misterius oranganya" Ujar buk mutia.
Aku menoleh kearah buk mutia. Kami beradu pandang.
"Iya misterius. Susah ditebak. Kamu punya banyak karakter"
"Banyak karakter gimana?" Tanyaku tidak mengerti.
"Kepribadian kamu susah ditebak. Kamu memiliki banyak sisi. Kamu terlihat kuat dan berani sekali. Tidak yang berani melawanmu. Kau tinggal sebagai satu-satunya pembangkang, semua parewak-parewakmu yang lain telah dikeluarkan disekolah ini. Begitu buk asmarni menceritakan kisahmu. Dan dua minggu ini. Kau berubah dipuji dan dibangga. Binatang buas itu telah berhasil dijinakan. Orang-orang bertanya siapa yang berhasil menjinnakan kebuasan itu. Tidak ada. Kebuasannya hilang oleh ketakutan dalam dirinya sendiri. Namun, dibalik semua sikapmu yang keras, sebenarnya kamu sangat lemah dan penakut sekali" Kata buk mutia.
Aku tidak sepenuh memahami apa yang dikatakan buk mutia. Tapi aku sedikit mengerti mengerti kalimatnya. Buk mutia benar, aku hidup dalam dua sisi. Seperti sisi gelap yang selalu kusembunyikan. Dan aku merasa tersindir dengan ucapan buk mutia diakhir kalimat. Entahlah. Mungkin aku saja yang perasa.
Aku hanya diam. Aku menyeduh teh yang masih hangat. Buk mutia juga mengengam cangkir teh.
"Kamu lelaki. Kamu harus bisa mengalahkan rasa takut" Ujar buk mutia menyeduh tehnya.
Aku menyeduh teh yang sedikit hangat itu sampai habis. Aku merasa geram dengan buk mutia. Kadang, rasa takut itu ada baiknya tidak kita kalahkan. Buk mutia seperti menyindirku yang tidak berani untuk mengatakan suka kepadanya. Hingga ia tahu dari gosip-gosip yang beredar dilingkungan sekolahku. Tapi, aku juga tidak ingin disalahkan tentang hal itu.
Lembayung indah tenggelam dalam separuh kegelapan. Tercipta senja yang mempesona. Keindahan sesaat sebelum gelap.
"Bukankah rasa takut itu juga perlu" Aku berdiri "Cinta juga tidak harus memiliki kan" Aku berjalan memilih perkakas goro tadi. "Orang hidup dengan prinsipnya sendiri"
Buk mutia mengangguk. Terdiam sejenak. Aku mengumpulkan semua perkakas. "Kadang menyerah juga pilihan yang tepat" Kataku dan berjalan menyimpan perkakas kedalam lemari kelas.
"Kadang masalah datang bukan karna sebuah kesalahan" Ujar buk mutia yang dengan membawa cangkul. Dia membantuku. Itu berarti aku tidak perlu lagi menjemput cangkul. Buk mutia mempermudahnya.
"Kadang kesalahan juga tidak harus disesali. Itu benar. Kesalahan terjadi agar kita bisa belajar" Kata buk mutia dan berjalan "Ibuk pernah memendam perasaan, bertahun-tahun, dan rasanya menyakitkan" Ujar buk mutia.
"Tapi akhirnya ibuk menyatakan juga" Buk mutia menoleh setalah melwati pintu. Buk mutia berhenti dan menatapku "Seperti kisah dikan dan fiona" Sambung buk mutia.
Aku berjalan melampauinya. Dari mana buk mutia tahu tentang fiona. Aku tidak pernah bercerita tentang fiona kepada siapapun. Dari mana buk mutia mengetahuinya?
"Apa sulitnya untuk menyatakan?" Kata buk mutia.
Aku terus berjalan tanpa menghiraukan buk mutia. Aku berbalik. Tas ku masih didalam lokal. Aku berlari mengambil tasku kedalam lokal dan keluar.
"Dikan" Teriak buk mutia "Kamu berbakat jadi penulis" Teriak buk mutia.
Aku terus berlari tanpa menoleh kebuk mutia.
__ADS_1
Pulang. Diperjalanan pulang, nama fiona dan buk mutia berlari dipikiranku. Menyiksa.
Ganja? Hanya itu yang bisa membuat kepalaku terasa dingin. Dan pikiranku bisa berdamai dengan jiwaku sendiri.