
Cukup senja saja yang indahnya sesaat, Kamu jangan.
****
Sang surya mulai merapat di ufuk barat. Cahayanya masih terang menyinari bumi diselasa sore. Aku kembali terbenam dalam kegiatan yang diadakan oleh kelasku. Sudah beberapa hari ini aku ikut serta dalam kesibukan menghias kelas. Disekolahku ada perlombaan keindahan kelas yang akan dinilai dalam satu bulan sekali. Aku tidak pernah ikut serta dalam kegiatan lomba menghias kelas semenjak kelas sepuluh. Namun beberapa hari terakhir aku ikut melibatkan diri dan aktif dalam kegiatan kelas.
Sekolah terlihat sangat lengang. Hanya ada kami dan beberapa orang guru yang masih sibuk didalam kantor. Aku dan beberpa teman laki-laki yang satu kelas denganku bahu-membahu membuat pagar taman didepan kelas kami. Dan sore ini hanya murid laki-laki yang masih tinggal. Sedangkan murid perempuan sudah pulang setengah jam yang lalu setelah pekerjaan mereka selesai.
Aldi dan ijep mendapatkan tugas untuk membelah bambu menjadi empat bagian. Nando dan doris bertugas memotong bambu yang sudah dibelah dengan menggunakan geragaji. Sedangkan aku bertugas menyusun bilah untuk menjadi sebuah pagar. Sudah seminggu terakhir ini kami selalu sibuk dengan kegiatan menghias lokal sepulang sekolah. Bambu yang kami gunakan ini adalah bambu yang kami tebang dari hutan yang tak jauh dari sekolah. Kegiatan seperti ini terasa menyenangkan dengan kerja sama dan kebersamaan.
"Salut ibu melihat dikan yang sekarang. Semangatnya bikin ibu bangga" Ucap buk yarnis.
Aku menghentikan kegiatanku dan menoleh. Buk yarnis tengah berdiri dengan separuh tubuhnya bersandar ketiang. Buk yarnis tersenyum ketika aku menoleh. Buk yarnis adalah wali kelas kami dikelas dua belas ini.
"Yah ibuk baru tahu" Sahut aldi tergelak "Dikan sekarang sudah berubah buk" Ucap aldi
Teman-temanku yang lain tertawa. Buk yarnis juga ikut tertawa. Aku tersenyum simpul menyaksikan gelak tawa yang hadir dalam kebersamaan sore ini.
"Ibu mau tahu kenapa dikan berubah?" Tanya aldi menatap buk yarnis.
"Kenapa?" Buk yarnis berjalan mendekat dan duduk diatas parit.
"Cinta yang merubah dikan menjadi lebih baik" Ucap aldi dengan ekperesi sok puitis.
Tertawa menjadi pecah. Aku menggelengkan kepala mendengar apa yang dikatakan aldi. Temanku yang satu ini memang selalu bisa menghadirkan gelak tawa dengan gurauanya yang renyah.
"Dengan guru sejarah itu ya aldi" Sahut buk yarnis.
Aku segera menoleh. Buk yarnis menatap aldi dengan bibirnya yang masih tertawa. Aku terkejut dengan apa yang dikatakan buk yarnis. Apakah buk yarnis juga tahu kalau aku mencintai buk mutia. Tapi dari mana buk yarnis bisa tahu?
Aldi mengedikkan bahu "Ibu kepo pasti ya" Ucap aldi tertawa.
Teman-temanku tertawa. Aku kembali sibuk dengan palu dan paku. Sekarang kepalaku sesak dengan pertanyaan apakah semua orang tahu kalau aku mencintai buk mutia?
"Kenapa gak dari dulu dikan seperti ini?" Tanya buk yarnis.
Aku menoleh kearah buk yarnis. Aku tidak mengerti sepenuhnya maksud buk yarnis.
"Iya, semua guru dikantor memuji-muji perubahan dikan. Kenapa gak dari kelas sepuluh dikan seperti ini. Kalau dari dulu mungkin dikan biaa masuk bidikmisi dan smptn" Ucap buk yarnis.
"Karna takut gak lulus buk, makanya berubah" Sahut singkat dan kembali dalam kesibukanku.
"Emang ya dikan selalu jadi pembicaraan disekolah" Ujar doris.
Mereka tertawa serambi mengamini perkataan doris.
"Tapi beneranloh guru-guru dikantor pada bangga dengan perubahan kamu dikan. Bahkan buk nit saja memuji kamu dengan nilai kamu yang tinggi"
Aku hanya diam dan tak merespon pembicaraan buk yarnis.
"Dulu karna kekanalannya dikan jadi bahan pembicaraan guru, sekarang sudah jadi anak yang rajinpun masih jadi pembicaraan" Aldi tertawa.
Teman-temanku yang lain juga ikut tertawa. Aku hanya diam dan sibuk dengan kegiataanku.
"Dulu ibu sangka dikan ini akan menjadi orang jahat dengan kenakalannya yang luar biasa. Setiap rapat kenaikan kelas guru-guru selalu berdebat dengan nama dikan. Buk ade, buk ida, dan buk de yang mati-matian membela agar dikan diberi kesempatan untuk naik kelas. Ibu sempat tidak percaya kalau dikan akan bisa berubah. Kelakuannya dikelas sebelas malah lebih dari kelas sepuluh. Tapi sekarang kata-kata buk ida sudah terbukti. Dikan ini anak yang pintar" Ucap buk yarnis.
"Dikan sudah berubah" Aldi menimpali perkataan buk yarnis.
Teman-temanku kembali tertawa. Aku melempar aldi dengan tanah. Dengan sigap aldi menghindar. Aku kembali sibuk dengan kegiatanku. Ada perasaan bangga yang memenuhi dadaku. Ternyata dipuji atas kebaikan itu ternyata juga menyenangkan.
Pada akhirnya aku beranggapan bahwa orang baik dan orang jahat hanyalah sebuah persepsi dari individu itu sendiri. Misalkan, orang baik yang memiliki musuh yang dengki akan dikatakan orang jahat oleh musuhnya. Sedangkan orang jahat akan dianggap baik jika dia bisa menyembunyikan semua kejahatannya. Orang baik dan orang jahat hanyalah sebuah topeng dalam sandiwara. Setiap manusia hidup dengan topeng dan rahasia yang disimpannya sendiri. Seperti aku yang merahasiakan diriku sebagai manusia yang hidup dalam gelap. Namun, terlepas dari orang baik atau orang jahat. Setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah. Dan kesempatan itu akan datang melalui pikiran yang merasa muak dengan keadaan dan tindakan.
"Aldi, ibuk tinggal dulu tidak apa-apa kan?" Tanya buk yarnis yang berdiri dari duduknya "Ibuk harus kepasar sebelum pasar tutup" Sambunya.
"Emang masih buka pasar sore ini buk" Sahut aldi bertanya.
"Masih" Sahut buk yarnis mulai berjalan "Dikan, semuanya, ibuk tinggal dulu ya" Pamit buk yarnis
"Iya buk" Sahut kami serentak.
"Hati-hati dijalan buk. Kalau jatuh berdiri sendiri" Ucap doris.
Kami tertawa. Buk yarnis tersenyum dan berlalu hilang. Tak lama setelah kepergian buk yarnis. Doris juga berjalan kedalam kantor untuk membuat kopi. Aku masih penasaran dengan buk yarnis yang tahu kalau aku mencintai buk mutia. Dari mana buk yarnis bisa tahu.
"Dari mana buk yarnis bisa tahu kalau aku mencintai buk mutia?" Tanyaku pada ketiga sahabatku setelah kepergian doris.
__ADS_1
Aldi dan nando saling tetap. Mereka berhenti dengan pekerjaan mereka. Mereka menatapku dengan ekpresi yang kalah bingungnya dariku.
"Apa maksud buk yarnis tadi?" Tanyaku setelah buk yarnis berlalu.
Nando dan ijep saling tatap. Aldi juga berhenti dengan pekerjaannya. Mereka saling tatap bingung.
"Lu udah jadian dengan buk mutia, dik" Tanya ijep
"******" Umpatku kesal.
Aldi dan nando tertawa. Ijep memang selalu konyol dan tidak menyimak. Aldi memukul ijep dengan bila yang sedang digenggamnya. Ijep mengambil bilah dan mengejar aldi yang lari kedalam lokal sebelah.
Ijep adalah panggilan dari jefri geofani. Pria yang lebih tinggi sejengkal dariku itu berbadan kurus berotot. Ijep suka berolahraga dan aktif dalam kegiatan pramuka. Aku menjuluki ijep dengan pria yang ganteng tapi culun. Aku menjulukinya seperti itu karna ijep selalu berpakain rapi dengan baju yang selalu masuk dan celana yang cutbrai. Ijep berasal dari nagari lubuak labu dipedalaman rimba sumatra dikabuhpaten dhamasraya. Ijep bilang sinyal hanphone dan listrik belum masuk didesa tinggalnya. Orang-orang kampungnya hanya menggunakan gindset besar untuk penerangan dimalam hari. Ijep adalah anak kos dan pulang setiap libur semester.
"Mungkin dari buk nit kali dik" Ucap nando.
Aku ingat kamis lalu ketika pelajaran bahasa indonesia. Buk nit juga pernah menyindirku. Aku tahu buk nit tidak bermaksud menyindir. Dan mungkin aku saja yang terlalu suuzon kepada buk nit. Tapi aku sensitif dengan kata-katanya yang mengarah kepadaku.
Buk nit membagikan kertas ulangan harian dua hari yang lalu dari mejanya. Buk nit mulai membagikan dengan nilai yang tertinggi. Aulia, nisa, dan resi maju kedepan kelas dengan perasaan yang bangga. Tidak ada yang heran dengan kepintaran mereka bertiga. Mereka selalu bersaing dalam tiga besar. Aku maju kedepan untuk mengambil kertas ulanganku setelah nama resi. Aku berjalan dengan perasaan bangga yang diiring dengan tepukan tangan. Tidak ada yang menyangka kalau nilai ulangan harianku akan mendapat peringkat empat. Tapi aku memang sudah mempersiapkannya semalam sebelum ulangan. Dan usahaku tak sia-sia dengan nilai ulangan yang tinggi. Buk nit berpesan kepada aulia, nisa dan resi untuk berhati-hati denganku. Buk nit bilang kalau aku bisa saja aku menjadi pesaing mereka. Seisi kelas ribut dengan empati mereka atas nilaiku yang tinggi. Hingga kelakar aldi membuat buk nit berpituah.
"Begitulah cinta. Cinta yang baik akan membawa kita berubah kearah yang lebih baik"
"Sudah jangan terlalu dipikirkan" Ujar nando membuyarkan lamunanku.
Aku hanya tersenyum. Dadaku masih terasa sesak dengan gosip yang mungkin saja beredar dikalangan guru. Mereka memberitakan seolah-olah aku berpacaran dengan buk mutia.
Aku kembali melanjutkan kesibukanku dengan palu dan paku. Sang surya bersinar sedikit redup dibarat sana. Sinarnya mulai membakar langit yang menguning. Aldi, ijep, dan nando berjalan kekantor untuk membuat minum. Tak lupa juga aku memesan teh panas kepada nando.
Aku masih sibuk dengan paku dan palu. Tinggal beberapa bilah lagi yang harus kupaku untuk menjadi satu pagar. Taman depan kelasku berbentuk persegi. Berarti kami harus membuat empat buah pagar untuk melingkupi semua area taman. Satu pagar sudah siap kemarin sore dan sudah berdiri dibagian belakang taman. Aku terus menancapkan paku kedalam bila dengan menggunakan paku.
Dikepalaku masih terpikir tentang gosip yang beredar dikalangan para guru. Mungkin guru-guru akan beropini kalau aku berubah karna buk mutia. Padahal aku berubah demi ingin membahagiakan ibu.
Jika bukan karna ibu, aku mungkin tidak akan berubah. Aku adalah pria bebal yang takkan mudah patuh hanya demi cinta. Dulu pernah mantan pacarku menyuruhku untuk melaksanakan sholat. Tapi aku hanya menuruti perkataannya didepan sajan dan dibelakangnya aku tetap menjadi diriku sendiri. Bagiku itu cinta itu tidak memaksa apalagi menuntut.
Kalau semisalnya aku tidak merubah cara belajar dan sikapku disekolah. Aku percaya kalau aku akan tetap lulus. Bukan karna aku pintar dan merasa sombong. Lebih jauh lagi. Tahun ini pemerintah menetapkam sistim kelulusan menjadi tanggung jawab sekolah. Nilai Ujian Nasional tidak lagi menjadi penentu kelulusan siswa. Dan sekolah pasti akan meluluskan muridnya seratus persen demi menjaga nama baik dan reputasi sekolah. Namun, aku berubah demi membahagiakan ibu yang berharap agar aku bisa lulus.
"Ini minumnya tuan" Ucap seorang perempuan.
Aku menoleh dengan kepala mendongak. Buk mutia. Aku terkejut melihat buk mutia yang berdiri diatas teras kelas. Aku tidak permah lagi berbalas pesan dengan buk mutia dalam beberapa hari ini. Obrolan kami di BBM masih menggantung dan tidak pernah kubukak semenjak buk mutia bercerita panjang tentang manta pacarnya itu.
"Silahkan tuan. Minumnya" Ucap buk mutia tersenyum.
Akupun tertawa simpul melihat tingkah buk mutia yang bagaikan dayang yang sedang melayani raja. Aku mengambil segelas air putih diatas baki. Buk mutia masih menatapku dengan senyum termanisnya. Senyum yang kurindukan beberapa hari terakhir ini.
"Minumlah" Ucap buk mutia.
Aku mengangguk dan minum. Aku kembali meletakkan gelas kosong keatas baki. Diatas baki masih ada dua teh panas lagi.
"Dikan haus kelihatannya" Ucap buk mutia dan duduk disampingku diatas parit. Buk mutia meletakkan baki diatas lantai ditengah-tengah kami.
"Lumayan. Ibu kenapa belum pulang" Kataku serambi berdiri untuk melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.
"Dikan mau ngelanjutin kerja. Ini udah soreloh" Ucap buk mutia.
"Nanggung buk. Dikit lagi" Sahutku dan mengambil palu yang tergeletak diatas tanah
"Tapi kan bisa dilanjutin besok" Ucap buk mutia.
Aku mendongak menatap buk mutia. Kening buk mutia terlihat berkerut menatapku "Pamali namanya kalau kerja tidak diselesaikan" Ucapku.
Buk mutia tersenyum "Terserahlah" Sahutnya.
Aku tertawa kecil serambi melanjutkan pekerjaanku. yang tinggal beberapa bilah lagi. Buk mutia masih duduk memperhatikanku bekerja.
"Dikan. Tehnya keburu dingin loh nanti" Ucap buk mutia.
"Ya baguslah. Bisa lansung diminum" Sahutku.
Buk mutia mengerucutkan bibirnya. Aku selalu suka melihat buk mutia dengan wajah manyun seperti itu. Buk mutia terlihat imut dan lucu. Buk mutia beralih menatap senja yang semakin menguning.
"Ibuk kenapa tidak pulang?" Tanyaku masih sibuk dengan kegiatanku.
"Tuan tidak mengusir puan putrinya bukan?" Tanya buk mutia.
Aku menoleh kepada buk mutia. "Maksud ibuk?" tanyaku dengan wajah heran.
__ADS_1
Buk mutia menghembuskan nafas kasar. "Atau tuan hanya menanggap saya sebagai pelayan? Oke... Baiklah saya pergi. Saya bukanlah puan putri" Ucap buk mutia dan berjalan didepanku. "TerimaKasihnya tidak diterima" Ujar buk mutia.
Aku tertawa kecil. "Terimakasih banyak buk"
"Terimakasihnya tidak diterima" Sahut buk mutia lebih keras tanpa menoleh kearahku.
Aku merasa tergelitik melihat bercandaan buk mutia "Terus bagaimana supaya terima kasihnya diterima?" Tanyaku.
Buk mutia berhenti beberapa langkah dariku. Dia memutar badannya menatapku "Ada syaratnya" Ucap buk mutia.
Aku tertawa kecil. "Apa?"
"Cukup temani puan putri minum teh sore ini" Ucap buk mutia berjalan mendekatiku.
Aku tertawa. Buk mutia drama sekali. Buk mutia mungkin suka menonton drama korea seperti kebanyakan gadis ABG yang tergila-gila dan demam akan K-POP. Tapi aku merasa senang dengan tingkah buk mutia.
"Saya tidak bisa menolak untuk menemani puan putry secantik ini" Balasku bergurau.
Buk mutia tertawa serambi duduk diatas parit. Aku kembali melanjutkan kegiatanku yang hanya tinggal satu bilah lagi.
"Katanya mau nemenin minum teh. Nantik ibuk benar-benar pergi loh dikan" Ucap buk mutia.
"Iya, cuman satu bilah lagi kok buk" Ucapku memelas.
Buk mutia mengerucutkan bibirnya dengan tanganya terlipat didadanya. Aku meletakkan palu diatas tanah setelah pekerjaanku selesai. Aku duduk diatas parit disebelah buk mutia. Kami duduk agak berjarak dengan baki yang berisi dua cangkir teh yang masih hangat.
Senja mulai menguning dengan lembayung mulai menyiapkan diri untuk menyambu kegegelapan. Aku dan buk mutia menyaksikan keindahan senja dengan menyeduh teh yang masih hangat.
"Kenapa bbm ibuk ngak dibales" Tanya buk mutia dengan teh yang masih digenggamnya.
"Males aja" Sahutku singkat serambi meletakkan segelas tek keatas baki.
Buk mutia tertawa simpul "Kamu tuh misterius ya orangnya"
"Kamu?" Tanyaku heran dengan buk mutia yang memanggil aku dengan sebutan kamu. Bukan lagi dikan.
"Tuh kan" Buk mutia tertawa kecil lagi "Emang kenapa kalau ibuk manggil kamu. Kan masih sopan?"
"Ya engak. Biasanya ibuk ngak pernah pakai kamu-kamu, biasanya manggil dikan" Balasku.
Buk mutia tersenyum. "Kamu kenapa tidak pernah berani menyatakan perasaan kepada orang yang kamu suka?" Tanya buk mutia.
Aku menetap buk mutia. Kami beradu pandang. Mata panda buk mutia sangat tajam untuk menenggelamkanku. Apakah buk mutia baru saja menyindirku yang tidak pernah berani menyatakan perasaan terhadapnya?
"Takut aja perasaan itu tidak terbalas" Sahutku mengalihkan pandang.
Buk mutia mendesis "Kamu itu laki-laki. Seharusnya kamu bisa mengalahkan rasa takutmu itu. Setidaknya kamu tidak menyiksa diri kamu sendiri dengan memendam perasaan" Ucap buk mutia.
"Bukankah rasa takut itu juga perlu" Aku berdiri "Kadang kala menyerah adalah pilihan yang tepat" Aku berjalan mengumpulkan semua perkakas goro.
"Seperti senja. Meskipun tahu bagaimana caranya untuk kembali. Tapi ditinggalkan dalam gelap itu adalah luka. Bukan cinta" Ucap buk mutia dengan menatap lembayung dan langit yang memerah.
Aku mengerutkan kening mendengar pituah buk mutia. Aku tidak sepenuhnya paham apa yang baru saja dikatakan buk mutia. Aku berjalan masuk kedalam lokal untuk menyimpan perkakas goro.
"Kadang masalah datang bukan karna sebuah kesalahan" Ucap buk mutia mengagetkanku dari belakang. Buk mutia meletakkan cangkul yang tadi dibawanya. Aku memasukkan cangkul kedalam lemari.
"Kadang masalah datang tanpa pernah kita tahu apa pemyebabnya. Tapi esensi dari masalah adalah untuk diselesaikan. Seperti cinta yang seharusnya diungkapkan saja. Ibuk pernah memendam perasaan, bertahun-tahun, dan rasanya sangat menyakitkan" Ucap buk mutia.
Aku menutup pintu lemari. Aku masih diam terpaku menatap lemari. Apakah kata-kata buk mutia tadi adalah kode. Apakah buk mutia meminta aku untuk menyatakan perasaanku terhadapnya? Aku berpaling arah menatap buk mutia. Bersiap untuk mengatakan kata cinta untuk buk mutia.
"Seperti ketulusan dikan yang memendam perasaan demi persahabatannya dengan fiona" Ucap buk mutia.
Aku menelan ludah. Fiona? Dari mana buk mutia bisa tahu tentang fiona? Dan bagaimana buk mutia bisa tahu kalau aku pernah mencintai fiona?Aku tidak pernah bercerita tentang fiona kepada siapapun. Aku berjalan melewati buk mutia.
"Apa sulitnya untuk menyatakan" Ucap buk mutia
Aku terus berjalan tanpa menghiraukan buk mutia. Aku mengambil tas dan berjalan keluar kelas. Tahu apa buk mutia tentang perasaanku kepada fiona.
"Dikan. Kamu berbakat loh jadi penulis" Ucap buk mutia.
Aku terus berjalan tanpa menoleh kepada buk mutia. Aku merasakan hatiku sakit ketika buk mutia menyembutkan nama fiona. Buk mutia mengungkit kembali keikhlasam itu menjadi luka.
"Dikan. Cukup senja saja yang indah sesaat, kamu jangan" Teriak buk mutia.
Aku terus berjalan keparkiran tanpa memperdulikan buk mutia. Diperjalanan pulang, nama fiona dan buk mutia berlari dalam pikiranku. Terasa sangat menyiksa.
__ADS_1
Ya, Ganja? Hanya itu menjadi tempat pelampiasan untuk semua kecewa yang kurasakan hari ini. Ganja bisa membuat kepalaku terasa yang ingin meledak menjadi dingin. Dan pikiranku bisa berdamai dengan hatiku sendiri.