Ruang Hitam

Ruang Hitam
Kemunafikan


__ADS_3

Hidup bukanlah perkara menemukan cinta dan mengejar ambisi.


****


Aku seperti sedang mementaskan drama kalau lagi disekolah. Berada didekat keramain tapi merasa sepi, selalu bersikap biasa-biasa saja dan menyembunyikan perasaan sedalam mungkin.


Hari-hari kulewati dengan perasaan yang gundah gulana, canda dan tawa hanyalah sebuah kepalsuan yang ku lukis dengan sandiwara. Padahal, hatiku bergumam menahan sabar yang merintih, bersamaan dengan sesak didada yang tak berjeda.


Aku menjalani hidup seperti munafik yang malu untuk menunjukkan dirinya sendiri. Pandangan yang dirahasiakan, mulut yang terkunci, dan batin yang mencaci maki akan diri yang pengecut. Namun, hidup bukanlah perkara menemukan cinta dan mengejar ambisi saja.

__ADS_1


Pagi senin dibulan november. Aku berjalan dari kelasku untuk mengikuti upacara dilapangan. Embun pagi yang dingin membuatku sangat malas melangkah. Tapi, aku harus mengikuti upacara. Aku tidak ingin mendapat masalah. Lagi pula, reputasi ku sedang membaik-baiknya dikalangan guru. Aku melangkah kaki mengalahkan rasa malasku.


Dilapangan upacara sudah dimulai dari tadi. Ijep sebagai ketua barisan memerintahkan hormat kepada pemimpi upacara. Aku menuruni anak tangga dengan sigap dan cepat, berlari setalah berhasil melewati tangga. Aku masuk berlari menyelinap masuk kedalam barisan. Aulia lansung bergeser kebelakang ketika aku memunggunginya. Didepanku nando menyadari kedatanganku. Dia tertawa heran melihatku yang sudah ada dibelakangnya, dibarisan upacara. Tadi, aku sempat tidak ingin mengikuti upacara pagi ini. Aku mengatakan bahwa aku tidak akan upacara ketika nando mengajakku untuk keluar dari kantin tek rida. Tapi pikiranku berubah setelah meminum teh dan sebatang rokok. Ditambah lagi dengan nasehat tek rida yang menyuruhku untuk upacara. Setiap nasehat tek rida ada benarnya. Aku seperti di usir dari kantinnya pagi ini.


"Pengibaran bendera merah putih diringi lagu kebangsaan indonesia raya" Suara protokol menggema. Novia juniorku menyiapkan dengan gerakan tangannya. Novia adalah intrustur dalam formasi drumband sekolahku. Seperti komposer dengan tangannya melantunkan lagu indonesia raya.


"Benderas siap"


Aku memberi hormat dengan malas. Aku hormat dengan memejamkan mataku. Musik drunband mengalun membuat bulu romaku berdiri. Membangkit jiwa-jiwa kebangsaanku.

__ADS_1


Aku membuka mataku. Sinar matahari belum terasa panas pagi ini. Tapi keringatku sudah mengalir dipundakku. Aku menoleh dari pandangan mentari dibelah timur. Menatap kebarisan guru, buk dek mendekat berbisik ketelingan buk yana. Aku melihat buk mutia. Dia hormat dengan gerakan mulutnya yang terbuai oleh alunan musik. Aku masih suka menatapnya. Aku tak ingin beralih, meskipun gensiku sedang ingin menjauhinya.


Dua hari ini, aku memang menjauh dari buk mutia. Di bbm, obrolan kami terhenti diperdebatan rasa takut. Buk mutiapun tidak ada menghubungiku setalah dua hari itu. Dan aku juga enggan memulainya duluan. Entah kenapa, dengan buk mutia aku selalu berdebat. Dan aku benci berdebat dengannya yang selalu merasa benar. Seperti rasa takut yang sedang kami perdebatkan. Dia seperti menyudutkanku yang memilih memendam perasaan bertahun-tahun.


"Tegap grak"


Pengibar bendera mengunci ikatan tali, bendera merah putih berkibar diujung tiang. Buk diana tertawa kecup melihatku. Aku melonggo. Buk diana menertawakanku. Dia berbisik dengan buk mutia. Buk mutia melihat kearahku. Aku melengahkan pandangan. Bersembunyi dibalik badan besar nando.


Aku merasa malu bertemu dengan buk mutia. Terlebih lagi, buk mutia seperti hanya memperolok-olokku yang menyukai kepadanya. Nando sedikit bergerak kekanan, pandanganku bertemu dengan buk mutia. Namun, buk mutia segera melengahkan pandangannya setelah melihatku. Sudut matanya seperti tersenyum membalas apa yang aku lakukan tadi. Aku menahan senyum melihat tingkah buk mutia yang sedang memperolokku-ku.

__ADS_1


Aku kembali bersembunyi dibalik badan nando. Mentari mulai bersinar panas. Aku mengikuti upacara dengan kepala menunduk.


__ADS_2